CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
GADIS YANG AKU SUKAI ADALAH TARI


__ADS_3

Lukas menyuruh pak Agung pulang terlebih dahulu, karna kondisi kekasihnya saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, untuk saat ini, Lukas hanya ingin menemani Tari sampai Tari tenang.


Kini mereka duduk diruang tamu sederhana rumahnya Tari, Lukas merangkul Tari, gadis itu sudah lebih baik sekarang, tubuhnya tidak bergetar hebat lagi, peristiwa yang terjadi barusan tentu saja mengguncang batinnya.


"Sayang, kamu sebaiknya istirahat." bisik Lukas ditelinga Tari.


Tari mengangguk, saat Tari berniat untuk berdiri, Lukas lebih dulu mengangkat tubuhnya dan menggendongnya, lalu Lukas membawa Tari ke kamarnya, Tari mengalungkan tangannya dileher Lukas, kamar Tari begitu sederhana dengan tempat tidur yang sederhana pula, sangat berbeda dengan kamarnya yang luas dan mewah. Lukas kemudian membaringkan tubuh Tari ditempat tidur.


Diluar hujan deras, suara guntur terdengar bersahut-sahutan yang membuat Tari takut.


"Mas Lukas." Tari bangun dari posisi berbaringnya.


"Ada apa sayang, apa kamu butuh sesuatu."


Begitu berhasil mendudukkan tubuhnya, Tari langsung melingkarkan tangannya memeluk pinggang Lukas.


"Mas, jangan pergi, aku takut." suara Tari manja.


Lukas mengangguk, "Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, aku akan tetap disini untuk menemanimu." Lukas mengecup puncak kepala Tari dan mendekap Tari yang membuat tubuh Tari dialiri oleh kehangatan.


Berduaan didalam kamar dengan cuaca mendukung tentu saja itu merupakan celah bagi setan untuk melancarkan godaannya untuk membuat dua insan itu terdorong untuk melakukan perbuatan dosa, Lukas laki-laki normal, tentu saja hasratnya bergejolak saat kulitnya bersentuhan dengan kulit lembut Tari, sehingga hal itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih, untuk saat ini, nafsunya lebih mendominasi daripada akal sehatnya, oleh karna itu Lukas membaringkan tubuh Tari dan menindihnya, Tari tidak menolak ataupun berontak, dia menerima dengan pasrah apa yang Lukas lakukan padanya, sehingga malam itu terjadilah hal yang tidak seharusnya terjadi, tidak ada penyesalan diantara keduanya karna mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.


"I love you Mentariku." bisik Lukas yang saat ini tengah memeluk tubuh Tari dengan posesif setelah melakukan hal terindah yang seharusnya terlarang untuk dilakukan oleh mereka.


"I love you to mas." balas Tari tersenyum malu dan menyurukkan wajahnya dileher Lukas, ini untuk pertama kalinya dia melakukannya lagi setelah kepergian Adam.


"Malam ini merupakan malam yang tidak akan pernah aku lupakan Tari, terimakasih karna telah menciptakan sebuah kenangan yang indah untukku Tari."


"Iya mas, malam ini juga merupakan malam terindah yang pernah aku lewati."


"Tari."


"Iya."


"Aku akan segera melamarmu, aku ingin hidup bersamamu, kamu maukan hidup bersamaku sayang, membina bahtera kehidupan rumah tangga bersamaku."


"Tapi mas, bagaimana pandangan orang-orang nanti, aku itu janda sedangkan kamu...."


"Ssstt." Lukas menempelkan jari telunjuknya dibibir Tari, "Aku mencintaimu oke, aku benar-benar tidak peduli status kamu apa, yang aku inginkan adalah hidup bersamamu, dan aku tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang terhadap hubungan kita, yang penting aku bahagia bersamamu, itu yang paling penting."


"Terimakasih mas karna telah mencintaiku."


"Aku yang seharusnya berterimakasih sayang."


"Aku akan segera memberitahu mama tentang hubungan kita Tari."


"Aku takut mas."


"Apa yang kamu takutkan hemm."


"Aku takut ibu Lili tidak mau menerimaku mas."


"Jangan khawatirkan akan hal itu Tari, mama pasti akan menerimamu, kamu lihat sendirikan papa mendukung hubungan kita, mama juga pasti akan akan mendukung dan memberi restu untuk hubungan kita ini."


"Iya mas." meskipun bilang begitu, tetap saja Tari khawatir, masih ada ketakutan dibenaknya kalau masa lalu akan terulang kembali, dimana dulu keluarga Adam menolaknya, dan Tari takut keluarga Lukas juga akan menolaknya seperti yang dilakukan oleh keluarga Adam.


"Tari, kalau kita sudah menikah, kamu ingin punya anak berapa."


"Mas maunya berapa." Tari nanya balik.


"Aku maunya sebelas."


Tari terkekeh, "Emang mas Lukas mau membuat team sepak bola apa."


"Tapi kamu sanggupkan sayang melahirkan sebelas anak untukku nanti."


"Ihh mas ini, emang aku difikir pabrik pembuat anak apa."


"Tentu saja tidak sayang, kamu bukan pabrikku, tapi wanita yang sangat aku cintai."


"Ihhh gombal."


"Fakta sayang."


"Mas Lukas."


"Iya sayang."


"Mas Lukas itukan tampan..."


"Bahagianya aku dikatakan tampan oleh pacar aku."


"Ihh mas Lukas ini narsis deh."


"Bukan narsis, tapikan emang benaran tampan, makanya kamu klepek-klepek sama aku, iyakan, ayok ngaku."


"Sok tahu, bukan karna itu aku suka sama mas Lukas."


"Terus, kamu suka sama aku karna apa donk."


"Karna mas Lukas orangnya tidak genit."


"Hanya karna itu." Lukas tidak percaya.


"Gak cuma itu doank sieh." Tari menambahkan, "Mas Lukas juga orangnya baik, tidak genit sama wanita, menghargai wanita, itulah yang membuatku menyukai mas Lukas." jelas Tari.


"Kalau mas Lukas, apa yang membuat mas Lukas suka sama aku." Tari balik bertanya, "Padahalkan mas Lukas itu tampan, berwibawa, kaya raya lagi, banyak lho wanita cantik ya menyukai mas Lukas, kenapa mas Lukas menyukai gadis sederhana seperti aku disaat mas Lukas bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih dari aku, mbak Arin contohnya."


"Hmmm, aku mencintaimu karna apa ya." Lukas terlihat pura-pura berfikir.


"Karna apa mas." kejar Tari sangat ingin tahu penyebab Lukas menyukainya.


"Aku menyukaimu begitu saja Tari, aku tidak butuh alasan untuk menyukaimu."


"Maksud mas Lukas."


"Iya, cinta tumbuh begitu saja dihatiku tanpa bisa aku cegah, aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi aku tidak suka melihat kamu dekat-dekat dengan Firman, itu membuat hatiku cemburu."


"Aku juga mas, aku tidak suka melihat mas Lukas dengan mbak Arin dekat-dekat dengan alasan apapun."

__ADS_1


"Aku tidak dekat-dekat dengan Arin sayang, Arinlah yang mendekatiku."


"Tapi mas mau dekat-dekat dengan dia, nempel-nempel segala lagi kayak perangko." Tari mengeluarkan kekesalannya.


"Itukan tidak seperti yang kamu lihat sayang, aku benar-benar tidak tahu kalau Arin menempel-nempel didekatku, dia memintaku untuk memberi masukan pada skripsi yang saat ini tengah dikerjakan, aku bilang aku gak bisa dan gak mengerti tentang dunia kesehatan, tapi dianya maksa, jadinya yah aku terpaksa menuruti apa yang dia kakatakan."


"Itu modusnya dia saja supaya bisa dekat-dekat sama mas Lukas, lain kali mas gak usah mau kalau disuruh ini itu sama dia."


"Iya, lain kali tentu saja aku tidak mau melakukan apa yang dia suruh, aku tidak mau membuat pacarku ini sakit hati."


"Hmmm."


"Tari, nanti kalau kita sudah menikah, kamu dirumah saja ya, urus aku dan anak-anak kita nantinya, cukup aku saja yang bekerja."


Kalimat yang diucapkan oleh Lukas barusan mau tidak mau membuat Tari teringat sama almarhum Adam, Adam juga pernah mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Lukas, dulu, Adam juga tidak mengizinkannya untuk bekerja.


"Iya mas, tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya."


"Mmmm, kamu tidak boleh memiliki sekertaris pribadi, aku membolehkan deh, tapi sekertarisnya harus laki-laki, nanti kalau perempuan, kamu malah naksir lagi."


Lukas tertawa mendengar syarat yang diajukan oleh Tari.


"Lho, kok kamu ketawa sieh mas, emang lucu ya syarat yang aku ajukan."


"Tentu saja itu syarat yang kamu ajakan sangat lucu sayang, pasalnya aku tidak pernah punya niat untuk memiliki sekertaris pribadi sejak awal menggantikan papa, dulukan yang memaksa aku memiliki sekertaris pribadikan mama, sebenarnya aku sieh sudah cukup oleh Firman saja, tapi yahh, pasti ada hikmah dibalik peristiwakan, dan aku bersyukur juga karna mama memaksa Firman untuk mencarikan aku sekertaris pribadi waktu itu, kalau gak, aku tidak mungkin bisa ketemu sama kamu." padahal mah Lukas sudah mengenal Tari sejak dulu, "Lagian sayang, aku juga tidak mungkin menyukai wanita lain, sama Arin saja aku tidak tertarik."


Tari membenarkan dalam hati, sejak awal mengenal Lukas, Lukas itu adalah tipe laki-laki yang cuek dan dingin kepada wanita, dan hal itulah salah satu yang membuat Tari tertarik sama Lukas.


"Aku percaya sama kamu mas."


Lukas tersenyum mendengar ucapan Tari.


"Sayang, ini sudah larut, sebaiknya tidur yuk."


Tari mengangguk patuh, dan dengan berpelukan mereka tertidur lelap sampai pagi menjelang.


****


"Ayok mas duduk kita sarapan." ujar Tari keesokah paginya.


Mereka akan berangkat bareng ke kantor, dan Lukas sudah meminta sopirnya untuk menjemput mereka.


Lukas memejamkan matanya saat harum semerbak nasi goreng buatan Tari menyeruak memasuki hidungnya.


"Harum banget, ini sudah pasti enak." Lukas duduk tanpa melepaskan tatapannya sama nasi goreng menggiurkan buatan Tari yang saat ini terhidang diatas meja.


Tari mengambil piring yang ada dihadapan Lukas dan menyendokkan nasi goreng untuk Lukas.


"Aku seperti tengah dilayani oleh istriku sendiri."


"Mas Lukas bisa saja." ujar Tari malu-malu.


Tari kemudian mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk kekasihnya itu.


"Aku pasti suka."


Lukas memasukkan sendok berisi nasi goreng ke bibirnya, "Mmmm, enak banget sayang."


Tari tersenyum lebar mendapatkan pujian dari Lukas.


"Ini adalah nasi goreng terenak yang pernah aku makan."


"Mas Lukas jangan berlebihan gitu, membuat kepalaku jadi membesar saja."


"Ini beneran enak banget lho sayang tanpa berniat untuk melebih-lebihkan, semakin tidak sabar aku untuk menikahimu, kalau aku jadi istrimu aku akan makan enak tiap hari."


"Jangan ngoceh terus mas, ayok dihabiskan makanannya."


Lukas mengangguk dengan patuh.


*****


"Pak Agung, nanti turunkan aku agak jauhan dikit dari kantor ya." pinta Tari karna dia berangkat diantar oleh pak Agung bersama dengan Lukas.


"Baik nona."


"Lho, kenapa turunnya harus jauhan gitu sayang."


"Ya gak enaklah mas kalau dilihat sama karyawan kantor kalau aku turun dari mobilnya mas Lukas."


"Ya gak apa-apa kalau mereka lihat juga."


"Tapi nanti mereka akan ngomong macam-macam dibelakang mas."


"Sudahlah sayang, kenapa sieh kamu sangat peduli tentang omongan orang tentang kita, kitakan tidak melakukan hal yang salah, kita sama-sama single dan itu tentunya tidak merugikan siapapunkan."


"Iya sieh mas, tapi..."


"Ssstt, cukup Tari, pokoknya kita turunnya didepan kantor samaan oke, lagiankan sebentar lagi kamu akan menjadi istriku jugakan."


"Hmmm." desah Tari pasrah karna Lukas tidak bisa dibantah kali ini.


Setelah memastikan semuanya aman diluar, dan Tari tidak melihat karyawan berlalu lalang diluar, barulah Tari keluar, tanpa menunggu Lukas terlebih dahulu, dia langsung ngacir memasuki lobi.


Lukas hanya menggeleng melihat kelakuan Tari, padahal dia ingin semua orang tahu tentang hubungan mereka, tapi mau bagaimana lagi kalau Tari tidak mau hubungan mereka diketahui oleh publik, oleh karna itulah Lukas ingin segera menikahi Tari supaya mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti ini lagi.


"Hai Tari."


Tari langsung terlonjak kaget saat mendengar suara sapaan tersebut, "Chaca, kamu bikin kaget saja." Tari memegang dadanya.


"Gitu aja kaget."


"Pagi Tari, pagi Chaca." Lukas menyapa saat akan melewati kedua gadis tersebut.


"Pagi pak Lukas." Tari dan Chaca menjawab kompak.


"Ngapain sieh pakai ngucapin selamat pagi segala, kayak tadi tidak bareng saja." batin Tari.

__ADS_1


"Pagi yang cerah ya." Lukas mengomentari cuaca, wajahnya dihiasi oleh senyum.


"Iya pak Lukas, hari ini cuacanya benar-benar cerah." Chacha menimpali.


"Saya duluan ya Tari, Chacha." Lukas mengedipkan matanya ke arah Tari yang membuat Tari melengos, dan untungnya hal tersebut tidak dilihat oleh Chacha, kalau dia lihat, bisa dipastikan, dia pasti akan heboh.


"Pak Lukas makin hari kok makin tampan ya Tari." puji Chacha saat Lukas sudah berlalu dari hadapannya.


"Hmmm." respon Tari sok datar, padahal dalam hatinya membenarkan.


"Kamu lihat gak tadi Tari, wajahnya itu cerah banget, kayakny pak Lukas itu tengah berbahagia gitu deh, kira-kira dia bahagia karna apa ya."


"Duhhh mana aku tahu Chacha, ayok ah sebaiknya kita juga naik ke atas." Tari menarik lengan Chacha.


"Ihh kamu itu ya Tari, selalu saja tidak antusias saat membicarakan pak Lukas, emang hanya kamu ya yang sepertinya tidak tertarik sama pak Lukas dikantor ini." oceh Chacha.


"Tentu saja aku tertarik, sangat tertarik malah, bahkan laki-laki yang diidolakan oleh kaum hawa di seantero kantor ini merupakan kekasihku." kata-kata yang hanya diucapka oleh Tari dalam hati.


"Aku kesini itu untuk kerja ya Cha, bukan untuk membicarakan atasan kita." lisannya.


"Kamu benar juga sih Tar, tapi pak Lukas itu tampan lho, gak afdol gitu kalau gak diomongin, istilah yang tepat mungkin seperti sambil menyelam minum air."


"Ada-ada saja kamu itu, kita disini itu ya kerja, untuk cari uang supaya kebutuhan perut terpenuhi."


"Kebutuhan hati juga perlu terpenuhi kali Tari, dengan adanya pak Lukaskan jadi semangat gitu kerjanya."


"Bisa stop gak Cha kita bicarain pak Lukas, bosan aku dengernya kalau yang dibahas pak Lukas mulu."


"Hmm, oke deh, bibir aku yang cantik dan seksi ini akan aku hentikan untuk membicarakan pak Lukas.


****


"Tante, tolongin Arin donk tante, tolong deketin Arin sama mas Lukas donk." rengek Arin sama mama Lili.


Saat ini dua wanita berbeda usia itu tengah berada dipusat perbelanjaan dan saat ini mereka tengah memilih-milih pakaian.


"Iya sayang, kamu jangan khawatir, tante akan membantu sebisa mungkin, tapi kamunya juga kudu usaha lebih keras lagi donk sayang untuk mendapatkan hati Lukas, putra tante itu memang agak susah untuk ditaklukkan." mama Lili tahu putranya memiliki tambatan hati, tapi tidak enak juga dia menolak mentah-mentah permintaan Arin barusan, makanya dia hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Arin.


"Arin sudah melakukan berbagai macam daya dan upaya untuk menaklukkan hati Lukas tante, nelponin dia tiap hari, ngirim chat, aku juga ngajak dia nonton bareng, kirim makanan ke kantor dia, tapi gak ada satupun tuh tante yang membuat Lukas itu luluh."


"Kan tante sudah bilang, kamu itu mesti sabar Arin kalau mau mendapatkan Lukas, dia itu memang agak susah untuk ditaklukkan." mama Lili menjelaskan karakter putrnya itu


"Hmm, tapi tante akan bantu Arinkan."


"Tentu saja tante akan bantu, tante mengharapkan kamu yang jadi menantu tante." lisannya, dihatinya, "Aku memang mengaharapkan kamu, tapi kalau Lukas tidak mau sama kamu, aku bisa apa."


Mendapatkan janji seperti itu membuat Arin tersenyum cerah.


"Oh ya tante, Arin gak suka dengan sekertaris pribadinya Lukas itu."


"Tari maksud kamu." mama Lili mengonfirmasi.


"Siapa lagi, ya dialah tan."


"Kenapa dengan Tari, setahu tante, anak itu tidak neko-neko atau aneh-aneh orangnya, dia bahkan bekerja dengan sangat baik, tidak hanya bekerja untuk Lukas, tapi dia juga sering tante mintain tolong tentang beberapa hal."


"Tari itu genit tan, suka godain Lukas."


"Setahu tante, Tari itu tidak seperti itu Arin, dia gadis yang baik, dan juga sopan, tuduhanmu itu memang tidak berdasar sama sekali."


"Tapi tante, Tari itu....."


"Sudah sudah, kita kesini untuk bersenang-senang dan memanjakan dirikan, jadi berhenti untuk membicarakan Tari oke." tandas mama Lili tidak bisa dibantah.


"Hmmm, oke."


Dengan begitu, ditutuplah pembicaraan tentang Tari.


****


Malam itu, karna berniat memberitahukan tentang hubungannya dengan Tari, oleh karna itu, Lukas berjalan menghampiri mamanya yang saat ini tengah duduk santai diruang tengah bersama dengan papanya setelah makan malam.


"Hai sayang." mama Arin menyapa saat dilihatnya Lukas mendekatinya.


"Hai ma, pa." Lukas mengambil tempat duduk diruang kosong.


"Sayang, Arin itu nanyain kamu terus lho, katanya kamu selalu nyuekin dia."


"Ma, Lukas saat ini tidak mau membicarakan tentang Arin."


"Hmm, baiklah, mama tidak akan membahas tentang Arin kalau begitu."


"Ma, ada yang mau Lukas katakan sama mama."


"Apa itu sayang."


"Tentang wanita yang aku cintai itu."


"Ohh, tentang wanita yang kamu sukai itu." mata mama Lili terlihat berbinar.


Mama Lili memang ingin Lukas sama Arin, bahkan dia sendiri berniat untuk membantu Arin untuk mendekati Lukas, tapi kalau putranya menyukai wanita lain, apa boleh buat, dia harus menerima gadis yang disukai oleh putranya itukan, dia tidak mau menjadi orang tua yang egois dengan mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan kebahagian putranya.


"Jadi, siapa gadis itu sayang."


"Mama sudah mengenalnya."


"Mama mengenalnya." mama Lili terlihat berfikir, namun karna tidak mampu mengira-ngira siapa wanita yang dimaksud oleh putranya, oleh karna itu dia bertanya, "Siapa dia sayang."


"Dia Mentari Whardhani ma, sekertarisku."


"Tari." ulang mama Lili tidak percaya.


Lukas mengangguk, "Iya ma, gadis yang Lukas sukai adalah Tari."


"Papa sudah tahu kalau Lukas menyukai Tari." tanya mama Lili saat melihat suaminya tidak kelihatan terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Lukas.


Papa Sebastian mengangguk, "Iya ma, papa sudah tahu."


****

__ADS_1


__ADS_2