
Aku menyalakan radio, duduk di kursi di samping jendela, dan membuka novel yang kupilih dari perputakaan penginapan, mencoba untuk membaca. Tetapi aku tidak melihat deretan huruf di situ. Aku melihat Ram yang merangkul seorang gadis di pelukannya. Tertawa bersamanya. Pergi bersamanya.
Seraya meringis aku melempar buku itu ke seberang ruangan.
Dan bahkan radio berubah menjadi pengkhianatan. Apakah semua orang sekarang ingin menyakiti hatiku? Aku tidak pernah mendengar lagu Tercipta Untukku dari band Ungu itu selama delapan tahun. Lagu kami. Mengapa sekarang? batinku sedih.
Aku bangkit meninggalkan pondok. Sejenak, aku berdiri dengan bimbang, tercabik keinginan untuk pergi ke pondok Ram dan melihat apakah pria itu berada di sana. Tidak! Aku tidak akan memata-matai pria itu. Dengan tegas, aku berbalik ke arah yang berlawanan.
Aku belum berjalan terlalu jauh ketika mendengar suara Ram, ditemani tawa yang feminin. Seraya merunduk di balik sebuah pohon, aku melihat Ram dan gadis berambut pirang itu berjalan menuju pondok tempat para pelayan tinggal.
Aku menghunjamkan tanganku ke saku celana jins-ku, bertanya-tanya setan apa yang merasuki pria itu sehingga ia mengajak gadis itu berjalan-jalan? Apakah dia sudah tidak ingin mengelak dari isyarat tersembunyi Welly yang menginginkannya menghabiskan malam bersamanya?
Selama ini ia menolak gadis itu pastilah bukan karena gadis itu tidak menarik, hanya saja, pasti karena gadis itu adalah seorang wanita yang datang di waktu yang salah. Kalau di waktu yang tepat, pasti mudah bagi pria itu untuk tertarik kepadanya. Dia memang cantik.
Ram menggumamkan umpatan pelan, dan aku begitu yakin hal itu disebabkan karena dia sedang memikirkan aku: ingin tahu apa yang sedang kulakukan? Apa aku sedang berjalan-jalan dengan pria yang seharusnya menjadi mantan tunanganku? Memikirkan apakah pria itu memberiku ciuman selamat malam? Membuat rencana untuk pernikahan yang lain?
"Berengsek!" umpatannya lolos.
Welly tersenyum ke arah Ram. "Kamu mengatakan sesuatu?"
Ram menggeleng. "Tidak."
__ADS_1
"Kamu sepertinya melamun. Ada yang mengganggu pikiranmu? Kamu bisa bercerita kepadaku, kalau mau. Aku pendengar yang baik."
Ram memaksakan seulas senyum. "Trims, tapi aku tidak ingin membicakannya."
Welly menarik lengan Ram, membuat pria itu berhenti melangkah, lalu berjalan memutar dan berdiri menghadap Ram. "Aku benar-benar pendengar yang baik." Gadis itu seraya menelusurkan telapak tangannya di dada Ram dengan perlahan dan sensual. "Kamu pasti tahu perasaanku, Ram," kata gadis itu, ia membuka dua kancing kemeja Ram, membuat dada pria itu terpapar di depan matanya. "Aku tidak pernah menyembunyikan kenyataan kalau...."
Dia menempelkan bibir merahnya di dada... pria yang sangat aku cintai itu. Membuat mataku terbelalak, dan panas!
"Aku mencintaimu...."
Ram membungkam mulut Welly dengan telapak tangannya. "Jangan, Welly. Jangan katakan apa pun yang akan kamu sesali nanti."
Ram mengangguk.
"Apakah serius?"
Ram terdiam. Aku tahu isi kepalanya, bisa kutebak dengan telak. Dia memikirkan aku, mengenai betapa dirinya tidak pantas untukku, dan betapa ia menginginkan aku. Apakah dia melakukan hal yang benar dengan melepaskan aku? Dan otaknya yang sekarang sedang kosong itu menjawab Ya, benar.
"Ram?"
"Tidak," sahut Ram dengan berat. "Tidak serius. Tidak lagi."
__ADS_1
"Well, kalau begitu...." Jemari Welly menyusuri tengkuk leher Ram. Dia berjinjit, menatap Ram dengan sepenuh cinta, sarat akan pemujaan. Lalu ia memejamkan matanya, mendekatkan bibirnya ke bibir Ram....
Oh Tuhan, betapa sakitnya hatiku. Kupegangi dada yang sudah teramat sesak.
Tapi akhirnya Ram menolak, ia palingkan wajahnya hingga bibir mereka tak jadi bertemu. Justru, tatapannya malah bertemu pandang denganku. Dia terdiam di sana, membisu menatapku.
"Ram?" suara Welly menarik kembali perhatiannya.
Ram menggeleng. "Maaf. Aku tidak bisa."
Welly mengangguk paham, namun pantang menyerah. Ia menggamit lengan Ram. "Baiklah. Ayo, aku akan membuatkan minuman untukmu di tempatku dan kita bisa mengobrol atau yang lainnya."
"Baiklah," sahut Ram. "Kenapa tidak?"
Dengan mengabaikan aku, Ram melangkahkan kaki sementara gadis itu bergelayut erat di lengannya.
Aku masih berdiri di sana, jari-jariku menancap di batang pohon saat melihat Ram mengikuti gadis itu memasuki salah satu pondok. Dan menutup pintu.
Aku berdiam diri di sana untuk waktu yang lama, dengan saraf-saraf kaki yang seakan mati rasa. Air mata menetes di pipiku. Aku bisa melihat gadis itu, lewat kaca jendela pondok, sedang melakukam sesuatu di dapur. Sesaat kemudian, semua lampu di pondok itu padam.
Dan semua mimpiku akan masa depan turut padam bersama lampu itu.
__ADS_1