
Tari senyum-senyum sendiri saat melihat pantulan dirinya dicermin, di lehernya melingkar kalung yang dibelikan oleh Lukas untuknya tadi siang, kalung dengan liontin hati itu begitu sangat cantik membingkai lehernya yang jenjang.
"Cantik sekali." pujinya memegang liontin kalung tersebut.
"Ini harganya sangat mahal, kenapa pak Lukas membelikannya untukku ya." gumamnya heran, "Ahh, hal itu tidak perlu aku fikirin, toh aku tidak minta untuk dibelikan."
Tari mengambil ponselnya dan memfoto bagian lehernya yang dilingkari oleh kalung itu, dia kemudian mengirimnya ke Laura.
Gambar yang dikirim itu disertai dengan caption.
Cantik ya
"Laura pasti heboh saat melihatnya." gumamnya sembari masih betah melihat dirinya dipantulan cermin mengagumi cantiknya kalung tersebut.
Gak lama, terdengar suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya, Tari yakin itu merupakan balasan dari Laura, dia meraih ponselnya dan ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, tapi ternyata itu pesan dari Lukas bukan dari Laura.
"Pak Lukas, ada perlu apa ya dia ngechat aku." bingungnya.
Tari memang sering berkirim chat dengan Lukas, tapi semua chat yang mereka lakukan murni masalah pekerjaan.
Tari membuka chat yang dikirim oleh Lukas yang berbunyi.
Lukas : Cantik banget, apalagi kamu yang make kalung itu.
"Apaaa, tidakkkkk." jerit Tari saking malunya, ternyata eh ternyata, dia salah kirim, niatnya dikirim ke Laura eh malah terkirimnya ke Lukas, sumpah malu bangetkan dia.
"Aduhh, aku harus gimana ini, sumpah aku malu banget, kok bisa sieh aku salah kirim begini, apa yang pak Lukas fikirkan tentang aku." Tari merutuk kebodohannya sendiri.
"Aduhh, sumpah rasanya aku tidak punya muka saat nanti bertemu dengan pak Lukas."
Tari kemudian menarikan jemarinya untuk mengonfirmasi tentang kesalah kiriman tersebut.
Tari : Maafkan saya pak Lukas, tadi itu salah kirim, hehe
Balasan Lukas datang begitu cepat.
Lukas : Ohh, salah kirim ya, kecewa aku, padahal aku fikir kamu memang sengaja mengirimnya untuk menunjukkan betapa indahnya kalung itu dileher jenjangmu
Tari : Mmmm, sekali lagi maafkan saya ya pak kalau pesan gambar itu mengganggu pak Lukas, saya harap pak Lukas tidak marah.
Lukas : Santai saja Tari, masak begitu saja saya marah
Tari fikir udah, setelah mengklarifikasi dan Lukas tidak marah atau bagaimana, ehh tahunya Lukas kembali mengirim pesan.
Lukas : Besok pakai ya ke kantor, aku ingin melihatnya secara langsung
"Ehhh, apa dia bilang, pak Lukas bilang ingin melihatku mengenakan kalung pemberiannya." gumam Tari saat membaca pesan tersebut.
Tari : Iya pak
Lukas : Sudah malam lho ini, kenapa kamu belum tidur, besokkan kerja
Lukas kembali mengiriminya pesan.
"Ini beneran pak Lukas gak sieh yang ngechat aku, tumben banget nanya-nanya hal tidak penting begini, biasanya dia selalu mengechatku masalah pekerjaan." heran Tari mengerutkan kening.
__ADS_1
Karna tidak enak mengabaikan chat tersebut karna Lukas adalah bossnya, Tari membalas.
Tari : Hehe, iya pak, belum ngantuk saya, tapi bapak tenang saja, saya tidak akan terlambat lho datang ke kantor besok
Lukas : Iya saya tahu, tapi kurang tidur itu tidak bagus lho untuk kulit
Tari : Wahh, kok bapak tahu sieh masalah begituan
Lukas : Arin yang ngasih tahu, diakan calon dokter
Tari : ohhh
Tari : Mbak Arin cantik lho pak
Lukas : Apa maksudmu bilang begitu
Tari : Ya maksud saya, masak bapak tidak tertarik gitu sama mbak Arin
Ehh, berawal dari salah kirim, tahunya mereka jadi intens berkirim pesan, dan mereka yang selalu berkirim pesan masalah pekerjaan kini malah saling berkirim pesan layaknya seorang teman.
Lukas : Cantik tidak menjadi jaminan membuat laki-laki tertarik Tari
Tari : Masak, setahu saya nieh pak, banyak laki-laki itu tertarik sama perempuan karna paras dan rupa
Lukas : Banyak, tapi tidak semuakan, dan saya tidak termasuk dari laki-laki yang suka karna tampang dan paras
Tari : Hmmm
Lukas : Tari
Tari : Iya pak
Tari : Mana bisa begitu pak Lukas, bapak adalah atasan saya
Lukas : Iya saat dikantor, diluar kantor beginikan bukan
Tari : Tapi tetap saja pak Lukas saya merasa tidak enak
Lukas : Papaku saja tidak kamu panggil pak
Tari : Itu karna papanya pak Lukas yang maksa untuk dipanggil om
Lukas : Saya juga maksa lho Tar, mulai sekarang, diluar kantor atau lagi chat seperti ini panggil saja Lukas, mengerti
Tari : Duhh, kok rasanya gak enak gitu ya pak
Lukas : Saya tidak mau tahu ya Tari, diluar kantor diluar konteks pekerjaan panggil saya Lukas tanpa embel-embel pak
Tari : Haduhh, bapak ini pemaksa ya ternyata
Lukas : Habisnya kamu ngeyel sieh, makanya kudu dipaksa dulu agar nurut
Tari : Baiklah, mulai saat ini saya akan memanggil pak Lukas dengan panggilan nama saja diluar kantor
Lukas : Nahh, begitukan lebih baik
__ADS_1
Lukas : Tari, kamu sebaiknya tidur gieh, saya gak mau sekertaris saya besok mengantuk dan tidak fokus saat mengikuti rapat
Tari : Ada kopi lho pak yang selalu bikin meleng, hehe
Lukas : Astaga Tari, saya tidak pernah menyangkan lho kalau kamu ternyata sekertaris pembangkang juga
Tari : Hehe dikit dikit pak
Lukas : Dasar kamu itu ya
Tari : Pak Lukas sendiri kenapa belum tidur, besokkan pak Lukas akan memimpin rapat lho, gak lucukan kalau pemimpin rapat sendiri ngantuk disaat rapat
Lukas : Astaga, saya tidak pernah menyangka ternyata kamu menggunakan kata-kata saya untuk menyerang saya balik
Tari : Hehe, jangan marah donk Lukas
Kok Tari agak gimana gitu rasanya saat memanggil Lukas dengan panggilan Lukas saja, meskipun itu hanya melalui chat saja.
Tari : Duhhh, kok gak enak ya rasanya
Lukas : Gak enak apanya
Tari : Gak enak rasanya cuma manggil nama doank
Lukas : Biasain donk Tari, lama-lamakan nanti akan terbiasa
Tari : Iya
Tari : Pak Lukas
Lukas : Lukas Tari
Tari : Maaf, kebiasaan
Tari : Lukas, gak apa-apakan kalau saya tinggal duluan, rasanya saya sudah ngantuk
Lukas : Baiklah, tidur yang nyenyak Tari, mimpi indah
Tari : Terimakasih Lukas, kamu juga
Lukas : Iya
Sekertaris dan atasan itu mengakhiri chat mereka, berawal dari salah kirim yang menyebabkan mereka berbalas chat untuk waktu yang cukup lama.
****
Lukas tersenyum, dia kok rasanya enggan gitu mengakhiri chat bersama dengan Tari meskipun sejak tadi dia mengingatkan Tari untuk istirahat.
"Apa yang terjadi denganku, kenapa aku jadi ingat sama Tari begini dan tidak sabar menunggu waktu esok untuk bertemu."
Tiba-tiba saja bayangan Tari menari-nari difikirannya, wajah Tari, senyum Tari, suara Tari, intinya semua hal tentang Tari memenuhi fikirannya, "Astagaa, apa yang terjadi sieh denganku." desisnya kesal dengan dirinya sendiri, "Gak bisa ini, aku tidak boleh memikirkan Tari."
Oleh karna tidak ingin bayangan Tari menguasai fikirannya, Lukas berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur empuknya, Lukas berusaha memejamkan matanya untuk menghilangkan bayangan akan Tari, sayangnya, ternyata bayanyan Tari tidak mudah untuk diusir dari fikirannya, hal itu membuat Lukas mendesah frustasi dan mengacak-ngacak rambutnya.
"Oke Lukas tenang, hilangkan bayangan Tari dari fikiranmu, dan sekarang tidurlah." ujarnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Dan setengah jam kemudian setelah berusaha menghilangkan bayangan tentang Tari, akhirnya dia terbang juga ke alam mimpi.
*****