
Harapanku masih menahanku untuk tetap berada di sana, mengamati Ram dari kejauhan. Aku ingin tahu apakah ada penyesalan dalam hatinya atas sikapnya terhadapku.
Seraya turun dari kuda, pria itu melepaskan pelana dan menyikat kuda itu. Begitu selesai, ia berbalik untuk melepaskan kuda itu di kandang. Kuda jantan itu menggeleng-geleng, lalu berderap dan berdiri di tempat yang teduh. Setelah itu Ram meninggalkan kandang, melepas topinya dan merendam kepalanya di bak air minum kuda. Seraya mengibas-ngibaskan rambutnya, ia kembali mengenakan topinya dan mengumpat lirih.
"Berengsek! Kenapa aku membiarkan dia pergi? Aku tahu dia segalanya bagiku. Dia... dia hal terbaik yang pernah ada di dalam hidupku. Satu-satunya yang terpenting. Tapi apa yang bisa kutawarkan padanya? Kehidupan di sini? Di pondok penginapan yang bahkan bukan milikku sendiri? Kuda setengah liar? Catatan penjara?"
Seraya menggumamkan umpatan, ia menarik slang menuju kandang dan memenuhi tong yang ada di sana dengan air.
"Melepaskan gadis itu adalah pilihan terbaik. Pilihan satu-satunya."
Baiklah, teruskan saja sikap keras kepalamu itu.
Sudah cukup, pikirku. Aku gerah dan mesti kembali ke pondok. Dan aku mulai melangkah....
Argh!
Menyebalkan! Begitu aku tiba di pondok, aku mendapati Tuan Hartawan sedang menungguku. Entah bagaimana ia bisa masuk. Tetapi sepertinya ia membuat dirinya seolah berada di dalam rumahnya sendiri. CD player dinyalakan dan ada cangkir kopi di meja.
"Baiklah," kata pria itu seraya menggosok-gosokkan telapak tangan. "Apa yang ingin kamu lakukan?"
Aku mengangkat alis. "Tidak menelepon lagi? Teleponan saja terus," sahutku dengan nada sedikit sinis.
"Tidak. Aku sepenuhnya milikmu."
Aku memejamkan mata, membayangkan betapa bahagia diriku seandainya mendengar kata-kata itu terucap dari mulut Ram. "Maaf, Tuan, tapi ini tidak akan pernah berhasil. Hubungan kita sudah berakhir."
"Begini, Sayang...."
Argh!
__ADS_1
"Dengarkan aku! Bisakah Tuan Hartawan yang terhormat sekali ini saja mendengarkan aku? Aku tidak mencintaimu, Tuan. Tidak pernah!"
Pria itu tampak terkejut sesaat, lalu tersenyum dengan sabar. "Purna, Sayang, kamu tidak bersungguh-sungguh, dan kamu tahu itu. Oke?"
Rasanya seperti berbicara dengan ayahku. Seperti Tuan Hartawan, ayahku pun hanya mendengar apa yang ingin ia dengar. Sudahlah, batinku seraya menyambar topi. Menghadapi pria itu bisa membuatku depresi.
"Aku ingin berkuda."
"Aku akan ikut denganmu."
"Terserah!"
Kurasa ini bagus. Siapa tahu Tuan Hartawan ini tidak bisa menunggang kuda. Setidaknya Ram tidak akan berada di sana untuk melihat pria itu mempermalukan dirinya sendiri.
Begitu kami tiba di kandang, para koboi sudah membantu para penunggang kuda menaiki kuda masing-masing.
"Apa kalian punya kuda untuk dua orang lagi?" tanyaku.
Aku tersenyum saat pemuda itu menuntun sepasang kuda dari kandang. Aku dapat mengenali Ram, sang kuda jantan favorit Ram yang waktu itu dipilihkan Ram untukku. Setelah itu, dengan cepat koboi muda itu memasang pelana, membantuku menaiki kuda, lalu beranjak mengatur sanggurdi bagi Tuan Hartawan.
"Baiklah, saudara-saudara sekalian," ujar koboi muda itu. "Inilah pemandu kalian."
Aku berbalik, berharap melihat Emil, lalu merasa perutku bergolak saat melihat Ram muncul. Pandangan kami saling bertemu. Hawa panas serasa mendesis di antara kami berdua. Seandainya ada orang yang berjalan melintas di antara kami berdua saat itu, aku yakin ia akan terbakar menjadi abu.
Dia bilang tidak akan memandu pagi ini dan meminta Emil menggantikannya, kenapa dia malah muncul? Heh! Dia mungkin tidak ingin menghabiskan hidupnya bersamaku, tetapi dia menginginkan aku, sebesar aku menginginkan dirinya.
Dengan susah payah, Ram mengalihkan tatapannya dariku, matanya menyipit tidak senang melihat si Tuan Hartawan berada di sisiku, lalu dia mengambil posisi di depan kelompok dan meminta Alex untuk berada di belakang.
Aku menatap punggung Ram dengan sebal. Hari ini semakin bertambah baik dan terus membaik, batinku sembari menghela kuda tungganganku dan mengambil posisi nyaris paling belakang.
__ADS_1
Hari itu, setan jahat pasti telah berbisik kepada Ram agar memilih salah satu jalur sulit melalui daerah pedalaman. Dia membiarkan Alex, koboi yang memandu bersamanya memimpin di depan setelah lima menit pertama. Ram pasti juga menyadari si Tuan Hartawan yang kaya raya itu belum pernah berkuda. Mendengarkan bisikan setan jahat yang sama, Ram menyuruh untuk berderap. Si Tuan Hartawan itu seketika terlihat terlonjak-lonjak di pelana layaknya popcorn di penggorengan. Aku tidak ingin tinggal diam, seraya berusaha duduk dengan posisi alami, aku sengaja membantu Tuan Hartawan, melatihnya meski sia-sia. Pria itu akan kesakitan di sekujur tubuhnya setelah selesai berkuda. Tapi setidaknya apa yang kulakukan itu akan menarik perhatian Ram dan membuatnya cemburu.
Begitu menyeberangi sungai dan menyusuri jalur yang panjang dan berliku, aku merasa amarahku mulai memuncak. Ini bukan jalur mudah yang kami lalui sebelumnya. Ram benar-benar sengaja.
Berharap bisa membuat Ram cemburu, aku meraih dan menyentuh lengan Tuan Hartawan. "Dirimu baik-baik saja?"
Pria itu menatapku seraya tersenyum lemah. "Y--ya. Hanya saja jalanannya agak bergelombang."
Aku menarik tali kekangku, memerintahkan kudaku untuk berjalan, menyetop larinya. Kuda Tuan Hartawan juga melambat. Dalam beberapa menit saja, anggota kelompok lainnya sudah tidak terlihat di belokan jalur itu.
"Permisi, Nona Mahardika," sapa sebuah suara yang dalam di belakang kami. "Anda dan teman Anda harus mengejar yang lainnya."
Seraya berpura-pura tersenyum manis aku berbalik ke arah Ram. "Maafkan aku," kataku. "Tapi aku sepertinya tidak bisa mengimbangi langkah mereka." Aku berdiri di sanggurdi dan mengusap-usap *okongku. "Aku begitu kesakitan."
Ram melotot ke arahku, dia paham bahwa aku hanya berbohong. Dan aku balas memelototinya, menantangnya untuk menyebutku penggertak.
Seraya meletakkan jemari di bibirnya, Ram bersiul dengan nyaring. Aku tahu itu isyarat bagi para koboi untuk memperlambat langkah mereka sampai semua anggota kelompok menyusul.
Sembari tersenyum puas aku duduk kembali di pelana dan berdecak menghela Ram, kuda tungganganku. Aku menyadari tatapan Ram di belakangku.
Kami berhasil menyusul penunggang kuda lainnya tidak lama kemudian. Sebagian besar dari mereka sudah turun dari kuda dan duduk-duduk di bawah keteduhan pepohonan di sepanjang aliran sungai yang dangkal.
"Semuanya baik-baik saja?" seru koboi muda itu saat kami muncul.
Ram mengangguk. "Ya," sahutnya.
Aku menahan seringai mendengar kejengkelan dalam nada bicaranya.
"Baiklah, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, ayo kita lanjutkan perjalanan."
__ADS_1
Aku dengan sengaja memperlambat langkah kudaku lagi, membiarkan penunggang kuda lainnya mendahului. Aku melakukannya karena tahu itu akan membuat Ram kesal, meskipun aku tidak yakin mengapa aku melakukan hal itu selain karena aku sangat marah kepada pria itu. Seolah kemunculan Tuan Hartawan di peternakan adalah kesalahanku. Aku sudah memberitahunya bahwa hubunganku dan Tuan Hartawan sudah berakhir dan memang seperti itulah yang sebenarnya. Tapi seakan-akan Ram tidak percaya. Tapi sekalipun dia percaya, dia tetap enak saja mengambil keputusan sepihak dan mengubah kisah indahku yang semalam jadi seburuk siang ini.
Well, cemburulah, Sayang. Semakin api cemburu membakarmu, semakin kamu tak akan bisa menyingkirkan aku dari hidupmu. Seperti sumpahmu, jika aku tidak bisa menemukan belahan jiwaku selain dirimu, kamu juga tidak boleh menemukan belahan jiwa selain aku. Aku tidak akan pernah melepasmu. Kamu belahan jiwaku yang tak pernah mati. Tidak akan mati.