Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Terjebak Masa Lalu


__ADS_3

Maaf, aku harus pergi sekarang -- begitu kataku kepada Ram. Aku keluar dari truk, menutup pintu, dan melangkah menuju trotoar, menyadari tatapan Ram di belakangku. Aku mendengar truk itu menjauh dari tepi jalan saat aku memasuki toko pertama yang kulihat. Ketika yakin pria itu sudah pergi, aku keluar lagi dan mulai berjalan ke toko lain.


Aku selalu suka sekali belanja. Berbelanja adalah caraku merayakan saat-saat bahagia, atau melarikan diri dari saat-saat buruk. Nilai-nilai yang bagus, pertengkaran dengan ibuku, lolos seleksi lomba-lomba yang kuikuti, satu hari buruk di lapangan atau di atas panggung, terpilih sebagai ketua atau kapten dalam regu, potongan rambut yang buruk, atau pertengkaran dengan pacar -- apa pun kejadiannya, aku akan mengambil kartu kredit ayahku dan pergi ke mal. Mungkin itu menjelaskan mengapa lemari pakaianku disesaki pakaian dan sepatu yang jumlahnya lebih banyak daripada yang pernah dipakai oleh wanita mana pun.


Aku melewati toko cinderamata satu per satu sampai tiba di sebuah toko serba ada yang besar. Setiba di dalam, aku segera lupa waktu saat berjalan-jalan di lorong toko. Aku mencoba apa saja yang kulihat, dan akhirnya, aku membeli tiga gaun musim panas -- satu berwarna kuning terang berbintik-bintik, satu berwarna merah tua dengan bordir bunga putih yang halus di sepanjang tepiannya, dan yang ketiga berwarna biru tua dengan campuran warna lembayung muda yang lebih bergaya dengan jaket yang serasi. Aku memilih sepasang sepatu sandal putih, tiga celana jins -- biru, hitam dan merah -- setengah lusin kaus dalam berbagai warna, empat kemeja bergaya western, sepasang sepatu bot koboi bertumit rendah, kaus kaki, pakaian dalam, gaun tidur berbahan katun, jubah kamar berbahan handuk, dan sepasang kaca mata hitam.


Aku sedang dalam perjalanan menemui Ram saat melewati sebuah tokoh yang penuh dengan topi koboi, lalu masuk dan berdiri di depan sebuah cermin, dengan tas belanja bertebaran di kakiku, mencoba memutuskan untuk memilih antara topi putih dengan tepian melengkung dan topi cokelat dengan tepian datar ketika Ram muncul di belakangku.


Pria itu mengangkat tangan dan menepuk-nepukkan telunjuknya ke arloji. "Kamu terlambat," katanya dengan kasar.


Dan aku tersenyum. "Berdasarkan pengalaman di masa lalu, seharusnya kamu sudah paham, bukan?"


"Kalau aku memahamimu, atau kita bisa saling memahami, kita tidak akan pernah putus apalagi menjadi mantan."


Hmm... tukang sindir. Tapi kurasa dia benar.


"Topi mana yang cocok denganku?"


"Keduanya. Kamu selalu cocok dengan apa pun."


"Baiklah. Kalau begitu aku pilih keduanya."


Aku mengambil tas-tas belanjaku dan membawa semuanya bersama dengan topi itu ke kasir seraya menyadari Ram yang membuntutiku bak awan mendung hitam. Pria yang menyeramkan.


Aku membayar topi itu dan menumpuknya di atas kepala, lalu mengikuti Ram ke trotoar. "Jadi, bagaimana penampilanku?"


"Seperti gadis kota yang memakai topi koboi," sahut Ram perlahan. Dia nampak ragu sesaat lalu berkata, "Kamu ingin makan siang sebelum kita kembali ke peternakan?"


Mengedikkan bahu, aku balik bertanya, "Kamu sendiri, bagaimana?"


"Aku ingin makan. Ayo, taruh belanjaanmu di truk."


Aku melakukan apa yang pria itu sarankan, mengamati bahwa bak belakang truk sudah dipenuhi dus dan karung. Aku menutup dan mengunci pintu lalu bergegas mengejar Ram, yang berjalan perlahan menyusuri trotoar.


Di ujung blok, kami menyeberangi jalan dan memasuki sebuah restoran yang tidak terlalu ramai pengunjung. Ada sebuah meja panjang di seberang pintu, bilik-bilik berjajar di ketiga sisi temboknya.


Seraya mengagumi celana jins Ram yang dengan pas memeluk pinggang ramping pria itu, aku mengikutinya ke bilik di bagian belakang, di dekat jendela dan duduk di hadapannya. Dia menyerahkan daftar menu kepadaku dan mengambil sebuah untuk dirinya sendiri.


Aku mengamati daftar menu, bagaimana mungkin aku bisa makan, bahkan hanya satu gigitan, sementara pria itu, sang mantan kekasih yang masih kucintai duduk di hadapanku. Semua kenangan yang telah kucoba singkirkan dengan susah payah dari benakku kini kembali bermunculan sejernih kristal seakan semua itu baru saja terjadi kemarin.

__ADS_1


Kau tak akan pernah bisa melupakan semua itu, Purna. Tidak selama cinta itu masih ada.


"Kamu mau pesan apa?"


"Aku ingin sandwich daging dengan selada dan tomat, dipanggang sebentar. Serta kentang goreng dan chocholate shake."


"Aku minta cheesburger, kentang goreng, kopi hitam, dan jangan lupa dua botol air putih," kata Ram kepada pelayan.


Setelah itu, keheningan yang tidak nyaman merebak di antara kami saat pelayan itu pergi untuk menyerahkan pesanan kami. Aku menatap ke luar jendela, bertanya-tanya mengapa tadi aku tidak meloncat keluar dari truk begitu melihat Ram berada di balik kemudi.


Seraya bersandar di tempat duduknya, Ram mengamati wajahku. Pasti ia menyadari sejak awal bahwa terlibat denganku adalah suatu kesalahan.


"Cheeseburger dan kentang goreng?"


Ketika pelayan membawakan pesanan kami, Ram mengalihkan pandangan ke pesanannya, pasti ia senang atas gangguan itu -- gangguan yang menyingkirkan keheningan.


Ram meraih gelas kopinya dan meminum isinya. "Jadi," katanya, "berapa lama kamu akan tinggal di peternakan?"


"Entahlah." Aku menuangkan saus ke piringku. "Sampai aku siap untuk pulang."


Seperti kebiasaanya, pria itu menggerutu pelan. Barangkali dia ingin tahu yang dipikirkan oleh kedua orang tuaku mengenai putri mereka yang melarikan diri.


Terserah, pikirku. Aku berdeham. "Sudah berapa lama kamu bekerja di peternakan itu?"


"Kurasa kamu pasti menyukai pekerjaanmu."


"Ya. Tapi ini cuma pekerjaan." Pria itu mengangkat bahu. "Dan tentu saja lebih baik dari penjara."


Aku melirik diam-diam ke tangan kirinya. "Apa kamu benar-benar belum menikah?"


"Ya ampun. Jelas belum."


Huh! Aku mengangkat sebelah alis, terkejut dengan jawabannya yang kasar. "Tapi kudengar... kalau... emm...."


"Apa yang kamu dengar?"


"Kalau kamu bertunangan."


"Kamu dengar dari siapa?"

__ADS_1


"Khinan."


Ram tampak benar-benar terkejut. "Aku tidak tahu kalau kalian berteman."


Ya Tuhan, aku merasakan panas menjalar dari leher ke wajahku. "Ya, begitulah. Kami masih bertukar kabar sesekali," akuku dengan enggan.


Ram telah mengenalkanku dengan Khinan di acara pentas seni budaya khas Jawa Barat. Ram dan Khinan tumbuh besar bersama, bisa dibilang mereka telah bersahabat sejak kecil. Wanita itu adalah orang yang tepat untuk kuhubungi saat aku ingin tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Ram -- dulu, beberapa bulan setelah kami berpisah.


"Jadi, itu benar?"


"Benar apa?"


"Kamu bertunangan?" tanyaku lirih.


"Tidak."


"Tapi pernah?"


"Hampir. Tapi tidak jadi. Batal sebelum dimulai," sahutnya dengan nada bicara yang sama kesalnya seperti dirinya. "Apa lagi yang Khinan katakan padamu?"


Aku menggigit sandwich-ku, berharap kami tidak pernah memulai percakapan ini. "Dia bilang kalau kamu punya masalah dengan hukum beberapa tahun yang lalu."


Ram kembali mengumpat lirih.


"Benar kalau begitu?"


"Memangnya kenapa?" Dia menatapku, nada bicaranya sedingin tatapannya.


"Tidak apa-apa." Aku mendorong piringku, selera makanku jadi hilang.


"Kamu punya masalah dengan itu? Takut dengan mantan nara pidana sepertiku?"


Gleg!


Kenapa dia malah mencercaku? Menyebalkan! Huh! Tenanglah, Purna. Tenang. "Sama sekali tidak, kok. Aku tidak menilaimu bersalah. Kamu hanya berkelahi dan terbawa emosi. Bukan suatu kejahatan ataupun sengaja ingin mencelakai orang, ya kan?"


"Well, thank you," ucapnya tajam. "Kamu siap untuk pergi? Kalau ya, kita bisa pergi sekarang. Aku mendadak merasa kenyang."


Hmm... kuhela napas dengan berat kemudian mengangguk. "Ya."

__ADS_1


Ram menghabiskan kopinya, meletakkan sejumlah uang yang cukup untuk membayar makanan kami, dan keluar dari bilik.


Merasa sangat sedih, aku mengikuti pria itu ke luar. Sesungguhnya aku ingin bertanya kepada Ram, mengapa dulu ia tidak pernah membalas teleponku, tetapi aku tidak kuasa mengerahkan keberanian untuk memunculkan kembali masa lalu. Perjalanan kembali ke peternakan terasa lama dan sunyi.


__ADS_2