
Akhhhhh....
Saat itu Adam tengah berada dikamar saat dia mendengar suara teriakan histeris dari istrinya, Adam terkejut, dia langsung berlari keluar untuk melihat apa yang membuat istrinya berteriak histeris begitu.
"Tari, ada apa, apa yang terjadi." tanyanya panik saat berada didekat Tari.
"Massss." jeritnya, bukan jerit ketakutan, tapi jeritan itu lebih kepada jeritan kebahagiaan.
Tari terlihat begitu sangat senang, seperti orang yang mendapatkan undian mobil.
Adam masih menunggu berita apa yang akan disampaikan oleh istrinya
"Mas Adam, aku diterima mas, aku diterima, tadi pihak perusahaan nelpon aku dan mengatakan kalau besok aku sudah bisa mulai kerja." Tari memberitahu dengan antusias, wajahnya terlihat begitu bersemangat.
Adam ikut bahagia dengan berita yang disampaikan oleh istrinya, tapi disisi lain, perasaannya nelangsa, Tari sudah mendapatkan pekerjaan, sedangkan dirinya bisa dipastikan akan jadi pengangguran.
"Selamat ya sayang, aku yakin kamu akan diterima."
"Terimakasih mas, aku sangat bahagia sekali."
Adam tersenyum memaklumi, memang sudah seharusnya Tari bahagia karna dia diterima diperusahaan yang dia impikan.
"Ohh ya mas, bagaimana kalau kita makan diluar untuk merayakan keberhasilanku." sarannya.
"Mmmm, baiklah." Adam mengiyakan ajakan istrinya.
"Aku ajak Laura ya mas, diakan sahabatku salah satu orang yang selalu mendukungku, jadi, dia juga harus ikut merasakan kebahagiaanku."
Adam mengangguk menyetujui kata-kata Tari.
Tari kemudian mengutak-atik ponselnya untuk mencari nomer Laura, dan setelah ketemu, dia langsung mendial nomer Laura.
"Halo Ra." sapa Tari bersemangat begitu sambungan terhubung.
Dari suaranya saja orang tahu kalau saat ini Tari tengah bahagia.
"Iya Tari, ada apaan, kayaknya kamu lagi bahagia nieh."
"Aku diterima bekerja disalah satu perusahaan yang aku impi-impikan sejak lama Ra."
"Oh ya, benarkah."
"Iya, tadi pihak perusahaan nelpon aku dan mengabarkan kalau aku diterima diperusahaan mereka, dan mulai besok aku sudah bisa mulai masuk kerja." beritahunya antusias.
"Astagaa, selamat ya Tari, aku ikut bahagia untuk kamu."
"Terimakasih Laura."
"Untuk merayakan keberhasilanku, aku dan mas Adam berencana makan diluar, kamu ikut ya Ra."
"Oke, aku pasti ikut."
"Berhubung karna kalian tidak punya kendaraan, nanti sekalian aku jemput kalian ya ke rumah."
"Gak perlu Ra, kami naik taksi saja, nanti aku kirim alamat restorannya dan kita ketemu disana."
"Gak gak, aku yang jemput kalian." Laura memaksa, dia tidak setuju dengan ide Tari.
"Baiklah kalau kamu memaksa."
"Aku akan sampai dirumah jam 07.00 teng."
"Oke."
Dan setelah mendapat kesepakatan, mereka mengakhiri percakapan mereka.
Tari kembali beralih pada Adam, "Mas, aku senang banget tahu gak, akhirnya aku diterima juga."
"Aku juga ikut bahagia Tari."
"Kalau gitu aku siap-siap dulu mas, Laura katanya akan jemput jam 07.00." Tari ngacir ke dalam kamar meninggalkan Adam yang berdiri tarpaku ditempatnya.
"Dan aku, apa yang harus aku lakukan, masak iya kerjaanku hanya tidur dan dibiayai oleh istriku, apa kata orang." lenguh Adam, "Tidak bisa tidak bisa, aku harus cari kerja, meskipun tanpa ijazah, aku pasti akan bisa mendapatkan pekerjaan, benar kata Tari dan mbak Hawa, ijazah bukan segalanya." ujarnya berusaha menyemangati dirinya.
****
"Astagaa, lama-lama bisa rusak gendang telinga gue kalau setiap kurang dari dua detik ngedengerin suara berisik dari deringan HP lo Kas, angkat apa susahnya sieh." omel Parhan salah satu teman Lukas yang merasa terganggu dengan deringan ponsel Lukas yang sejak 10 menit yang lalu terus berdering tanpa henti.
Lukas menghisap rokoknya dan kemudian menghembuskan asapnya ke udara, sebelum membalas omelan Parhan, "Biarin ajalah, malas gue, tuh cewek menyebalkan sekali, tiap detik nelpon, ngechat, dikit-dikit bilang kangen, I LOVE YOU, ngajak ketemuan, belanja, bla bla, difikir aku ATM berjalannya apa."
Erik terkekeh mendengar keluhan sahabatnya itu, dia sangat tahu, kalau sudah mengabaikan panggilan dan mengeluh tentang cewek yang saat ini dia pacari, berarti Lukas sudah bosan dengan tuh cewek, tinggal tunggu waktu saja untuk dicampakkan, "Tanda-tandanya sebentar lagi lo bakalan nyampakin Luna nieh." Erik menyuarakan apa yang saat ini ada difikirannya.
__ADS_1
"Hmmm, sepertinya begitu, mana ada laki-laki yang tahan sama wanita modelan begitu, posesif dan pemaksanya tidak ketulungan." Lukas membenarkan.
Lukas selalu menggunakan alasan itu untuk mencampakkan cewek supaya tidak kelihatan banget brengseknya, padahal Luna dan cewek-ceweknya yang sebelumnya tidak separah yang dia katakan, dianya saja yang brengseknya gak ketulangan.
"Memang dasar brengsek lo ya, setelah habis manisnya, sepah lo buang." Parhan menimpali.
Lukas mengangkat bahu, "Kalau ada yang manis, kenapa harus sama yang pahit."
Dua sahabat Lukas yang saat ini bersamanya tertawa ngakak mendengar kalimat Lukas, dua cowok ini juga sama brengseknya dengan Lukas, itu kenapa mungkin mereka cocok berteman satu sama lain semenjak zaman kuliah sampai sekarang.
Saat ini 3 laki-laki brengsek, itu tengah pada nongkrong disalah satu cafe yang sering mereka datangi sejak zaman kuliah dulu sehingga tidak heran pemilik cafe tersebut mengenal mereka bertiga dan bisa dibilang akrab juga.
Diantara mereka bertiga, hanya Lukas yang tidak bekerja, alias pengangguran, dia menyandang predikat pengangguran karna memang malas saja untuk bekerja, fikirnya, buat apa bekerja kalau uang orang tuanya sangat banyak, dia tinggal menghabiskan saja, toh papanya bekerja keras juga untuk dirinya, jadi, buat apa dia juga harus bekerja, wong harta orang tuanya tidak akan habis sampai tujuh turunan tujuh tanjakan.
Sedangkan dua sahabatnya yang lain, yaitu Parhan dan Erik, dua orang itu bekerja di sebuah perusahaan, mereka memang tidak sekaya Lukas yang bisa nyantai-nyantai tanpa bekerja.
"Sepertinya lo punya gebetan baru." selidik Erik melihat gelagat sahabatnya itu.
"Hmmm, cewek yang gue temui semalam diclub, namanya Karin, cantik dan menarik, gue sudah dapat nomer whatsapnya." Lukas memberitahu dengan bangga, intinya, dengan apa yang Lukas miliki, tidak ada sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan.
Erik dan Parhan saling melempar pandangan satu sama lain, dua orang itu sama-sama nyengir sebelum Parhan berkata, "Sumpah, lo benar-benar cowok terbrengsek yang pernah gue temui Lukas, lo benar-benar memanfaatkan ketampanan dan kekayaan orang tua lo dengan sebaik-baiknya." kekehnya.
"Jangan katakan gue brengsek seolah-olah lo adalah cowok alim sialan."
Parhan terkikik, "Yahh, tapi keberengsekan gue itu masih tahap sedang, sedangkan lo, tahap keberengsekan elu sudah tahap diluar nalar, parah cuyy."
"Hahaha." Erik tertawa terpingkal mendengar ocehan Parhan, dia bahkan sampai memegang perutnya, "Busett lo Han, hahaha, bikin gue sakit perut aja lo." Erik mentertawakan perkataan Parhan yang mengatakan kalau kberengsekan Lukas diluar nalar.
Lukas hanya mendengus melihat sahabatnya meledeknya dan mentertawakannya.
Saat itu ponsel Luka yang tergeletak dimeja berdering entah sudah kesekian kalinya, lama-lama Lukas juga merasa terganggu, dia meraih ponsel tersebut dan mengomel panjang pendek, "Perempuan ini, dia tidak tahu yang namanya orang lagi sibuk apa, ganggu saja."
"Sibuk memikirkan yang baru." timpal Erik cekikikan.
Namun, ekpresi wajah Lukas yang tadinya terlihat dongkol berubah drastis begitu matanya melihat nama yang tertera dilayar, ternyata bukan Luna, melainkan Karin, gadis semalam yang dia temui dibar, dia senyum-senyum sendiri sebelum menjawab
"Iya baby." suaranya begitu lembut menyapa gadis yang ada diseberang.
Parhan dan Erik kembali melempar pandangan satu sama lain dan kemudian sama-sama menggeleng.
"......"
"Oke, aku akan menemuimu sekarng, apa sieh yang gak buat wanita secantik kamu, see u baby." Lukas mengakhiri percakapannya dan memasukkan ponselnya dikantong celananya.
Erik menanggapi, "Misi maha penting dari hongkong, palingan lo hanya mau membuat gadis itu jatuh cinta dan dua atau tiga hari setelahnya bakalan lo campakkan."
"Yang ini beda bro, kayaknya gue bakalan bertahan dengan yang ini."
"Dari dulu juga lo selalu bilang begitu pada setiap wanita yang elo dekati, ehh tapi ujung-ujungnya, setelah manisnya lo dapatkan, lo bikin mewek tuh anak orang."
"Kayak lo gak aja Han." timpal Erik.
Intinya, ketiga laki-laki itu sebelas dua belas deh, gak ada bedanya
"Oke gue pergi dulu." pamit Lukas melambaikan tangan sambil lalu.
"Benar-benar sik Lukas itu."
"Sudah jangan komentarin Lukas mulu kalau lo juga sama brengseknya dengan dia."
"Lo juga brengsek." timpal Parhan.
"Hehe iya."
****
Dengan menggunakan mobil Laura, Adam membawa istrinya dan Laura ke sebuah restoran sebagai perayaan kecil-kecilan atas diterimanya Tari bekerja.
Adam dan Tari duduk didepan, sedangkan Laura duduk dibelakang sambil main ponsel.
"Mas mas, berhenti, kita makan disana saja." tunjuk Tari pada restoran yang berada dipinggir jalan.
Namun Adam tetap menjalankan mobilnya tidak mengindahkan ucapan Tari.
"Mas Adam kok gak berhenti sieh."
"Karna ini adalah salah satu hari yang membuat istriku bahagia, maka aku akan membawamu ke restoran terbaik dikota ini."
Terbaik berarti juga termewah dan termahal, itu hal yang ditangkap oleh Tari, oleh karna itu, dia buru-buru menolak, "Gak usah mas, kita makan direstoran biasa saja, mas gak perlu membawaku ke restoran terbaik, ya kan Ra."
"Aku sieh terserah, mana dibawa kemana saja aku oke."
__ADS_1
Dengan sebelah tangannya yang tidak memegang stir Adam meraih tangan istriny, "Sudah kamu diam saja, kamu tidak perlu khawatir, intinya malam ini, aku ingin mengajak istriku ketempat yang terbaik."
"Ekhemm, aku kok berasa kayak nyamuk begini seih, sumpah nyesal aku ikut, seharusnyakan aku membiarkan kalian berdua saja." canda Laura melihat kemesraan dua sejoli tersebut.
Tari terkekeh, "Kamu jangan merasa tidak enak gitu Ra, ini bukan sesuatu yang seharusnya aku dan mas Adam rayakan berdua, iyakan mas."
Adam mengangguk.
"Aku ngajakin kamu, karna kamu adalah sahabat terbaikku, yang selalu ada untukku, jadi, aku ingin kamu juga merasakan apa yang aku rasakan."
"Oke, kalau itu yang kamu katakan, aku akan menghilangkan rasa tidak enak dihatiku." kekehnya.
20 menit kemudian, Adam menghentikan mobilnya disebuah tempat parkir disebuah restoran mewah.
Dari dalam mobil, Tari terpaku melihat bangunan restoran tersebut, Tari tidak perlu bertanya apakah itu restoran mewah atau bukan karna bangunannya sudah cukup jelas memberitahunya kalau itu adalah restoran mewah yang biasa didatangi oleh orang-orang kaya.
"Mas, ini mas gak salahkan kita makan disini." tanya Tari hanya sekedar untuk memastikan meskipun tadi suaminya bilang kalau dia ingin merayakan keberhasilan istrinya dengan mengajaknya ke restoran terbaik.
"Gak sayang." bantah Adam.
Tari masih belum bergeming dari duduknya sampai Adam menegurnya,
"Kenapa masih betah duduk, ayok keluar."
"Tapi mas, ini restoran mahal, mending kita makan ditempat lain deh."
"Sudah gak apa-apa sayang, kamu tidak usah memikirkan masalah harga." Adam menenangkan Tari, memang Adam tidak punya pekerjaan apalagi uang saat ini, tapi dia memiliki kartu yang diberikan oleh Hawa kepadanya, Adam berjanji menggunakan kartu itu dalam kondisi mendesak, meskipun dibilang, kondisinya saat ini tidak dalam keadaan terdesak, tapi, tidak ada salahnyakan dia menggunakan kartu tersebut untuk membuat Tari bahagia, mengajak Tari makan ditempat mewah sekali-kali, toh selama menikah, Adam tidak pernah memberikan apa-apa sama Tari.
"Tapi mas...."
"Sudah turun yuk." karna tidak ingin mendengar Tari yang masih kukuh memintanya membatalkan niatnya makan direstoran tersebut, Adam membuka pintu mobil yang pada akhirnya membuat Tari menghentikan ucapannya yang tergantung diudara.
Tari terpaksa mengikuti Adam yang sudah turun.
"Apa lagi yang kamu tunggu, ayok masuk." ajak Adam, "Ra ayok."
Meskipun masih diselimuti keraguan, tapi toh Tari akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya, mereka bertiga memasuki restoran mewah tersebut.
Namanya juga restoran mewah, saat masukpun pintu dibukakan oleh salah satu pekerja yang memang dikhususkan untuk membuka pintu untuk para pelanggan yang datang.
"Selamat datang tuan dan nyonya." sapa sik penjaga ramah.
Mereka bertiga hanya menanggapi dengan senyum tipis.
Restoran itu tidak bisa dibilang rame, karna masih ada beberapa meja yang terlihat kosong, dan yang namanya restoran mewah, yang makan disana adalah orang-orang berduit, itu terlihat dari cari berpakaian mereka, kalau dibandingkan dengan tamu-tamu tersebut, penampilan Tari dan Adam bisa dibilang kucel, kecuali Laura tentunya yang penampilannya bisa mengimbangi restoran mewah tersebut.
Selama pacaran dengan Adam, Tari memang pernah beberapa kali diajak ke restoran mahal oleh Adam, meskipun begitu, matanya masih saja menjelajah seluruh ruangan, mengamati desain restoran yang begitu sangat mewah.
Salah satu pelayan menghampiri meja yang mereka tempati membawa buku menu dan meletakkan satu-satu didepan masing-masing.
"Silahkan nyonya, tuan, mau pesan apa." sik pelayan siap mencatat.
Seharusnya Tari tidak perlu kaget saat melihat harga yang tertera disetiap makanan yang ada dibuku menu tersebut, tohkan memang ini adalah restoran mewah, sangat wajar kalau harganya mahal, tapi tetap saja matanya melebar saat melihat harga yang tertera, ingin mengajak Adam keluar dan mencari restoran lainn, tapi kok rasanya sungkan ya, apalagi sik pelayan sudah siap mencatat pesanan mereka.
Adam dan Laura sudah menyebutkan pesanan mereka, Tari yang masih memilih-milih, Tari bukannya bingung ingin makan apa, hanya saja dia mencari makanan termurah, karna masih belum ada tanda-tandanya mau menyebutkan apa yang ingin dia pesan sampai Adam menegurnya.
"Sayang, kamu mau makan apa."
"Aku bingung mas." alibinya.
"Samain dengan pesanan aku saja ya."
Tari mengangguk pasrah.
Acara makan malam sebagai syukuran perayaan atas diterimanya Tari bekerja disebuah perusahaan ternama itu berjalan dengan hangat, tiga orang itu makan sambil diselingi oleh obrolan, sampai pada saat mereka selesai dan Adam memanggil pelanggan untuk meminta bill.
Tari sudah mengeluarkan dompetnya, namun dia ditahan oleh Adam, "Biar aku saja sayang." Adam merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompet untuk mengambil kartu pemberian Hawa dan memberikannya pada sik pelayan.
"Tunggu sebentar ya tuan." pinta sik pelayan yang membawa kartu yang diserahkan oleh Adam.
Adam mengangguk.
"Mas Adam masih memiliki kartu, dia bilang semua fasilitas yang diberikan oleh papanya dicabut, dan sekarang gimana ceritanya mas Adam membayar dengan kartu kredit tersebut." Tari hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, dia tidak mungkin bertanya secara langsungkan karna saat ini dia tengah bersama dengan Laura.
Dan setelah menerima kartunya kembali, Adam mengajak istrinya dan Laura untuk pulang, tapi begitu mereka sudah berada diluar, mereka berpapasan dengan orang tua Adam yang juga berniat untuk makan malam direstoran tersebut.
Otomatis Adam dan Tari menghentikan langkah mereka, begitu juga dengan orang tua Adam, keempat orang itu sama-sama tidak menyangka kalau akan bertemu kembali.
Laura yang sebelumnya tidak pernah bertemu dengan orang tua Adam menatap heran saat kedua sahabatnya berhenti dan malah saling pandang-pandangan dengan pasangan suami istri yang baru mereka jumpai, dia sudah akan menyuarakan keheranannya saat dia mendengar Adam bergumam.
"Mama, papa."
__ADS_1
****