Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Hujan Air Mata


__ADS_3

Hujan turun dengan lebat sekarang. Ram membungkukkan bahunya dan berlari melintasi halaman menuju deretan pondok, sementara Bibi El berlalu dan masuk ke dalam kantor administrasi.


Saat itu, entah kenapa, lagi-lagi aku tak mampu mengendalikan diriku. Aku melangkah keluar, ingin menghabiskan sisa waktuku di sini untuk melihat wajah itu. Meski hanya dari jauh dan dari persembunyianku, tapi aku ingin melihatnya. Menikmati saat-saat terakhirku. Sebab, aku tidak akan menarik kata-kataku semalam: aku akan pergi besok setelah aku menepati janjiku pada Tuan Hartawan. Dia akan pergi dari penginapan, begitu juga denganku, aku juga akan pergi setelah pria itu pergi.


Dalam guyuran hujan, aku mengikuti Ram dan merasakan sedikit kebahagiaan saat pria itu berhenti di pondokku -- meski dengan ekspresi kebingungan. Barangkali dia sedang memikirkan alasan apa yang mesti ia sampaikan kepadaku saat melihat ia ada di depan pintuku.


Tapi aku tidak ada di sana, Ram. Aku di sini....


Kenapa harus senaif itu? Setelah semalam ia mencampakkan aku dan membuatku menangis sepanjang malam dan aku sudah memutuskan untuk pergi, ia justru kembali memberiku harapan. Seperti layangan, pria itu menarik ulur hatiku.


Apa yang kamu inginkan? Semalam dengan jelas kamu memintaku untuk pergi. Kamu tidak ingin aku berada di sini. Dan kamu tidak ingin melihatku lagi dan tidak ingin terlibat lagi denganku. Jadi, apa yang kamu lakukan di sana dalam guyuran hujan, mengetuk pintuku? Kamu mematahkan hatiku berkali-kali....


Aku berusaha mati-matian menahan diriku. Aku sangat ingin memanggil namanya, muncul di hadapannya, tapi aku begitu takut jika pada akhirnya dia akan mencampakkan aku lagi.


Tahan dirimu, Purna. Jangan mendekat.


Ram menunggu sejenak, lalu mengetuk lagi, lebih keras. Kalau dia memahamiku, dia tahu kalau aku tidak sedang tertidur pada jam seperti ini. Sekarang sudah pukul sepuluh lewat.


Seraya mengerutkan dahi, Ram memegang kenop pintu dan memutarnya. Pintu pondokku terbuka dan ia melongok melalui ambang pintu. "Purna?"


Bahkan saat memanggil namaku, dia pasti sudah tahu pondok itu kosong. Ia pernah bilang, ia selalu mampu merasakan setiap kali aku berada di dekatnya.


Begitu menutup pintu, Ram berjalan menuju ruang bersantai. Karena hujan, tempat itu penuh orang. Anak-anak bermain video dan papan permainan, beberapa orang di antaranya menonton fiilm kartun. Orang-orang dewasa membaca, atau bermain kartu atau hanya mengobrol. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada tanda-tanda keberadaanku di dalam sana.


Setelah dari ruang santai, Ram memeriksa ruang cucian, lalu mampir ke pondokku sekali lagi, lalu pergi ke kandang.


Emil menengadah dari kuda yang ia sikat lalu menyapa Ram. "Kurasa kita tidak akan berkuda hari ini."


"Tidak. Apa kamu melihat Nona Mahardika?"


"Tidak sejak kemarin."


"Hai, Denis, apa kamu melihat Nona Mahardika?"


Remaja laki-laki yang dipekerjakan Bibi El itu melongok dari ruang perlengkapan di bagian belakang kandang. "Saya tidak tahu namanya, tapi seorang wanita muda datang kemari tadi pagi dan pergi membawa seekor kuda."


Yang pasti itu bukan aku. Aku jadi membayangkan, mungkin seperti itulah kepanikan Ram saat aku tersesat di hutan tempo hari.


"Seperti apa orangnya?"


Denis tersenyum. "Wanita itu sangat cantik, dengan rambut hitam panjang dan--"


"Kamu membiarkannya pergi sendiri?" tanya Ram dengan nada tajam.

__ADS_1


"Well, dia bilang dia hanya akan berkuda di sekitar halaman, jadi saya...."


"Sial!" Ram mengumpat. "Kenapa gadis itu suka sekali mengulangi kesalahan? Dasar bodoh! Labil! Keras kepala! Dia selalu kekanakan! Bisanya hanya membuat orang khawatir!"


Dan bisamu hanya mengumpat. Seperti kamu bukan penyebab dari kelabilan sikapku. Dasar menyebalkan!


Ram melirik arlojinya "Sudah berapa lama dia pergi?"


Denis mengangkat bahu. "Dua jam yang lalu, saya rasa. Kenapa?"


Ram kembali mengumpat pelan. "Kuda apa yang ia bawa?"


"Maaf, saya memberikan Ram padanya. Dia memilihnya karena dia menyukai kuda itu."


Ya ampun, aku nyaris terkekeh melihat ekspresi Ram yang memerah saat Emil tak bisa menahan diri menertawainya.


"Tidak hanya orangnya," ledek Emil. "Dia bahkan menyukai kuda itu."


Ram melotot. "Diamlah. Hentikan tawamu itu." Ram melihat sekilas kandang Ram. Kandang itu kosong.


"Maafkan saya, Mas Ram," sesal Denis.


"Apakah menurutmu dia dalam kesulitan?" tanya Emil.


Melihat melewati Emil, Ram mengumpat saat kuda jantan bernama Ram berderap memasuki kandang. Ia menyambar tali kekang kuda jantan itu. Tatapannya bergerak cepat menyusuri kuda itu, memeriksa tanda-tanda adanya luka.


"Dia sepertinya tidak terluka," ujar Emil.


"Tidak."


"Syukurlah."


"Emil, tolong pergi ke ruang makan dan bilang pada Welly untuk membungkus makanan sebagai bekal. Cukup untuk sehari atau dua hari. Denis, tolong ambilkan dua selimut dan kotak P3K. Dan jangan bilang apa-apa kepada Bibi El. Tidak perlu membuatnya cemas sampai kita tahu ada sesuatu yang perlu dicemaskan.


Denis bergegas keluar dari kandang.


"Apa menurutmu gadis itu terluka?" tanya Emil.


Ram mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Semoga saja tidak." Ram menyodorkan tali kekang kuda jantan itu kepada Emil. "Aku akan kembali ke pondokku untuk mengambil jaket dan beberapa sarung tangan. Kalau kamu kembali ke sini lebih dulu dari aku, taruh makanannya di kantong pelana. Dan tolong jaga kuda ini sampai aku kembali."


"Baiklah."


Ram memasang pelana pada Dakota, lalu berkuda ke pondoknya.

__ADS_1


Maaf kalau aku membuatmu cemas. Tapi kamu harus tetap pergi mencari tamu penginapan yang ditinggalkan kuda jantan itu entah di mana.


Aku pergi dari area kandang, memutuskan untuk kembali ke pondokku mumpung Ram tidak ada di sini untuk sementara waktu. Tetapi sebelum aku sampai ke pondok, seseorang memanggilku. Katanya ada titipan bunga dari Tuan Hartawan di bagian resepsionis. Dan aku segera pergi ke sana.


Aku harus pergi sebentar karena ada pekerjaan. Tapi aku akan menjemputmu tepat waktu nanti malam. Sampai jumpa. Berdandanlah yang cantik untukku.


Ah, lega. Syukurlah Tuan Hartawan sedang pergi dan bukannya sedang menungguku di pondok.


Dari meja resepsionis, aku segera melangkah kembali ke area pondok. Dan Ram ada di sana, di luar pondokku. Ia mengenakan jaket kulit domba yang tebal dan berat, mengganti sandal kulitnya dengan sepatu bot, sepasang sarung tangan kulit berbulu, sebuah senter di kepala, dan senapan di punggungnya yang kemudian ia selipkan ke balik palana Dakota yang sudah lengkap dengan tas pelananya. Ia tercenung sejenak, lalu setelah yakin telah membawa semua yang dibutuhkan termasuk korek api yang barusan ia keluarkan dari saku kemudian ia selipkan ke dalam tas pelana, Ram berlari masuk ke dalam pondokku dan kembali keluar hanya dalam waktu setengah menit dengan salah satu pakaianku yang ia temukan di atas tempat tidurku, lalu berjongkok di depan Toshu yang menuggu di atas undakan dan membiarkan binatang peliharaannya itu mengendus katun lembut itu.


"Temukan dia untukku," katanya. "Temukan dia sekali lagi untukku." Menyerah pada godaan, Ram membenamkan wajahnya ke katun lembut milikku. "Kumohon, semoga dia baik-baik saja," gumamnya, lalu menyelipkan katun itu ke balik jaketnya.


Aku harus pergi, batinku ketika Toshu mulai mengendus ke tanah sementara Ram menuruni undakan, melompat ke punggung kuda dan memegang tali kekang ketika hendak memanggil anjingnya yang pintar itu -- yang dengan cepat mengetahui keberadaanku. Dia menggonggong.


"Purna?"


Aku belum berlari jauh ketika Ram dan kuda tunggangannya berhasil menghadangku. Pria itu melompat turun dan lekas menghampiriku, menyambarku ke dalam pelukan.


Tanganku ingin bergerak. Ingin sekali membalas erat pelukan Ram pada tubuhku. Tetapi rasa takut akan sakit hati karena harapan yang selalu pupus oleh rasa kecewa membuat tanganku tetap di tempat.


"Kamu tidak apa-apa?"


Aku menggeleng bersamaan saat Ram melepaskan tangannya dariku.


"Kamu dari mana saja? Aku sangat khawatir padamu."


Terima kasih, kataku dalam hati. Kuangkat tanganku yang menggenggam buket bunga yang ikut basah kuyup sepertiku, tersiram hujan dengan angin yang kencang. Karenamu, aku bahkan lupa dengan rasa takutku pada hujan. "Aku ke resepsionis, mengambil titipan bunga."


Seperti kebiasaannya, Ram mengumpat lirih. "Matamu sembab, apa kamu menangis semalaman? Karena aku? Maafkan aku, Purna. Aku tidak bermaksud...."


"Maaf sudah membuatmu melihatku lagi."


Aku baru saja hendak pergi ketika Emil muncul meneriakkan nama Ram, lalu ia memandang ke arahku. "Well, bukan Nona Purna yang menunggangi kuda jantan itu. Tapi tamu lain. Dia turun dari kuda untuk berswa foto dan berjalan terlalu jauh, dan dia lupa mengikat kudanya. Jadi...." pemuda itu mengedikkan bahu menyadari situasinya yang muncul tidak tepat waktu. "Hanya itu yang ingin kuberitahukan. "Aku permisi dulu."


Aku tidak menunggu sedetik pun untuk berbalik menghindari Ram dan mendapati Bibi El ada di hadapanku dengan payungnya.


"Syukurlah kamu ada di sini," ujarnya. "Bibi khawatir sekali padamu."


Kucoba tersenyum kepadanya, dan berterimakasih kepada hujan yang menyembunyikan air mataku. "Bibi menyuruhku mandi, jadi aku mandi."


Tapi wanita tua itu mengerti sepenuhnya. Dia mengangguk-angguk sedih. "Kita kembali ke pondok."


Aku mengangguk, melangkah dalam air mata yang tersamar air hujan, meninggalkan Ram dalam keterpakuan.

__ADS_1


Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Ram. Tapi hatiku sudah terlalu sakit untuk menerima penolakan. Karena perjuanganku tidak akan berarti apa-apa kalau kamu sendiri tidak mau berjuang untukku. Kamu tidak mau memperjuangkan aku.


__ADS_2