
Hoek
Hoek
Tari saat ini berada ditoilet berjibaku untuk mengeluarkan isi perutnya, sayangnya tidak ada yang keluar sama sekali, Tari memegang perutnya yang terasa tidak enak, dan tubuhnya terasa lemas, Tari rasanya tidak memiliki tenaga, padahal saat ini dia harus memasak untuk Adam sebelum suaminya itu pulang, karna tidak ingin suaminya kelaparan saat pulang nanti, meskipun kondisi tubuhnya lemah, Tari memaksakan dirinya untuk melangkah ke arah dapur untuk memasak untuk Adam.
"Aku kenapa sieh sebenarnya, padahal tadi pagi aku baik-baik saja deh." keluhnya.
Tari mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dapur untuk dieksekusi, sayangnya, baru saja dalam tahap pemotongan sayuran, Tari merasakan kepalanya terasa pening yang sangat hebat, seketika tubuh Tari oleng dan kemudian tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Sayangggg...." suara Adam terdengar dari luar sepertinya dia baru pulang.
"Tari sayang, apa kamu didalam." Adam terus memanggil, dia tidak menyadari kalau istrinya kini tengah terbaring dilantai dapur.
"Sayang...." Adam mencari istrinya dikamar, tapi tidak dia temukan.
"Tari kemana ya." tanyanya pada diri sendiri, "Apa mungkin dia lagi beli sayur kali ya."
Karna merasa haus, Adam melangkahkan kakinya menuju dapur, dan begitu kagetnya dia saat melihat Tari tergeletak tak berdaya dilantai.
"Tarii...." Adam dengan cepat mendekati tubuh istrinya, "Tariii, heii." Adam menepuk-nepuk pipi istrinya, "Sayangg, buka matamu sayang." Adam panik, "Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan kamu sayang."
Orang panik biasanya tidak tahu apa yang harus dia lakukan, begitu juga dengan Adam, bukannya langsung membawa Tari langsung ke rumah sakit malah yang dia lakukan adalah menelpon Hawa.
"Ayok mbak angkat."
Sayangnya, kakaknya tidak menjawab panggilannya. Karna Hawa tidak menjawab panggilannya, Adam beralih menelpon sahabatnya Marcell, dan Marcell menjawab pada deringan pertama.
"Sik pengantin baru, tumben banget lo nelpon gue, lo...."
"Cell, apa yang harus gue lakukan, istri gue pingsan."
"Tari pingsan Dam, Tari pingsan kenapa."
Adam menggeleng, namun karna sadar Marcell tidak bisa melihat gelengannya, Adam berkata, "Gue gak tahu Cell, saat gue balik, gue sudah menemukan Tari terbaring dilantai dapur."
Marcell tahu sahabatnya kini tengah panik, oleh karna itu dia meminta Adam untuk tenang, "Oke Dam, lo tenang oke, tenangkan dulu diri lo."
Dan saat Marcell yakin sahabatnya sudah tenang, dia kembali berkata, "Oke Dam, yang sekarang harus lo lakuin adalah, bawa Tari ke rumah sakit, gue bakalan nyusul lo kesana oke."
"Baiklah."
Setelah memutus sambungan, Adam mengangkat tubuh lemah istrinya dan berjalan ke jalan raya untuk mencari taksi, karna saat ini taksilah yang paling nyaman untuk digunakan, apalagi Tari saat ini tengah tidak sadarkan diri.
*****
Adam berjalan mondar mandir didepan sebuah ruangan, sedangkan dokter didalam tengah memeriksa keadaan Tari, terdengar suara langkah mendekati Adam, Adam menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah sahabatnya.
"Gimana keadaan bini lo Dam." tanya Marcell begitu berada didekat Adam, Marcell bisa melihat wajah sahabatnya itu terlihat ketakutan.
Adam menggeleng, "Gue gak tahu Cell, dokter masih memeriksanya gue harap Tari baik-baik saja."
Marcell menepuk pundak Adam, Marcell berusaha menenangkan sahabatnya itu, "Lo yang tenang oke, jangan berfikir yang aneh-aneh, yakinlah Tari akan baik-baik saja." Marcell memberi pengutan.
Adam mengangguk berbarengan dengan terbukanya ruangan dimana Tari diperiksa oleh dokter.
Adam langsung menyerbu dokter yang menangani istrinya, "Dokter, gimana keadaan istri saya dok, apa istri saya baik-baik sajakan, tidak terjadi sesuatu hal yang buruk dengan istri sayakan dok."
"Tenang pak Adam, istri anda baik-baik saja, istri anda hanya kelelahan saja." dokter menjelaskan.
Setelah mendengar kata-kata dokter, barulah Adam tenang dan mendesah lega, "Syukurlah."
"Tapi saya sarankan, ibu Tari harus banyak istirahat, jangan biarkan ibu Tari banyak beraktifitas dulu, apalagi melakukan aktifitas yang berat, karna diusia awal kehamilan seperti ibu Tari, sangat rentan terjadi keguguran."
Adam kurang mengerti dengan penjelasan dokter, oleh karna itu dia bertanya, "Maksud dokter apa...hamil...isti saya...istri saya hamil dokter." tanyanya harap-harap cemas.
Dokter tadi tersenyum dan menyadari kalau pasangan pasutri itu belum mengetahui masalah kehamilan ini, "Iya pak Adam, istri anda hamil, dan usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke empat." jelas dokter tersebut dengan meyakinkan.
"Ini...ini benerankan dokter kalau istri saya hamil, dokter tidak bohongkan."
"Tentu saja benar pak Adam, istri anda ibu Mentari saat ini tengah mengandung buah hati anda."
Tidak terhitung rasa syukur yang dipanjatkan oleh Adam dalam hatinya, Tuhan benar-benar memberikan kebahagian yang tidak terhingga kepadanya, sudah dia mendapatkan pekerjan yang layak sesuai dengan keinginannya, dan sekarang dia mendapat kabar kalau istrinya saat ini tengah hamil, maka nikmat mana lagi yang akan dia dustakan.
__ADS_1
"Terimakasih ya Allah, terimakasih, engkau mendengarkan doa-doa kami." ucapnya penuh syukur.
Disaat bersamaan Adam merasa emosi, dia benar-benar tidak pernah membayangkan dalam hidupnya kalau dia akan merasakan kebahagian sebesar ini
Adam kemudian menjabat tangan dokter, "Terimakasih pak Dokter."
"Sama-sama pak Adam."
"Apa sekarang saya boleh menemui istri saya dokter."
"Tentu saja pak Adam." setelah mengatakan hal tersebut, dokter tersebut berlalu meninggalkan Adam.
Adam berusaha menenangkan hatinya yang saat ini membuncah dipenuhi dengan kebahagian yang tiada tara karna berita yang didengarnya dari dokter, Marcell menepuk punggung sahabatnya dan menyampaikan selamat pada sahabatnya itu.
"Selamat Dam, sebentar lagi lo bakalan jadi seorang bapak, gue turut bahagia untuk lo."
Adam tersenyum menanggapi ucapan selamat yang diberikan oleh sahabatnya itu, "Terimakasih Cell, ini adalah salah satu hal terbaik dalam hidup gue."
"Gue mengerti, lebih baik gieh sana lo temuin Tari, gue akan balik, gue gak mau ganggu kebahagian lo berdua.
"Cell lo...."
"Sudah sana masuk, lagian gue harus balik ke kantor, tadi gue izin sebentar doank untuk nemenin elo."
"Sekali lagi terimakasih Cell, lo selalu ada untuk gue, lo benar-benar sahabat terbaik gue."
"Itu gunanya sahabatkan."
Adam mengangguk, dan setelah Marcell berbalik dan berjalan menjauh, barulah Adam mendorong kenop pintu, Adam melihat Tari tengah berbaring dibankar rumah sakit, matanya menatap langit-langit ruangan, dan langsung teralih saat mendengar suara pintu terbuka.
"Sayang."
"Mas Adam."
Dengan wajah penuh senyuman Adam mendekati istrinya, Adam mencium kening istrinya, meraih tangannya dan mengecup tangan itu berkali-kali.
Tari yang melihat kelakuan suaminya yang menurutnya aneh bertanya, "Mas Adam kenapa."
Tentu saja Tari tidak mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya, "Maksud mas Adam apa sieh." Tari mengerutkan keningnya.
"Disini." dari balik baju yang dikenakan oleh Tari Adam mengelus perut Tari, "Telah tumbuh buah cinta kita sayang." mata Adam berbinar saat mengatakan hal itu.
"Maksud mas Adam, aku hamil begitu." Tari memastikan.
Adam mengangguk pasti, "Iya sayang, kamu hamil, kamu hamil anak kita."
Bibir Tari terbuka, dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi dia urungkan, rasanya dia begitu bahagia sampai membuatnya tidak bisa berkata-kata, namun kemudian, setelah bisa menguasai dirinya dia kembali berkata, "Ini beneran mas aku hamil, mas tidak lagi bercandakan."
Adam menggeleng, "Iya sayang, kamu hamil, kita akan segera menjadi orang tua."
Sebulir kristal bening merembas dari sudut mata Tari, dia bahagia, saking bahagianya sehingga membuatnya sampai menangis, "Aku hamil mas, aku hamil, ya Tuhan terimakasih atas karuniamu yang begitu sangat besar." Tari mengucapkan syukur.
Adam kembali mengecup tangan istrinya, "Mulai sekarang, kamu hanya boleh diam dirumah, jangan melakukan pekerjaan yang berat, biar aku saja yang bekerja, karna aku tidak ingin istriku ini capek dan kelelahab, aku hanya ingin istriku hanya beristirahat dan hanya menjaga buah hati kita ini."
Tari terkekeh, menurutnya suaminya terlalu lebay, tapi dia bahagia karna Adam begitu sangat memperhatikannya.
"Dan pasti kamu akan tambah bahagia sayang kalau aku memberitahu kamu kabar bahagia lainnya yang aku bawa."
"Kabar bahagia apa lagi mas." tanya Tari penuh rasa ingin tahu.
"Desain yang aku ajukan kepada pak Sutomo diterima, dan...." Adam menggantung kata-katanya, dia sengaja melakukan hal itu untuk lebih mendramatis.
Tari menunggu dengan antusias kalimat yang akan dikatakan oleh suaminya selanjutnya, rasanya hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya karna banyak hal baik yang terjadi hari ini.
"Dan berita terbaiknya adalah...pak Sutomo menerima aku bekerja diperusahaannya sayang."
"Benaran mas, mas diterima bekerja diperusahaan pak Sutomo."
"Iya sayang, aku sekarang resmi bekerja diperusahaan pak Sutomo, pak Sutomo sendiri yang memintaku untuk bekerja diperusahaannya."
"Ya Tuhan mas." Tari sampai memaksakan dirinya untuk duduk.
"Jangan duduk dulu sayang, berbaring saja."
__ADS_1
"Aku bisa mas."
Karna Tari ngeyel, Adam pada akhirnya membantu Tari untuk duduk dan setelah berhasil duduk, Tari memberikan pelukan sama suaminya, "Selamat ya mas Adam."
"Terimakasih sayang, ini semua berkat doa-doa kamu."
"Mas, hari ini aku benar-benar bahagia, Tuhan benar-benar memberikan kebahagian yang tidak terkira untuk kita mas."
"Iya sayang, Tuhan begitu sangat menyayangi kita." Adam balas memeluk sang istri.
Hari ini adalah salah satu hari terbahagia untuk keluarga kecil mereka, kebahagian yang tidak pernah mereka sangka-sangka.
*****
Sejak Adam diterima bekerja diperusahaan milik pak Sutomo, kehidupan kecil Tari dan Adam semakin membaik, Tari benar-benar hanya berdiam diri dirumah saja, Adam benar-benar protektif sama istrinya, Adam benar-benar tidak memperbolehkan istrinya melakukan aktifitas yang berat, bahkan sekedar memasak saja Adam tidak membiarkan Tari, jadinya, Tari hanya tidur, mengikuti senam hamil yang diikuti nya melalui salah satu tayangan diyoutube.
Sejak hamil juga Tari menjadi lebih manja, dia benar-benar ingin selalu berada didekat suaminya, dimanja-manja dan dielus-elus, Adam tentu saja sebenarnya kalau bisa tidak ingin meninggalkan istrinya, dia ingin selalu berada disamping Tari, tapi apa dayanya, dia juga harus bekerjakan untuk menafkahi kehidupan mereka, apalagi sebentar lagi sik kecil akan lahir kedunia, dan hal itu semakin membuat Adam giat untuk bekerja
Dan sekarang usia kandungan Tari sudah genap 7 bulan, tinggal dua bulan lagi menunggu kelahiran buah hatinya, Tari dan Adam rasanya benar-benar sudah tidak sabar untuk menunggu kelahiran buah hati pertama mereka, ditengah-tengah kebahagian yang menyelimuti keluarga kecil mereka, terselip juga kesedihan, kesedihan karna sampai sekarang orang tua Adam masih belum memberikan restunya pada dua insan itu, padahal dalam hitungan bulan mereka akan mendapatkan cucu dari putra mereka, dan yang membuat Adam dan Tari bertambah sedih adalah, Hawa yang selama ini selalu memberi dukungannya pada Adam dan Tari seolah-olah menjauh, bahkan untuk membalas chat Adam saja Hawa tidak pernah, yahh, yang Adam tidak tahu adalah kalau kakaknya itu terpaksa menjauhinya gara-gara ancaman papa Atta.
Dan saat ini Tari tengah duduk diruang tamu sambil menonton televisi, sejak hamil, Tari jadi doyan menyaksikan film kartun yang ditayangkan oleh salah satu stasiun tv nasional, saat tengah fokus-fokusnya menatap layar televisi, suara pesan masuk diponselnya mengalihkan perhatiannya, itu adalah pesan yang dikirim oleh Adam.
Adam : Sayang, dandan yang cantik ya, nanti aku jemput, malam ini kita akan diner diluar.
"Ada apa ya, kok mas Adam ngajakin makan diluar."
Karna dalam proses menabung supaya bisa membeli rumah yang lebih besar sehingga mereka sangat jarang makan diluar, mereka makan diluar hanya untuk merayakan hal-hal tertentu saja.
Tari : Emang kita mau merayakan apa mas.
Tari yang penasaran bertanya, sayangnya pertanyaan itu diabaikan oleh Adam.
"Ihhh mas Adam ini menyebalkan sekali, kalau orang bertanya ya dijawab, bukan malah hanya dibaca doank kayak gini." Tari kok jadi kesal ya, dia merasa diabaikan gitu.
Dan selain manja, Tari juga gampang ngambekan saat hamil, dikit-dikit ngambek, tapi meskipun begitu, dia mulai bersiap-siap menuruti keinginan Adam yang memintanya untuk bersiap-siap.
Dan setelah satu jam setengah, Adam datang menjemput Tari sesuai janjinya, Adam terlihat fress, dia tidak terlihat seperti orang yang baru pulang kantor.
Tari cembrut begitu melihat kedatangan suaminya, dia masih kesel karna chatnya diabaikan begitu oleh Adam.
"Sudah siap sayang." Adam bertanya.
"Hmmmm."
"Lho, kok kayak gak antusias gitu, kamu kenapa sayang, kamu marah, marah sama siapa, masak marah sama aku, gak mungkinkan, kita saja baru bertemu."
"Memang aku marah, marah karna mas Adam mengabaikan pesan aku."
"Ohhh astaga sayang, kamu marah gara-gara itu ya, maafkan aku, tadi itu aku lagi sibuk jadi gak sempat gitu ngebalas pesan kamu, maafkan aku ya sayang."
"Hmmm."
"Sudah donk sayang, jangan marah lagi, ntar cantiknya ilang lho."
"Hmmm."
"Oke, kamu mau aku ngelakuin apa supaya kamu gak marah lagi."
Tari mengarahkan jari telunjuknya dipipi dan mengetuk-ngetukkanya disana.
Adam terkekeh, sumpah sejak hamil istrinya itu begitu sangat menggemaskan, Adam mendekat dan mencium pipi istrinya dengan gemas, "Gemesin banget sieh kamu sayang."
Wajah Tari bersemu merah.
"Jadi, kamu gak marah lagikan sayang."
Tari mengangguk malu, dia merasa malu dengan dirinya yang kekanak-kanakan, hanya gara-gara pesannya tidak dibalas saja dia jadi ngambek begini.
"Oke, sekarang sebaiknya kita berangkat ya sayang." ajak Adam.
Tari mengangguk.
****
__ADS_1