
Sepulang dari membeli cincin, aku meminta Ram untuk menemaniku membeli ponsel baru kemudian kami pergi ke Grapari untuk mendapatkan nomor ponsel simcard lamaku. Setelah semua urusanku selesai, kami segera kembali ke rumah sakit. Keluargaku sedang bersiap untuk pergi mencari camilan sore ketika aku muncul kembali di kamar rawat ayahku.
"Kamu datang tepat waktu," ujar ibuku, lalu ia mencium pipi ayahku dan berkata, "Sekarang istirahatlah. Kami akan segera kembali."
Sembari tersenyum, ibuku menggamit lenganku dan kami meninggalkan ruangan itu, bersama Pramana, istri dan anak-anaknya yang mengekor di belakang.
"Kamu mau makan di mana, Sayang?"
"Di mana saja, asal Mas Ram bisa ikut."
"Ma, menurutku--"
"Pram, Mama tahu apa pendapatmu," ibuku berhenti melangkah dan berbalik menatap putra sulungnya. "Dan menurut Mama sebaiknya kamu membiasakan diri menerima kehadiran Ram bersama kita."
Pramana memandangi ibu kami, lalu aku. "Kamu tidak... jangan bilang...." Ia menyisirkan sebelah tangan ke rambutnya. "Kamu tidak akan menikah dengan pria itu, ya kan?"
"Ya," sahutku. "Aku akan menikah dengannya."
Kakak sulungku itu menggeleng-gelengkan kepala. "Papa tidak akan pernah setuju. Kamu menggali kuburanmu sendiri," ujarnya. "Maaf, Ma, pilihan kata yang buruk, mengingat situasinya. Kalau tidak ada yang keberatan, anak-anak ingin makan burger."
"Tidak masalah," sahutku. Aku tersenyum begitu melihat Ram saat kami berbelok di sudut lorong.
Pada saat yang sama Ram juga melihatku. Dia tersenyum, lalu mengerutkan dahi ketika melihat keluargaku mengekor di belakangku.
"Kita akan pergi makan."
"Kita?" Ram menatapku dengan sebelah alis terangkat.
"Kita semua," jelasku seraya meraih tangan Ram. "Ayo."
Ram menatap ibuku, menunggu persetujuannya. Dan ibuku mengangguk. "Kita semua. Itu berarti termasuk kamu."
Ini kesempatan bagiku. Aku mengumumkan pertunangan kami saat kami selesai menyantap burger masing-masing. Ibuku menerima berita pertunangan kami dengan senyum dan air mata. "Mama selalu yakin kalian akan bersatu," ujarnya. "Selalu ada binar di mata putriku setiap kali dia menatapmu, ada kehangatan dalam nada bicaranya setiap kali dia menyebut namamu. Semoga kalian akan selalu bahagia bersama."
"Terima kasih, Ma." Aku mencium pipi ibuku.
"Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan putri Anda," ujar Ram.
"Kamu sudah melakukan itu," sahut ibuku. "Sepanjang kalian bersama, dia selalu bahagia. Sekarang berjanjilah, kalian akan sering mengunjungi kami."
Aku mengangguk. "Kami berjanji," ujarku, lalu menatap calon suamiku. "Ya kan, Mas?"
Ia turut mengangguk.
"Kalian berencana akan tingggal di mana?" Pramana bertanya.
"Di mana saja yang Mas Ram inginkan," sahutku, membuat kakakku itu menggeleng-geleng jijik dan meninggalkan tempat.
"Maaf," ujar Niki. "Dia bisa menjadi sangat...." Kakak iparku itu menoleh sekilas ke arah anak-anaknya yang sedang duduk di lantai asyik bermain ponsel. "Dia seringkali menyebalkan," lanjutnya, lalu ia merangkulku. "Semoga kalian berdua bahagia."
Aku tersenyum. Mengaminkan.
"Jadi, apa kalian sudah menentukan tanggal pernikahan?"
Aku menoleh ke arah Ram. "Belum."
"Terserah kamu." Ia menyeringai ke arahku. "Menurutku, sih, semakin cepat semakin baik."
__ADS_1
"Menurutku juga begitu," sahutku sepakat. "Bagaimana kalau minggu depan?"
"Minggu depan?" seru ibuku. "Kita tidak bisa merencanakan pernikahan dalam seminggu. Dan bagaimana dengan ayahmu? Dia belum cukup sehat untuk...." Ibuku menggeleng-geleng. "Maaf, maaf. Tentu saja, itu terserah kalian. Apa pun keputusan kalian tidak menjadi masalah untuk kami."
Aku menggigit bibir, getir, lalu menatap ibuku. "Apa menurut Mama Papa mau mengantarku ke depan altar?"
"Mama tidak tahu, Sayang. Tapi Mama yakin kakakmu Setya mau seandainya papamu tidak bersedia. Dia selalu menyukai Ram, kan?"
Aku tersenyum. Aku selalu tahu mengapa kakak keduaku itu menyukai Ram, selain karena usia mereka yang sama, mereka memiliki hobi yang sama: berteman dengan alam. Nilai plus Kak Setya dari Ram adalah: kakakku itu bisa berselancar menaklukkan ombak, sedangkan Ram tidak bisa.
Aku menatap Ram. "Semoga saja dia bersedia. Kalau tidak, kita kawin lari saja."
"Apa pun yang kamu inginkan, Sayang."
Semringah. Aku sangat bahagia. "Aku menginginkan pernikahan di sebuah gereja kecil. Hanya ada aku, kamu, dan anggota keluarga kita."
"Kalau begitu itulah yang akan kita lakukan," kata Ram.
Sampai pada saat itu aku sangat bahagia, tapi setelahnya...
"Sayangnya hal itu tidak akan pernah terjadi, Sayang."
Tuan Hartawan berdiri di sana, dengan dua orang polisi bertampang sangar, dan sebuah amplop cokelat di tangannya.
"Tahan pria itu, Pak."
Aku ternganga. "Apa-apaan ini?"
Dua orang polisi itu segera menghampiri kami. "Pak Ramana Lingga Pradita, Tuan Hartawan Agung Sentosa melaporkan Anda atas tuduhan tindak kekerasan. Mari ikut kami ke kantor untuk menjalani pemeriksaan."
Duniaku seketika hancur.
"Tenangkan dirimu, Sayang," pinta ibuku.
"Tidak bisa!"
"Hei, Sayang." Ram mencengkeram kedua bahuku. "Tenang. Biarkan aku pergi. Aku tidak akan kenapa-kenapa, oke?" Dia menatapku dengan penuh harap. "Kamu akan menungguku, kan?"
Aku menggeleng-geleng. Frustrasi. "Jangan bawa dia. Lepaskan dia," pintaku kepada kedua polisi yang sekarang memegangi Ram, kemudian membawanya pergi. Sementara aku tertahan di sana, dalam cengkeraman ibuku dan kakak iparku.
Tuan Hartawan tertawa.
"Berengsek! Bajingan! Aku akan membunuhmu!"
Tapi itu hanya berupa gertakan sambal, sama sekali tidak berpengaruh. Dia terus saja tertawa dan meledekku dengan berpura-pura takut pada ancamanku. "Well, Purna, akan kupastikan bocah ingusan itu mendekam dan tersiksa di penjara. Dia tidak akan keluar hidup-hidup. Tidak dengan jaminan apa pun. Tidak dengan tebusan uang berapa pun. Karena dia hanya akan keluar dengan jasadnya. Itu janjiku."
Berengsek! Dialah yang sekarang mengancamku. Dan aku tahu dia tidak main-main.
"Omong-omong, aku punya penawaran yang bagus untukmu," ujar pria itu, seperti adegan di dalam sinetron, ia baru saja hendak pergi kemudian kembali berbalik. Persis seperti adegan di dalam sinetron dan aku tahu ia sengaja melakukan itu. Dia sengaja mendalami karakter seperti tokoh penjahat nomor wahid. "Aku bisa mencabut laporanku dan membebaskannya jika kamu datang dan memohon padaku. Kamu tahu harus mencariku ke mana. Dan, yeah, tentu saja, kamu harus membayar mahal semua kesalahan kalian padaku. Bye, Sayang."
Aku tahu yang dia maksud. Dia Tuan yang tidak mau kalah. Apa pun akan ia lakukan untuk mewujudkan obsesinya. Termasuk untuk merebutku kembali dari Ram.
"Purna, Sayang?"
Tidak! Tidak akan kubiarkan cintaku kalah.
Aku lari. Lari secepat yang bisa kulakukan. Berlari tanpa peduli pada apa pun dan siapa pun. Lari, terus lari, hingga aku tiba di depan ruang rawat ayahku dengan napas memburu, membakar dada.
__ADS_1
"Kakak!" Aku bersimpuh di hadapan kakak sulungku yang tengah duduk di kursi tunggu. "Bantu aku, aku--"
Tapi ia berdiri dengan angkuhnya. "Biarkan saja dia mendekam di penjara. Aku tidak akan membantunya meski kamu berlutut dan memohon."
Deg!
"Kakak tega padaku?"
"Kamu yang salah memilih jalan."
"Kak, aku mohon, bantu aku. Aku--"
"Jangan ikut mengorbankan aku, Purna. Jangan libatkan aku, bisnisku, dan profesiku. Kamu tahu benar kekuasaan Hartawan. Jadi kenapa kamu melakukan kesalahan? Sekarang tanggunglah sendiri akibatnya. Jangan melibatkan aku ataupun Papa. Sekarang pergi karena aku tidak mau masalah yang kamu buat itu membahayakan kesehatan Papa. Pergilah. Lebih baik kamu temui pacar miskinmu itu sebelum Hartawan menyuruh orang menghabisinya di penjara. Waktumu hanya sedikit, kecuali kalau kamu mau menyerah dan kembali ke kehidupanmu yang sebenarnya."
Persis di saat itulah aku menyadari bahwa aku tidak cukup kuat untuk memperjuangkan cintaku. Bahwa aku hanya membawa sial bagi pria-pria yang menikahiku. Hanya akan mengantarkan mereka ke ambang kematian.
Baiklah, Tuhan, kalau Kau menakdirkan kutukan ini kepadaku. Biar aku menikah dengan Tuan Ambisius itu, lalu renggutlah nyawanya setelah dia menjadi suamiku. Aku ingin lihat, apa Kau berpihak kepada orang yang berkuasa, ataukah tidak? Jika dia tidak mati, maka aku akan membenci-Mu untuk seumur hidupku.
Dengan tak berdayanya, aku melangkahkan kakiku yang rapuh tanpa menoleh kepada kakak yang begitu asing bagiku. Tanpa kata-kata, melainkan bersimbah air mata, dan aku tidak memiliki kewarasanku lagi.
Di belokan koridor, aku bertemu dengan ibuku dan aku memeluknya. Menumpahkan air mataku di bahunya. "Aku akan menemui Tuan Hartawan sekarang dan menerima syarat apa pun darinya. Termasuk menikah," kataku terisak-isak. "Tapi sebelum itu, aku membutuhkan bantuan Mama. Hanya Mama satu-satunya yang bisa membantuku saat ini. Tolong, aku mohon Mama temui Mas Ram di penjara, dan tolong Mama pastikan dia baik-baik saja. Setelah dia dibebaskan, suruh dia kembali ke Lembang. Dan...," -- aku melepaskan cincin dari jariku -- "berikan cincin ini padanya. Bilang padanya jangan khawatirkan aku. Buat dia mengerti bahwa aku melakukan ini bukan untuk meninggalkannya. Bukan tidak mau menunggu. Tapi demi dia. Demi keselamatannya. Minta padanya jangan menyia-nyiakan pengorbananku. Aku sangat mencintainya. Sangat. Mama akan melakukan ini untukku, kan?"
Ibuku hanya bisa mengangguk-angguk dalam derai air mata tanpa bisa mengatakan hal apa pun.
"Tidak," kataku seraya mengusap air mata ibuku. "Jangan menangis. Aku rela berkorban. Bahkan ini bukan hanya demi Mas Ram. Ini untuk semua orang. Supaya pria itu tidak mengganggu bisnis Papa. Dia tidak akan mengganggu Kak Pram dan Kak Setya. Bisnis dan karir mereka akan aman. Anak dan istri mereka tidak akan terancam kemiskinan. Semuanya akan baik. Semuanya akan baik seperti sediakala. Aku tidak akan merusak kehidupan siapa pun karena keegoisanku. Jadi... aku harus pergi sekarang. Mama akan menemui Mas Ram demi aku, kan? Tolong yakinkan dia. Aku rela berkorban untuk kalian semua. Aku rela." Aku memeluk ibuku lagi untuk terakhir kali, lalu berbalik, dan berlari ke halaman parkir.
Sesampainya di mobilku, dengan hati yang perih, aku membuka kunci mobil, masuk ke balik kemudi, mengunci pintu, dan menghunjamkan kunci ke lubangnya. Aku tidak memikirkan apa pun lagi, hanya memasukkan persneling dan menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobilku, dan meninggalkan rumah sakit. Dan hanya dalam beberapa menit, aku sampai ke tempat tujuan.
Pintu rumah Hartawan sudah terbuka lebar. Dia sudah menunggu kedatanganku di kursi kebesarannya, dengan sebuah manekin yang terbalut gaun pengantin, dan dokumen-dokumen pernikahan yang sudah tertera di atas meja lengkap dengan pulpen untuk aku membubuhkan tanda tangan.
Ini semua tepat seperti dugaanku. Seharusnya aku tahu Tuan Hartawan tidak akan membuat segalanya mudah bagiku. Aku benar-benar telah melakukan kesalahan yang fatal.
"Selamat datang, Sayang. Seperti dugaanku, kamu pasti datang."
Kuusap air mata yang kembali menetes. "Tidak usah berbasa-basi. Kita sama-sama tahu hak dan kewajiban masing-masing. Kamu lakukan bagianmu, dan aku akan lakukan bagianku."
"Cerdas. Berarti aku tidak perlu bernegoisasi panjang lebar denganmu. Ayo, langsung saja tanda tangani dokumen-dokumen pernikahan kita. Akan langsung kuhubungi pengacaraku yang stand by di kantor polisi, dan bocah sialan itu akan langsung dibebaskan."
Aku tidak punya pilihan lain lagi....
"Aku ingin Ram aman. Aku akan hidup selama dia hidup. Tapi kalau kamu coba mencelakainya, bila terjadi sesuatu yang buruk karena ulahmu, seketika kamu akan menemukan jasadku."
Pria itu tertawa menggelegar. "Aku pria yang memegang teguh komitmen. Silakan kamu tanda tangan, lalu pergilah ke kamar pengantin kita, pakai gaun indah ini dan berdandanlah yang cantik. Aku akan menemuimu dan membawakan bukti pembebasan bocah itu ke hadapanmu. Deal?"
Aku duduk berjongkok lutut di lantai, membaca baik-baik dokumen-dokumen di atas meja di hadapanku, lalu membubuhkan tanda tangan.
"Bagus, Sayang." Pria itu berdiri, tersenyum semringah, membelai-belai rambutku, lalu menyelipkan kedua belah tangan ke tubuhku, menempelkan aku pada tubuhnya dengan begitu intim. "Sekarang kamu sudah resmi menjadi Nyonya Hartawan. Pergilah ke kamar dan berdandanlah. Tunggu aku, akan kubuat malam ini berkesan untukmu. Ini malam pertama kita, Nyonya."
Arggggggg...!
Muak! Muak! Muak! Aku jijik! Begitu sakit hatiku karenanya. Terlebih, berikutnya ia mencium bibirku.
Menjijikkan!
Tapi aku tak berdaya....
Tak ada pilihan lain bagiku selain pasrah dan menuruti perintah Tuan Hartawan. Dengan segera aku melepaskan gaun pengantin itu dari manekin lalu membawanya ke lantai atas, ke kamar utama di rumah besar itu. Kamar Tuan Hartawan, kamar pengantin kami.
__ADS_1
Yeah, hari ini aku sudah kalah. Cintaku kalah. Tapi pengorbananku tidak boleh sia-sia.
Cukup aku saja yang menderita.