Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Menyedihkan!


__ADS_3

"Kamu terlihat sangat cantik."


Aku menatap Tuan Hartawan dengan sorot mata buram. Pria itu kelihatan terlalu gembira. "Kata-katamu manis sekali," gumamku.


Tuan Hartawan tersenyum, lalu mencium sekilas pipiku. "Malam yang buruk?" tanyanya.


Menyebalkan! Hatiku sudah terusik, jangan ditambah lagi!


"Bisa kita segera pergi dan mencari sarapan? Aku membutuhkan secangkir kopi."


Pria itu mengangguk. "Baiklah, Sayang."


Kami berjalan ke ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tuan Hartawan menahan pintu untukku dan aku langsung menuju meja terdekat. Setelah duduk baru aku melihat Ram yang sedang duduk di meja, tepat di seberangku, menghadapku. Pria itu mengenakan kaus abu-abu gelap yang terbuka di bagian pangkal leher, dan celana jins biru pudar, dan pria itu terlihat tampan plus bugar. Well, ia menikmati malam yang indah dan menyenangkan. Saat itulah dia melihatku, tatapannya terpaku ke arahku, ekspresinya memperlihatkan... apa? Penyesalan? Kelegaan? Sebelum aku bisa memastikan, Tuan Hartawan duduk dan menghalangi pandanganku.


Aku mengambil daftar menu, bertanya-tanya mengapa aku setuju untuk menghabiskan hari ini bersama Tuan Hartawan, sementara yang aku inginkan adalah duduk seharian di dalam pondok dan menangis, dan setelah lega dan air mataku tak bersisa, aku akan check out dari tempat ini.


"Selamat pagi, apa yang ingin kalian pesan?"


Aku merasakan jemari rasa cemburu berwarna hitam dan panjang memilin hatiku saat aku menengadah dan melihat Welly menunggu untuk mengambilkan pesanan kami.


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Tuan Hartawan.


Aku yakin tidak akan bisa menelan melewati ganjalan di tenggorokanku. Dengan lesu aku menjawab, "Waffle stroberi dan secangkir kopi."


Tuan Hartawan memesan orak-arik telur, roti panggang, jus jeruk dan kopi.


Aku mencondongkan tubuh ke samping sedikit sehingga aku bisa melihat Welly yang mengisi ulang cangkir kopi Ram. Aku juga tidak luput melihat senyum Welly ke arah pria itu, atau kenyataan bahwa gadis itu menyentuh pundaknya.


"Jadi," kata Tuan Hartawan, "menurutku, mungkin kita bisa pergi ke kota hari ini dan melihat-lihat. Mungkin menonton film lalu makan malam. Bagaimana menurutmu?"


Aku mengedikkan bahu. "Tentu, apa pun yang ingin kamu lakukan."


"Aku perlu segera kembali bekerja." Tuan Hartawan menyeringai. "Aku sudah cukup lama membiarkan Juna mengambil alih. Kemungkinan besar dia sudah lupa siapa bosnya. Menurutku kita bisa pergi besok pagi setelah sarapan. Kamu bisa siap saat itu?"


Aku menggeleng. "Aku belum siap untuk pulang."


"Ayolah, kamu sudah cukup lama bertingkah layaknya gadis cilik yang kaya. Saatnya untuk kembali ke dunia nyata. Orang tuamu menunggu kita untuk brunch besok." Tuan Hartawan meraih ke seberang meja untuk menggenggam tanganku. "Saat itu kita bisa membicarakan pernikahan kita."


Dia mulai lagi. "Aku tidak akan menikah denganmu."


Seperti biasanya, Tuan Hartawan tidak mendengarkan satu kata pun yang kuucapkan. "Kurasa sebaiknya kita tidak merencanakan pernikahan besar-besaran, tapi kita bisa menebusnya saat resepsi."


"Mas!" Aku menghantamkan tanganku ke meja. Lupa pada sikapku yang dingin dan memanggilnya Tuan Hartawan belakangan ini. Kupanggil ia seperti sebelumnya karena amarah sudah mengepul di kepala. Lalu, teringat bahwa kami tidak sendirian di ruang makan ini, aku merendahkan suaraku. "Bisa tidak untuk sekali ini saja kamu mendengarkan aku? Hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan menikah denganmu. Tidak sekarang. Tidak kapan pun juga. Tolong!"


Dia menyeringai marah. "Kurasa kamu bersungguh-sungguh."


"Sangat."


Rahang Tuan Hartawan menegang. Pria itu menatapku seolah melihatku, benar-benar melihatku, untuk pertama kali. Lalu, dengan sangat hati-hati, ia melipat serbet dan meletakkannya di meja. Seraya berdiri, pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, yang kemudian ia letakkan di samping serbet.


"Baiklah," ujarnya singkat. "Selamat tinggal, Purna."


Hanya merasakan kelegaan, aku memandang Tuan Hartawan ke luar melewati pintu. Kenyataan bahwa aku sama sekali tidak merasa kaget sedikit pun membuktikan dengan sangat jelas bahwa aku tidak mencintai pria itu, dan tidak akan pernah mencintainya. Satu-satunya hal buruk mengenai kepergian Tuan Hartawan adalah saat ini aku bisa memandang Ram dengan jelas, tepat di hadapanku dan tatapan kami bertemu. Satu alisnya melengkung penuh tanda tanya.


Mengabaikan pria itu, aku meraih cangkirku dan menyesap kopi itu, berpura-pura menikmati pemandangan di luar jendela.


Welly membawakan pesanan kami beberapa saat kemudian. "Ada lagi yang Anda butuhkan?" tanya gadis itu.


"Tidak ada. Terima kasih."


Aku terkejut karena ternyata aku tidak kehilangan selera makan. Aku tidak hanya menghabiskan waffle-ku, roti panggang, dan telur orak-arik Tuan Hartawan, tetapi juga meminum jus jeruk dan kopi pesanannya.

__ADS_1


Di depanku Ram bersandar di kursinya, mengerutkan dahi seraya merenung. Memikirkan apa? Pertengkaranku barusan? Perselisihan yang permanen kali ini? Tentu sangat mudah bagi Ram untuk memastikannya.


Untung saja perutku sudah kenyang dan aku sudah menghabiskan semua makananku sebelum seleraku hilang ketika melihat Welly kembali ke meja Ram untuk mengajak pria itu berkencan. Dan dengan sengajanya ia mengambil tisu untuk bersihkan bibir pria itu tepat di depan mata kepalaku.


Sebelum adegan itu merangsang air mataku keluar dan menetes-netes, aku segera meninggalkan ruang makan, dengan hati-hati menghindari tatapan Ram.


Di luar, aku mengambil napas dalam-dalam lalu pergi ke kantor administrasi.


Bibi El menengadah dari balik meja ketika aku masuk. "Selamat pagi, Sayang. Sepertinya lagi-lagi kamu kurang tidur. Menangis lagi sepanjang malam, dan baru ingin menangis lagi sekarang? Hmm?"


Ah, andai saja Bibi El tahu, dan kurasa dia memang tahu, aku begini karena keponakannya itu. Tapi seperti yang ia pinta, aku tidak menyimpan dendam. Sekarang rasanya sudah lega, aku hanya perlu bicara baik-baik dengan pria itu dan pergi dengan damai. Tidak seperti delapan tahun yang lalu. Perpisahan kali ini tidak boleh membebaniku untuk delapan tahun ke depan, tidak untuk selamanya.


Seandainya saja bisa!


"Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja, Bi. Setidaknya sekarang dalam keadaan stabil. Boleh aku duduk?"


Dia mengangguk lalu aku langsung duduk di kursi di depan mejanya. Bibi El menatapku. Matanya memicing dengan kepala sedikit dimiringkan. "Jadi?"


"Aku mau check out. Aku akan pergi siang ini setelah mengembalikan beberapa barang dari kamarku."


Sekarang Bibi El menatapku sendu. "Kamu yakin dengan keputusanmu?"


"Ya. Sudah sangat yakin. Aku akan check out hari ini."


Bibi El menghela napas dalam-dalam. "Kamu akan pergi ke London?"


Eh?


"Bagaimana Bibi bisa tahu?"


"Bibi mendengar kamu bicara ditelepon."


"Jadi?"


Aku mengedikkan bahu. "Sudah kupertimbangkan dengan matang. Aku sudah pesan tiket untuk penerbangan nanti malam. Dan aku akan menetap di sana. Ada teman kuliahku yang menawarkan pekerjaan. Jadi... kenapa tidak? Aku butuh lingkungan baru yang jauh dari semua orang."


"Termasuk jauh dari Ram?"


Aku menggeleng. "Jangan dibahas, ya? Tolong? Hatiku tidak sekuat itu."


Aku baru saja hendak memberitahu Bibi El tentang siapa sebenarnya diriku ketika mendengar suara Ram menyapa seseorang di luar ruangan, dia sedang menuju ke sini. Cepat-cepat aku bersembunyi di toilet.


"Jangan beritahu dia kalau aku ada di sini," pintaku sambil berlari.


Bibi El hanya menggeleng-gelengkan kepala keheranan melihat tingkahku yang kekanakan.


"Selamat pagi, Nak," sapanya ceria.


"Pagi," sahut Ram.


"Ada yang tidak beres?"


"Tidak. Apakah orang kota itu sudah pulang?"


"Mereka semua orang kota. Yang mana yang kamu bicarakan? Seperti aku tidak tahu saja," gumamnya lirih.


Kudengar Ram mengembuskan napas tajam. "Apa dia sudah pergi?"


"Ya, baru beberapa menit yang lalu. Tanpa pengantinnya. Bisa kubilang dia meninggalkan medan tanpa penjagaan."


Ram memelototi bibinya.

__ADS_1


"Oh, berhentilah memandangku seperti itu, Anak Muda," ujar Bibi El. "Sudah sejelas salju di puncak gunung kalau kamu masih mencintai gadis itu. Kenapa kamu tidak melakukan sesuatu mengenai hal itu sebelum terlambat?"


Di saat itulah aku tercengang. Apa maksud Bibi El? Apa Bibi El sudah mengetahui siapa aku sebenarnya?


"Ini sudah terlambat."


"Tidak pernah ada terlalu terlambat."


"Bibi...." Ram menggeram tidak setuju.


"Berhentilah bersikap pesimis."


"Lupakan saja."


"Dia akan terbang ke London nanti malam."


"Oh...."


"Jangan sampai kamu menyesal."


"Tidak akan."


"Ram...."


"Dia bisa terbang tinggi."


"Lalu?"


"Aku tidak bisa menjangkaunya."


"Tapi kamu bisa menghentikannya."


"Aku tidak punya amunisi."


"Apa yang kamu katakan? Beri aku cucu yang banyak, maka kuberikan semua milikku padamu. Aku akan sibuk menimang cucu-cucuku dan bukannya berada di ruang kantor seperti ini."


"Itu tidak akan mengubah apa pun," sahut Ram lirih. "Keluarganya tidak akan pernah menyukaiku, dan Bibi tahu itu. Mereka menganggapku sampah. Selamanya akan tetap seperti itu."


"Well, ubahlah anggapan mereka. Kamu pemuda cerdas. Tampan. Tidak jelek sama sekali. Apa kamu akan menyerah begitu saja?" tanya Bibi El seraya menjentikkan jari yang terdengar jelas olehku. "Ke mana perginya bocah yang kukenal itu? Bocah yang berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan? Bocah yang ingin menjadi seorang pejuang?"


Lagi-lagi Ram hanya menghela napas dalam-dalam. "Entahlah," gumamnya. "Di mana dia?"


"Ramana Lingga! Berhentilah berbicara seperti itu sekarang juga, kamu dengar? Aku belum terlalu tua untuk memangkumu dan menjejalkan akal sehat ke kepalamu itu!"


Ram tidak kuasa menahan diri: ia tertawa. "Omong-omong, apa di dalam toilet ada orang?"


Eh?


"Tidak. Silakan saja kalau mau menggunakannya."


Oh, ya ampun...?


"Tidak. Aku hanya merasa ada orang lain di sini."


"O ya? Kamu sudah memeriksa hatimu? Barangkali ada di sana."


"Oh, ya ampun. Berhentilah menggodaku seperti itu, Bibi."


"Baiklah. Lanjutkan tugasmu, sekarang. Bukannya seharusnya kamu memberi pelajaran berkuda pada anak gadis keluarga Wijaya sebentar lagi? Sana, pergilah. Dan ingat, berhati-hatilah dengan putri sulungnya. Kamu tahu, kan, dia amat sangat naksir padamu?"


Ram menggerutu. "Tenang saja. Aku sudah kapok berhubungan dengan gadis kaya yang manja."

__ADS_1


__ADS_2