
Untuk sesaat, mama Lili hanya bisa terdiam untuk mencerna apa yang disampaikan oleh putranya, dia benar-benar tidak menyangka kalau gadis yang disukai oleh putranya ternyata adalah Tari.
"Ma." panggil Lukas saat mamanya itu tidak kunjung buka suara setelah mendengar penjelasannya barusan, Lukas khawatir kalau mamanya tidak akan menyutujui hubungannya dengan Tari.
"Ma, jangan jadi orang jahat yang tidak merestui hubungan Lukas dengan Tari."
Mama Lili menatap putranya untuk sesaat, entah apa arti tatapannya itu sebelum kemudian dia tersenyum tipis, "Kamu sudah dewasa Lukas, mama rasa, kamu bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, dan tentunya kamu juga bisa memilih wanita yang tepat untukmu, dan yah, kalau kamu bahagia dengan Tari, mama pasti akan mendukung hubungan kalian."
Hati Lukas menghangat mendengar kata-kata mamanya, dia tersenyum bahagia, dia mendekat ke arah mamanya dan memeluknya, "Terimakasih ma."
Mama Lili mengelus punggung putra semata wayangnya itu, "Kamu berhak bahagia dengan wanita yang kamu inginkan sayang."
"Sekali lagi, terimakasih ma."
"Ajaklah Tari kemari sayang."
"Baik ma, Lukas akan membawanya ke rumah."
Setelah memeluk mamanya, Lukas kembali duduk, kini restu dari mama dan papanya sudah didapatkan, dan rencananya sekarang adalah melamar Tari untuk menjadi pendamping hidupnya.
Mama Lili dan papa Sebastian ikut bahagia melihat kebahagian putra semata wayangnya itu.
"Mama gak masalahkan dengan status Tari yang janda."
"Tentu saja tidak sayang, apa salahnya dengan janda."
"Karna janda lebih berpengalamankan ma." sambung papa Sebastian.
"Apaan sieh pa, nyambung aja papa ini."
Papa Sebastian tertawa begitupun dengan Lukas, dia begitu bahagia dan tidak sabar untuk memberitahukan berita bahagia ini sama Tari.
****
"Jadi, kamu sekarang sudah punya kekasih Tari." ujar Hawa mengulangi kata-kata Tari barusan.
Saat ini, Tari dan Hawa tengah berada disalah satu cafe, mereka janjian untuk ketemuan setelah sudah lama mereka tidak pernah bertemu, sampai saat ini, Tari dan Hawa masih berhubungan baik.
"Iya mbak." jawab Tari dengan senyum.
Hawa iku bahagia mendengar hal tersebut, "Akhirnya ya Tari, kamu membuka hatimu juga, mbak sangat senang mendengarnya."
"Maafkan aku ya mbak."
"Kenapa kamu minta maaf Tari."
"Karna ternyata aku mengingkari janjiku sama mas Adam, aku bilang hanya mas Adam cinta satu-satunya dalam hidupku, tapi ternyata aku...."
"Kamu bicara apa sieh Tari, justru kalau kamu terjebak dimasa lalu, Adam pasti akan sangat sedih, yakin sama mbak, dia alam sana, Adam pasti bahagia melihat kamu bahagia seperti ini, jadi Tari, jangan pernah merasa bersalah oke."
Tari mengangguk, "Terimakasih mbak, mbak selalu mendukungku."
"Tentu saja mbak akan selalu mendukungmu Tari, kamu sudah mbak anggap sebagai adik mbak sendiri."
"Sekali lagi terimakasih mbak."
"Ngomong-ngomong, mbak nanti diundangkan Tari kalau kamu menikah."
"Pasti mbak."
"Dulu mbak tidak bisa menghadiri pernikahanmu dengan Adam, sekarang mbak berharap bisa menjadi salah satu saksi dihari pernikahanmu."
"Iya mbak."
"Mbak berdoa semoga kamu nantinya akan bahagia bersama dengan laki-laki pilihanmu itu Tari."
"Amin."
Tari merogoh tasnya saat mendengar notifikasi chat dari ponselnya, chat yang dikirim oleh Lukas.
Lukas : Sayang, malam ini dandan yang cantik ya, mama mengundang kamu untuk makan malam
"Apa, mama Lili mengundang aku untuk makan malam, bagaimana ini, apa mama Lili akan menerima atau menolakku." Tari terlihat khawatir.
Dan hal itu bisa dilihat oleh Hawa, "Tari, kamu kenapa."
"Mbak, bagaimana ini, keluarga mas Lukas mengundangku untuk makan malam dirumahnya, bagaimana kalau mamanya tidak menyukaiku."
Hawa maklum dengan kekhawatiran Tari mengingat bagaimana perlakuan keluarganya dimasa lalu yang tidak merestui hubungannya dan Adam, Hawa mengelus tangan Tari yang tergeletak dimeja, Hawa berusaha untuk menenangkan Tari, "Tenanglah Tari, jangan khawatir oke, hanya karna keluargaku tidak menerimamu dimasa lalu, bukan berarti keluarga kekasihmu yang sekarang tidak menerimamu, yakinlah Tuhan itu maha adil, setelah mengalami kepedihan, sudah saatnya kamu bahagia Tari, positif thinkinglah Tari."
Tari mengangguk, dia benar-benar mama Lili tidak seperti mama Cellin.
__ADS_1
****
Saat ini Tari berdiri didepan cermin melihat pantulan dirinya sambil memegang dadanya, dia berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar hebat, "Tenang Tari tenang, ibu Lili tidak seperti mama Cellin."
Tari manarik nafas dan menghembuskannya, "Semuanya pasti akan baik-baik saja." dia meyakinkan dirinya sampai dia mendengar suara ketukan dipintu rumahnya.
"Sayang, buka pintunya, ini aku Lukas."
Tari mendengar suara Lukas memanggilnya dari luar.
"Iya mas sebentar." teriaknya.
Setelah memastikan penampilannya oke, Tari berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui Lukas.
"Mas Lukas." tegur Tari saat dilihatnya Lukas duduk sikursi yang ada diteras.
Mendengar namanya dipanggil, Lukas menoleh dan tersenyum, dia berdiri dan mendekati Tari, meraih tangannya dan menciumnya, "Kamu cantik sekali sayang."
Tari tersenyum kaku, meskipun sudah berusaha mengingatkan dirinya untuk bersikap tenang, tapi tetap dia tidak bisa, rasa takut itu masih menghantuinya, dan hal itu bisa dilihat oleh Lukas yang tergambar dari wajah Tari yang terlihat tegang.
"Heii." Lukas menangkup wajah Tari, "Jangan takut, mamaku orang baik Tari, dia merestui hubungan kita."
Tari mengangguk tidak yakin, "Tapi bagaimana dengan statusku mas, apa ibu Lili menerima status yang hanya seorang janda."
"Keluargaku tidak mempermasalahkan hal itu Tari."
"Hmmm."
"Sekarang kita berangkat oke, papa dan mama telah menunggu kita."
"Baiklah."
Lukas menyodorkan tangannya untuk digandeng oleh Tari, mereka berjalan menuju jalan raya dimana mobil Lukas terparkir disana.
Hati Tari semakin berdebar tidak karuan saat memasuki pekarangan rumah Lukas, rumah besar yang sama seperti yang dimiliki oleh keluarga almarhum suamianya.
"Mas Lukas, aku takut." Tari mencengkram kuat tangan Lukas yang masih dalam genggamannya.
Lukas berusaha untuk menenangkan Tari, "Jangan takut sayang, mama gak akan gigit, dia gak doyan daging manusia." Lukas berusaha untuk bercanda.
"Aku serius mas Lukas, mas malah bercanda."
"Habisnya wajah kamu tegang begitu sayang."
"Bukannya kamu sudah sering bertemu dengan mama dan papa."
"Itukan beda mas, pertemuan yang ini dalam rangka kamu memperkenalkan aku sebagai kekasihmu."
Cup
Lukas mengecup pipi Tari.
"Mas Lukas, kok malah dicium sieh, orang lagi tegang juga."
"Biar kamu tenang sayang, gak ada yang perlu kamu takutkan."
"Hmmm."
Mobil berhenti tepat didepan rumah besar kediaman Pangestu, Tari bertambah khawatir saat melihat mama Lili dan papa Sebastian berdiri didepan menunggu kedatangannya, Tari berfikir mama Lili akan langsung mengusirnya begitu turun dari mobilnya, makanya dia hanya diam untuk sesaat meskipun Lukas telah membuka pintu disampingnya.
"Sayang, ayok turun, kenapa kamu malah bengong."
"Hmmm." dengan ragu Tari menurunkan kakinya.
Dan begitu dia sudah turun, mama Lili berjalan ke arahnya, hal itu membuat Tari was-was, namun senyum tulus yang tersungging dibibir mama Lili membuat kekhawatiran dihati Tari sedikit memudar.
"Tari." sapa mama Lili, wanita setengah baya itu langsung memeluk tubuh Tari.
Tari tidak tahu harus bagaimana, dia hanya mematung tanpa membalas pelukan mama Lili sampai maka Lili mengurai pelukannya.
"Kamu cantik sekali sayang." puji mama Lili.
"Terimakasih ibu Lili."
"Jangan panggil ibu Lili lagi, panggil mama saja, bagaimana menurut kamu Lukas."
"Lukas sangat setuju ma." ujar Lukas menanggapi ucapan mamanya.
Tari hanya menunduk malu, dia sangat bahagia ternyata kekhawatirannya tidak terjadi, mama Lili ternyata memang beneran orang baik dan menerima dirinya dengan baik.
"Selamat datang dirumah kami Tari." sambut papa Sebastian yang kini sudah berdiri disamping istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih om."
"E eh, jangan panggil om, panggil papa saja, iyakan ma."
"Iya Tari, mulai sekarang panggil saya mama, dan om ini papa oke, karna sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami."
"Mmm, baiklah."
"Ayok sebaiknya kita masuk, makanannya sudah siap." ajak mama Lili menggandeng lengan Tari dan membawanya masuk.
"Ma, kok Tari sieh yang mama gandeng, papa gak." papa Sebastian pura-pura merajuk.
"Apa sieh papa ini, pakai merajuk segala, papakan bisa jalan sendiri." tandas mama Lili dan kembali menarik Tari masuk ke dalam.
Lukas tertawa melihat papanya.
"Jangan ketawa kamu Lukas."
"Sorry pa." Lukas langsung menutup bibirnya.
Acara makan malam itu berjalan hangat, sambil makan diselingi oleh obrolan, Tari bahagia karna dirinya benar-benar diterima dikeluarga Lukas.
"Mama tidak menyangka lho Tari, ternyata kamu yang disukai oleh putraku, kesana kemari mama mencarikannya calon pendamping, eh tahunya, Lukas menyukai kamu." mama Lili terkekeh mengingat perjuangannya mencarikan Lukas calon pendamping.
"Untung ya pa, mama maksa-maksa Firman untuk mencarikan Lukas sekertaris pribadi, diakan ketemu Tari, coba kalau gak, putra kita ini pasti sampai sekarang masih jomblo."
"Iya ma, untuk pertama kalinya Lukas tidak menyesali apa yang mama lakukan, biasanyakan selama ini, apa yang mama lakukan membuat tambah runyam suasana."
Mama Lili mendengus, dalam hati memang membenarkan kata-kata putranya tersebut.
Tari hanya tersenyum simpul mengingat pertemuan pertamanya dengan Lukas dikantor, waktu itu Lukas terlihat tegang dan mengusirnya keluar dari ruangannya, waktu itu Tari sudah yakin akan langsung dipecat dihari pertamanya bekerja, dan sekarang, siapa sangka dia dan Lukas saling mencintai dan menjadi sepasang kekasih.
*****
"Tari, tolong buatkan aku kopi ya." Lukas meminta Tari lewat sambungan telpon.
"Baik pak Lukas." Tari membawa kopi buatannyan ke ruangan Lukas.
"Duduk dulu sayang." pinta Lukas saat Tari meletakkan cangkir berisi kopi didepannya.
"Ada apa mas." tanya Tari saat duduk dikursi yang berhadapan dengan Lukas.
"Kamu persiapkan dirimu, besok kita melakukan perjalanan dinas ke luar kota." Lukas memberitahu.
"Keluar kota mas."
"Iya Tari."
"Baiklah."
"Siapa saja yang ikut dalam perjalanan dinas ini."
"Cuma kita berdua."
"Hanya kita berdua mas."
"Iya Tari, sekaligus kita bisa menghabiskan waktu berdua, bagaimana menurutmu."
"Maksud mas Lukas, menyelam sambil minum air begitu."
"Ya begitulah kira-kira kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kita kali ini."
"Hanya itu yang mas Lukas mau katakan."
"Iya."
"Kalau begitu, aku pamit keluar mas." Tari berdiri.
"Kenapa buru-buru sieh sayang, aku masih ingin melihatmu." imbuh Lukas yang kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Tari, Lukas memeluk tubuh Tari, "Aku kangen kamu sayang."
Tari terkekeh dan membalas pelukan kekasihnya itu, kadang Lukas akan seperti ini, ingin bermanja-manja dengan Tari.
"Aku sudah tidak sabar menghabiskan waktu berdua denganmu, jauh dari rutinitas pekerjaan yang membosankan."
"Aku juga mas."
Lukas makin mengeratkan pelukannya.
"Mas, lepasin aduh, sesak nafas akunya."
"Maaf maaf sayang." Lukas mengendurkan pelukannya, "Habisnya aku gemes sieh sama kamu."
__ADS_1
Tari cukup lama ngedekam di ruangan Lukas, Lukas tidak mengizinkannya keluar, laki-laki itu bahkan tidak tidak melepaskan pelukannya, saat suara ponselnya berdering barulah Tari bisa keluar dari ruangan Lukas.
****