
Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon, tanganku dengan ringan memijat pergelangan kakiku. Aku benar-benar basah kuyup dan kedinginan sampai ke tulang karena sudah cukup lama diguyur hujan. Aku telah mencoba berjalan sebentar tapi sama sekali tidak mendapatkan kemajuan, dan kemungkinan untuk tergelincir di lumpur dan melukai pergelangan kakiku yang lebih parah lagi semakin besar. Lagipula, aku sama sekali tidak tahu apakah aku berjalan ke arah yang benar. Aku ingat pernah membaca entah di mana bahwa jika kita tersesat di hutan, kita harus tetap duduk dan menunggu sampai seseorang datang menolong kita. Dan saat itu dengan kepala berdentum dan pergelangan kaki berdenyut bak genderang perang, sepertinya itu merupakan saran yang bagus.
Andai saja hujan berhenti. Aku menunduk, tubuhku gemetar tidak terkendali sementara badai terus mengamuk di sekitarku. Aku tidak pernah merasa begitu kedinginan dan seputus asa ini seumur hidupku. Atau begitu ketakutan. Aku menangis. Bagaimana jika tidak ada orang yang mencariku? Aku menepis pikiran itu secepat munculnya. Tentu saja seseorang akan datang mencariku. Ram akan datang. Dia akan mengkhawatirkan aku dan pasti mencariku. Pasti. Aku sangat yakin hal itu seyakin bahwa diriku benar-benar tersesat.
Aku bertanya-tanya sudah berapa lama aku pergi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum seseorang merasa kehilangan diriku? Sejam? Dua jam? Atau lebih dari itu?
Aku menatap langit. Dulu Ram pernah mengajariku untuk mengetahui waktu dari matahari, tapi hal itu tidak mungkin dilakukan sekarang. Jam berapa sekarang? Bagaimana jika tidak ada orang yang datang? Bayangan untuk menghabiskan malam di alam terbuka dalam kegelapan, membuat rasa dingin merambat di punggungku. Meskipun ini abad ke-21, masih terdapat hewan liar di negara bagian ini. Paling tidak, mungkin ada serigala atau ular.
Aku menyingkirkan pikiran-pikiran aneh itu. Lily pasti pulang ke peternakan dan seseorang akan pergi mencariku.
Kepalaku tersentak menengadah saat aku mendengar sesuatu yang terdengar seperti lolongan serigala. Lalu aku punya firasat sangat aneh bahwa Ram berada di dekatku. Dengan mata menyipit, aku melihat di antara derai hujan dan tiba-tiba Ram tampak berada di sana, berkuda ke arahku, dengan anjing besarnya berada di sebelah pria itu.
"Purna!" Ram sudah melompat turun ke tanah dan berlari ke arahku bahkan sebelum Dakota, kuda yang ia tunggangi berhenti.
Aku tidak pernah merasa begitu bahagia bertemu dengan siapa pun seumur hidupku seperti saat ini, saat bertemu dengan Ram yang datang untuk menyelamatkan aku.
Ram berlutut di hadapanku, memelukku begitu erat sebagaimana aku membalas pelukannya. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya khawatir.
Aku mengangguk, air mata kelegaan mengalir membasahi pipi.
"Ayo." Ram menyambar lenganku dan mengangkatku berdiri. "Kita harus cepat pergi dari sini."
Aku menjerit! Begitu kesakitan ketika menumpukkan beban tubuhku di kaki kananku.
"Ada apa?" tanya Ram, alisnya terangkat menyiratkan kekhawatiran.
"Pergelangan kakiku. Kurasa kakiku terkilir saat Lily melemparku."
"Kamu terlempar?" tatapannya menyusuri tubuhku. "Bagian tubuh mana lagi yang terluka?"
Aku meringis. "Kepalaku. Di sini."
Jari-jari Ram perlahan memeriksa benjol sebesar telur di bagian belakang kepalaku, lalu ia membopongku, dan mengangkatku ke punggung kuda, lalu melompat naik di belakangku.
Seraya meraih tali kekang, Ram berdecak memberi isyarat kepada kuda itu untuk berjalan.
__ADS_1
Karena kondisiku yang lemah, aku menyandarkan tubuhku ke tubuh Ram, kepalaku bersandar di bahu pria itu. Ram telah datang mencariku dan tidak ada lagi yang perlu kutakuti lagi sekarang. Bahkan rasa sakit di kepalaku terasa sedikit berkurang, karena sekarang pria itu berada di sini, kesatria berbaju zirah, yang kucintai....
Aku setengah tertidur saat Ram menghentikan kudanya. Seraya membuka mata, aku menatap ke sekelilingku. "Kita ada di mana?"
Ram turun melalui *antat Dakota. Kemudian melepas kantong pelana lewat bagian belakang pelana, bersama dua selimut yang digulung di dalam plastik, dan meletakkannya di pundak, lalu berbalik untuk menggendongku. "Kita akan berteduh di sini sampai badai berlalu."
"Di sini? Di sini mana?" tanyaku, lalu aku melihatnya, sebuah bangunan persegi kecil yang disamarkan dengan rapi oleh pohon-pohon yang menjulang dan semak-semak.
Ram menaiki dua undakan sekaligus menuju beranda. Pintunya berderak keras saat ia membukanya. "Toshu, tunggu di sini."
Anjing itu menggeram pelan, lalu berbaring di atas perutnya. Sambil membawaku ke dalam, Ram menutup pintu.
"Apa anjingmu tidak apa-aps berada di luar sana?" tanyaku.
Ram menggeleng. "Dia sudah terbiasa," ujarnya.
"Tempat apa ini?"
"Yang pasti bukan kamar pengantin."
"Tempat ini milik peternakan. Kami menggunakannya selama musim berburu."
"Oh...." Aku mengangguk-angguk. "Lalu kamar pengantinnya di mana?"
Iyuuuuuh...! Hahaha!
Sekarang pria itu yang tertawa geli. "Kamu sedang terluka. Tidak mungkin kujadikan pengantinku malam ini."
Lalu kapan? Ingin aku bertanya. Tetapi naluriku mencegah. Aku tidak akan menjadi pengantin lagi. Tidak untuk melenyapkan nyawa satu pria lagi.
Ram menurunkanku di tempat tidur lipat di sudut ruangan dan dalam sekejap api sudah menyala di perapian.
"Ayo, kita ganti pakaianmu yang basah," kata Ram.
Aku terpelongo, untung tidak sampai mencetuskan kata apa pun. Meskipun kedinginan dan kebasahan, aku tidak ingin telanjang di depan pria itu.
__ADS_1
"Ini." Ram meraih ke balik jaketnya dan mengeluarkan kaus miliknya untukku, lalu menarik celana katun dan kemeja flanel hangat dari dalam kantong pelana, bersamaan dengan sebuah handuk berukuran sedang. "Kamu bisa memakai ini. Dan... maaf, tidak ada... dalaman. Aku... aku tidak punya, maksudku... aku tidak berani membuka koper ataupun lemarimu."
Aku menatap pria itu, tetap membisu.
"Jangan khawatir, kamu bisa berganti pakaian sementara aku mengurus kudaku." Seraya mengucapkan kata-kata itu, Ram melangkah keluar dari pondok.
Aku cepat-cepat berganti pakaian sementara Ram mengambil tali kekang kudanya dan menuntun kuda itu ke belakang pondok lalu mengingat kuda itu pada sebuah tiang dengan tali yang tersedia di sana, kemudian melepaskan semua benda pada tubuh binatang itu dan mengeringkan tubuh dan bulu-bulunya dengan sebaik mungkin menggunakan handuk tua.
"Purna, apa sudah selesai?" tanya Ram beberapa menit berikutnya.
Aku menyahut, "Ya."
Jelas kusadari, Ram memasuki pondok sembari menarik napas dalam-dalam. Aku sudah berganti pakaian dengan rambut tergelung handuk. Duduk di tempat tidur dengan bersandar di dinding, dan selimut tersampir di bahuku. Dari tatapan Ram, tatapan seorang pria, aku seolah mengerti betapa aku terlihat menarik di matanya dengan leher terbuka dan kaki telanjang. Pakaian basahku sudah tersampir di punggung kursi di depan perapian.
Ram menaruh pelana, tali kekang, serta selimut yang ia bawa ke bawah meja, lalu melepas topinya dan menggantungnya pada pasak di samping pintu, lalu melepas jaket dan menyampirkannya di kursi yang lain.
Tanpa sadar, aku mengamatinya, menunggu kulit telanjangnya terpapar di depan mataku. Ia melepaskan sepatu bot, kaus kaki, dan T-shirt-nya, lalu tiba-tiba ia menoleh ke arahku, dia nyaris terbahak.
Pipiku serasa terbakar karena rasa malu ketahuan mengamati tubuhnya -- kulit telanjangnya -- dengan penuh nafsu, aku terpesona.
"Aku ingin berganti celana," katanya kemudian. "Bisa tolong pejamkan matamu, atau kamu akan melihat...?"
Aku mengangguk, dan tanpa menyahut, segera kupejamkan mataku rapat-rapat -- begitu lama....
Ram tidak mengatakan apa pun, tidak bilang sudah atau menyuruhku membuka mata sampai beberapa menit berlalu dan kurasa itu terlalu lama untuk sekadar membuka celana basah dan mengenakan gantinya. Aku ingin membuka mataku, tapi takut kalau-kalau pria itu belum selesai dan tengah...
"Apa sudah selesai?" akhirnya aku bertanya. "Ram? Apa kamu sudah selesai mengganti...?"
Tidak ada jawaban, tapi kini jelas kurasakan ada kehangatan napas di depan wajahku. Menyapu kulitku. Dan ketika aku membuka mata, Ram ada di hadapanku, lima senti di depan wajahku.
"Cahaya Purnama yang terindah...."
Oh Tuhan, setelah delapan tahun, kalimat itu ia ucapkan lagi di depan wajahku....
Hentikan debaran jantungmu, Purna....
__ADS_1