
Tetapi aku benar-benar tidak bisa menahan diriku lagi....
Aku memeluk Ram. Mendekapnya begitu erat. "Kamu tidak tahu betapa aku menyesal atas apa yang terjadi," kataku. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku, seakan aku takut bahwa jika aku tidak cepat-cepat mengatakannya, kata-kata itu tak akan pernah terucap. Lalu aku melepaskan pelukan dan kembali mendongak, menatap wajah tampan yang berdiri di hadapanku. "Waktu itu aku masih begitu muda. Begitu bodoh. Aku tidak sungguh-sungguh dengan apa yang kuucapkan, tapi aku terlalu angkuh untuk menariknya kembali, dan aku... kurasa aku ingin membuatmu kembali padaku dan meminta maaf. Sekarang aku menyadari betapa kelirunya aku. Aku pasti akan membalas suratmu seandainya aku memang menerima suratmu. Aku pasti akan membalas semua teleponmu. Kamu harus percaya padaku...."
"Ssst... sudah, sudah, tidak apa-apa. Aku percaya padamu."
Kutatap pria itu sepenuh cinta. Ini adalah kesempatan yang tidak pernah kukira akan kuperoleh kembali. Hidup terasa seperti neraka tanpa Ram. Apakah aku sanggup jika kehilangan pria itu lagi? Apakah aku bisa menerima seandainya aku tidak mengambil kesempatan ini?
"Apa menurutmu kita bisa mencoba lagi?"
Ram mengusap-usapkan buku jarinya di pipiku.
"Ram?" aku mendongak menatapnya, menunggu apa yang kira-kira yang akan ia katakan selanjutnya.
Pria itu membisikkan namaku sembari menarik diriku ke dalam pelukannya dan merengkuh diriku dengan erat sehingga aku merasa seakan tulang rusukku akan remuk. "Kamu yakin," tanya Ram, "kamu yakin semua sudah berakhir di antara kamu dan si tukang kacang itu?"
"Aku yakin." Aku menengadah, berusaha menatap Ram. "Apakah itu berarti... kalau begitu, ada harapan untuk kita berdua?" aku bertanya dengan nada gemetar.
"Aku hidup dengan bergantung pada harapan itu selama delapan tahun," sahut Ram dengan nada parau. "Aku bahkan tidak pernah ingin kehilanganmu lagi."
"Tidak akan. Tidak akan lagi." Sembari mendesa*, aku menyandarkan pipiku di dada Ram. "Kita akan membuat hubungan kita berhasil kali ini," gumamku.
Ram tidak mengatakan kepadaku bahwa ia mencintaiku. Tapi dia pasti akan mengatakannya suatu hari, batinku. Dia pasti akan mengatakannya. Ram memang sangat sulit mengucapkan kata-kata semacam itu. Aku tidak bisa menyalahkan sikap Ram yang berhati-hati saat ini. Tetapi, oh, betapa aku rindu mendengar kata-kata itu.
Ram mencium keningku lalu menggenggam tanganku, dan kami berjalan di bawah cahaya bulan, kadang-kadang berhenti untuk berciuman -- walau hanya ciuman-ciuman ringan. Begitu banyak yang ingin diucapkan, begitu banyak yang harus diungkapkan, tetapi untuk saat ini, sudah cukup bahwa kami bersama.
"Jadi, ceritakan, apa saja yang kamu lakukan sepanjang hari setelah menjengukku tadi pagi? Kamu membuatku rindu, tahu!"
__ADS_1
Ram tersenyum. "Kamu mau mendengar detailnya? Oke, dari pondokmu aku berdiri lama di depan kandang kuda cokelat. Kuda baru yang kamu lihat tempo hari. Kuda liar itu."
"Sambil menumpangkan sebelah lengan di susuran paling atas pagar seperti kebiasaanmu dulu? Melamun?"
Dia tertawa geli. "Benar."
"Tentunya kamu tidak sedang memikirkan cara menunggang kuda liar itu, tapi kamu memikirkan gadis berambut hitam dengan mata hitamnya, yang sekarang berdiri di sampingmu, hmm?"
Sekali lagi pria itu tertawa. "Itu tebakan yang terlalu mudah, Sayang. Jelas saja itu benar. Aku memikirkan gadis ingusan yang masih sangat belia dan belum dewasa saat pertama kali bertemu denganku. Gadis yang membuatku merasa...."
"Merasa...?"
"Kamu tidak akan mau mendengarnya."
"Katakan saja."
"Well, aku berpikir tentang kilas balik. Dari dulu aku berpikir bahwa... bahwa hubungan kita tidak akan berhasil. Tapi sekarang... maksudku saat aku melihatmu lagi, melihatmu yang sudah dewasa, sudah berkembang dengan sempurna, secantik dan semanis ini, aku ingin menggapaimu lagi. Aku ingin bersamamu lagi. Aku ingin mengulang semuanya."
"Kamu tahu, aku memikirkan pembicaraan kita kemarin. Aku berpikir jika kamu mengatakan yang sebenarnya, maka aku berharap kalau... memang tunanganmu sudah benar-benar keluar dari kehidupanmu. Untuk selamanya."
Aku mengangguk-angguk. "Tapi kata Khinan... kamu sudah bersumpah, kamu akan menerima takdir untuk menjalani hidup tanpa aku, ya kan?"
Oh, kalau kupikir-pikir, mestinya Khinan tidak perlu menyampaikan hal itu kepadaku, kan? Dia membuat hatiku semakin patah waktu itu.
"Ya, benar. Tapi kan itu dulu. Berbeda dengan sekarang. Sekarang kamu berada di dalam jangkauanku. Ya meski...."
Alisku terangkat. "Meski...?"
__ADS_1
Ram mengedikkan bahu. "Meski tidak ada yang benar-benar berubah. Ya, sama sekali tidak ada. Aku masih miskin dan tidak memiliki apa pun yang bisa kutawarkan kepadamu. Sementara kamu, kamu tetap gadis kaya yang punya segala hal yang kamu inginkan. Semua yang kamu butuhkan."
Aku memahami perasaan itu, lalu memegang dan mengamati kedua tangan pria itu. Syukurlah, tidak ada luka.
"Hei, aku memang meninju susuran pagar. Tapi tidak sampai terluka, kok. Jangan khawatir berlebihan, oke?"
Ram benar. Ram bukan tipe lelaki yang suka menyakiti dirinya sendiri. Mentalnya tidak serendah itu.
"Apa kamu membuat kuda itu ketakutan?"
"Ya, itu tidak bisa dihindari. Dia sampai berlari ke sisi terjauh kandang."
"Dasar kamu ini," protesku seraya membayangkan kuda itu berlari, lalu berdiri di sana dan memandang Ram, dengan matanya yang membelalak dan cuping hidung yang mengembang. Kemudian Ram akan mengumpat seperti kebiasaanya, barulah ia menyelinap masuk melalui sela-sela susuran kandang. Dia akan menenangkan kuda itu dan membujuknya dengan wortel dari kantong dan menyodorkannya ke kuda itu. Dia akan memanggilnya "bung" atau "boy". Kuda itu akan menatapnya selama beberapa saat, telinganya bergerak-gerak, lalu dia akan mendekat dengan hati-hati ke arah Ram. Setelah itu, Ram akan menggaruk-garuk telinga kuda itu sementara hewan itu mengunyah wortel. Dan, lebih dari itu, ia akan memasang tali kekang di kepala kuda dan menuntunnya mengelilingi kandang terbuka. Kuda itu akan dengan mudahnya mengikuti Ram, dengan mudah Ram mampu menjinakkan kuda itu. Dan aku tahu, dalam satu atau dua hari, Ram akan membiarkan kuda itu terbiasa dengan berat pelana di punggungnya, lalu pekerjaan sesungguhnya untuk membuat kuda itu bisa ditunggangi akan dimulai.
See, begitu mudah bagi Ram untuk menjinakkan seekor kuda liar. Coba dia bisa menjinakkan ayahku semudah itu.
Eh?
Aku terkikik geli.
"Hei, kamu mendengarku?"
"Emm? Ya. Aku dengar," dustaku, padahal aku baru saja berkelana dengan pikiranku sendiri.
"Tapi bahkan saat membawa kuda itu berjalan-jalan, aku tetap memikirkanmu. Ada banyak pertanyaan, apa kamu akan menontonku menyanyi malam ini, berada di antara penonton? Dan... ehm, aku memikirkan...." Dia nyengir. "Aku memikirkan apa lagi yang mungkin akan kita katakan... apa yang akan kita lakukan seandainya Emil tidak tiba-tiba datang dan masuk ke dalam pondok? Menurutmu...?"
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Nyaris melotot. Lalu terbahak-bahak. "Apa pun bisa terjadi," kataku. "Kalau menurutmu?"
__ADS_1
"Aku ingin melakukannya."
Deg!