
"Ekhem."
Suara deheman itu membuat Tari yang saat ini tengah menunggu Lukas menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Firman." ucap Tari saat mengetahui kalau pemilik suara tersebut adalah Firman.
Firman tersenyum masam, "Kamu datangnya sama siapa, menghabiskan waktunya sama siapa."
"Maafkan saya pak, tadi Lukas, ehh maksud saya pak Lukas...."
"Santai saja Tari, aku gak marah kok, ya aku sadar diri sieh, aku gak mungkin bisa bersaing dengan pak Lukas yang sempurna, aku mah apa atuh."
"Bukan begitu pak Firman, kami hanya..."
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa sama aku Tari, toh aku bukan siapa-siapa kamukan."
"Hmmm." Tari merasa tidak enak sama Firman, Firman benar, tidak seharusnya dia mengabaikan Firman dan malah menghabiskan waktu bersama Lukas, biar bagaimanapun dia datang ke acara ini bersama dengan Firman.
"Aku pergi dulu Tari, aku yakin, saat pulang, kamu tidak membutuhkan aku lagikan untuk mengantarmu." setelah mengatakan hal tersebut, Firman berlalu.
Tari hanya bisa mendesah berat dan merasa bersalah.
Tari berjengit saat merasakan sesuatu yang sangat dingin menempel dikulit pipinya, saat menoleh kesamping, ternyata itu ulah iseng Lukas yang menempelkan gelas berisi minuman dingin dipipi Tari.
Lukas tersenyum iseng saat dia berhasil mengerjai Tari.
"Lukas, kamu itu iseng banget sieh, dingin tahu." Tari mengelus pipinya yang masih terasa dingin.
Lukas malah nyengir, dan menyerahkan gelas berisi minuman yang dibawakan untuk Tari, "Nieh minum"
"Terimakasih." Tari mengambil alih gelas yang disodorkan oleh Lukas.
"Firman ngapain tadi kesini."
"Gak ada." jawab Tari bohong.
"Apa dia datang untuk merayumu." goda Lukas.
"Apaan sieh, ya gaklah."
"Syukurlah, jangan sampai dia melakukan hal itu."
"Emang kenapa kalau pak Firman merayuku."
"Karna aku akan marah."
"Apa hakmu marah padanya."
"Eh, iya iya, apa hakku marah sama dia kalau seandainya dia merayumu." Lukas terkekeh sendiri, sebenarnya dia ingin bilang begini, 'Aku tidak suka dia mendekatimu, apalagi merayamu, karna aku sepertinya mulai menyukaimu' itu yang sebenarnya ingin Lukas katakan.
"Acaranya sebentar lagi berakhir, sebaiknya kita pergi sekarang Tari." ajak Lukas.
"Ehh, tapi nanti ibu Lili dan om Sebastian nyariin kamu."
"Sudahlah, dia tidak mungkin mencariku, mereka begitu bahagia dengan perayaan aniversary mereka, ayok Tari sebelum Arin memintaku untuk mengantarnya."
Tari hanya pasrah saat Lukas menarik tangannya keluar dari tempat berlangsungnya acara tersebut.
****
Terjadi keheningan didalam mobil, tidak ada satupun dari mereka yang membuka obrolan, entahlah, tiba-tiba saja mereka menjadi canggung, sampai pada akhirnya sopir Lukas menghentikan mobilnya.
Dan kali ini, Tari membiarkan Lukas mengantarkannya sampai depan rumahnya.
"Baiklah, terimakasih karna telah mengantarkanku dengan selamat dan utuh tanpa kurang satu apapun ya tuan muda Lukas Pangestu yang terhormat." canda Tari saat sudah sampai didepan rumahnya.
"Aku gak diajak mampir nieh nona Mentari Whardhani sebagai ucapan terimakasih."
"Sayangnya gak bisa tuan muda, kalau digrebek warga bagaimana."
"Ya baguslah, kan kita bisa langsung dinikahkan."
"Hahaha." Tari tertawa mendengar kelakar atasannya tersebut, "Tuan ini bisa saja."
"Hmm, ya sudah, kamu sebaiknya masuk gieh."
Tari mengangguk, "Kamu sebaiknya juga balik, sudah malam ini."
Lukas mendekat, sehingga kini jarak mereka begitu sangat dekat, hal tersebut membuat Tari gugup, namun dia tidak berusaha mengikis jarak diantara dirinya dan Lukas.
"Begitu memastikan kamu sudah masuk, aku akan pergi, agar hatiku tenang."
"Kamu duluan yang pergi."
Sepertinya mereka berat untuk berpisah satu sama lain.
"Masuklah, diluar dingin, nanti kamu sakit."
"Hmm."
Karna Tari tidak kunjung masuk, entah dorongan dari mana sehingga tangan Lukas tergerak untuk meraih pinggang Tari dan memeluknya, Tari tidak menolak, dia kembali merasakan kenyamanan saat berada dalam pelukan Lukas, sehingga di melingkarkan tangannya membalas pelukan Lukas, rasa dingin yang tadi dia rasakan kini berubah menjadi sebuah kehangatan, Tari mengistirahatkan kepalanya didada Lukas yang membuatnya bisa mendengar detak jantung Lukas dengan jelas.
Setelah beberapa saat dalam posisi seperti itu, Lukas akhirnya mendorong tubuh Tari dengan pelan, mata bertatapan satu sama lain yang membuat Tari gugup namun sama sekali dia tidak mengalihkan perhatiannya ke arah lain, kemudian Lukas mendekatkan bibirnya untuk mengecup kening Tari, Tari reflek memejamkan matanya, menunggu bibir Lukas menyentuh area permukaan keningnya, Tari bisa merasakan area keningnya disentuh oleh bibir lembutnya Lukas.
Begitu Lukas menarik bibirnya dari keningnya, barulah Tari membuka matanya, wajahnya terasa memanas.
"Masuk sana." ujar Lukas dengan suara lembut yang membuat bulu kuduk Tari merinding dan darahnya berdesir, "Begitu sampai rumah, aku akan mengabarimu."
"Mmm, baiklah, aku akan masuk." Tari benar-benar berharap Lukas akan menepati janjinya untuk menghubunginya.
"Bye Lukas."
"Bye Mentari."
Tari tersenyum sebelum berbalik dan berjalan menuju rumahnya, sebelum benar-benar memasuki rumahnya, Tari sempat berbalik dan memberikan senyum manisnya yang dibalas oleh Lukas dengan senyum tak kalah manisnya.
__ADS_1
"Masuklah."
Tari mengangguk dan kini menghilang dibalik pintu.
Setelah didalam, Tari menyingkap sedikit gorden mengintip lewat jendela, ternyata Lukas masih berdiri disana, Lukas melambaikan tangannya yang dibalas oleh Tari, dan setelah itu barulah Tari menutup gorden kembali.
Tari bersandar dipintu rumahnya sambil memegang dadanya yang berdetak cepat, Tari tidak perlu bertanya kenapa jantungnya berdetak dengan sangat cepat begini, Tari tahu saat ini kalau dia telah jatuh cinta, jatuh cinta untuk kedua kalinya sama Lukas yang merupakan atasannya sendiri, sikap lembut dan perhatian Lukas ternyata pada akhirnya membuatnya luluh dan tanpa diminta, hatinya terbuka dengan sendirinya untuk menerima hati yang baru.
Ada rasa bersalah dibenak Tari karna merasa telah mengkhianti Adam, apalagi dia telah berjanji untuk tidak pernah lagi membuka hatinya untuk laki-laki lain, tapi tidak ada yang bisa tahu takdir itu seperti apa, Taripun tidak pernah menyangka pada akhirnya dia akan jatuh cinta kembali, dari sekian banyak laki-laki yang pernah berusaha mendekatinya, ternyata Lukaskah tempat hatinya jatuh.
"Apakah perasaanku ini salah, apakah wajar kalau aku mencintai Lukas." Tari bermonolog pada dirinya sendiri dan pada akhirnya membuatnya lelah sendiri dan memutuskan untuk memasuki kamarnya sambil menunggu Lukas untuk menghubunginya.
****
"Selamat malam Tari." gumam Lukas begitu Tari menutup gorden jendelanya.
Lukas berjalan meninggalkan rumah Tari menuju mobilnya, dia yakin pak Agung pasti resah menunggunya karna dia cukup lama bersama dengan Tari barusan, sepanjang jalan Lukas terus tersenyum dan bersiul.
Setibanya dirumah, rumahnya terlihat sepi dan lenggang, ini sudah tengah malam, fikir Lukas kedua orang tuanya juga pasti tengah pada istirahat setelah acara melelahkan tadi.
Lukas melepaskan jasnya dan melemparkannya ke tempat tidurnya, disusul dengan dihempaskannya tubuhnya, wajah Tari terbayang-bayang dilangit-langit kamarnya dan itu membuat Lukas tersenyum, setelah satu tahun lebih dia menutup pintu hatinya, kini pintu hatinya kembali terbuka, dan perempuan yang membukanya adalah gadis yang seharusnya Lukas larang untuk memasukinya.
"Apakah perasaanku ini salah, apakah aku tidak boleh jatuh cinta, apakah aku tidak boleh mencintai Tari." tanyanya pada diri sendiri.
"Tapi perasaan ini muncul tiba-tiba tanpa aku harapkan, aku menginginkan Tari, aku ingin memilikinya, tapi bagaimana kalau Tari tahu akulah yang telah membunuh suaminya dan juga bayinya, dia pasti akan sangat membenciku dan tidak akan pernah mau melihatku." Lukas terus bermonolog dengan dirinya sendiri sampai sebuah pesan masuk ke ponselnya, pesan yang berasal dari Tari, saking sibuknya memikirkan tentang bagaimana reaksi Tari kalau mengatahui dialah yang menghancurkan hidup Tari membuatnya lupa akan janjinya yang akan menghubungi Tari, sampai Tari sendirilah yang lebih dulu menghubunginya.
Tari : Mas Lukas, apakah kamu sudah tidur.
Lukas merasakan perasaannya menghangat saat mendengar Tari memanggilnya dengan sebutan mas, dan itu membuatnya tergerak untuk menghubungi Tari karna dia ingin mendengar secara langsung Tari memanggilnya dengan panggilan mas.
Lukas mendial nomer Tari, dan panggilan Lukas dijawab pada deringan pertama.
"Halo." suara Tari terdengar begitu lembut dan merdu dipendengaran Lukas ditengah malam begini.
"Kamu belum tidur Tari."
"Belum, aku menunggu kamu menghubungiku, tapi kamu tidak kunjung melakukannya."
Lukas tertawa kecil, "Maafkan aku Tari."
"Hmmm."
"Tari."
"Iya."
"Coba panggil aku dengan panggilan mas seperti dichat tadi."
"Mmm, mas Lukas." panggil Tari ragu.
Hati Lukas menghangat, rasanya dia ingin membawa Tari langsung ke KUA dan menghalalkannya.
"Tari, kamu tahu tidak, aku ingin membawamu ke KUA dan menghalalkanmu." Lukas menyuarakan isi hatinya.
Terdengar suata tawa Tari dari seberang, "Mas Lukas ini ada-ada saja."
"Mau gak ya."
"Mau donk, masak gak mau sieh, atau mulai sekarang, haruskan aku memanggilmu dengan panggilan nyonya Lukas Pangestu."
"Panggilan itu tidak buruk."
Hening, untuk sesaat tidak ada yang bersuara, sampai Lukas berkata, "Besok tidak masuk kerja, maukah kamu menghabiskan waktu bersamaku."
"Mmm, memangnya kita mau kemana."
"Kamu maunya kemana."
"Entahlah."
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pantai, kayaknya pasti seru."
"Boleh."
"Baiklah nyonya Lukas Pangestu, besok tuan Lukas akan menjemputmu pagi-pagi sekali, jadi istirahatlah sekarang."
"Baiklah."
"Tari."
"Iya."
"Coba panggil aku mas sekali lagi, aku suka mendengar kamu memanggilku dengan panggilan mas."
"Mas Lukas."
"Bisa aku pastikan akan tidur dengan nyenyak malam ini dan kalau beruntung, kamu akan hadir di mimpiku."
"Mas Lukas ada-ada saja."
"Ya sudah ya mas, aku tutup dulu."
"Sebentar dulu Tari."
"Apalagi mas."
"Kiss byenya mana."
"Ehh, apaan sieh mas."
Lukas tertawa kecil, "Aku tebak, pasti wajah kamu memerahkan."
"Gak, jangan sok tahu deh." padahal benar.
"Yang benar."
__ADS_1
"Iya."
"Tari muahhh."
Tari terdiam, dia merasa malu sendiri karna tingkah mereka sudah seperti ABG saja.
"Kenapa diam sieh Tari, jawab doank."
"Mas, kita bukan ABG."
"Tapi kita manusiakan, jadi sah-sah saja melakukan apa yang kita sukai, ayok kiss bye dulu, kalau gak, aku rasanya tidak akan bisa tidur nyenyak." Lukas memaksa.
"Mmuahhh."
"Besok kasih yang asli ya."
"Ishh apa-apaan sieh." saat ini Tari menenggelamkan wajahnya dibantalnya karna malu.
Lukas terkekeh, senang banget dia menggoda Tari.
"Mas Lukas, sudah ya, aku mau tidur."
"Baiklah sayangku, tidurlah yang nyenyak, mimpikan aku ya."
"Hmm."
"Bye mas."
"Bye Mentariku."
*****
Dikamarnya, Tari tidak berhenti tersenyum, untuk kedua kalinya dia merasakan indahnya jatuh cinta, dia sudah tidak sabar untuk menunggu besok hari, menunggu saat bertemu dengan laki-laki yang mengisi relung hatinya.
Sebelum memejamkan matanya, Tari mengirim pesan pada Laura, Tari tidak berharap Laura langsung membalas pesannya karna dia yakin sahabatnya itu pasti sudah tidur berhubung ini sudah tengah malam.
Tari : Ra, aku bahagia, sangat bahagia setelah sekian lama hatiku dilingkupi oleh awan mendung
Dan setelah memberitahu tentang suasana hatinya, Tari memejamkan matanya, berharap esok akan tiba dengan cepat.
*****
Pagi-pagi sekali, Tari mendapat telpon dari Laura, Laura benar-benar penasaran akan maksud pesan yang dikirim oleh oleh Tari semalam.
"Tariiii, jelaskan apa maksud pesan yang kamu kirim semalam."
"Aduhh Laura, bisa tidak jangan heboh begitu, bisa budek aku kalau mendengar teriakan kamu itu.'" protes Tari.
"Gak bisa gak bisa, aku tidak bisa tidak heboh saat mengetahui sahabat kandungku bahagia setelah beberapa dekade hatinya terus diselimuti oleh awan mendung."
Tari terkikik, "Kamu terlalu lebay deh Ra."
"Ayok cerita sekarang Tari, ceritakan apa yang membuatmu begitu bahagia, apa ini ada hubungannya dengan laki-laki, kalau iya, aku akan sangat berterimakasih pada laki-laki yang telah berhasil membuka pintu hati sahabatku yang telah tergembok sempurna ini."
"Iya, ini memang masalah laki-laki." Tari membenarkan.
"Astaga, benarkah, siapa laki-laki itu Tari, siapa laki-laki yang telah berhasil mengetuk pintu hatimu setelah sekian lama mati suri."
"Ya Tuhan, bisa tidak kamu bicaranya yang normal Ra, tadi pakai dekade segala, sekarang pakai mati suri segala untuk menggambarkan hatiku."
"Duhh Tari, bisa tidak gak usah bahas hal yang tidak penting, sekarang kasih tahu aku, siapa laki-laki itu."
"Mmm, Lukas Pangestu, atasanku sendiri."
"Oh my God, benarkah."
Tari mengangguk, namun karna sadar Laura tidak bisa melihat anggukannya, dia menjawab, "Iya, aku jug tidak pernah menyangka, dialah orang yang berhasil membuka pintu hatiku."
"Kapan-kapan kenalin aku sama laki-laki bernama Lukas Pangestu itu Tari, aku akan berterimakasih kepadanya karna telah membangkitkan hati kamu yang telah mati suri."
"Iya, nanti ya kapan-kapan."
"Jangan kapan-kapan donk, segera."
"Iya."
"Tapi Ra, aku merasa bersalah juga dengan almarhum mas Adam, aku telah mengkhianati cintanya."
"Apa yang kamu fikirkan sieh Tari, siapa bilang kamu mengkhianati mas Adam, aku yakin, mas Adam dialam sana pasti senang melihat istri yang sangat dia cintai membuka hatinya lagi untuk cinta yang baru, dia pasti ingin melihat kamu bahagia juga Tari, tidak terjebak dalam masa lalu, jadi Mentari Whardhani, jangan pernah berfikir yang aneh-aneh oke."
"Iya Ra, terimakasih."
"Terimakasih untuk..."
"Kamu selama ini selalu ada untukku saat-saat sulitku, selalu membantuku dan mendengar keluh kesahku, aku benar-benar berterimakasih sama Tuhan karna telah memberikan aku sahabat yang begitu sangat baik dan tulus seperti kamu."
"Sama-sama Ra, bukankah kamu juga selalu ada untukku, selalu membantuku saat aku butuh, dan membantuku menyelsaikan skripsiku yang super duper sulit."
"Iya Ra, sama-sama."
"Ra, sudah dulu ya, aku mau pergi soalnya."
"Kamu mau pergi, jangan bilang kamu akan pergi dengan sik pujaan hati."
"Iya begitulah."
"Duhh yang lagi berbunga-bunga, bikin yang jomblo iri saja."
"Ahh kamu itu, padahal banyak yang mau sama kamu, tapi tidak ada satupun yang kamu terima, jadi wajarlah kalau kamu jomblo, aku kasih tahu ya, jangan terlalu pemilih lho Ra."
"Iya iya, jangan mulai ceramahi aku tentang hal itu lagi deh, sekarang sana gieh siap-siap dan dandan yang cantik agar sik pujaan hatimu makin klepek-klepek."
"Ada-ada saja kamu itu."
Setelah mengakhiri obrolannya dengan Laura, Tari kini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
__ADS_1
*****