
Ram membuka kantong pelana dan mengeluarkan sebuah termos berisi kopi panas, menuangkannya ke cangkir dan mengangsurkannya kepadaku. Setelah minum seteguk, aku merasa seolah telah mati dan masuk ke surga.
"Sebaiknya kuperiksa pergelangan kakimu," ujar Ram.
"Jangan bilang bahwa dirimu itu juga seorang dokter."
"Dukun kelas wahid," sahutnya seraya tersenyum lemah.
Aku menggigit bibir sementara Ram memeriksa kaki dan pergelangan kakiku.
"Aku bukan pakar, tapi menurutku kakimu tidak patah. Meski begitu, ada pembengkakan di bagian itu."
Aku meringis saat Ram mengusapkan jemari pada benjolan di kepalaku.
Pria itu merutuk pelan. "Kamu mungkin mengalami gegar otak."
"Rasanya sakit sekali."
"Aku tidak heran."
"Em."
Sambil merogoh ke dalam tas pelananya lagi, Ram mengeluarkan kotak P3K. Ia menggeledah isinya dan menemukan sebotol aspirin. Ia membuka botol itu dan mengeluarkan dua tablet ke tanganku. Sekali lagi merogoh ke dalam kantong pelana, Ram lalu mengeluarkan sebotol air minum dan menyodorkannya kepadaku.
"Trims."
Setelah aku menelan aspirin, Ram mengambil balsem lalu mengoleskannya ke kakiku yang bengkak. Lagi-lagi aku membeku, membisu, dan menikmati perhatiannya, lalu ia mengambil perban elastis dari kotak P3K dan membebat pergelangan kakiku.
"Kamu lapar?" tanyanya.
Ketika aku mengangguk, Ram mengeluarkan dua sandwich dari dalam kantong pelananya. "Kita punya sandwich isi ham dan keju atau daging panggang," tuturnya seraya mengangkat roti itu.
"Yang isi ham saja."
Ram menyodorkan salah satu sandwich itu, ia berdiri di hadapan perapian berharap bisa menghangatkan tubuhnya. Kami bersantap dalam keheningan bergantian mengulurkan cangkir kopi.
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Tidak ada banyak hal untuk dilihat. Selain tempat tidur, ada kursi tempat Ram duduk, sebuah meja persegi kecil, dua kursi tempat kami menyampirkan pakaian kami, sebuah kompor, sebuah lemari, serta kepala rusa berdebu di atas perapian.
Selesai makan, aku nyaris tidak bisa membuka mataku. Aku sangat mengantuk karena kurang tidur semalam dan aku kelelahan karena insiden bersama Lily.
"Menurutku sebaiknya kamu tidak tidur," ujar Ram seraya mengerutkan dahi.
Sambil membuka mataku, aku berkata, "Aku harus tidur. Aku sangat lelah. Sebentar saja."
Tanpa menunggu Ram merespons, aku langsung berbaring. Dan dengan perhatiannya, Ram menyelimutiku dengan selimut yang lain, lalu ia menarik kursi mendekati tempat tidurku dan duduk di situ.
"Mungkin dia hanya lelah," ia menggumam. "Tapi bisa jadi benjol di kepalanya lebih parah daripada yang kukira."
Hmm... dia mengkhawatirkan aku lebih daripada yang ingin ia akui. Seraya beranjak ke jendela, ia menatap ke dalam kumpulan kegelapan. Mungkin ia tengah mempertimbangkan apakah bijaksana mencoba untuk pulang ke peternakan, tapi jika ia memikirkan hal itu, mungkin ia segera menyingkirkan gagasan itu. Saat ini masih hujan deras. Jalur berkuda akan berbahaya pada saat seperti ini, terutama di penyeberangan sungai pertama, yang kemungkinan besar dalam keadaan banjir.
"Lagipula mungkin dia masih seperti dulu. Gadis yang sangat takut berada di bawah hujan."
__ADS_1
Dia bahkan masih mengingat hal itu....
"Well, lebih baik tetap di sini, setidaknya untuk sementara sampai banjir di sana mengering. Pondok ini hangat dan kering, dan kami punya persediaan makanan untuk dua hari, jika diperlukan. Lagipula aku tidak ingin membuatnya ketakutan di sepanjang jalan nanti."
Aku tersenyum. Aku bahagia atas kepeduliannya.
Dari bunyi decitan kaki kursi, aku tahu ia sudah kembali duduk di dekatku. Memandangiku.
"Ya Tuhan, dia bahkan lebih cantik daripada yang kuingat."
Terima kasih....
"Purna? Bangun?" Pria itu mengguncang pundakku sembari mencondongkan tubuhmua ke depan, begitu dekat denganku.
Kelopak mataku bergetar terbuka. "Ada apa?"
"Kamu tahu namamu?"
"Apa?"
"Namamu, siapa?"
Ugh! Aku merengut ke arahnya, lalu mengangkat sebelah tangan ke kepalaku. "Apa kamu sudah gila?"
"Ayolah...."
"Namaku Purna, aku tinggal di Bandung dan dirimu bertingkah konyol."
"Apa? Setiap jam?" kataku sembari mengeran* dan nyaris terbelalak. "Kamu pasti bercanda. Dan lagipula ini baru beberapa menit, kan?" Aku bahkan belum benar-benar tertidur dan bahkan mendengar semua yang tadi kamu katakan.
Ram tak menggubris. Sembari mencondongkan tubuhnya ke depan, dia menumpangkan tangannya di dahiku.
Aku tahu pria itu hanya ingin memeriksa apa aku demam, tetapi kesadaran mengalir deras ke sekujur tubuhku, yang dipicu kedekatan pria itu, dan sentuhan tangannya.
"Kenapa kamu kabur darinya?"
Eh? Pertanyaan yang tiba-tiba!
"Dari siapa? Oh, si Tuan Hartawan?" Aku mendesa* keras. "Dia terlalu kaya. Terlalu mengatur. Terlalu mirip dengan ayahku." Dan dia bukanlah dirimu.
"Aku tidak tahu soal dirimu yang terlalu kaya," gumamnya. "Tapi aku tahu semua mengenai terlalu miskin." Ram menatapku dengan sorot menyelidik. "Jadi, apa kamu benar-benar meninggalkan altar?"
"Ya. Aku tidak tahu mengapa aku membiarkan segalanya sampai sejauh itu. Tidak ada pembenaran untuk itu, sungguh...." Sembari duduk, aku meletakkan bantal di balik punggungku. "Kurasa lebih mudah membiarkan pria itu mengambil alih. Tapi, yah, semuanya juga karena aku menuruti ayahku. Jadi semua itu bisa terjadi begitu saja."
Ram mengangguk paham. "Apa kamu menyelesaikan kuliahmu?"
"Ya," sahutku, lalu mengangkat sebelah alis. "Bagaimana kamu tahu kalau aku kuliah?"
Tatapan Ram beralih dariku. "Khinan pasti pernah menyebut-nyebut soal itu."
"Kamu berbicara pada Khinan tentang aku?" tanyaku kesenangan.
__ADS_1
Ram mengangkat bahu. "Kadang-kadang."
"Kami juga membicarakan tentangmu."
"Benarkah?"
"Ya." Aku mengangguk. "Khinan pasti telah menghabiskan banyak waktu berbicara di telepon."
Aku berkata begitu, tetapi benakku berkata lain. Khinan tidak pernah memberitahuku bahwa Ram menanyakan soal diriku. Dan sepertinya begitu juga sebaliknya, Khinan tidak memberitahu Ram bahwa aku menanyakan soal Ram kepadanya. Mengapa Khinan tidak pernah menyebut-nyebut soal itu? Lalu memangnya apa yang akan kulakukan jika aku tahu?
"Ram?"
"Emm?"
"Kita pernah menjalani saat-saat yang menyenangkan, ya kan?"
"Yeah." Ram menatap mataku lekat-lekat, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku tahu, ini bukan waktunya untuk menyusuri masa lalu, batinku pilu. Tidak di sini, tidak sekarang, saat kami hanya berduaan dan dalam keadaan rapuh.
Tapi Ram tidak bisa menahan diri. "Kamu ingat saat Khinan mengendap-endap keluar dari rumahnya dan tidak bisa pulang karena lupa membawa kunci?"
Aku menyeringai. "Ya. Dan kamu punya ide cemerlang kalau kamu bisa memanjat teralis di luar kamar tidurnya dan melompat masuk lewat jendela."
"Aku berhasil, ya kan?"
"Kamu nyaris mematahkan lehermu."
"Well, aku berhasil membantunya masuk ke kamar, ya kan? Dan orang tuanya tidak pernah tahu."
"Pahlawanku...," nada bicaraku terdengar ringan, meskipun sorot mataku sarat dengan emosi.
Ya Tuhan, aku sedang mengingat kembali saat pertama kali aku memanggil Ram dengan sebutan itu. Kami sedang berjalan-jalan dan menemukan anak burung di bawah sebuah pohon, mencicit sedih mencari induknya. Aku menyebut Ram pahlawanku saat ia mengembalikan makhluk mungil itu ke sarangnya.
Sekali lagi kesadaran mendengung di antara kami. Dan dari cara pria itu menatapku, ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak merangkak kepadaku di tempat tidur, entah karena alasan bahwa aku sedang terluka, atau karena dia masih berpikir bahwa kami tidak mungkin bersama, sebagaimana pikiranku atas hubungan ini.
Ram berdeham. "Jadi, bagaimana perasaanmu? Kepalamu masih sakit?"
"Sedikit." Aku menguap di balik tangan.
"Tidurlah kembali."
"Kurasa begitu." Aku sama sekali belum tidur dan aku butuh tidur. "Kamu juga harus tidur." Aku menyelinap kembali ke balik selimut.
Ram mengangguk. "Jangan khawatirkan aku."
Tidak mungkin. Itu hal yang mustahil....
Kami saling menatap untuk beberapa lama. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak melakukan hal apa pun selain mengkhawatirkan dirinya, memikirkannya, memimpikannya selama delapan tahun terakhir ini, tetapi aku tidak yakin apakah itu bijaksana, atau apakah Ram mau mendengarnya.
Aku memejamkan mata, ingin menghindari tatapan pria itu, meski aku masih bisa merasakan ia terus menatapku, seperti seekor kucing yang mengincar lubang tikus. Jika aku membuka mataku, mungkin ia akan langsung menerkamku -- dalam artian yang manis.
__ADS_1
Tapi aku tidak melakukannya. Aku terlalu pengecut untuk mencintaimu yang tak akan pernah menjadi teman hidupku....