
Marcell menepuk pundak sahabatnya, dia ikut prihatin dengan apa yang dialami oleh Adam.
"Lo boleh tinggal disini selama yang lo mau Dam, apartmen gue selalu terbuka lebar untuk lo."
"Terimkasih Cell, lo memang sahabat gue yang paling baik dan tidak perhitungan."
"Busettt, merinding gue denger kata-kata elo."
"Sialan lo."
Mereka berdua terkekeh.
"Terus, rencana lo sekarang apa Dam."
"Gue akan cari kerja dulu Cell, setelah dapat kerja, baru gue akan nikahin Tari."
"Rencana yang bagus, ntar gue bantuin lo nyariin info lowongan kerja."
"Thanks Cell."
"Gue gak pernah menyangka, sahabat gue ini ternyata memilih melepaskan segala kemewahan yang dia miliki hanya untuk bersama dengan cinta sejatinya, gue salut sama lo."
Adam tersenyum simpul, dia juga tidak pernah menyangka kalau jalan hidupnya akan seperti ini, meninggalkan keluarganya dan memilih Tari.
"Tari itu berbeda Cell, kalau gue melepasnya, gue yakin tidak akan mendapatkan wanita yang seperti dia lagi."
"Gue bisa melihatnya, Tari merubah lo dalam banyal hal, dari laki-laki yang doyan minum-minum saat banyak masalah menjadi anti yang namanya bar, dari yang sholat saja tidak pernah sekarang menjadi rajin sholat, lo memang beruntung mendapatkan Tari, tidak heran lo memilihnya ketimbang keluarga lo."
"Lo juga donk, cari wanita baik-baik yang seperti Tari, jangan gonta-ganti mulu, colok sana, colok sini, ntar kalau lo kena penyakit kelamin baru tahu rasa lo."
"Doa lo gitu amat sama sahabat sendiri, lagiankan gue pakai pengaman."
"Gue bukannya ngedoain lo ya Cell, hanya mengingatkan elo saja, sudah saatnya lo berubah dan lo harusnya sudah saatnya cari pendamping hidup yang akan selalu ada dalam keadaan suka dan duka, bukannya lo masih sibuk cari partner diatas ranjang." Adam mengingatkan sahabatnya itu.
"Iya iya, yang sudah nemuin ya pas, nesehatin mulu."
"Gue nasehatin elo karna gue berharap lo berubah, gak gini-gini terus."
"Iya deh, gue akan berubah."
"Perempuan yang tadi, siapa itu namanya, Rena ya." Adam mengubah topik.
"Itu Nada, gue mah sama Rena sudah end."
Adam hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sahabatnya, padahal baru saja seminggu yang lalu dia bersama dengan Rena, sekarang sudah ganti saja.
"Mau sampai kapan begini, awas lho, ntar lo kena karma karna selalu menghancurkan hati wanita."
"Stop deh doain yang jelek-jelek, bikin gue merinding saja lo."
"Hoammmm." Adam menguap yang menandakan kalau dia sudah merindukan tempat tidur, "Ngantuk gue."
"Tidur geih."
"Oke, gue tidur dulu, selamat malam Cell." gumamnya berjalan ke arah kamar yang biasa dia tempati saat menginap diapartmen Marcell.
Marcell juga mengantuk dan capek, dia berdiri dan berjalan ke arah kamarnya, melakukan pergulatan panas ternyata membuatnya capek.
****
Pagi-pagi sekali, saat Tari tengah menikamati sarapan bersama dengan ayahnya, Tari mendengar suara pintu rumahnya diketuk dari luar.
Tari mengerutkan kening, menerka-nerka siapa geranga yang datang bertamu sepagi ini.
"Sepertinya ada tamu nak." ujar ayah Rahman saat mendengar pintu rumahnya diketuk.
"Iya ayah, siapa ya yang bertamu sepagi ini ya."
"Sudah sana kamu lihat saja dulu."
"Baik ayah."
Tari berjalan menuju pintu.
Saat Tari membuka pintu, dia melihat seorang laki-laki berpakaian rapi yang kira-kira berusia sekitar empat puluhan berdiri didepan pintu, wajah laki-laki yang tidak dikenal Tari itu terlihat datar, laki-laki itu tidak sendiri, dia bersama seseorang yang saat ini berdiri membelakangi Tari.
"Bener ini kediaman nona Mentari Wharhani." laki-laki itu bertanya.
"Iya benar dengan saya sendiri."
Saat mengatakan hal itu, mata Tari terarah pada punggung kokoh yang mengenakan stelan jas rapi berdiri membelakanginya, Tari merasa tidak kenal dengan orang tersebut.
"Maaf, anda cari siapa ya."
Laki-laki yang sejak tadi membelakangi Tari itu memutar tubuhnya ke arah Tari sehingga Tari bisa melihat dengan jelas siapa orang tersebut.
"Om." seru Tari kaget melihat siapa yang datang mengunjungi rumahnya sepagi ini.
Iya, dia adalah Atta Wijaya papanya Adam.
Papa Atta mendekat, dia tersenyum sinis begitu melihat Tari, wanita yang dicintai oleh putranya, bahkan putranya itu melawannya dan lebih memilih meninggalkan rumah dan segala fasilitas mewah yang dia berikan hanya untuk Tari yang menurut pandangan papa Atta tidak ada bagus-bagusnya.
Perasaan Tari menjadi tidak enak saat melihat papa dari laki-laki yang dia cintai tiba-tiba nongol dirumahnya sepagi ini.
Atta menilai penampilan Tari yang hanya mengenakan daster lusuh dengan rambut dicepol, "Apa sieh yang dilakukan oleh wanita ini kepada putraku sampai Adam bisa tergila-gila sama dia, lihatlah penampilannya, kucel dan kusem." papa Adam mencela dalam hati.
Diperhatikan dengan sedemikian rupa tentu saja membuat Tari jengah, "Maaf om, om ada perlu apa yang datang ke rumah saya pagi-pagi."
__ADS_1
Atta akan menjawab pertanyaan Tari, tapi ayah Rahman keluar dan bertanya siapakah gerangan tamu yang datang ke rumah mereka pagi-pagi begitu.
"Nakk, siapa yang datang."
"Ini ayah, papanya mas Adam." beritahu Tari.
"Selamat pagi pak." sapa papa Atta dengan suara datar dan tidak bersusah-susah untuk bersikap ramah.
Ayah Rahman tersenyum sopan pada tamunya itu, "Selamat pagi pak…."
"Atta Wijaya."
"Iya pak Atta Wijaya, selamat datang dirumah kami yang sederhana." ucap ayah Rahman ramah meskipun sik tamu mendatangi rumahnya dengan aura permusuhan.
"Tari, ayok ajak masuk pak Atta, kenapa kamu malah membiarkan tamu kita berdiri diluar sini."
"Baik ayah."
Dan sebagaimana tuan rumah yang baik, Tari mempersilahkan papa Atta masuk kerumahnya.
"Ayok om masuk dulu."
"Tidak perlu, saya hanya sebentar di sini." tolak papa Atta.
"Justin."
Laki-laki yang sejak tadi berdiri dibelakang papa Atta membuka tas yang dia bawa, dan dari dalam sana dia mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada bosnya.
"Saya tahu, selama ini kalian hidup dalam kekurangan." papa Atta mulai mengatakan inti kedatangannya ke rumah Tari.
Tari dan ayahnya saling berpandangan satu sama lain, jelas saja mereka tidak mengerti maksud dari kata-kata Atta barusan.
"Saya akan membantu kalian untuk merubah kehidupan kalian menjadi lebih baik." papa Atta melanjutkan kata-katanya.
"Omm, ini maksudnya apa ya." tanya Tari tidak mengerti.
"Baiklah, akan saya perjelas maksud saya Mentari Whardani, kamu mendekati putraku karna tahu dia adalah pewaris kerajaan bisnis keluarga Wijayakan, dan dengan menikahinya, derajat kalian akan terangkat, dan kamu dan ayahmu akan bisa hidup enak dan terhormat." kata-kata yang juga dilontarkan oleh mama Cellin saat Tari datang ke rumah kediaman Wijaya.
Tari yang memang sejak awal tidak punya niat seperti itu tentu saja mengelak tuduhan yang dilemparkan oleh papa Atta, "Aku tidak seperti itu om, aku benar-benar tulus mencintai mas Adam tanpa embel-embel harta."
"Maling mana ada yang ngaku." sarkas papa Atta dingin.
Dada Tari bergemuruh dan sesak, itu untuk kedua kalinya dia mendongar hinaan dari keluarga Adam, dan kali ini, papa Adam menghina dirinya didepan ayahnya, Tari tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya, Tari begitu takut melirik ke arah ayahnya, Tari yakin ayahnya terluka mendengar setiap lontaran hinaan yang diucapkan oleh papanya Adam.
"Apa sieh maksud kedatangan om sebenarnya, om mau menghinaku dan ayahku, kalau itu niat om, selamat, om telah berhasil." sekuat tenaga Tari berusaha menahan air matanya, dia berusaha untuk kuat didepan ayahnya.
"Saya tidak pernah bermaksud menghina kamu Tari, hanya saja memang itu kenyataannya yang terjadi, kamu tidak bisa mengelak."
"Hentikan om, om lebih baik pulang sekarang." usir Tari sudah tidak tahan mendengar setiap hinaan yang keluar dari bibir papa Atta.
"Apa yang om inginkan." tantang Tari berusaha untuk tegar.
"Tinggalkan Adam, dan sebagai gantinya saya akan memberikan uang yang banyak untuk kamu dan keluargamu, dan ayahmu tidak perlu lagi menjadi sopir angkot."
Papa Atta menyerahkan cek yang sejak tadi dipegangnya kepada Tari.
"Kamu bisa mengisi jumlah nominal yang kamu inginkan dicek tersebut, dan setelah itu, putuskan hubungan dengan putraku, karna kamu tidak pantas bersanding dengannya."
Tari menatap cek yang ada ditangannya dengan tatapan hampa, dan entah dorongan dari mana, Tari merobek cek tersebut dan membuang robekannya, "Saya tidak butuh uang om, saya dan ayah saya bisa menghidupi diri saya sendiri." emosi Tari menggelegak, darahnya seperti mendidih.
Ayah Rahman hanya terdiam sejak tadi, sedikitpun dia tidak berusaha untuk buka suara.
"Jual mahal rupanya."
"Kalau om mau saya meninggalkan mas Adam, baiklah, akan saya lakukan."
"Baguslah, tepati janji kamu Tari."
Dan merasa semuanya sudah kelar, papa Atta meninggalkan kediaman Tari tanpa permisi, dan diikuti oleh Justin yang mengekor dibelakanganya.
"Ukhhh."
Tari menoleh kesamping saat mendengar suara lenguhan, betapa kagetnya Tari melihat ayahnya terlihat kesakitan sambil memegang dadanya.
"Ayah." paniknya, "Ayah, ayah kenapa ayah, astaga."
Nafas ayah Rahman kembang kempis.
"Ayahhh." Tari menangis sesenggukan melihat kondisi ayahnya yang tiba-tiba drop begini, ayahnya memang memiliki riwayat penyakit asma, "Tolong-tolongggg." teriak Tari berharap mendapat pertolongan dari tetangga.
Beberapa tetangga yang mendengar teriakan minta tolong Tari pada berdatangan untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi.
"Tari, apa yang terjadi, kenapa dengan ayahmu."
"Ayah sesak nafas pak Kirun, tolong bantu Tari membawa ayah ke rumah sakit, hiks hiks." Tari menangis sesenggukan.
"Sebentar ya nak, bapak carikan taksi dulu." pak Kirun berlari menuju jalan untuk menghentikan taksi yang lewat.
Lima menit kemdian, pak Kirun kembali datang.
"Ayok semuanya, tolong bantu menggotong pak Rahman."
Beberapa tetangga yang laki-laki membantu pak Kirun menggotong tubuh ayah Rahman yang lemas.
"Ayahhh." Tari mengikuti dibelakang, dia tidak henti-hantinya menangis.
****
__ADS_1
Tari menangis sesenggukan disamping ayahnya yang terbaring lemah dibankar rumah sakit, kondisi ayahnya tidak bisa dibilang baik-baik saja saat ini, untuk bernafas saja ayah Rahman dibantu oleh alat bantu pernafasan.
Sejak tadi Tari terus menggenggam tangan ayahnya, merasakan hangatnya tangan keriput yang selalu menggendongnya saat dia masih kecil dulu.
"Bertahanlah ayah, ayah pasti sehat, ayah pasti bisa sembuh kembali." kata-kata yang terus dia ucapkan sejak tadi untuk membuat hatinya tenang.
Pintu tempat ayah Rahman dibuka, yang datang adalah Laura, Laura langsung tancap gas ke rumah sakit saat Tari menelponnya, Laura terlihat panik, karna biar bagaimanapun, Laura sudah menganggap ayah Rahman sebagai ayahnya sendiri.
"Tari, bagaimana kondisi ayah, dia baik-baik sajakan." cecarnya.
Tari langsung berdiri saat mengetahui kalau yang datang itu adalah sahabatnya, Tari langsung menghambur memeluk Laura, "Ra, aku takut." ujar Tari sesenggukan dalam pelukan sahabatnya, "Aku takut terjadi apa-apa sama ayah."
Laura juga khawatir melihat kondisi ayah Rahman, tapi Laura berusaha untuk bersikap tenang dan mencoba menghibur Tari, "Sstttt, jangan menangis ya, aku yakin ayah akan sehat seperti sedia kala, dokter pasti bisa menyembuhkan ayah."
"Tapi sampai saat ini ayah belum membuka mata juga, aku khawatir Ra."
"Sebaiknya sekarang kita berdoa saja untuk kesembuhan ayah ya Tar, daripada kamu nangis begini." Laura memberi saran
Tari mengangguk, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, dan kebetulan juga sudah masuk waktu zuhur sehingga Tari sekalian menunaikan sholat.
Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Tari mengangkat tangannya, meminta sama yang maha kuasa untuk kesembuhan ayah yang sangat dia cintai, tidak ada yang lebih diinginkan oleh Tari selain kesembuhan ayahnya karna ayahnya adalah harta yang paling berharga didunia.
Tari berdoa sambil menangis, Tari tidak tahu bagaimana hidupnya kalau ayahnya sampai meninggalkannya.
"Ta...Ta....Ta...Riii."
Suara lemah dan terbata-bata itu berasal dari ayah Rahman yang saat ini sudah membuka matanya.
Laura yang saat ini tengah duduk disofa dan kebetulan menoleh ke arah ayah Rahman langsung mendekat dan memberitahu Tari.
"Tari, ayah sudah bangun."
Tari menoleh ke arah ayahnya, dan dia bisa melihat ayahnya sudah membuka mata.
"Terimakasih ya Allah, terimakasih karna engkau mendengarkan doa seorang pendosa seperti hamba." Tari mengakhiri doanya dan menyapukan tangannya diwajah dan kemudian dia bergegas mendekati ayahnya.
"Ayah, ini Tari ayah."
Ayah Rahman mengerjap-ngerjapkan matanya.
Tari tersenyum bahagia saat melihat ayahnya kini sudah membuka mata.
"Na....k." ayah berusaha untuk bicara, suaranya terdengar lemah.
"Iya ayah, ayah mau apa."
"Nak A dam ma na."
"Mas Adam." Tanya Tari mengulangi permintaan ayahnya.
Ayah Rahman mengangguk.
"Ayah mau bertemu dengan mmas Adam."
Ayah Rahman kembali mengangukkan kepalanya.
"Telpon mas Adam gieh Tar, suruh mas Adam kemari." saran Laura
Tari mengangguk, dia mencoba menghubungi nomer Adam.
Pada deringan pertama, panggilan Tari dijawab oleh Adam.
"Iya sayang kenapa."
"Mas, ke rumah sakit sekarang."
Dari seberang suara Adam terdengar panik saat mendengar kekasihnya yang menyebut-nyebut tentang rumah sakit, "Kamu kenapa sayang, kamu sakit."
"Bukan Tari mas, tapi ayah."
"Ayah dirumah sakit, ayah kenapa, apa yang terjadi dengan ayah."
"Panjang ceritanya mas, mas Adam sebaiknya datang kemari, ayah ingin bertemu dengan mas Adam."
"Baiklah, aku akan datang kesana." putus Adam dan mematikan sambungan.
****
25 menit kemudian, Adam datang bersama dengan Marcell, saat itu Tari tengah duduk disamping ayahnya dan menggenggam tangan sang ayah.
"Tari, bagaimana keadaan ayah." Adam mendekati Tari.
"Kondisi ayah belum membaik mas." jawab Tari dengan wajah sendu.
Tari mendekatkan bibirnya ketelinga ayahnya, dia membisikkan pada sang ayah kalau orang yang dia cari sudah datang.
Ayah Rahman membuka kelopak matanya perlahan, dengan pelan dia menoleh kesamping.
"Nak Adam." panggilnya dengan suara lemah, tangan satunya diulurkan pada Adam.
"Iya ayah." Adam meraih tangan ayah Rahman dan menggenggamnya.
Ayah rahman meletakkan tangan Adam diatas tangan Tari.
"Nikahi Tari nak."
****
__ADS_1