
Ram menggumamkan semua sumpah serapah yang ia tahu sembari meninggalkan penginapan. Aku yang diam-diam mengikutinya merasa sangat sedih menyadari situasi di antara kami yang kutahu akan kembali meruncing.
"Kenapa aku mau percaya kalau hubungan antara dia dan pacar kayanya itu sudah berakhir? Bodoh! Aku yakin itu tadi lelaki bernama Hartawan. Tidak perlu diragukan lagi, dia datang untuk mengajak pulang mempelai wanitanya yang melarikan diri. Yah, untuk kembali ke tempatnya yang seharusnya. Dasar pria tua, mengenakan pakaian koboi terbaru, seolah penampilannya yang seperti itu cocok di tempat ini. Heh! Pakaian mungkin berpengaruh pada orang-orang di kota, tapi dibutuhkan lebih dari sekadar jins baru dan kemeja mahal untuk menjadi seorang koboi. Berengsek! Aku seharusnya tahu kalau perempuan itu akan kembali ke akal sehatnya dan tentu saja dia akan menelepon rumah. Kenapa? Kenapa aku membiarkan diriku percaya kalau masih ada harapan bagi kami berdua? Dia seperti matahari, Ram. Dia begitu cemerlang, tapi dia tidak bisa kau capai! Dia bukan jangkauanmu! Kau hanya seorang pria miskin yang ditakdirkan untuk mengagumi dirinya dari kejauhan. Hanya itu!"
Kenapa, sih, dia tidak bisa sabar sedikit saja? Kenapa tidak bicara baik-baik dulu denganku?
Sekali lagi Ram mengumpat lirih. "Setidaknya aku belum mengatakan kepadanya kalau aku masih mencintainya. Setidaknya aku tidak mempermalukan diriku sendiri. Yah! Untung saja."
Seraya berhenti di kandang kuda, Ram meminta Emil untuk mengambil alih acara berkuda pagi hari.
"Kamu sakit?" tanya Emil.
"Tidak. Aku hanya sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk mengatur para pemula itu. Bisa kamu menggantikan aku?"
"Tentu saja, tidak masalah," sahut Emil. "Biar aku dan Alex yang nanti mengurus para penipu kota itu."
"Terima kasih. Omong-omong, karena aku berutang budi. Aku akan menggantikanmu membawa kelompok kedua sore ini."
Emil mengacungkan ibu jarinya. "Tidak masalah, Kawan!"
Sembari mengangguk, Ram berlari kecil menyusuri jalur sepanjang sungai menuju pondoknya. Ia menarik tali Endru dari tiang pagar, melaso kuda liar itu lalu mengikatnya pada tonggak di tengah kandang. Ia berdiri sebentar di sana, berbicara dengan lembut pada kuda jantan itu, mengusap-usap lehernya sampai hewan itu menjadi tenang. Bergerak dengan cepat dan efisien, ia memasang hackamore di kepala kuda, merapikan selimut dan mengikat pelana dengan kencang. Sambil melepas ikatan, Ram mengambil tali kekang dan melompat ke pelana.
Kuda itu berdiri di situ sejenak, sekujur tubuhnya bergetar, sebelum kuda itu berlari melintasi kandang, melawan. Kuda itu berputar cepat beberapa saat, nyaris melempar Ram dari pelana, sebelum berlari kembali melintasi kandang, melawan dan melompat-lompat.
Ram melemparkan kepalanya ke belakang, pekik kemenangan yang khas semakin meningkat di tenggorokannya saat kuda jantan itu mulai berderap dan lama-kelamaan melangkah pelan.
Sambil mencondongkan tubuhnya, Ram menepuk-nepuk leher kuda pembiak itu. "Sudah cukup untuk hari ini, Boy. Good job!"
"Bravo!"
__ADS_1
Ram menoleh lewat bahunya dan melihatku bertengger di susuran pagar paling atas kandang. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Aku menggigit bibir, sakit hati mendengar nada bicara dan sorot menuduh yang terpancar di mata hitam yang dalam itu. "Kenapa kamu bicara kasar? Kamu ingin aku pergi? Kenapa kamu tidak bisa sabar sedikit saja untukku, selembut perlakuanmu pada kuda itu."
Ram mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Di mana si Tuan Hartawan?"
"Dia harus menelepon beberapa orang."
Ram menggerutu pelan seraya berkuda ke arahku. "Memeriksa sahamnya, tidak salah lagi," ejeknya, kemudian ia mendengus. "Apa yang kamu inginkan?"
"Ram, aku mohon jangan lakukan ini."
"Melakukan apa?"
"Jangan menghindariku. Aku tidak tahan."
"Kamu bilang hubungan kalian sudah berakhir, tapi dia ada di sini. Apa kamu akan bilang padaku kalau itu hanyalah kebetulan? Kamu pikir aku bodoh?"
"Aku tidak bisa mencegah kalau dia datang mencariku."
"Kembalilah padanya. Tidak ada apa-apa untukmu di sini."
"Kamu tidak sungguh-sungguh! Tidak setelah tadi malam!"
"Purna, lupakan. Aku tidak layak untukmu. Tidak pernah layak. Semalam, berada begitu dekat denganmu, aku...." Ram mengangkat bahu. "Hubungan ini tidak akan berhasil, dan kamu tahu itu."
Aku menggeleng sedih. "Itu tidak benar...."
"Benarkah? Tatap aku baik-baik. Aku tidak punya apa-apa yang bisa kutawarkan kepadamu."
__ADS_1
Aku menatap Ram seraya membisu, dan aku berharap, kepedihan di sorot mataku akan mengoyak-ngoyak perasaannya andai dia memang masih sangat mencintaiku.
Aku berdiri terlalu dekat. Akan sangat mudah untuk meraihku, dan mengangkatku ke atas pelana, jika ia menginginkan itu. Tapi nampaknya hanya aku yang menginginkan itu. Jika pun ia sangat ingin, Ram tidak melakukannya.
Lalu apa? Ram malah mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan diri agar tidak meraihku? Barangkali, melihatku bersama pria yang seharusnya menjadi mantan kekasihku membuat segalanya tampak lebih gamblang di matanya, lebih gamblang daripada sebelumnya? Bahwa dia tidak cukup baik untukku?
Berengsek!
Kenapa dia tidak mau mengerti? Aku merasa aku dan dia tercipta untuk saling melengkapi, seolah tidak ada perbedaan sama sekali. Tapi dia? Barangkali dia merasa aku ini diciptakan dari bahan sutra sementara dia tercipta dari bahan katun murahan. Dia merasa kami ini sangat berbeda dan tidak akan pernah cocok disandingkan, begitu? Dasar pria bodoh.
"Sialan!" ia bergumam. "Aku bahkan tidak punya mobil sendiri."
"Apa pentingnya itu? Heh? Aku tidak meminta mobil darimu! Aku cuma minta kamu mencintaiku! Itu saja!"
"Berhentilah bicara omong kosong, Purna! Pulanglah! Aku tidak ingin melihatmu masih ada di sini."
Sakit sekali hatiku. Aku menatap kepada pria itu, menahan air mata yang menyengat agar tidak jatuh. Ingin rasanya aku memohon kepadanya untuk mempertimbangkan semua ini kembali, ingin rasanya aku memukulkan tinjuku di dada yang kokoh dan maskulin itu dan mengatakan kepadanya bahwa aku sangat mencintainya dan tidak pernah ada pria lain, bahwa dia tidak akan menemukan wanita lain yang mencintainya seperti cintaku. Seperti besarnya cintaku. Tetapi harga diri, harga diri sialan yang sama yang pernah memisahkan kami sebelumnya, memerangkap kata-kata itu di tenggorokan. Aku telah berkata kepada Ram semalam bahwa aku ingin hidup bersamanya, tetapi apa pengaruhnya? Tidak ada!
Sementara, di depan sana, dengan menggenggam erat-erat tali kekang, Ram hanya menatapku. Tidakkah ia berpikir bahwa ia baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Tidakkah ia merasa bahwa membiarkanku pergi terasa sangat menyakitkan baginya?
Mungkin baginya lebih baik dilakukan sekarang daripada nanti. Sebab dia itu selalu saja pesimis. Mungkin dia berpikir bahwa benar aku masih mencintainya, dengan caraku sendiri. Dan dia juga berpikir setelah satu atau dua tahun tinggal bersamanya dan hidup dengan gajinya yang sangat kecil, aku ini akan kembali pada akal sehatku. Dia berpikir picik. Dia berpikir bahwa dia tidak akan mempu memberiku rumah besar atau pelayan. Ia tak akan mampu memberiku rekening tidak terbatas ataupun liburan ke Eropa. Dan dia berpikir dia tidak akan membiarkan aku membiayai hidupnya. Karena otaknya itu berpikir bahwa aku ini pasti akan menyadari bahwa pikirannya itulah yang benar dan aku akan berterimakasih kepadanya suatu saat nanti.
Sialan! Ingin sekali aku mengebor otaknya dan menggantinya dengan otak yang baru supaya dia memiliki sikap optimis sepertiku.
Tetapi aku tidak berdaya.
Sembari menyelubungi diri dengan harga diri layaknya jubah, aku turun dari susuran pagar lalu dengan dagu terangkat dan bahu tegap, aku berjalan menuju jalur sepanjang sungai. Baru setelah Ram tidak bisa melihatku lagi, aku membiarkan air mataku berderai.
Tapi aku tahu, aku belum menyerah.
__ADS_1
Belum!