
Ada pertunjukan seni tari lagi malam itu. Bibi El mengundangku untuk pergi bersamanya, tetapi aku menolak. Aku takut akan bertemu Ram di sana. Berada di dekat Ram, melihatnya, berbicara dengannya, memunculkan begitu banyak kenangan -- kenangan menyenangkan yang menyakitkan untuk diingat karena mengingatkan betapa aku merindukan pria itu. Mengingat masa lalu kami....
Dulu, aku baru berumur enam belas tahun saat pertama kali aku bertemu dengan Ram. Peristiwa itu terjadi pada pertemuan masyarakat dan pagelaran kesenian Jawa Barat. Aku ke sana bersama sahabatku. Kami pergi ke arena pekan raya seraya bergurau, membayangkan akan menyenangkan bertemu para seniman sungguhan. Sahabatku, Sherly, dengan cepat menjadi bosan, tetapi aku begitu terpesona pada irama genderang yang berdentum pelan, tari-tarian, dan kostum yang beraneka warna. Orang-orang yang menyukai seni itu sangat bersahabat meski mereka suka menyendiri. Aku tetap berada di sana lama setelah ibu Sherly menjemput sahabatku itu.
Selama saat jeda, aku berkeliling arena, melihat-lihat stan yang menjual pernak-pernik, wadah dari labu dan pipa tembakau, busur dan anak panah. Aku membeli mainan kuda putih kecil dengan bintik-bintik hitam yang dihiasi bulu-bulu berwarna hijau toska, dan beberapa roti goreng. Aku sedang meninggalkan arena pekan raya saat bertabrakan dengan Ram. Dalam arti yang sebenar-benarnya. Pria itu membuatku jatuh terduduk dan aku hanya duduk di tanah menatap pria itu, lidahku terlalu kelu untuk berbicara. Ram begitu tampan. Bertubuh jangkung, berkulit putih, amat sangat tampan, dan terkesan sedikit misterius.
"Maaf," katanya. Pria itu -- yang waktu itu lebih tepatnya disebut sebagai seorang cowok, belum menjadi seorang pria -- memunguti barang-barangku, lalu mengulurkan tangan untuk menolongku berdiri.
Aku menggumamkan terima kasih, lalu menatap Ram saat ia berjalan menuju arena musik. Dia terlihat paling menonjol di antara kerumunan orang, membuatku mudah untuk mengikutinya. Aku tidak tahu apakah dia akan menyanyi, tapi ia tidak mungkin pergi, pikirku. Tidak sampai aku mencari tahu.
Aku mendapat tempat duduk di bangku paling ujung di dekat pintu masuk arena musik dan duduk, lalu sedikit menyipitkan mata. Dia menyanyi di atas panggung itu dengan gitarnya. Rasa tidak nyaman segera terlupakan ketika Ram mulai memainkan gitar dan mulai menyanyi.
Aku bertepuk tangan keras-keras saat Ram selesai menyanyi. Dia menatap ke arahku dan tersenyum, dan senyuman itu menyambarku bak halilintar. Mematikan. Menghancurkan. Namun amat sangat menarik dan begitu mempesona. Menggetarkan hatiku yang saat itu baru berusia enam belas tahun. Aku tersipu karena senyumannya yang menawan itu.
Sembari menunggu apakah cowok itu akan menyanyi lagi, aku membaca selembar selebaran yang kuambil dari stan. Judulnya "Pesan untuk penggemar acara kesenian". Di antara berbagai macam informasi, pesan itu menyampaikan kepada penonton bahwa mengacungkan jari adalah tidak sopan, dan mengambil foto diizinkan asal tanpa blitz, seseorang harus meminta izin sebelum mengambil foto pribadi. Kostum dan ornamen tidak boleh disentuh, karena beberapa kostum berharga ratusan ribu hingga jutaan, dan mengganggu penari atau berdiri di hadapan mereka yang akan menari atau menyanyi tidak bisa ditoleransi.
__ADS_1
Aku tetap berada di sana sampai lagu terakhir lalu berjalan menuju area parkir, kemudian teringat bahwa aku tidak punya tumpangan dan ponselku mati kehabisan baterai. Seraya mendesah, aku berbalik dan kembali menuju arena pekan raya untuk mencari telepon.
Dan aku bertabrakan dengan Ramana Lingga untuk ke-dua kalinya.
"Ini pasti takdir," ujar cowok itu setelah berhasil menyambar lenganku agar kali ini aku tidak terjatuh.
Hmm... cowok itu tampak seksi dalam balutan celana jins hitam dan kaus pas badan. "Pasti," kataku. "Omong-omong, kamu tahu di mana aku bisa menemukan telepon?"
"Di sebelah sana, dekat kamar kecil."
"Trims."
Ram mengajakku makan! Aku tidak mempercayai hal ini! Cepat-cepat aku mengangguk. "Aku mau. Tapi aku harus menelepon ayahku untuk datang dan menjemputku."
"Aku sudah selesai untuk hari ini. Aku bisa mengantarmu pulang setelah itu."
__ADS_1
Biasanya aku tidak pernah mau naik mobil bersama orang asing, tapi, aku sendiri terkejut ketika aku berkata, "Itu bagus sekali. Terima kasih."
Ah, memalukan. Terkesan gampangan sekali aku waktu itu. Tetapi...
Yah, ada sesuatu mengenai cowok itu, dari caranya menatapku, cara Ram membuatku merasakan sesuatu, yang tidak bisa dilawan.
Ram mengajakku makan malam saat malam pertama kami bertemu. Dia mengira aku berumur delapan belas tahun dari caraku berpenampilan: dengan dress tanpa lengan, rambut tergerai, dan alas kaki tinggi. Dia nyaris tersedak kopinya saat aku berkata aku baru saja berusia enam belas tahun. Tetapi akhirnya ia merasa jarak tiga tahun yang memisahkan kami terasa tidak terlalu jauh. Dan, kenyataan bahwa aku adalah anak orang kaya menjadi kejutan lain baginya. Aku menangkap kesan bahwa dia memandang diriku -- gadis kulit putih yang kaya -- adalah racun. Bahkan dia pernah bicara jujur kepadaku bahwa pada hari pertama pertemuan kami waktu itu, ketika ia mengantarku pulang, mengantar hingga ke depan pintu, mengucapkan selamat malam dan meninggalkanku di sana, dia berniat tidak akan pernah menemuiku lagi.
Kendati dia berniat demikian, aku muncul di sebuah pagelaran seni di kota sebelah. Ram menyanyi dengan sepenuh hati sore itu, dan dia menyadari bahwa aku sedang mengamatinya dan hanya memperhatikannya. Itu menjadi hari terbaiknya selama perjalanan berkeliling: ia memenangkan setiap kompetisi yang diikutinya. Dan aku tahu ia tidak berencana untuk bercakap-cakap denganku, dia berusaha tidak menanggapi keberadaanku, dia berusaha acuh, dia menghindar, namun gelisah. Akhirnya, pada saat jeda, ia justru bertanya kepadaku apakah aku mau makan malam bersamanya setelah ia selesai menyanyi. Aku mengiyakan, dan kami makan malam, dan hal berikutnya yang kuketahui, kami duduk-duduk di dalam truknya seraya berpelukan. Dan... ah, entah bagaimana mulanya hingga kami berciuman di dalam truk yang gelap itu. Kalau kuingat sekarang aku merasa geli akan hal itu. Gadis belia yang sebegitunya ketika berpacaran dengan seorang cowok, memalukan sebenarnya mengingat usiaku yang baru enam belas tahun. Tapi seandainya waktu itu usiaku sudah dua puluhan seperti sekarang, barangkali... akan sangat berkesan bila pria itu menciumku. Seperti waktu itu... yang kuingat ketika Ram menatapku dalam kegelapan yang hening, ketika tangan kanannya melingkar ke belakang kepala dan tangan kirinya merangkul pinggangku... lalu bibir kami bersentuhan...
Ya Tuhan, bahkan hingga saat ini debaran itu begitu jelas kurasakan. Seperti aliran listrik yang menyetrumku.
Ram, ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku, dari ciuman lembut itu, dan berbisik betapa ia merindukan aku dan ingin bertemu lagi denganku... dia menciumku lagi. Kali ini lebih dalam... lebih menguasai... dan kurasakan ada gairah di sana: dari sentuhan jemarinya yang menelusuri punggungku, kemudian... ciumannya berpindah ke tengkuk leherku. Aku gemetar.
Untungnya hanya sampai di situ. Ram berhasil mengendalikan dirinya meski baginya aku begitu menggairahkan, membuat dirinya mendambakan sesuatu yang tak boleh ia lakukan kepadaku: dia berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa gadis yang ia cium itu masih ingusan meski keindahan lekuk tubuhnya begitu menggairahkan.
__ADS_1
Ah, andai itu terjadi sekarang. Tak bisa kupungkiri, janda mungil ini memimpikan sentuhan seorang pria. Aku memimpikan sosok itu adalah dirinya...
Ramana Lingga Pradita.