
"Purna? Ya ampun, kamu demam."
Aku terbangun saat Ram menghampiriku dan menyentuhkan punggung tangannya di keningku, dalam keadaan demam panas dan tubuh menggigil gemetaran. Meringkuk seperti janin, merasa kedinginan. Suhu tubuhku meningkat drastis saat aku tertidur setelah menangis begitu lama.
"Akan kuambilkan obat," katanya.
Ia meraih botol obat dari kotak P3K dan mengeluarkan sebutir pil penurun panas dan memberikannya kepadaku. Aku menenggaknya dengan sedikit air putih. Entah apa yang ia rasakan saat itu, tetapi kekhawatiran nampak jelas di matanya melihatku menggigil gemetaran.
"Apa kamu mau kubuatkan air hangat?"
Aku menggeleng, dan tahu kalau pria itu kebingungan. Kemudian, pada akhirnya ia menyerah kepada ego-nya. Ia melakukan apa yang biasa dilakukan orang dewasa yang bertanggung jawab dalam keadaan seperti ini. Dia memelukku. Dan aku tidak ingin menolaknya ketika ia menyelinap ke dalam selimutku, melingkarkan tangannya di tubuhku yang meringkuk memunggunginya.
"Kamu akan baik-baik saja," ia berbisik. "Aku janji kamu pasti akan baik-baik saja."
Tuhan tahu aku mengharapkan hal yang sama. Tetapi jika pun tidak, sungguh, aku rela mati dalam dekapan pria ini.
Yeah, Ram memelukku semakin erat, dan membenamkan wajahnya di relung antara leher dan bahuku -- tempat kesukaannya dulu -- dan terselubung ke dalam selimut yang menghangatkan tubuh kami. Aku suka caranya memelukku dan selimut itu menyelubungi kami, seperti kepompong: melindungi kami dari seluruh dunia yang ingin memisahkan kami. Ketika Ram mendekapku di ruangan yang setengah gelap, jantungnya berdegup seirama dengan jantungku, mendengarkan suara hujan yang terus turun di luar pintu dan jendela yang tertutup aman.
Paling tidak, pikirku, aku dan dia sudah membicarakan insiden dramatis yang kami alami delapan tahun yang lalu.
"Apa lagi?" tanyaku waktu guntur kembali menggelegar di kejauhan yang berarti hujan kembali deras.
__ADS_1
"Apa maksudmu apa lagi?" tanya Ram, menghentikan bibirnya yang mengembara dengan lembut di tengkuk leherku.
"Maksudku, apa lagi yang terjadi waktu kamu... em, setelah pulang dari luar kota? Aku ingin tahu detailnya. Tapi tolong jangan berselisih denganku. Cerita saja. Aku mohon?"
Dia mengangkat kepalanya untuk menatapku yang kini merebahkan punggung, berbaring menelentang, seakan-akan aku ini gila. "Kenapa aku mau membicarakan soal itu sekarang?"
"Karena," ujarku, "membicarakannya dapat membantu menghilangkan kesalahpahaman di antara kita. Aku tidak ingin ada beban atau permusuhan di antara kita. Aku ingin ada kedamaian. Entah kamu mengakuinya atau tidak, kita berdua marah terhadap satu sama lain, benci tapi tidak bisa melupakan. Kamu merasa dan menganggapku telah menyakitimu sebegitu parah. Sama, aku juga merasa kamu melakukan hal yang sama padaku. Tapi kenyataannya, kita sudah coba saling menghubungi. Kita sudah coba mencari tahu tentang kabar satu sama lain, walau... walau Khinan tidak mengatakan apa pun padaku ataupun padamu. Delapan tahun itu penuh siksaan, Ram. Kalau kamu percaya itu. Aku tersiksa."
Dia bersandar pada tumpuan tangannya untuk menatap mataku. "Aku percaya."
"Aku ingin... suatu kedamaian. Aku butuh kedamaian."
Ram mengangguk. "Aku juga, dan hanya ini yang bisa," ujarnya sambil memindahkan tangannya dari pinggangku ke bagian lain dari tubuhku yang lebih dekat dengan jantungku. "Ketika jantungmu masih berdetak begitu keras di dekatku, aku tahu perasaanmu pun masih sama. Dan itu mendamaikan."
"Aku masih mencintaimu, Purna...."
"Jadi...?"
"Apa?"
Sentuh aku, batinku meminta. Tetapi kata-kata itu tak mampu kuutarakan lagi seperti Cahaya Purnama Mahardika gadis enam belas tahun, kekasih Ramana Lingga Pradita delapan tahun yang lalu.
__ADS_1
"Ceritakan kepadaku, apa saja yang tidak kuketahui?"
Ram mencium keningku, kemudian menaruh lengannya di bawah kepalaku untuk bisa merangkulku, hingga aku bisa menyuruk lebih dalam kepadanya. "Sulit dipercaya, Purna, setelah sekian lama, setelah apa yang terjadi di antara kita, aku masih menginginkanmu. Delapan tahun begitu menyakitkan setiap kali aku mengingat bahwa kamu menolak teleponku, bahwa kamu tidak membalas surat-suratku, bahkan tidak membacanya. Aku tidak mau percaya kalau kamu begitu marah padaku sehingga kamu ingin menyingkirkan aku dari hidupmu. Aku tidak mau percaya itu. Tapi kenyataan waktu itu...."
"Yang kamu percayai benar, kan?"
"Ya."
"Aku tidak ingin menyingkirkanmu dari hidupku. Sama sekali tidak, Ram."
Ram mengangguk. "Aku menyesal atas semua yang terjadi. Aku bodoh. Waktu aku kembali dari luar kota, yang pertama kali kulakukan adalah pergi menemuimu, tapi pelayan di rumahmu bilang kalau keluarga kalian pergi untuk liburan panjang. Dan... bodohnya aku, aku berpikir karena waktu itu kamu baru berumur tujuh belas tahun, jadi mudah bagimu untuk berpisah dan memulai hidup yang baru tanpa aku. Dan aku berpikir... terlibat dengan gadis sepertimu merupakan suatu kesalahan, tapi entah kenapa aku begitu terjerat padamu sejak awal. Aku terpesona dengan keluguanmu, dan aku selalu bangga pada diriku ketika kamu menunjukkan kekagumanmu padaku yang tidak pernah kamu tutup-tutupi. Kamu membuatku merasa bahwa segala sesuatu bisa menjadi kenyataan, membuatku percaya akan kebagiaan abadi. Aku terus mengenang saat aku harus meninggalkanmu, dan kamu malah marah besar lalu mencampakkan aku. Aku tidak ingin menyalahkanmu. Itu hal yang bisa diduga, karena... maaf, kamu memang manja, kamu terbiasa dituruti, selalu mendapatkan apa yang kamu mau dan apa pun yang kamu inginkan. Karena kamu putri kesayangan ayahmu. Kamu sang anak emas. Jangankan CD player baru, ayahmu bahkan memberikan gelang tenis bertatahkan berlian saat kamu meminta itu padanya. Jadi, aku berpikir itulah yang terbaik. Karena pada kenyataannya, meskipun kita bisa bersama, aku tidak akan mampu memberikan kehidupan yang biasa kamu jalani. Aku tidak akan pernah bisa cukup baik bagimu. Bahkan aku tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan kepadamu. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah punya apa pun. Itulah kenapa... saat setelah sekian lama teleponku dan surat-suratku tidak ada jawaban... aku menerima tawaran ibuku untuk bertunangan. Tapi tidak terealisasi juga karena aku tersandung kasus hukum. Aku dipenjara cukup lama sampai... sampai Bibi El punya cukup uang untuk menebus kebebasanku. Aku semakin terpuruk saat berpikir aku tidak akan pernah pantas untukmu. Aku pria miskin dan kamu anak konglomerat. Kamu dibesarkan di istana yang besar, sedangkan aku bahkan pernah tinggal di area reservasi. Kamu mengemudikan BMW, sedangkan aku mengemudikan truk, bahkan itu bukan milikku. Kamu pergi kuliah, sementara aku masuk penjara. Begitu banyak perbedaan. Dan aku menyerah."
"Tapi kamu masih menanyakan tentangku, ya kan?"
"Hanya sekadar menanyakan. Mungkin aku berharap...."
"Berharap apa? Apa yang kamu harapkan waktu itu?"
"Entahlah. Tapi... ya, rasa sakit itu tetap ada, Purna. Dan ada kebencian juga."
"Tapi itu waktu itu, Ram. Tidak sekarang. Sekarang aku ada di dalam pelukanmu...," suaraku tercekat, meski aku tak menyingkir dari pelukan Ram. Aku tidak boleh berharap, batinku saat harapan itu merasuk. Aku tidak akan menikah lagi. Tidak akan....
__ADS_1
Kembali Ram mencium keningku, lalu sedikit senyum tersungging di bibirnya. "Tidurlah. Semoga cepat sembuh."
Terima kasih. Teruslah memelukku, malam ini saja....