
"Ram! Sialan, kami sudah mencari kalian berdua ke mana-mana!" Emil menatap kami berdua dengan wajah amat sangat terkejut.
Dan ini sungguh memalukan.
"Emil," ujar Ram dan langsung duduk tegak tanpa peduli pada apa pun. Termasuk pada dirinya yang bertelanjang dada dan baru saja bertelungkup di atas seorang wanita yang ia cumbu dengan gilanya. Di dalam sebuah pondok, di tengah hutan. Dan hanya berdua.
Dan kau tahu apa yang kulakukan? Aku menutup tubuhku dengan selimut, tepatnya keseluruhan diriku, aku menyelubungi diriku dari ujung kaki hingga kepalaku, seolah dengan menyembunyikan diriku aku bisa menghilang dari pondok ini dalam satu kedipan mata.
"Sepertinya keadaan kalian tidak terlalu buruk."
"Kami baik-baik saja," sahut Ram. "Kuda Nona Purna melemparnya. Tapi dia baik-baik saja, kok," tambahnya buru-buru. "Hanya bengkak di pergelangan kaki dan benjol di kepala. Menurutku sebaiknya tidak mencoba pulang ke peternakan di tengah hujan."
"Tentu saja. Itu pilihan yang tepat. Tidak seperti kedatanganku yang sepertinya di waktu yang salah." Pemuda itu tertawa geli. Nyaris terbahak. "Omong-omong, aku membawa kuda ekstra, barangkali kita bisa pulang sekarang kalau kalian berdua sudah siap."
Aku mengangkat selimut dan mengintip situasi di dalam pondok. Emil melepas topinya, ia menepuk-nepukan topi itu ke pahanya, membuat air menciprat ke lantai, lalu mengenakan topinya kembali.
Ram mengangguk. "Tentu. Sebaiknya kita pulang sekarang. Kalau begitu, bisa kau tunggu di luar, Sobat?"
"Oke."
Dan Ram menyibakkan selimutku lalu mengulurkan tangan untuk membantuku duduk. Emil sudah keluar dari pondok. "Dia tidak akan berkomentar apa pun tentangmu. Jadi, santai saja. Tidak perlu malu padanya, oke?"
Aku mengangguk, meski batin mengatakan mustahil untuk tidak malu. Emil jelas-jelas melihat kami dalam posisi seperti itu. Aku terbaring di bawah tubuh Ram yang telanjang, pria itu ada di atasku dan sedang mencumbuku. Dan untung saja pakaianku masih utuh dan selimut menyelamatkan wajahku yang memerah.
__ADS_1
"Maaf... aku... aku ingin berganti pakaian. Bisa tolong... keluar sebentar?"
Ram menyeringai konyol. "Kalau aku tidak ingin keluar... dan ingin melihatmu...?"
"Ram...."
Dia cekikikan. "Ya, baiklah. Aku hanya bercanda, dan sedikit serius."
"Hmm... dasar!"
Dengan gelengan kepalanya, Ram melangkah keluar dari pondok, meninggalkanku sendirian yang segera berkutat dengan pakaianku yang sudah kering di dekat perapian.
Seraya mendesa*, aku mengumpulkan pakaianku. Dengan punggung menghadap ke dinding dan membelakangi pintu, aku melepas celana milik Ram dan mengenakan jins milikku sendiri, lalu menanggalkan kaus milik Ram yang bila kupakai panjangnya menutupi tubuh atasku hingga ke paha, dan aku segera mengenakan kausku. Sembari duduk di kursi, aku mengenakan kaus kaki dan sepatu bot, lalu menyisirkan tangan ke rambut. Aku perlu menyisir rambut dan menyikat gigi, batinku sembari meringis.
Untunglah Ram tidak protes saat dia menciumku. Aku merasa geli. Kalau kupikir, betapa joroknya momen ini.
Aku bersyukur karena aku akan berkuda meninggalkan pondok dengan duduk di pelana, bukannya tergeletak di atasnya.
Perjalanan pulang ke peternakan berlangsung lambat. Jalur yang licin gara-gara lumpur, ada beberapa tempat yang tampak berbahaya, dan betul-betul hanyut di tempat yang lain, membuat Ram terus mengkhawatirkan aku. Dia menanyakan apa aku baik-baik saja, apa aku sanggup, dan lain sebagainya. Aku senang akan perhatiannya dan rasa khawatirnya yang sangat luar biasa itu. Dan kurasa Emil pun menyadari sikap manis Ram, lebih dari sekadar formalitas terhadap tamu di peternakan. Hanya Toshu yang tak mengerti akan situasi ini. Anjin* terlatih itu berjalan mondar-mandir di depan kami. Hidungnya menciumi tanah.
Dengan rasa sakit di kepala, ketegangan mencari jalur, dan berbagai hal yang belum terselesaikan di antara aku dan Ram, aku begitu kelelahan begitu kami tiba di peternakan.
"Beritahu bibiku bahwa kami pulang dengan selamat," Ram menyuruh Emil. "Aku akan mengantar Nona Purna ke pondok dan mengurus kudanya."
__ADS_1
Seraya mengangguk, Emil berkuda menuju kantor.
Saat kami tiba di pondokku, Ram turun dari kuda dan menurunkanku dari pelana. Dan Ram langsung menggendongku meski aku menolaknya. Katanya dia tidak ingin pergelangan kakiku yang belum sembuh sepenuhnya itu kembali sakit. Jadi dia memaksaku untuk diam dan menurut saja. Maka baiklah. Aku menurut. Lagipula aku suka bila dia begitu perhatian, peduli, dan memanjakan aku.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ram saat menurunkanku ke tempat tidur.
Aku mengangguk. "Ya."
"Mandi dan beristirahatlah."
"Ram...."
"Kita bicara lagi lain waktu."
Yeah, aku sedang tidak ingin berdebat dengan pria itu. Aku menurut jika itu yang ia inginkan. Jadi, saat ini, yang aku butuhkan adalah berendam air hangat, menyantap makanan lezat, dan tidur nyenyak, sesuai urutannya. Aku mengangguk kepada pria itu. "Terima kasih telah datang mencariku." Pahlawanku....
"Ya. Sama-sama. Hati-hati dengan pergelangan kakimu," ujarnya. "Aku akan menyuruh salah satu pelayan untuk membawakan baki makanan."
Aku tersenyum penuh terima kasih. Sembari mengangguk, Ram keluar dari pondokku sementara aku mengawasi kepergiannya sampai pria itu tidak terlihat lagi setelah ia menutup pintu, lalu melompat ke punggung kuda, memegang tali kekang kuda yang tadi kutunggangi lalu pergi.
Dibandingkan dengan pondok berburu itu, pondokku terasa bagai kamar di Hotel Ritz. Aku mengisi bathtub dengan air panas, menambahkan banyak busa mandi beraroma vanila yang kubeli di toko cinderamata, dan berendam di air kolam yang terasa di surga.
Dengan mata terpejam, aku membayangkan kembali percakapanku dengan Ram. Bagaimana mungkin ayahku melakukan sesuatu yang begitu tercela? Tahun-tahun yang seharusnya aku lewatkan bersama Ram terbuang percuma. Aku membandingkan semua pria yang pernah kukencani dengan Ram, dan mereka semua kalah. Kalah telak. Bahkan Christian, meskipun aku menolak untuk mengakui hal itu pada diriku sendiri sampai saat aku berdiri di samping pria itu di altar, bahkan sampai ia benar-benar sudah sah menjadi suamiku. Kami sudah benar-benar menikah walau hanya berlangsung beberapa jam sebelum akhirnya suami pertamaku itu tewas terbunuh oleh sekawanan perampok yang menghadang kami dalam perjalan ke hotel setelah acara resepsi. Begitu juga jika dibandingkan dengan Tuan Hartawan yang juga berhasil membuatku berdiri di sampingnya di altar sebelum aku menemukan kembali akal sehatku -- sebelum terlalu terlambat -- dari segi non materi, jelas mereka semua kalah dibandingkan dengan Ram.
__ADS_1
Sembari berbaring dan terbenam dalam air berbusa, aku mereka-reka isi hatiku, dan menyadari diriku masih benar-benar mencintai pria itu, dan rasanya sekarang seperti delapan tahun yang lalu: aku baru jatuh cinta kepada Ramana Lingga Pradita....
Jatuh cinta sekali lagi....