
"Ehh, kok jadi melow gini sieh Tar, katanya mau curhat-curhatan tentang sik pengisi hati yang baru, jangan sedih doank."
"Habisnya kamu sieh Ra, ngungkit-ngungkit masa lalu, akukan jadi teringat dengan almarhum mas Adam."
"Hehe, sorry-sorry, gak sengaja, keceplosan tadi."
"Ayok deh ceritain lagi tentang Lukas, laki-laki yang berhasil merebut hati sang Mentari."
Tari tersenyum saat mendengar Laura memanggilnya dengan sebutan Mentari, pasalnya, Lukas juga sering memanggilnya dengan panggilan Mentariku.
"Lha, disuruh cerita nieh anak malah senyum-senyum gak jelas begini, mana aku bisa membaca arti dari senyuman kamu ini Tari."
"Aku hanya teringat mas Lukas saja Ra, soalnya dia sering memanggilku dengan panggilan Mentariku."
"Aih aih, romantis sekali sik abang Lukas itu, pantas saja sahabatku ini dibuat kleper-kleper begini."
"Kamu berlebihan deh Ra, aku gak kleper-kleper juga kali."
"Apapun deh itu namanya, aku sangat penasaran tingkat akut deh sama abang Lukas kamu itu Tari, aku penasaran ingin melihatnya."
"Iya nanti kalau dia waktu senggang, aku akan mempertemukan kamu dengan dia Ra."
"Oke."
Ponsel Tari yang ada ditasnya berbunyi nyaring.
"Ehh Tar, ponsel kamu tuh bunyi." beritahu Laura.
Tari meraih tasnya untuk mencari ponsel tersebut.
"Siapa sieh yang nelpon kamu malam-malam gini Tar." tanya Laura sebelum bibirnya terbuka lebar, " Ohh, aku tahu, abang Lukas pasti ini." tebaknya tepat sasaran.
Tari mengangguk membenarkan dugaan Laura saat melihat nama sik penelpon tertera dilayar, "Iya Ra, memang mas Lukas yang nelpon aku."
"Ekhem ekhem, sik ayank nelpon, duh bahagianya hati Mentari."
"Apaan sieh Ra, stop deh godain aku."
Tari berjalan menuju balkon kamar Laura, supaya obrolannya tidak di dengar oleh Laura.
"Halo Tari, apa kamu belum tidur sayang." terdengar suara lembut Lukas menyapa dari seberang.
"Belum mas, ini aku berada dirumah Laura."
"Laura."
"Sahabat aku mas."
"Ohh, sampaiin salam aku untuk sahabat kamu itu ya."
"Iya nanti aku sampaiin."
"Mas sudah pulang dari acara pertemuan keluarganya."
"Iya, ini baru sampai dikamar, makanya aku langsung nelpon kamu." Lukas memberitahu.
"Tari."
"Kenapa mas Lukas."
"Aku kangen, vidio call ya."
"Aku malu mas."
"Malu kenapa."
"Soalnya wajah aku polos tanpa make up saat ini, tanpa make up, aku jelek lho."
Lukas terkekeh, "Astaga sayangku, kenapa sieh pakai malu segala, mau kamu pakai make up atau tidak, kamu itu tetap cantik dimataku."
"Kalau kamu sudah melihat wajahku tanpa make up, kamu tidak akan bilang seperti itu lagi."
"Apa sieh yang kamu fikirkan sayang, intinya, biar bagaimanapun rupamu, bagiku kamu tetap cantik dan akan selalu aku mencintaimu, jadi kita vidio call ya sayang, aku ingin melihat wajah kamu sebelum tidur agar nyenyak tidurku." Lukas membujuk.
"Mmm, baiklah." akhirnya Tari mengiyakan permintaan Lukas.
Saat panggilan beralih pada panggilan vidio, Tari bisa melihat laki-laki yang dia cintai tengah berbaring terlentang ditempat tidurnya, Lukas tersenyum kepadanya.
"Kamu cantik sekali sayang, bahkan kamu lebih cantik tanpa make up." pujinya saat melihat wajah Tari yang tanpa riasan.
Tari tersenyum malu, "Kamu tidak perlu berbohong untuk membuatku senang mas."
"Aku gak bohong sayang, menurutku, kamu lebih cantik tanpa make up begitu."
"Hmmm."
"Tari, coba lihatlah, ini adalah kamarku."
"Iya mas aku lihat, besar dan luas, dan sepertinya nyaman."
"Ini nantinya akan jadi kamar kamu juga saat kita menikah nanti, kita akan berbagi tempat tidur Tari."
Wajah Tari memanas mendengar kata-kata Lukas barusan.
"Dan aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia didunia ini, karna setiap bangun tidur melihat gadis yang aku cintai berada disampingku."
Tari tersenyum senang mendengar kata-kata Lukas, hatinya melambung ke awang-awang.
"Tari."
"Iya mas."
"Aku ingin menjadikan kamu ratu dihatiku dan menjadi ibu dari anak-anakku, apa kamu mau hidup bersamaku Mentariku."
"Tentu saja aku mas." jawab Tari malu.
"Aku sangat bahagia mendengar jawabanmu Tari."
__ADS_1
"Aku ingin segera menghalalkan kamu, agar aku bebas kalau mau ngapa-ngapain kamu."
Tari terkekeh sendiri, "Mas Lukas ini ada-ada saja."
"Itulah yang aku inginkan Tari."
"Iya mas, tapi untuk saat ini, kita jalani saja dulu ya hubungan kita ini."
"Iya."
"Tari, istirahatlah, sudah malam."
"Mas juga ya istirahat."
"Iya."
"Bye mas Lukas."
"Bye Mentariku, I LOVE YOU."
"I LOVE YOU TO MAS LUKAS."
Dan dengan sangat manis sepasang kekasih tersebut mengakhiri obrolan mereka.
"Ekhem ekhemm, yang lagi berbunga-bunga, gak pernah berhenti deh tuh bibir ngukir senyum." Laura menggoda saat melihat Tari kembali masuk.
Tari membaringkan tubuhnya disamping sahabatnya itu.
"Namanya juga lagi jatuh cinta ya bawaanya aku ingin senyum terus, makanya cari pacar Ra, agar ada yang membuat kamu tersenyum."
Disinggung masalah pacar selalu saja membuat Laura mendesah, karna tidak ingin Tari menceramahinya lebih panjang tentang pacar dan jangan pilih-pilih masalah cowok membuat Laura menarik selimut dan pura-pura memejamkan matanya.
"Dihh pura-pura tidur lagi, dasar Laura."
*****
"Tari."
Tari mendongak saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, dan orang tersebut ternyata adalah Arin.
"Mbak Arin." sapa Tari saat mengetahui kalau orang itu adalah Arin, wanita yang menyukai kekasihnya.
"Lukas ada Tari."
"Mbak ingin ketemu pak Lukas, apa mbak sudah membuat janji sebelumnya." cecar Tari, Tari berusaha untuk tidak menampakkan rasa ketidaksukaannya saat melihat gadis tersebut, entah kenapa, saat ini, bagi Tari, Arin terlihat menyebalkan dan ganjen dan pastinya berniat untuk merebut Lukas darinya.
"Aku tidak perlu membuat janji segala Tari, aku sudah mendapat izin dari tante Lili untuk bisa datang setiap saat untuk menemui Lukas kapanpun aku mau."
Tanpa disadari, Tari dengan terang-terangan mendesah, dan hal itu tidak luput dari perhatian Arin, Arin tersenyum sinis, "Seharusnya kamu sadar Tari, kamu itu tidak pantas bersanding dengan Lukas, Lukas itu hanya pantas bersanding denganku, lihat saja nanti, aku akan segera mendepakmu dari kantor Lukas." batinnya licik.
"Jadi Tari, Lukas adakan di ruangannya."
"Mmm, iya, pak Lukas ada kok." jawab Tari malas.
"Oke, terimakasih Tari, aku akan menemui mas Lukas dulu." Arin melenggang dengan anggunnya berjalan menuju ruangan Lukas.
"Dia begitu sangat cantik, anggun dan berkelas, dia juga berasal dari keluarga kaya lagi sama seperti mas Lukas, dibandingkan dengan aku, aku jelas tidak ada apa-apanya." Tari merasa minder dan rendah diri.
"Tapi meskipun begitu, mas Lukas memilihku sebagai kekasihnya, bukan gadis ganjen itu." fakta tersebut sedikit tidaknya membuat hati Tari menjadi lebih baik.
"Tapi kalau lama-lama mas Lukas digoda oleh Arin, lama-lama mas Lukas akan tergoda juga." Tari menggeleng keras, "Jangan berfikiran negatif Tari, percayalah sama Lukas, dia hanya mencintaimu, dia pasti bisa menjaga hatinya hanya untukmu." Tari meyakinkan dirinya.
"Iya, aku harus percaya sama mas Lukas."
****
Lukas mendongak saat mendengar pintu ruangannya terbuka, dia terkejut saat mengetahui kalau yang datang itu adalah Arin, tadi dia fikir Tari yang membuka pintu ruangannya.
"Arin." gumamnya saat melihat gadis tersebut berdiri dipintu.
"Hai mas Lukas." sapa Arin mengembangkan senyumnya, dia berjalan menghampiri Lukas.
"Kamu ngapain kesini Rin."
"Ingin main saja mas, bukannya aku pernah minta izin ya sebelumnya supaya diizinkan main ke kantor kamu."
"Hmmm." desah Lukas seperti orang yang tidak senang dengan kedatangan Arin, memang tidak senang sieh.
"Apa aku mengganggumu mas, atau kamu tidak suka dengan kedatanganku."
Jawab Lukas dalam hati, "Tentu saja kamu menggangguku." tapi karna tidak enak untuk mengatakan hal tersebut, akhirnya dia berkata, "Gak kok, kamu tidak mengganggu."
"Oh syukurlah, aku senang dengernya, tadi aku takut kalau kedatanganku mengganggumu."
"Hmmm." desah Lukas untuk sesaat menghentikan kesibukannya karna kedatangan Arin yang tiba-tiba begini.
Lukas berdiri dari kursi kerjanya, dan menuntun Arin menuju sofa yang ada diruang kerjanya.
"Duduk disana Rin."
Arin mengangguk dan mengikuti Lukas menuju sofa.
"Mas, aku haus, apa kamu tidak menawariku minum."
"Oh tentu saja, kamu mau minum apa Rin."
"Teh saja mas."
"Baiklah, aku akan meminta Tari untuk membawakannya untukmu."
Arin mengangguk, dalam hatinya dia tersenyum licik.
"Halo Tari, tolong bawakan teh untuk Arin ke ruanganku." pinta Lukas dari saluran telpon dimeja kerjanya sebelum dia kembali menghampiri Arin yang kini duduk manis disofa.
"Mas Lukas."
"Iya kenapa Arin."
__ADS_1
"Aku boleh minta pendapat mas Lukas tidak tentang skripsiku sebelum aku membawanya bimbingan pada dosenku, siapa tahu gitu mas Lukas bisa memberi masukan."
Jelas saja Lukas menolak karna dia tidak tahu menahu tentang dunia kedokteran, "Maafkan aku Arin, kamu sangat tahukan itu bukan bidangku, jadi jelas saja aku tidak bisa memberikan masukan tentang skripsi yang saat ini tengah kamu kerjakan."
Namun tanpa memperdulikan kata-kata Lukas, Arin mendekati Lukas yang duduknya agak berjauhan dengan Arin.
"Mas Lukas hanya periksa-periksa saja deh, aku yakin meskipun bukan bidangnya mas Lukas, mas Lukas bisa ngasih saran atau masukan gitu." Arin ngeyel dan mengeluarkan skripsinya dari dalam tas dan memperlihatkannya sama Lukas.
Karna tidak enak menolak permintaan Arin, dengan terpaksa Lukas menuruti keinginan Arin hanya untuk menghargai gadis itu, Lukas tidak sadar kalau Arin duduk menempel dengannya, dia bahkan meletakkan dagunya dilengan Lukas.
Dan saat itu, pintu ruangan Lukas terbuka, Tari berada di ambang pintu membawa nampan dengan cangkir berisi teh untuk Arin, saat matanya disuguhkan oleh pemandangan tersebut, hati Tari panas membara, siapa yang tidak panas hatinya saat melihat sang kekasih nemplok-nemplok kayak cicak begitu dengan wanita lain.
Lukas yang sadar mengetahui kalau tubuhnya berdempetan dengan Arin langsung menggeser tubuhnya, sumpah dia ngeri melihat mata Tari yang menyala karna api cemburu.
"Ehh Tari, ayok masuk Tari." ucap Arin sok akrab, "Rasain kamu Tari, pasti hati kamu sangat panas membara melihat aku nempel-nempel kayak perangko begini dengan mas Lukaskan." ujarnya
dalam hati sambil tertawa bahagia.
"Apa sieh yang mas Lukas lakukan dengan gadis ganjen itu, nempel-nempel kayak gitu, ternyata selama ini aku salah menilai mas Lukas, ternyata dia sama saja seperti laki-laki lain, genit dan ganjen, tidak bisa lihat cewek bening dikit matanya langsung ijo." jengkel Tari dalam hati sambil menatap Lukas tajam.
"Duhh, pasti Tari salah paham nieh dengan aku." Lukas was-was.
Tari meletakkan cangkir teh dengan cukup keras sehingga membuat isin cangkir tersebut bergolak.
"Haha." Arin tertawa dalam hati, "Tari benar-benar cemburu ternyata."
Lukas berjanji dalam hati untuk menjelaskan akan hal ini nantinya sama Tari.
"Terimakasih ya Tari tehnya."
"Hmmm."
"Tadi mas Lukas bantuin aku lho meriksa skripsi aku." Arin berusaha semakin memperpanas suasana.
"Pintar banget ya pak Lukas yang lulusan ekonomi ini sampai mengerti skripsi anak kedokteran."
"Tari aku...."
"Silahkan lanjutkan kalau begitu, maaf mengganggu kalian." suara Tari terdengar sangat dingin menusuk sampai tulang sebelum dia berbalik.
"Yahh, Tari ngambek, sepertinya aku harus berusaha sangat keras untuk membujuknya." Lukas mendesah dalam hati dan hanya menatap punggung Tari yang berjalan keluar dari ruangannya.
"Ishhh, dasar menyebalkan banget sieh sik Arin itu, dasar ganjen, sengaja banget deh dia nempel-nempel sama mas Lukas begitu, bukan salah Arin sepenuhnya, mas Lukas juga yang ganjen dan genit, dasar, dimana-mana, semua laki-laki sama saja." Tari meluapkan kekesalannya dipantri.
"Kamu kenapa Tari, kelihatannya kamu tengah kesal."
Tari berbalik saat mendengar suara tersebut dan menemukan Firman berjalan ke arahnya, lebih tepatnya ke pantri, entah mungkin dia ingin membuat kopi atau apa.
"Ehh pak Firman." Tari merasa sangat malu.
"Kamu kenapa sieh Tari, aku denger kamu teriak-teriak begitu, kelihatannya kamu lagi kesel ya."
"Ahh gak kok pak."
Tentu saja Firman tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Tari.
"Apa ini gara-gara mbak Arin."
"Ehh." heran Tari, fikirnya dari mana Firman tahu akan hal ini.
"Tadi aku dari ruangannya pak Lukas, dan yah, aku lihat mbak Arin disana sieh."
"Hmmm." Tari pura-pura tidak peduli, padahal dia sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Firman selanjutnya.
"Mbak Arin itu tahu kalau pak Lukas tidak menyukainya, tapi masih saja dia mendekati pak Lukas, padahalkan pak Lukasnyakan suka sama kamu ya Tari."
Tari tidak tahu harus membalas apa sehingga dia hanya diam saja dan tidak menanggapi clotehan Firman.
"Tapi, kamu tenang sajalah Tari, saya tahu pak Lukas itu kayak gimana, dia bukan laki-laki genit dan ganjen yang dengan mudah tergoda dengan wanita biar bagaimanapun cantiknya, yakinlah, pak Lukas bisa menjaga hatinya untuk kamu." ucap Firman dengan penuh keyakinan.
"Bisa menjaga hatinya bagaimana, orang dia nempel-nempel dengan wanita ganjen itu." ujar Tari dalam hati.
"Mmm, saya ke meja saya dulu ya pak Firman, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan." Tari berjalan meninggalkan pantry dan Firman.
"Ingat Tari, percaya sama pak Lukas, dia laki-laki yang setia yang tidak akan dengan mudahnya tergoda dengan wanita secantik apapun, cintanya hanya untukmu, semangat Tari." Firman berteriak memberitahu Tari.
"Apa sieh maksudnya sik Firman itu dengan mengatakan hal tersebut, dia tidak tahu saja kelakuan bosnya didalam sana, nempel-nempel kayak perangko dengan sik ganjen Arin itu." Tari memandang pintu ruangan Lukas dengan tajam, seolah-olah ingin membelah pintu tersebut dengan tatapan matanya.
****
Didalam ruangan Lukas, Lukas jadi sangat kesal dengan Arin, pasalnya gadis itu seperti mencari-cari alasan untuk menempel-nempel kepadanya, sudah tahu dia tidak mengerti sama sekali tentang dunia kedokteran, dia malah menyodorkan skripsinya lagi, ditambah lagi, hal ini membuat Tari cemburu lagi, dan gara-gara Arin yang terus menahannya sehingga Lukas harus menahan keinginannya untuk menjelaskan kebenaran yang terjadi sama Tari.
"Cukup Arin, apa sieh maksud kamu sebenarnya." tegas Lukas yang sudah tidak tahan lagi dengan Arin.
"Ehh, aku tidak punya maksud apa-apa mas Lukas."
"Terus kenapa kamu terus menyodorkan skripsi kamu itu, padahal kamu sangat tahu aku tidak mengerti dengan dunia kesehatan."
"Aku hanya meminta pendapatmu saja mas, apa aku salah."
"Kalau mengerti saja tidak, bagaimana bisa aku memberikan pendatku."
"Ya deh maafkan aku mas Lukas karna telah membuat otak bisnismu itu mumet dengan skripsi kedokteranku mas."
"Hmmm." Lukas mendesah berat.
"Mas ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama." ajak Arin saat melirik jarum jam dipergelangan tangan kirinya.
"Maafkan aku Arin, tapi aku tidak bisa." tolak Lukas.
"Mas Lukas kok gitu sieh, akukan kesini memang selain niatnya mau main-main ke kantornya mas Lukas, aku juga ingin ngajakin mas Lukas makan siang bareng, ayoklah mas Lukas, kali ini saja ya." Arin memaksa.
Lukas yang orangnya tidak tegaan akhirnya terpaksa mengiyakan ajakan Arin.
"Baiklah kalau begitu." Lukas hanya berharap kalau Tari mengerti dan jangan sampai salah paham, Lukas berniat menjelaskan semuanya nanti sama Tari.
****
__ADS_1