
Aku telah berusaha tapi gagal dan malah dibutakan air mata. Tanpa peduli pada apa pun, aku berlari secepat yang aku bisa hingga aku jatuh bertopang lutut dengan telapak tangan terluka. Meringis kesakitan. Namun itu tidak seberapa dibandingkan dengan hatiku yang kembali patah.
Dalam derai air mata dan menangis sesenggukan, satu uluran tangan memegangi bahuku dan menarikku bangkit.
"Jangan menangis, Sayang. Maafkan perlakuan kasar keponakanku."
Ya Tuhan, betapa malunya aku. Bibi El melihat apa yang terjadi antara aku dan Ram di dekat kandang kuda itu: bagaimana keponakannya mencampakkan aku dan, bagaimana aku seperti seorang wanita yang tidak punya malu -- seperti mengemis cinta kepada seseorang yang tak menginginkan aku bersamanya. Dia menolakku.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya wanita itu, tapi ia langsung melihat telapak tanganku yang berdarah, luka karena terkena batu tajam saat aku mendarat ke tanah. "Tanganmu terluka, Nak."
Aku menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Bi," kataku. "Aku tidak apa-apa."
"Mari ikut saya. Biar saya obati."
"Tidak. Tidak usah, Bi. Aku... aku ingin pergi. Aku akan check out. Bisa tolong bantu aku--"
"Ssst... tenangkan dirimu. Oke? Jangan bertindak gegabah."
"Tapi aku tidak bisa berada di sini lebih lama. Aku tidak ingin... aku tidak bisa. Maaf, aku harus pergi."
"Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ini sudah terlalu larut. Tidak baik bagi anak gadis ada di jalan malam-malam begini. Dengarkan aku."
Seraya mengusap air mata aku menggeleng. Aku tidak sanggup lagi berada di sini, batinku.
Seperti bisa membaca pikiranku, Bibi El menawariku menginap di pondoknya. "Kamu bisa menginap di tempat saya. Anggap saya sebagai bibimu sendiri, ya? Ayo?"
Aku menatapnya tak percaya. Terharu akan kebaikannya, dan aku tahu apa yang ia katakan itu benar. Tetapi aku tidak ingin kembali ke pondokku. Tidak malam ini, dan tidak untuk bertemu dengan siapa pun. Dan aku merasa ajakan Bibi El itu merupakan tawaran terbaik untukku. Bukan karena dia bibinya Ram, tapi karena aku butuh tempat bersembunyi untuk menenangkan diriku sendiri.
"Ayo, mari." Ia menggamit lenganku dan mengajakku ke pondoknya.
Aku mengangguk dan mengikuti.
Sesampainya di dalam pondok, Bibi El menyuruhku duduk di sofa sementara ia mengambil kotak P3K. "Kemarikan tanganmu," katanya seraya menarik tanganku dan membersihkan lukaku dengan cairan antiseptik, lalu mengoleskan obat merah dan menutup lukaku dengan plaster.
"Terima kasih, Bi. Bibi sangat baik. Terima kasih."
Dia mengangguk seraya tersenyum simpati. "Kamu sudah makan?"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu istirahatlah. Ayo, kamu bisa tidur di kamar tamu." Dengan lembut, Bibi El kembali menggamit lenganku dan mengajakku ke kamar tamu di pondoknya, yang hanya disekat dinding dengan ruang tamu itu. "Istirahatlah," katanya. "Kamu harus menjaga kesehatan. Jangan sampai sakit karena kurang tidur. Besok baru pikirkan lagi apa yang ingin kamu lakukan, oke? Bibi akan ambilkan air minum untukmu."
Aku mengangguk seraya menggumamkan terima kasih. Saat Bibi El keluar lalu kembali, aku sudah naik ke tempat tidur, bersandar di kepala ranjang.
"Minumlah dulu," ujarnya. Ia menyorongkan segelas air putih hangat ke tanganku, lalu mengelus sisi kepalaku saat aku mereguk air hangat yang sedikit melegakan tenggorokan. "Ingat untuk tidur. Bibi permisi."
__ADS_1
Aku mengangguk lagi. Lalu, persis sebelum Bibi El menutup pintu kamar tamu itu, aku memanggilnya. "Tolong jangan beritahu siapa pun kalau aku ada di sini? Aku mohon?"
Dengan penuh pengertian, wanita penuh kasih itu mengangguk lalu segera menutup pintu.
Malam itu, meskipun begitu sulit untuk tidur, tetapi aku tidak beranjak turun dari tempat tidur. Menangis selama berjam-jam hingga mataku terasa sangat perih, dan entah pada pukul berapa, akhirnya aku terlelap dan terbangun siang dengan suasana hati yang buruk. Ada rasa malu kepada pemilik pondok karena aku terbangun sesiang ini. Tapi semoga ia memahami keadaanku, batinku. Aku hanya meringkuk, bersandar di tempat tidur saat Bibi El membuka pintu kamar untuk mengecek keadaanku.
"Selamat pagi, Nak. Bagaimana keadaanmu?"
Aku mengedikkan bahu dan baru hendak turun dari ranjang ketika mendengar suara Ram di luar pondok. Tanpa bisa mencegah diriku, aku beranjak ke jendela. Mengintip, memandang ke arah pria itu dengan rasa bercampur aduk, namun didominasi oleh luka dan kesedihan, tapi ada sedikit manis dan kebahagiaan karena aku masih bisa melihatnya meski dalam persembunyian.
Menyaksikan aku seperti itu, Bibi El tidak berkomentar apa pun, dia hanya tersenyum dengan perasaan terluka. Barangkali senyum untuk membuat perasaanku terasa lebih baik, atau... rasa senang karena akhirnya ia tahu bahwa keponakannya yang lajang itu memiliki cinta di dalam hatinya, dan luka karena faktanya sepelik ini.
"Maaf, Bibi," kataku sepelan mungkin. "Emm... boleh aku tetap di sini untuk sementara? Aku belum tahu tujuanku akan pergi ke mana setelah chek out dari sini. Dan sebelum pergi, aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Apa boleh?"
Bibi El yang berdiri dengan nampan makanan di tangannya hanya mengangguk. "Baiklah," katanya, lalu ia menaruh nampan makanan ke atas meja. "Tetaplah di sini dan jangan mengabaikan sarapan. Akan Bibi ambilkan pakaian baru dari toko cinderamata. Kamu bisa makan dan mandi sementara Bibi pergi, oke?"
"Baiklah. Terima kasih, Bi."
"Ada syaratnya."
"Apa? Syarat?"
"Jangan pergi tanpa berpamitan padaku. Terima kasih-mu diterima kalau kamu menuruti permintaan bibimu ini."
Kali ini dengan senyuman, Bibi El mengelus pipiku lalu meninggalkan aku di dalam kamar. "Makan dan mandilah. Ada jubah mandi di lemari. Nanti aku akan kembali membawakan pakaian untukmu. Kamu bisa menunggu, kan? Bibi ada sedikit pekerjaan di kantor."
"Tentu."
Sepeninggal Bibi El, aku kembali memandang keluar. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk memandangi Ram yang ada di luar pondok Bibi El. Ia mengenakan celana jins dan kaus, sandal kulit, dan topi di kepalanya. Sembari berjalan menuju ruang makan, ia melihat ke sekelilingnya, mengangguk ke arah segelintir tamu yang ada di sana. "Akan terjadi badai lagi," gumamnya. "Cuacanya benar-benar sesuai dengan suasana hatiku."
Ram tidak masuk ke ruang makan, ataupun duduk di meja di teras depan. Tapi ia duduk di bawah pohon, di depan pondok Bibi El, dan bersantai di situ.
Welly Damiri, salah satu pegawai yang bekerja di tempat ini menghampiri mejanya. "Kami punya waffle, atau orak-arik telur untuk sarapan." Gadis itu menuangkan untuknya secangkir kopi. Gadis itu cantik, dengan rambut ikal berwarna pirang, mata cokelat, dan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya. Aku bisa melihat, ia tidak menyembunyikan ketertarikannya pada Ram. Tetapi dari posisiku, aku bisa melihat jelas Ram berusaha menghindarinya. Dan tidak menatapnya seperti ia menatapku.
Setelah memesan sarapan, Ram meraih cangkir kopi dan menyesap isinya, lalu ia melirik ke dalam, ke sekeliling ruangan.
Kuharap yang sedang kamu cari itu aku. Kamu sedang memikirkan aku. Ingin tahu aku ada di mana, ingin tahu apa yang sedang aku lakukan, dan ingin tahu apa aku sudah sarapan. Aku berharap, Ram....
Menatap sekilas sekeliling halaman, ia melihat langit mulai gelap di atas sana. Kilat menyambar di kejauhan, dan bergumam, ia harus membatalkan acara berkuda hari ini.
"Kamu terlambat," ujar Bibi El yang baru keluar dari pondok, ia menuruni undakan.
"Yeah." Ram mengedikkan dagunya ke kursi di hadapannya. "Mau bergabung denganku, Bibi Sayang?"
"Oh, manis sekali." Bibi El tersenyum seraya duduk. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Nak?"
__ADS_1
Ram melotot ke arah Bibi El, keningnya mengerut. "Tidak. Kenapa?"
Hujan sudah turun, tetes-tetes kecil pertama memerciki jendela.
Bibi El menggeleng. "Jangan berbohong padaku, Anak Muda. Aku sudah mengenalmu seumur hidupmu. Sekarang, apa yang ada di dalam pikiranmu?" Bibi El mengamatinya dengan mata menyipit saat Ram tidak menyahut. "Hanya ada dua kemungkinan," gumamnya sembari merenung. "Masalah uang atau wanita. Tebakanku yang terakhir."
Ram mengumpat lirih. "Bibi tahu terlalu banyak."
Welly meletakkan sebuah piring di hadapan Ram lalu menengok ke arah Bibi El. "Apa Bibi butuh sesuatu?"
"Tidak. Terima kasih, Welly." Bibi El menunggu sampai gadis itu meninggalkan meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sekarang saatnya kamu melupakan masa lalu, Nak. Kamu perlu berkencan sesekali. Mungkin kamu bisa mengajak Welly?"
Eh?
Hatiku melesak mendengarnya....
"Gadis itu menyukaimu. Terlihat jelas."
"Bi...."
"Itu fakta. Dia tergila-gila padamu."
"Ayolah, Bi...."
"Ram-ku adalah keluargaku," sela Bibi El. "Itu memberiku hak untuk ikut campur. Aku tidak suka melihatmu terlalu sering menyendiri. Kalau kamu tidak tertarik pada Welly, kenapa tidak mendekati Nona Mahardika yang sangat cantik itu?"
Mendengar namaku disebut-sebut, Ram nyaris tersedak kopinya. Dan aku senang namaku disebut....
"Bibi tahu dia berada di sini hanya sebentar," Bibi El menambahkan. "Tapi apa salahnya mengajak dia keluar untuk makan atau menonton film?"
Ram hanya tersenyum sedikit. "Omong-omong soal Nona Mahardika, apa Bibi sudah melihatnya pagi ini?"
"Tidak. Aku belum melihatnya," sahut Bibi El seraya tersenyum lebar ke arah Ram. "Dia mungkin masih meringkuk di tempat tidur karena tidur larut malam. Omong-omong, aku berani bertaruh, dia pasti suka diajak menonton film kalau kamu yang mengajaknya. Kamu ajak saja dia."
Seraya mendesa* jengkel, Ram menjauhkan diri dari meja. "Seandainya ada sesuatu yang tidak aku butuhkan, itu adalah seorang makcomblang."
"Hei, dengarkan aku. Jangan hanya mengajaknya bertengkar dan membuatnya menangis semalaman. Hibur dia."
Lagi-lagi Ram melotot. "Maksudnya?"
"Aku melihat dengan jelas bagaimana keponakanku memeluk dan menciumnya dengan penuh gairah. Lalu mencampakkannya begitu saja. Ram-ku mengusirnya dengan cara tidak hormat. Sungguh kasihan gadis malang itu."
Ram menunduk gelisah. "Maafkan aku soal itu. Aku permisi. Sampai jumpa nanti. Dah...."
Oh... terima kasih, Bibi....
__ADS_1