Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Yang Menyesakkan Dada


__ADS_3

Aku berdiri di depan lemari pakaian, dengan tubuh terbungkus handuk, mengerutkan dahi saat mencoba memutuskan apakah akan mengenakan gaun terusan dan pergi ke penginapan atau memakai gaun tidur dan bersembunyi di kamarku.


Apa yang harus aku lakukan?


Ram tidak ingin bertemu denganku, tetapi aku sangat ingin bertemu dengannya.


Tuan Hartawan ingin bertemu denganku, tetapi aku tidak ingin bertemu dengannya.


Tapi aku sudah berjanji pada Tuan Hartawan, penebusan hutang atas kesalahanku meninggalkannya di altar, sekaligus untuk menutup malamku di sini.


Aku ingin melihat Ram di malam terakhirku. Entah setelah ini takdir akan mempertemukan kami kembali atau tidak, aku ingin melihatnya malam ini.


Memutuskan bahwa aku akan pergi ke pesta dansa malam ini, aku membiarkan handukku terjatuh ke lantai. Lalu sembari mengibaskan kepala dengan sikap menantang, aku meraih gaun terusan berwarna biru. Ram akan melihatku, tidak peduli apakah dia menginginkannya atau tidak, suka ataupun tidak.


Penginapan itu sudah ramai ketika aku tiba di sana, kebanyakan dipadati pasangan dewasa, meskipun ada beberapa remaja. Aku menduga sebagian besar anak-anak berada di ruang santai. Aku melihat Nina Wijaya duduk di sebuah meja kecil. Aku menyeringai, yakin bahwa Nina berada di sana karena berharap bisa bertemu dengan Ram. Seperti diriku.


Sebuah grup musik yang terdiri atas tiga orang memainkan lagu-lagu lama tahun 90an. Nyonya Laura dan Tuan Heru Wijaya berdansa melewatiku. Ia tersenyum dan melambaikan tangan saat melihatku dan aku balas melambai, lalu tersenyum. Setelah itu, aku menuju meja Nina.


"Hai, keberatan kalau aku duduk di sini?"


"Tentu saja tidak," sahutnya. "Bagaimana kabar Anda, Nona Mahardika?"


"Baik, dan panggil saja aku Purna. Orang tuamu tampak luar biasa di sana."


Nina memutar bola matanya. "Kurasa begitu." Ia memandang ke sekeliling ruangan. "Apakah menurutmu pangeran Ram-ku akan berada di sini?"


Aku mengedikkan bahu. "Entahlah."


"Bahkan seandainya dia datang, kurasa dia tidak akan berdansa denganku," ujar Nina murung. "Dia mungkin menganggapku masih anak-anak."


Sebelum aku sempat memikirkan jawabanku, Tuan Hartawan berjalan menuju meja kami.


"Selamat malam, Purna. Mau berdansa?"


Nina menatapku, lalu mengedip. Cukup mudah membaca jalan pikiran gadis itu. Dia berpendapat bahwa Tuan Hartawan amat sangat tampan, yang memang harus kuakui bahwa itu memang benar. Wajah dan perawakannya tidak menunjukkan usianya yang sebenarnya yang sudah kepala empat. Tuan Hartawan mengenakan celana panjang berwarna krem dan sweter cokelat yang sangat serasi dengan matanya yang cokelat.

__ADS_1


Pria itu mengulurkan tangannya. "Ayo."


"Kurasa, ya," sahutku. Mengabaikan uluran tangan pria itu, aku mengikutinya ke lantai dansa.


Tuan Hartawan menarikku ke dalam pelukannya. Kami sudah beberapa kali berdansa sebelum ini, berdansa dengan indah dan ia memutarku dengan ringan mengitari lantai dansa. Aku menyadari bahwa kami menjadi pasangan yang mencuri perhatian -- Tuan Hartawan dengan badan tegap dan wajahnya yang tampan, sementara aku dengan rambut hitam dan warna kulit zaitun. Tapi bahkan saat kami berdansa, tatapanku menelusuri seantero ruangan, mencari sosok pria jangkung dengan rambut sehitam rambutku. Apakah Ram akan berada di sini malam ini? Atau apakah pria itu akan menjauh, menghindariku?


"Ingat malam di Australia ketika kita berdansa di kapal pesiar?" tanya Tuan Hartawan.


Aku mengangguk. "Ya."


Itu terjadi tidak lama setelah kami bertunangan. Saat itu mataku masih memandang dengan berbinar-binar, masih terperangkap dalam perasaan baru dan pusaran kegembiraan dengan kehadiran Tuan Hartawan.


"Bisa kembali ke masa seperti itu lagi, Purna?"


Kami pernah menikmati masa-masa yang indah, batinku, setidaknya sedikit, setidaknya pernah pada awalnya, saat aku mencoba pulih dari rasa trauma setelah beberapa bulan pasca kematian suami ketiga-ku yang tewas menggenaskan. Dia ditembak tepat di kepalanya saat kami tengah berfoto keluarga di atas pelaminan. Pasca mengalami insiden traumatis itu, Tuan Hartawan yang super sibuk meluangkan waktunya untukku, saat aku mengira aku lebih penting baginya daripada menghasilkan uang, sebelum aku menyadari bahwa pria itulah yang mengambil keputusan bagiku, perlahan-lahan mengubahku dari sosok wanita yang ia kenal menjadi sosok wanita yang sesuai dengan keinginannya.


Dansa berakhir dan kami meninggalkan lantai dansa. "Aku akan mengambil minuman," ujar Tuan Hartawan. "Kamu mau minum?"


"Ya, trims."


Aku berjalan kembali menuju meja keluarga Wijaya untuk menunggu Tuan Hartawan. Nyonya Laura sedang duduk di sana bersama Nina.


Aku duduk berseberangan dengan Nina. "Sebenarnya dia mantan pacar," ujarku. "Kami pernah bertunangan."


Kedua alis Nyonya Laura terangkat. "Oh?"


"Ya. Kami putus belum begitu lama."


"Dan dia datang ke sini menyusulmu," kata Nina seraya melamun. "Oh, romantis sekali!"


"Kurasa begitu," sahutku. "Kalau aku masih peduli. Tapi...."


Kata-kata itu menghilang di tenggorokan saat aku melihat Ram di lantai dansa. Pria itu sedang memeluk seorang gadis cantik berambut pirang, seorang wanita muda yang mengenakan celana jins hitam ketat, dan atasan berwarna merah dengan dada dan bahu terbuka -- tanpa lengan tanpa tali, dan seulas senyuman yang berkata: bawalah aku, aku milikmu.


Aku mengenali gadis itu sebagai salah satu pelayan di ruang makan. Aku menatap kedua orang itu, gelombang kecemburuan yang tidak pernah kukenal menguasai diriku. Kukepalkan tanganku kuat-kuat saat Tuan Hartawan muncul di hadapanku.

__ADS_1


"Mereka cuma menyediakan minuman ringan dan jus," tutur Tuan Hartawan seraya meletakkan gelas tinggi yang sangat dingin di hadapanku.


Aku mengangguk.


Tuan Hartawan menatap Nyonya Laura dan Nina, dan ketika aku tidak memperkenalkannya, pria itu tersenyum ke arah mereka seraya mengulurkan tangan. "Halo, aku Hartawan Sentosa, tunangan Purna."


Sontak aku melotot. "Mantan tunangan," gumamku, tetapi tidak ada yang mendengar.


"Laura Wijaya," sahut Nyonya Laura sembari menjabat tangan Tuan Hartawan. "Dan ini putriku, Nina. Oh, dan ini suamiku, Heru Wijaya," ia menambahkan saat Tuan Heru mendekati meja.


Tuan Hartawan duduk dan segera saja asyik berdiskusi mengenai pasar bursa dengan Tuan Heru


Nyonya Laura menepuk lenganku. "Kamu baik-baik saja, Sayang?"


"Apa? Oh, ya, baik. Aku hanya... aku hanya...." Aku menelan ludah dengan susah payah, bertekad untuk tidak menangis.


Nyonya Laura menatapku dengan penasaran meski tidak mendesak. Beberapa menit kemudian, lampu menjadi redup dan nada-nada balada yang lembut memenuhi ruangan.


Tuan Hartawan berdiri dan mengulurkan tangan ke arahku. "Mau berdansa?"


Aku baru saja akan menolak ketika melihat Ram menuntun gadis berambut merah itu ke lantai dansa. "Ya," sahutku, dan sembari memaksakan seulas senyuman, aku berdiri dan bergerak ke pelukan Tuan Hartawan.


Aku tahu begitu Ram mengamatiku. Waktu seolah berhenti ketika kami bertatapan. Aku terkejut karena arus listrik yang terbentuk di antara kami tidak menimbulkan percikan ke seberang ruangan.


Ram menertawai sesuatu yang dikatakan pasangannya dan pemandangan itu begitu menyakitkan bagiku sehingga membuatku merasa akan pingsan di sana, di lantai dansa. Tetapi aku malah merebahkan kepalaku di dada bidang Tuan Hartawan dan memejamkan mata. Tidak ingin melihat pemandangan yang membuatku ingin menangis.


Ketika aku membuka mata dan menatap sekitarku, Ram dan gadis berambut pirang itu sudah pergi.


Aku tidak yakin bagaimana aku menghabiskan sisa malam itu. Aku ingat diriku telah berbasa-basi dengan Nyonya Laura dan Nina sementara Tuan Hartawan dan Tuan Heru membicarakan bursa saham, tingkat suku bunga, dan perusahaan mana yang akan memproduksi truk terbaik, ford atau kendaraan-kendaraan sejenis itu.


Ketika acara dansa berakhir, kami berpamitan kepada keluarga Wijaya dan Tuan Hartawan mengantarku kembali ke pondok.


"Jadi," kata Tuan Hartawan, "kamu bersandar di dadaku tadi itu demi kebaikanku atau dia?"


Gelombang panas rasa malu menjalar ke pipiku, membuatku bersyukur kami berada di dalam kegelapan.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu menjawabnya," ujar pria itu, ada nada marah dalam suaranya. "Kurasa aku tidak suka jawabannya." Pria itu menggenggam tanganku dan menciumnya, bibirnya terasa dingin. "Aku akan menemuimu besok pagi."


Aku mengangguk. Hutang satu malamku sudah selesai, tinggal satu hari.


__ADS_2