
Aku mengeran* lirih saat bibir Ram membungkam bibirku. Lengan Ram melingkar erat di pinggangku, membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aliran darahku seolah melambat dan mengental di nadi saat Ram menangkup belakang kepalaku, mengepalkan tangannya kuat-kuat dalam helaian rambutku untuk memperdalam ciumannya.
Aku kehabisan napas saat Ram menarik diri. Dadanya kembang-kempis saat ia menatap lekat kedua mataku. "Purna...."
"Apa?"
Tangan Ram bergerak naik-turun di punggungku, mengirimkan getaran kecil yang menggelitik kulitku. "Bisakah kita mencoba lagi?"
"Oh...?"
"Apakah itu berarti ya?"
"Ram... aku...."
"Jangan pergi, Purna. Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan pergi...."
Mestinya aku bahagia saat itu, dan aku tahu aku memang bahagia atas permintaannya. Tapi aku juga bingung.
"Purna?"
Aku menghela napas dalam-dalam. Mengatur napas....
"Ram, aku mencintaimu, dan kamu tahu benar bagaimana perasaanku padamu. Tapi aku...."
Dia menarik pinggangku lebih dekat kepadanya, menghentakkan aku ke dalam pelukannya. "Kenapa?" tanyanya. "Apa kamu...? Kamu sudah memutuskan untuk...?"
Aku menggeleng kuat. "Tidak," kataku gelisah. "Bukan. Bukan itu, Ram. Tidak ada pernikahan atau keharusan apa pun. Bahkan aku memiliki kebebasanku untuk pergi ataupun tinggal. Tapi aku terlalu pengecut untuk... untuk sakit hati lagi saat kamu putuskan."
"Tidak lagi setelah ini. Aku akan memperjuangkanmu, Purna. Aku akan bersamamu selamanya. Selalu."
Deg!
"Aku bersumpah. Aku tidak akan melepaskanmu lagi kali ini. Aku akan berjuang untukmu. Tolong beri aku kesempatan, please...?"
Sebaiknya aku jujur saja sekarang. Mungkin ini saat yang tepat. Ram berhak menentukan pilihannya setelah dia tahu semua tentangku. Kalau dia memilih mundur, aku bisa pergi dari sini. Dan tidak akan ada ganjalan lagi.
"Purna...."
"Aku janda."
"Apa?" Ram terkejut, matanya seketika terbelalak.
"Aku sudah pernah menikah," akuku. "Tiga kali."
Pelukan Ram melonggar dariku kemudian terlepas. Dia memalingkan wajah dengan rasa kecewa, lalu memunggungiku.
Dan aku mulai menangis....
"Ketiga suamiku meninggal di saat kami baru saja menjadi pengantin baru. Itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk mencarimu," suaraku bergetar. "Kamu menyumpahiku tidak akan pernah menemukan belahan jiwa selain dirimu saat kita berpisah, kamu ingat itu?"
Dia kembali berputar perlahan menghadapku, mendapati air mata membasahi wajahku.
__ADS_1
"Delapan tahun, aku memang tidak pernah bisa melupakanmu. Tapi aku juga tidak ingin hidup kesepian. Karena itu... aku menerima lamaran pria yang disukai oleh ayahku, dan terpaksa menikah. Benar niat kedatanganku tidak sama dengan yang kulakukan di sini, aku datang untuk perdamaian. Aku ingin meminta keikhlasanmu. Tapi aku malah kembali... kembali ke masa lalu. Ke cinta yang masih tersimpan di hatiku. Maafkan aku, Ram. Maafkan aku kalau semua ini membuatmu kecewa. Maaf...."
Entah kenapa rasa malu seakan menyelubungiku, status janda yang tidak kuinginkan itu membuatku merasa begitu hina. Tapi kenapa? Apa salahku hingga aku merasa kotor dan tak pantas berada di hadapan Ram? Bukan keinginanku dan bukan kesalahanku jika aku menjadi janda. Tapi tetap saja aku merasa malu. Dan aku berlari... nyaris terjatuh saat menuruni undakan jika saja tangan pria itu tidak sigap menahan pinggangku agar tidak terjatuh. Ditariknya aku ke dalam pelukan....
Di belakangku, Ram membenamkan wajahnya di tengkuk leherku, dengan kedua tangan memeluk tubuhku, begitu erat, dan dia menangis di pundakku.
Aku tidak pernah sekalipun melihat pria tangguh ini menangis. Tidak untuk satu kali pun.
"Maafkan aku, Purna. Seharusnya aku tidak pernah mengatakan hal buruk padamu."
Aku menggeleng. "Aku tidak pernah dendam padamu, Ram. Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua yang terjadi padaku. Tidak pernah sama sekali. Jangan salahkan dirimu."
"Kalu begitu bisa kita mencoba lagi?"
"Ram...?"
"Katakan ya, Purna. Aku mohon...."
"Meski aku seorang janda?"
"Kamu tetap cahaya purnama terindah dalam hidupku. Kembalilah, Purna. Kembali padaku."
Aku tidak mengatakan ya, tapi aku mengangguk dalam derai air mata.
"Apa itu berarti ya?"
Sekali lagi aku mengangguk. "Ya."
"Terima kasih." Dia memutar tubuhku menghadapnya, lalu mencium keningku. "Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Selamanya."
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak....
"Hei, dengar. Lagu itu sangat pas untuk kita. Mau berdansa lagi?"
Aku mengangguk segera, beranjak ke pelukan Ram sekali lagi dan kami berdansa di bawah cahaya bulan. Begitu menakjubkan, batinku, suasana malam ini, musiknya, lengan Ram yang mendekapku begitu erat, dan dia bernyanyi hanya untukku, dalam pelukanku....
"There goes my heart beating. Cause you are the reason. I'm losing my sleep. Please come back now...."
"There goes my mind racing. And you are the reason. That I'm still breathing. I'm hopeless now...."
"I'd climb every mountain. And swim every ocean. Just to be with you. And fix what I've broken...."
"Oh, cause I need you to see. That you are the reason...."
"There goes my hands shaking. And you are the reason...."
"My heart keeps bleeding. I need you now. If I could turn back the clock. I'd make sure the light defeated the dark...."
"I'd spend every hour, of every day. Keeping you safe...."
"I'd climb every mountain. And swim every ocean. Just to be with you. And fix what I've broken...."
__ADS_1
"Oh, cause I need you to see. That you are the reason. You are the reason...."
"I'd climb every mountain. And swim every ocean. Just to be with you. And fix what I've broken...."
"Oh, cause I need you to see. That you are the reason...."
"Kamulah alasan kenapa aku masih sendiri, Purna. You are the reason. And I'll love you for a thousand more. Jangan pergi lagi...."
Aku tersenyum, menengadah menatap matanya. "Tidak akan pernah. Aku milikmu untuk sisa hidupku."
Malam itu berlanjut dengan perasaan damai....
"Bisakah kita berkuda besok pagi?" tanyaku ketika kami berjalan kembali menuju pondok.
"Tidak bisa. Aku akan pergi ke Pangandaran. Pamanku akan mengadakan pertunjukan."
"Kamu akan pergi?" tanyaku, tidak bisa menyembunyikan kekecewaan di nada bicaraku. "Berapa lama kamu akan pergi?"
"Mungkin satu atau dua hari. Aku tidak ingin pergi, tapi aku sudah berjanji kepada pamanku untuk datang."
Aku hanya bisa mengangguk....
"Kamu mau ikut denganku?"
"Apa boleh?"
"Tentu saja."
Aku mengangguk penuh semangat. Hilang sudah rasa kecewa di hatiku, berganti senyum bahagia yang membelah wajah. "Aku mau. Jam berapa kita akan pergi?"
"Setengah delapan."
"Pagi?"
"Yap." Kami tiba di pondokku sekarang. Ram menarikku ke pelukannya dan mencium puncak hidungku. "Jam setengah delapan pagi. Bersiaplah. Jangan lupa bawa baju ganti, siapa tahu kita memutuskan untuk menginap."
Aku mengangguk, kesenangan. Tetapi, sewaktu aku ingin melangkah masuk ke pondokku, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku berhenti dan berbalik.
"Ada apa? Hmm? Besok kita akan bertemu lagi. Sekarang masuklah, dan tutup pintunya."
Aku mengangguk, lalu menengadah. "Aku harap tidak akan ada yang berubah setelah matahari terbit."
"Tidak akan."
"Kamu boleh pikirkan lagi semuanya."
"Sayang...."
"Jemput aku kalau kamu tidak berubah pikiran. Kalau tidak...."
"Aku akan menjemputmu. Tidak ada yang akan berubah. Sekarang masuk, bersiaplah untuk besok, dan tidurlah. Jangan lupa kunci pintu. Oke, Purna Sayang?"
__ADS_1
Dengan satu ciuman Ram meninggalkan pondokku.
Semoga besok tetap seindah malam ini....