Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Kepelikan Dalam Hidupku


__ADS_3

Dering ponsel di saku dress-ku memecah keheningan. Kurogoh sakuku dan mendapati nama Reyna di layar ponsel. Aku tahu apa yang hendak gadis itu bicarakan bahkan sebelum aku menggeser opsi terima panggilan di layar. Tapi aku tidak bisa mengabaikan telepon itu.


"Aku terima telepon sebentar," kataku pada Ram. Dia hanya mengangguk, dan aku berjalan beberapa langkah untuk menerima panggilan telepon dari Reyna.


Klik!


"Purnaaaaaaa...!" gadis itu langsung meneriakkan namaku di seberang sana. "Kamu sebenarnya mau ke London atau tidak?"


Aku menyeringai. "Aku belum bisa memutuskan," bisikku. "Tapi sebenarnya mungkin tidak. Sori."


"Dasar!"


"Sori, Reyn. Dan soal pekerjaan, kamu cari orang lain saja, ya. Maaf."


"Ah, begini ni menghadapi nona kaya yang butuh pekerjaan hanya untuk pelarian."


"Yah, maaf. Aku akan ke London kalau keadaanku memaksa. Tapi sekarang... masih ada harapan."


"Ya ampun, kupikir kamu sudah bahagia. Tapi dari suaramu sepertinya keadaanmu masih sama. Well, baiklah. Apa pun keputusanmu, kudoakan itu yang terbaik. Aku ingin kamu bahagia."


Aku menghela napas dalam-dalam. "Aamiin. Terima kasih. Sudah dulu, ya. Akan kutelepon lagi lain waktu."


"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa telepon aku lagi. Bye...."


Tut!


Akhirnya sambungan telepon itu terputus. Kusimpan ponselku dan aku berbalik.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ram. "Apa ada masalah?"


Aku berjalan kembali menghampirinya. "Tidak ada. Semuanya baik-baik saja."


"Kamu yakin?"


"Emm."


"Tadi di telepon kamu menyebut London, lalu tentang masih ada harapan. Apa maksudnya itu?"


Huft, telinganya begitu jeli menangkap suara. Aku mengedikkan bahu. "Ya begitu, tidak perlu dibahas--"


"Apa kamu pikir hubungan kita...?"


"Mas...."


"Jelaskan."


"Jelaskan."


"Baiklah." Aku mengedikkan bahu, menggeleng. "Entahlah, hanya saja aku merasa tidak ada yang pasti saat ini. Tidak ada yang pasti dalam hidup ini, apalagi dalam kehidupanku. Sejak delapan tahun yang lalu, aku bertemu denganmu, lalu kita pacaran. Aku mencintaimu setengah mati, tapi akhirnya kita putus. Kehidupanku seketika berubah dan segalanya terasa hampa. Muram. Dan tahu-tahu, aku dibawa orang tuaku liburan panjang, dan ketika aku pulang, aku mendapati diriku benar-benar kehilangan. Mantan kekasihku bertunangan, aku serasa ingin mati. Aku membenci, terus hidup dalam kebencian dan menyalahkan siapa pun. Bahkan menyalahkan diriku sendiri. Aku memutuskan untuk kuliah, tapi aku tetap berharap ke masa lalu. Kembali mencari tahu. Ternyata kamu dipenjara untuk alasan yang tidak kuketahui. Cowok remaja sembilan belas tahun, kupikir mungkin karena memperebutkan seorang gadis dengan anak lelaki lainnya. Lalu aku membuat keputusan bodoh. Aku menerima cinta dari seniorku di kampus. Kami berpacaran, lalu dia malah menghabiskan banyak waktu dengan abang-abangku dan ayahku. Aku jadi tidak penting. Tapi aku tidak marah. Semuanya berjalan begitu saja sampai aku merasa begitu nelangsa, aku merasa waktu berjalan begitu lambat, namun tidak ada kenangan. Aku mengatakan ya ketika dia malamarku, lalu kami menikah. Dan... aku menjanda. Seperti itulah setelahnya. Seperti sirkulasi yang terulang, sampai tiga kali. Tanpa kendali. Lalu terakhir, setelah melewati masa depresi pasca pernikahan ketiga, aku diperkenalkan dengan Tuan Hartawan, aku mencoba lagi mengusir rasa kesepian itu. Dokter menyarankan aku untuk liburan, dan aku melakukan lebih. Aku selalu bepergian, berlayar, sampai akhirnya aku menerima lamaran pria itu. Semuanya tidak tentu. Pada akhirnya aku menyerah pada tipuan itu, aku berubah pikiran pada detik-detik terakhir. Kabur dari altar, berkendara berjam-jam, lalu melihat plang peternakan, dalam sekejap aku memutuskan untuk datang, untuk menemuimu. Lalu ketidaktentuan dalam hidupku dimulai lagi. Aku jatuh cinta lagi, ingin mengejarmu lagi, lalu putus asa lagi. Aku ingin pergi ke London, tapi kamu menarikku lagi untuk tetap di tempat. Aku tidak percaya pada semua ini, Mas. Aku tidak percaya keabadian. Harapan dan ketidakpercayaan itu bertarung kuat di dalam jiwaku. Sori, maksudku, bukan aku tidak percaya padamu. Tapi pada kehidupan, pada takdir. Kamu lihat gelombang ombak itu, aku seperti sesuatu yang terombang-ambing di atasnya. Aku tidak punya arah yang jelas. Sekarang aku di sini, tapi, besok, lusa, siapa yang tahu. Aku hanya ingin hidup untuk hari ini. Melakukan apa pun yang bisa kulakukan hari ini, dan menggantungkan harapan untuk masa depan. Maaf untuk sikapku ini, Mas. Tapi, kamu adalah kehidupanku di hari ini, dan kamu juga harapanku di masa depan. Begitu pun di masa lalu. Sekarang, aku masih di sini, hari ini, untukmu. Sementara di masa depan, aku pasrah. Mungkin sulit untuk dipahami oleh orang-orang normal. Dalam kepasrahanku aku memiliki banyak ketakutan yang berasal dari harapan. Harapan membuatku takut. Tapi ketakutan itu tidak membuatku berhenti berharap. Aneh, bukan? Aneh. Tapi... sudahlah. Lupakan. Jangan dipikirkan. Nanti kamu malah ikut...."


Alisnya mencuat. "Apa?"


Menggeleng. Kusadari kebodohanku yang berucap tanpa berpikir panjang. "Maaf, aku salah bicara. Maksudku... nanti kamu malah depresi. Lupakan saja."


"Maaf." Tiba-tiba Ram meraihku, dan memelukku erat-erat. "Maafkan aku."

__ADS_1


Ya ampun, entah sejak kapan air mataku mengalir membasahi pipi. "Untuk apa kamu meminta maaf?"


"Aku penyebab dari semua lukamu."


"Mas... aku...."


"Maafkan aku."


Aku menghela napas dalam-dalam. "Tidak usah dibahas. Aku tidak mengatakan kalau... emm, aku tidak menyalahkanmu. Maksudku sekarang, aku tidak menyalahkanmu, dan memang bukan salahmu."


"Tapi kalau aku berusaha lebih keras untuk meluruskan semuanya, kamu tidak akan begini. Tidak akan sehancur ini. Kamu tidak akan... terluka, dan merasa terpuruk. Aku tidak pernah terpikir kalau kamu terluka begitu dalam setelah kita putus. Aku pikir kamu nona kaya yang bisa... kupikir kamu bisa menikmati hidup, dan move on dengan mudah. Tapi ternyata aku tidak memahami hatimu. Luka terdalam di hatimu. Maafkan aku, Purna."


Perlahan kulepaskan pelukan Ram dari tubuhku, dan melayangkan senyum kepadanya. "Tidak ada gunanya menyesali masa lalu pada saat ini. Yang kusesali saat ini hanya... aku merasa aku tidak begitu baik untukmu. Aku... janda. Tidak punya harga diri. Dan... aku sadar permintaanku padamu itu hina. Tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku putus asa. Aku menginginkanmu. Aku...." Aku menggeleng, frustrasi. "Aku minta maaf."


"Ssst... diamlah. Oke? Kamu tidak salah. Bukan kamu yang salah. Aku, aku yang salah. Tapi aku akan belajar memahamimu." Dia kembali memelukku. "Aku memahamimu."


Dia seolah bicara pada anak kecil. Bagaimana aku bisa sepakat bahwa aku tidak bersalah? Semua orang punya andil dalam perpisahanku dan Ram, termasuk diriku. Semua orang dan semua pihak punya andil atas depresi yang kualami selama ini. Termasuk ayah dan ibuku.


Kugeleng-gelengkan kepala. Melesak. "Aku tidak mau membahas semua ini lagi. Aku hanya ingin bahagia. Itu saja." Dan kamulah satu-satunya sumber kebahagiaanku. Aku tidak mau dokter lagi. Aku tidak mau kamu mati. Aku tidak ingin menikah, tapi aku ingin kita terus bersama. Keinginanku yang tidak masuk akal....


"Tidak boleh lagi ada air mata," Ram berkata seraya mengusap air mataku. "Ayo, kita bermain air. Tidak perlu mandi hari ini."


Eh?


"Bau dong?"


"Siapa yang peduli? Aku akan tetap memelukmu dan menciummu meski kamu tidak mandi."

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu bilang begitu. Aku juga tidak akan peduli." Kusambut tangan Ram dan kami berlari ke pantai. Tidak berenang, hanya bermain.


Dan aku melihat Purna berusia enam belas tahun di sana, bersama kekasihnya, Ramana Lingga Pradita, cowok tampan berusia sembilan belas tahun, berlarian... dan tertawa bahagia. Menebus delapan tahun yang penuh luka dan kepahitan, dengan cinta... demi cinta....


__ADS_2