
Aku sedang sarapan keesokan paginya ketika Bibi El menghampiriku. "Kalau Nona masih mencari tumpangan ke kota, keponakan saya sedang bersiap untuk pergi," ujarnya.
"Oh ya, masih, Bi."
"Dia akan berangkat dalam beberapa menit lagi. Nona akan menemukannya di luar, di truk peternakan."
"Ya, Bi. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi." Aku tersenyum sembari meninggalkan meja makan. Aku mampir sebentar ke pondokku untuk mengoleskan pemerah bibir, menyisir rambut, dan mengambil tas tanganku, lalu bergegas.
Truk itu sedang menungguku di depan kantor.
Seraya membuka pintu di bagian penumpang, aku naik memasukinya. "Terima kasih sudah menunggu saya," kataku. "Saya...," suaraku menghilang saat pengemudi truk itu menoleh untuk melihatku. Jantungku berdetak keras di dalam dada. Mulai berdebar tak karuan. Kurasa mataku terbelalak selebar tatakan cangkir. "Oh," aku mendapatkan suaraku kembali. "Ternyata... ternyata kamu. Emm... maksudku...."
Suatu emosi yang tak kukenal berpendar di mata pria itu dan menghilang dengan cepat. "Ada masalah dengan itu, Nyonya?"
"Tidak. Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya tidak tahu kalau kamu keponakan Bibi El. Maaf."
Dia berdeham. "Jadi, Nyonya Purna siap untuk pergi, atau sekarang sudah berubah pikiran?"
Aku mengangguk, menutup pintu dengan kekuatan yang berlebihan dan menyandarkan tubuhku di kursi, lalu menyilangkan lengan di depan dada. "Berapa lama perjalanan kita?"
"Waktu sebenarnya hanya sekitar setengah jam. Tapi kalau jalanan macet, bisa hampir satu jam perjalanan."
Satu jam. Berduaan dengan Ram. Dan satu jam lagi untuk pulang. Argh! Aku mengeran* dalam hati. Sebelum aku sempat berkata bahwa aku berubah pikiran, pria itu menyalakan mesin truk dan keluar meninggalkan pekarangan. Kami berpapasan dengan setengah lusin tamu yang baru pulang dari jalan-jalan pagi.
Hari itu indah, di luar hangat dan cerah walaupun di dalam truk terasa dingin membeku. Aku menjaga tatapanku terfokus pada pemandangan di luar jendela penumpang saat keheningan di antara kami semakin kental. Keheningan kental yang membuatku sangat tidak nyaman.
Aku melirik Ram ketika kami berbelok meninggalkan peternakan menuju jalan bebas hambatan. Pria itu mengenakan celana jins ketat, kaus chambray, dan sandal kulit. Dia punya profil yang kokoh, liar, dan keras. Selalu ada sesuatu mengenai pria ini, pikirku, semacam kekuatan yang tidak pernah kurasakan terdapat pada orang lain. Dan sekarang ada sesuatu yang lebih. Seolah pria itu telah memasang dinding di antara kami. Ram mengemudi dengan tangan kirinya di roda kemudi, sementara tangan kanannya ditumpangkan di jendela yang terbuka. Sebuah topi berwarna hitam tergeletak di antara kami.
Seolah merasakan lirikanku, pria itu berpaling ke arahku. "Apa?"
"Tidak apa-apa."
Dia menggerutu pelan. "Di mana suamimu? Kenapa kamu tidak pergi bersamanya?"
Aku menggeleng. "Dia terlalu sibuk. Pagi-pagi dia sudah meninggalkan tempat ini."
"O ya? Di hari kedua pernikahan?"
"Memangnya kenapa?"
"Ya aneh saja."
"Tidak, ah," kataku. "Biasa saja. Yang penting malam pertama kami berjalan dengan indah, bukan? Dan aku sangat puas," kataku bercanda kepadanya. Mungkin tepatnya hanya berpura-pura untuk menjaga image. "Dan kamu tahu, suamiku begitu hebat di ranjang. Dia fantastis!"
__ADS_1
Pria itu diam saja, kemudian berdeham parau. "Aku belum melihat suamimu. Jadi, entahlah, rasanya aku tidak percaya kalau kamu sudah menikah."
Aku ragu sesaat. "Kalau memang belum? Apa kamu senang mendengarnya?"
"Tapi kemarin kamu datang dalam balutan gaun pengantin."
"Itu bukan jawaban atas pertanyaanku. Ya atau tidak? Jawab saja."
"Tidak tahu. Tapi, well, kalau kamu sudah menikah, aku doakan semoga pernikahanmu langgeng."
"Kalau ternyata aku belum menikah, emm... maksudku... kalau aku masih sendiri? Apa kamu senang? Dan apa alasannya?"
Ram mengangkat sebelah alisnya. "Sudah kubilang aku tidak tahu. Tapi jujur aku tidak senang kalau kamu sudah menikah. Karena... tidak enak saja, rasanya seperti kalah start, tertinggal darimu. Maksudku aku kalah darimu. Bukan kalah dari pria itu, ya."
Hmm... pernikahan bukanlah sebuah perlombaan, Sayang. Itu pemikiran kekanakan.
"Aku--"
"Omong-omong...."
"Apa?"
"Duluan saja. Kamu mau bilang apa?"
"Oh, tapi kemarin...?"
"Itu...."
"Kekasihmu berubah pikiran pada detik-detik terakhir?"
"Tidak. Bukan." Aku menggeleng. "Dia tidak berubah pikiran."
"Lalu?" Sebelah alisnya kembali terangkat. "Pernikahanmu batal, dan alasannya...?"
"Aku. Aku yang berubah pikiran untuk menikah. Jadi aku datang kemari untuk mencari perubahan suasana."
Rasa geli tampak menari-nari di sorot mata Ram. "Tidak ada yang lebih baik daripada menunggu sampai detik-detik terakhir."
Dia benar. Aku merasakan rona merah merambat dari leher ke pipiku. Ram pernah menuduhku tidak lebih dari gadis kaya yang manja. Aku menatap lagi ke luar jendela. Dia memang benar, renungku. Aku memang manja. Dan orang tuaku memang kaya. Tapi apa pengaruhnya? Tidak ada yang salah dengan menjadi manja, apalagi bagi anak bungsu sepertiku, terlebih aku satu-satunya anak gadis orang tuaku. Dan, ayahku sudah bekerja keras untuk memperoleh apa yang kunikmati sekarang. Tapi mengapa tiba-tiba aku merasa bersikap begitu defensif? Bukankah...
Aku terkejut ketika Ram menyentuh pundakku, dan melirik pria itu. "Lihat," katanya. Seraya memperlambat truk, dia menunjuk ke luar jendela di sisinya.
Aku mencondongkan tubuh ke depan dan menatap melewati pria itu, melihat seekor kuda putih berdiri di bawah keteduhan sebuah pohon. "Oh, cantik sekali...."
__ADS_1
"Yeah, seperti dirimu."
Deg!
Baru kusadari aku mencondongkan tubuh terlalu dekat dengannya. Terlalu dekat dengan wajahnya. Bahkan aku mematung dalam posisi itu, dengan kedua tangan terparkir di pahanya.
"Maaf, maaf," kataku. "Aku...."
Dia nyaris tersenyum kepadaku, tapi ia mengalihkan kembali perhatiannya ke jalanan dan suasana kembali hening. Aku seharusnya tidak ikut dengannya, pikirku. Perjalanan ini benar-benar bisa menjadi suatu malapetaka.
"Aku perlu mengambil beberapa keperluan untuk peternakan," kata Ram sembari berhenti di sebuah area parkir setibanya kami di pusat kota. "Menurutmu, berapa lama kamu akan pergi?"
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Dua jam? Bisa lebih."
Praktis ia meringis. "Baiklah. Aku akan menemuimu lagi di sini tengah hari."
"Oke."
Aku baru saja hendak membuka pintu dan keluar dari truk ketika Ram menahan tanganku. "Kalau boleh kukatakan, aku senang karena kamu masih sendiri. Setidaknya tidak akan ada pria yang akan marah-marah kepadaku ketika kamu bersamaku."
Ugh! Rupanya dia masih semanis dulu. Tapi aku tidak boleh kegeeran. "Tenang saja. Tidak akan ada yang marah hanya karena kamu memberikan tumpangan untukku. Kita tidak sedang berkencan, bukan?"
"Kenapa tidak? Jika kamu bersedia."
"Kamu merayuku? Ingin mengajakku berkencan?"
"Apa pun tanggapanmu."
"Sudahlah. Jangan bercanda, oke?"
"Kalau aku serius?"
Huh! Jangan terpengaruh, Purna. Aku menggeleng. "Maaf, Tuan Ram. Aku datang kemari untuk berlibur. Bukan untuk membuat para gadis jadi cemburu kepadaku. Belum menikah bukan berarti tidak punya pacar, bukan? Dan kamu jelas punya banyak sekali penggemar."
"O ya? Menurutmu seperti itu?"
"Hu'um."
"Asal kamu tahu, setelah denganmu, aku tidak pernah terikat dengan siapa pun."
Oh, apa maksudnya bicara seperti itu?
Tapi apa pun itu, kurasa dia akan terkejut jika ia mendengar kenyataan tentangku, dan mungkin dia tidak akan mau dekat-dekat denganku jika ia tahu tentang kematian ketiga suamiku.
__ADS_1
Tapi bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Tidak sekarang....