CINTA SUCI MENTARI

CINTA SUCI MENTARI
BAIKAN


__ADS_3

"Laura bener, aku harus segera menyelsaikan masalahku dengan mas Adam, aku harus menegaskan sama mas Adam kalau hubungan kita telah berakhir dan memintanya untuk jangan menemui aku lagi." Tari bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mondar-mandir dikamarnya.


Hari sudah menjelang sore, Laura sudah pulang, sementara ayahnya juga masih belum pulang dari menarik angkot.


Bibir Tari boleh mengatakan kalau hubungan mereka telah berakhir, tapi hatinya rasanya susah untuk menerima, sesak rasanya dada Tari melepas laki-laki yang dia cintai hanya karna status sosial, apalagi saat Tari menarik cincin yang disematkan oleh Adam dijari manisnya, cincin itu begitu susah untuk dikeluarkan seolah-olah memang cincin di takdirkan melingkar dijari manisnya.


Tari melepas cincin tersebut dibarengi dengan deraian air mata yang tiba-tiba jatuh bak hujan, sumpah Tari tidak rela melepaskan cincin itu dari jarinya, tapi dia harus.


"Maafkan aku mas Adam, tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita, aku harap kamu akan bertemu dengan wanita yang diinginkan oleh keluargamu mas." gumamnya memasukkan cincin itu dikotak beludru berwarna merah.


Tari menghapus air matanya, dan mengetik pesan untuk Adam.


Tari: Mas Adam, aku ingin bertemu denganmu mas, ditaman tempat kita pertama kali bertemu.


Hanya butuh 4 detik balasan Adam masuk ke ponselnya.


Adam : Iya sayang, aku memang berniat untuk menemuimu, aku jemput kamu ya.


Tari : Tidak usah mas, Tari berangkat sendiri saja.


Adam : Baiklah, suruh abang-abang angkotnya hati-hati ya sayang, aku tidak ingin calon istriku sampai kenapa-napa.


Tari tidak membalas, Hati Tari semakin sesak membayangkan kalau ini mungkin menjadi pertemuan mereka yang terakhir.


"Kamu yang kuat Tari, semuanya akan baik-baik saja, jangan sampai kamu lemah dan menangis didepan mas Adam." Tari mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Tari mengambil tasnya dan memasukkan kotak cincin tersebut ke dalam tasnya, setelah mengahapus air matanya sampai bener-bener kering, barulah dia melangkah keluar dari rumahnya untuk menemui Adam.


****


Saat ini Adam tengah menyetir, tujuannya adalah rumah Tari, tapi dalam perjalanan, Tari mengirim pesan dan memintanya untuk bertemu di taman,


Adam tersenyum saat membaca pesan yang dikirim oleh Tari, dia tidak menyangka kalau pada akhirnya Tari mengajaknya bertemu.


Adam menghentikan mobilnya ditoko bunga untuk membeli bunga untuk sang kekasih, dan setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia kembali melajukan mobilnya menuju tempat tujuan, dia benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Tari, oleh karna itu, dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya dia cepat sampai ke tujuan.


"Tari, aku kangen kamu sayang." lirihnya.


Setibanya ditaman tempat pertamakali mereka bertemu, Adam mengedarkan matanya untuk mencari keberadaan Tari, namun sepertinya Tari belum datang sehingga Adam memilih duduk dikursi panjang yang menghadap ke arah danau buatan.


Adam berjanji akan berusaha untuk meyakinkan Tari supaya tidak mengakhiri hubungan mereka, Adam bener-bener mencintai Tari dan tidak bisa membiarkan Tari begitu saja mengakhiri hubungan mereka.


****


Dari jarak beberapa meter, Tari bisa melihat punggung Adam yang duduk membelakanginya, Tari seketika menghentikan langkah kakinya, hati Tari bergemuruh, rasanya dia tidak siap untuk bertemu dengan Adam, tapi dia harus. Setelah menguatkan hatinya, Tari kembali berjalan mendekati Adam.


"Mas Adam." panggilnya dengan suara pelan.


Pemilik nama itu langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh wanita yang sejak tadi dia tunggu. Begitu Adam berbalik ke arahnya, Tari bisa melihat senyum lebar dan pancaran kerinduan dari mata Adam.


"Tariiii." seru Adam girang, dia langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Tari.


Begitu didekat Tari, Adam langsung memeluk Tari untuk menyalurkan kerinduan dan rasa sedih yang berbaur menjadi satu dihatinya.


Tari tidak menolak, dia bahkan melingkarkan tangannya memeluk pinggang Adam, dia yang sejak dari rumah berusaha menguatkan hatinya dan berusaha menghafal kata-kata yang akan dia katakan sama Adam untuk bener-bener mengakhiri hubungan mereka, dia kini terisak tanpa suara dalam pelukan sang kekasih, lebih tepatnya mungkin mantan kekasih karna Tari telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


"Aku kangen banget sama kamu sayang, jangan coba-coba berani-beraninya meninggalkan aku." ujar Adam.


"Maafkan aku mas Adam, hubungan kita harus berakhir." desah Tari dalam hati.


Adam mengurai pelukannya, dilihatnya kekasih yang sangat dia cintai menangis, "Heii, kenapa kamu menangis sayang."


Tari menggeleng, "Aku tidak apa-apa mas." ucapnya dilisan, padahal jelas dia kenapa-napa.


Adam menangkup wajah Tari dan dengan jari jempolnya dia menghapus air mata Tari, dia kemudian mendekatkan bibirnya mencium kening kekasih yang sangat dia cintai.


Tari memejamkan matanya merasakan bibir hangat Adam menempel dikeningnya.


"Aku mencintaimu dan akan menikahimu." ujar Adam dengan suara berbisik.


Tari membuka matanya yang langsung bersitatap dengan mata sendu Adam.


"Aku juga mencintaimu mas Adam." lirihnya hampir tanpa suara.


Adam mendekatkan keningnya dikening Tari, untuk sesaat kening dua sejoli itu menempel satu sama lain.


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap menikahimu Tari, bahkan jika keluargaku tidak merestui hubungan kita."


Tari langsung menarik dirinya dan agak menjauh dari Adam, bibirnya bergetar.


"Kenapa Tari, kamu tidak mau menikah denganku." cecar Adam meraih tangan tangan Tari.


Tari menarik tangannya, "Jangan mas."

__ADS_1


"Kenapa Tari." Adam terlihat kecewa karna penolakan Tari.


Tari membalikkan badannya, siapapun tolong dia, dia sangat berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh, tapi sekuat apapun dia berusaha, buliran bening itu meluncur begitu saja membasahi pipinya, Tari buru-buru menghapusnya.


"Hati, tolong kuatlah, jangan lemah begini."


Setelah merasakan dirinya mampu mengatakan apa yang ingin dia katakan, dia kembali berabalik menghadap Adam.


"Tari aku....."


"Mas, aku meminta bertemu dengan mu untuk mengembalikan cincin pemberianmu." Tari membuka resleting tasnya dan mencari kotak cincin yang tadi dia masukkan disana.


Tari mengeluarkan kotak beludru berwarna merah marun dan menyodorkannya pada Adam.


"Tari, ini maksudnya apa." Adam memandang kotak cincin yang dia berikan pada Tari, cincin yang dia gunakan untuk melamar Tari, dan kini cincin itu malah dikembalikan oleh Tari.


"Hubungan kita sudah berakhir mas, dan aku harus mengembalikan cincin yang kamu berikan."


Adam melotot, "Apa-apaan ini Tari." suara Adam meninggi, bukan ini yang dia inginkan, dia bertemu dengan Tari untuk memperbaiki hubungan mereka, bukan untuk melihat Tari menyerahkan cincin yang dia sematkan pada jari manis kekasihnya itu.


"Aku....." Tari berusaha supaya tidak menangis, "Aku tidak bisa menikah denganmu mas, ambillah kembali cincinmu."


"Aku tidak mau Tari, aku akan tetap menikahimu meskipun kedua orang tuaku tidak merestui hubungan kita." Adam nyolot.


Tari tahu Adam mencintainya, tapi Tari tidak mau hanya karna dirinya hubungan Adam dan orang tuanya menjadi retak.


"Tapi aku tidak bisa mas, maafkanlah aku." Tari meraih telapak tangan Adam dan menjejalkan kotak cincin itu ditangan Adam, "Aku yakin, akan ada wanita yang lebih cocok untuk memakai cincin itu." cetusnya tidak rela.


"Selamat tinggal mas, aku berharap kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku dan pastinya akan diterima oleh keluargamu." setelah mengatakan hal tersebut, Tari berbalik dan pergi, disaat ini, Tari sudah tidak tahan lagi, air mata yang sejak tadi ditahannya kembali tumpah ruah, berpisah karna orang ketiga itu sakit, dan berpisah karna tidak direstui juga sama sakitnya.


"Ya Tuhan, kenapa sesak sekali dadaku." Tari memegang dadanya.


Adam berlari menyusul Tari, tentunya dia tidak rela membiarkan Tari memutuskan hubungan mereka begitu saja, dengan langkahnya yang lebar Adam berhasil menyusul Tari, dia meraih pergelangan Tari yang otomatis membuat tubuh Tari berbalik menghadapnya.


Tari kaget karna tidak menyangka Adam menyusulnya.


"Kamu memutuskan hubungan kita dan mengembalikan cincin pemberianku, tapi kenapa kamu menangis Tari." cecar Adam melihat pipi Tari basah oleh air mata.


"Aku hanya...aku hanya...." suara Tari terbata.


"Terpaksa karna mamaku." Adam melanjutkan kalimat Tari yang tidak sanggup dia lanjutkan.


"Bukan begitu mas, aku hanya merasa tidak pantas untukmu, kamu berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku." alibinya.


"Tapi kamu yang terbaik untuk Tari, aku tidak ingin yang lain." tandas Adam.


"Ssstttt." Adam menempelkan jari telunjuknya dibibir Tari, "Aku mau kamu dan hanya kamu, mengertikah kamu Tari." Adam berusaha meyakinkan Tari kalau yang dia inginkan adalah Tari, bukan wanita lain seperti yang dikatakan oleh Tari.


"Aku mencintaimu Mentari Whardani, dan akan selalu seperti itu, kamu juga mencintaikukan."


"Aku tidak....."


Adam menangkup wajah Tari dan meyelam menatap mata Tari karna mata tidak pernah bisa berbohong, "Kamu mencintaikukan."


Tari akhirnya mengangguk dibawah tatapan mata Adam.


Adam tersenyum, "Terimakasih karna telah mencintaiku Tari, kita akan segera menikah." putus Adam sepihak.


"Tapi bagaimana dengan keluarga mas Adam."


"Dengan atau tanpa restu dari mereka, aku akan tetap menikahimu."


"Tapi hubungan mas Adam dengan keluarga mas nantinya bisa retak, dan aku tidak ingin keluarga mas Adam membenci mas Adam."


"Aku tidak peduli asal aku bisa bersama dengan kamu Tari, kita akan memulai hidup yang baru dan memiliki anak-anak yang lucu, kamu maukan menikah dan hidup bersamaku Mentari Whardani." Adam kembali melamar Tari ditempat pertamakali mereka bertemu.


Bibir Tari melengkung mendengar rencana indah itu, dengan malu-malu dia mengangguk, "Aku mau mas Adam."


Adam membawa Tari dalam pelukannya, mereka berpelukan satu sama lain berbagi rasa bahagia satu sama lain.


"Ohh iya tunggu sebentar." Adam mengurai pelukannya, dia berlari ke arah kursi yang tadi dia duduki, dia mengambil bunga yang tadi dibelinya dan kembali pada Tari, "Ini untuk kamu." menyerahkan bunga tersebut pada Tari.


Tari mengambil bunga yang disodorkan oleh Adam, "Terimakasih mas." Tari mendekatkan bunga itu dihidungnya untuk menghirup aroma harumnya.


Adam kemudian berlutut, dia melamar Tari untuk yang kedua kalinya, dan dilamaran kedua ini, dia melakukannya dengan sedikit romantis, dia membuka kotak cincin yang tadi Tari serahkan kembali padanya, Adam berkata, "Mentari Whardani, untuk kedua kalinya aku meminta padamu, maukah kamu menikah denganku dan menjadi pendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku."


Tari membekap bibirnya, dia tidak bisa menahan rasa harunya, dia kembali menangis, tapi kali ini bukan menangis karna sedih, tapi dia menangis karna bahagia, dan tanpa menunggu lama, Tari mengangguk sebagai jawaban atas lamaran Adam.


"Iya mas, aku mau menikah denganmu, mendampingimu dan menjadi ibu dari anak-anakmu."


Senyum Adam mengembang, dia berdiri dari posisi berlututnya dan meraih jemari Tari dan kembali memasang cincin itu dijari manis sang kekasih, mereka kembali berpelukan.


Terdengar suara tepuk tangan dari sekeliling mereka yang membuat dua sejoli itu mengurai pelukan mereka.

__ADS_1


"Ya ampun mas, aku malu, kenapa tiba-tiba kita jadi tontonan begini." desis Tari melihat sekelilingnya.


Ternyata, beberapa orang yang merupakan pengunjung taman berhenti dan menjadi saksi lamaran tersebut, bahkan ada yang memvidiokannya dengan kamera ponsel mereka.


"Selamat ya mas, mbak." orang-orang itu mengucapkan selamat dan menyalami Adam dan Tari bergantian, mereka juga turut berbahagia dengan kabahagian pasangan tersebut.


"Terimakasih, terimakasih karna kalian mau menjadi saksi lamaran saya." Adam mengucapkan terimakasih.


"Semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan." doa yang ucapkan oleh salah satu orang tersebut.


"Amin, sekali lagi terimakasih." Adam kembali mengucapkan terimakasih.


Dan sisa hari itu mereka habiskan dengan pergi ke tempat-tempat yang bersejarah untuk mereka berdua dan mengenang kembali masa-masa indah yang pernah mereka lewati bersama, dan kisah hari itu mereka tutup dengan makan malam di sebuah restoran yang menyuguhkan suasana romantis.


Tangan kedua sejoli itu saling bertaut satu sama lain diatas meja, mereka tidak henti-hentinya tersenyum pada satu sama lain dengan tatapan penuh cinta.


"Aku sudah tidak sabar untuk menikah denganmu, tiap hari terbangun dan melihat wajahmu disampingku."


Tari tersenyum, "Tapi bagaimana dengan keluargamu mas." lagi-lagi Tari menanyakan hal itu.


"Sudah ku bilang, aku tidak peduli dengan mereka, aku akan tetap menikahimu Tari meskipun tanpa restu dari mereka."


"Tapi kamu akan jadi anak durhaka mas kalau sampai menikahi aku tanpa restu dari mereka."


"Kamu adalah sumber kebahagiaanku Tari, seharusnya mereka jangan egois dengan memaksakan kehendak mereka, selama ini aku selalu menjadi anak yang baik dan menuruti setiap kata-kata mereka, apakah salah kali ini aku memilih jalan hidupku sendiri dan memilih kebahagianku."


Tari mengangguk mengerti.


"Tari, aku harap, kamu jangan pernah mengungkit-ngungkit tentang mereka lagi."


Kembali Tari mengangguk.


Ponsel Adam yang tergeletak dimeja berdering, Adam hanya menoleh untuk melihat siapa yang menelponnya, dan dia tidak berniat menjawab saat mengetahui kalau panggilan itu berasal dari mamanya.


"Siapa mas."


"Mama."


"Kenapa mas gak angkat."


"Aku malas Tari."


"Jangan gitu mas, itukan mama mas, mungkin ada hal penting yang ingin dia katakan makanya dia menelpon mas." meskipun mama Cellin telah menghinanya, tapi Tari tidak mungkin donk menanamkan kebencian pada Adam terhadap mamanya.


Karna didesak oleh Tari, Adam akhirnya meraih ponselnya dan menjawab panggilan mamanya.


"Adam, kenapa kamu belum balik juga sayang." suara mama Cellin dari seberang.


"Adam sibuk ma."


"Kamu sibuk apa sieh sayang, ayoklah baliklah nak."


"Iya ma, Adam akan balik, tapi saat ini Adam tengah ada urusan."


"Bener ya sayang kamu akan balik."


"Iya, kalau gitu ya udah ya ma, Adam tutup dulu."


"Baiklah sayang, mama tunggu dirumah ya."


"Hmmm."


Anak dan ibu itu mengakhiri panggilan.


"Mamamu memintamu pulang."


"Iya."


"Ya udah kalau gitu kita balik sekarang."


"Nanti dulu Tar, aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu, aku masih kangen." manja Adam.


"Tapi nanti mamanya mas khawatir."


"Aku sudah gede Tari, aku tidak harus pulang tepat waktukan."


"Jadi Mentari, jangan fikirkan mamaku, kamu sebaiknya duduk tenang karna aku ingin puas-puasin menatap wajah cantikmu."


"Apaan sieh kamu mas, dasar gombal." wajah Tari bersemu karna malu.


"Aku gak gombal sayang, memang kenyataannya kamu cantik sampai aku gak bisa berkedip melihatmu."


"Cukup mas Adam, mas ini membuat kepalaku jadi membesar saja."

__ADS_1


Adam terkekeh.


****


__ADS_2