
Hatiku hancur, tapi tak bisa kuapa-apakan lagi.
Hanya pasrah. Aku pergi ke kamar mandi, membersihkan diri, dan berdandan, lalu merenung sesaat sebelum mengenakan gaun pengantin itu. "Lakukan saja, Purna. Tidak ada pilihan. Terserah Tuhan menentukan takdirmu."
Gaun pengantin itu langsung kukenakan ke tubuhku. Membalut dengan indah. Membuatku tampak begitu cantik. Tapi sayang hatiku tak bisa merasakan apa-apa selain kepedihan dan kesedihan.
Jangan menangis. Jangan menangis. Jalani saja.
Senja sudah menyingsing di cakrawala, berganti kegelapan ketika Tuan Hartawan mengirimkan pesan ke ponselku: sebuah video bukti pembebasan Ram dari tahanan.
Mataku terpejam. Bersyukur karena pria kejam itu telah menepati janjinya. Sekarang pulanglah, Mas. Kembalilah ke tempatmu dan hiduplah seperti sebelumnya, sebelum aku datang dan mengacaukan kehidupanmu. Pulanglah....
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponselku seolah menjawab lirih hatiku. Pesan whatsapp dari Ram.
》Aku sudah mendengar semua penjelasan dari ibumu. Tapi aku tidak bisa menerima semua ini. Ini tidak adil bagimu. Rasanya aku ingin aku saja yang berkorban untukmu. Aku ingin datang dan ingin kubunuh pria itu walau aku mesti dipenjara seumur hidupku. Aku tidak ingin melihatmu menderita karena harus berkorban untuk semua orang. Tapi ibumu mencegahku, dia melarangku bertindak gegabah, dan kupikir memang benar apa yang ia katakan, apa gunanya tindakanku kalau akhirnya kita tetap tidak bersama. Jadi sekarang aku akan mengalah dengan takdir. Tapi aku berjanji padamu, apa pun caranya aku akan menyingkirkan pria itu dan merebutmu kembali, demi kita bisa bersama. Jaga dirimu baik-baik, tunggu aku. Apa pun yang akan kulakukan nanti, itu untukmu, untuk kita. Tunggu aku, Purna. Tunggu aku. Aku sangat mencintaimu.
Oh... hatiku melesak, takut, tapi juga terharu akan betapa besar cintanya terhadapku. Apa yang ingin dia lakukan? Dia ingin merencanakan pembunuhan? Bagaimana mungkin bisa? Tuan Hartawan nyaris tidak pernah lepas dari penjagaan bodyguard-bodyguard-nya meski mereka tidak terlalu mengekori Tuan Hartawan di tempat-tempat tertentu, terutama dalam keramaian. Jadi bagaimana menghabisi orang dengan aman di tempat yang ramai?
Eh? Ya ampun, berpikir apa aku? Kenapa aku berpikir kriminal begini? Sadar, Purna. Kendalikan dirimu. Kendalikan.
Tidak butuh waktu lama, aku sudah menjelma layaknya pengantin baru seperti beberapa hari yang lalu, juga seperti tiga pernikahanku yang sebelumnya. Dan kali ini aku sungguh berada di dalam kamar pengantin -- yang tidak kuinginkan. Kamar ini sudah dihias bak kamar pengantin sesungguhnya -- maksudku layaknya sebuah pernikahan yang normal. Ada lautan kelopak mawar merah, lengkap dengan buket mawar besar di atas ranjang pengantin itu, lalu di atas nakas ada sebuah kue pernikahan yang dihias dengan indah, buah-buahan, jus jeruk, dan anggur.
Baiklah, hanya tinggal menunggu mempelai prianya.
《 Aku sudah siap.
Pesanku terkirim, conteng dua di aplikasi whatsapp-ku menghijau, dan aku tidak butuh waktu lama menunggu pria itu membuka pintu kamar dan melangkah masuk dengan tampang ceria bak seorang pemenang sejati. Lampu kamar yang semula terang benderang dipadamkan, berganti dengan cahaya lampu bernuansa jingga, membuat jenjang leherku terkesan semakin menggoda, dan kulitku yang halus dan lembut laksana mentega.
Oh, andai saja mempelaiku kamu, Mas Ram. Andai saja aku di sini bersamamu....
Tapi itu sekadar harapan, nyatanya aku berdiri tegap di sana, memunggungi cermin, menghadap Tuan Hartawan yang amat sangat kubenci. Pria itu duduk di sofa dengan segelas jus dan sepiring kecil kue pernikan yang ia potong sendiri dan ditaruhnya di atas meja, ia mengambil sepotong kue itu, menggigit dan mengunyah perlahan.
"Well, bersulang, Sayang." Ia mengangkat gelasnya sendiri lalu meminum jusnya, kemudian tersenyum semringah. "Jus segar dengan suplemen penambah stamina untuk merayakan kemenangan."
Hah? Dia memakai suplemen? Aku sedikit tersentak. Tetapi akhirnya aku berhasil menguasai diriku sendiri. Terserah. Gunakanlah yang banyak sampai kamu operdosis. Mati saja!
Setelah menenggak habis jusnya, Tuan Hartawan menaruh kembali gelasnya ke meja. Dia membuka jas dan kemejanya, membiarkan dada telanjangnya terpapar di hadapanku. Tetapi belum beranjak untuk menghampiriku, dia hanya bersantai, menyandarkan punggungnya di sofa, dan memandangiku. Menelusuri setiap inci tubuhku.
"Aku menang, bukan?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Aku marah. Aku ingin mengejeknya karena dia kalah. Apa yang dia dapatkan dengan cara curang bukanlah kemenangan. Ini bukan kemenangan.
Tapi aku tak berdaya. Aku hanya mengangguk dengan tetesan air mata. Yang justru membuat pria itu semakin besar kepala dan merasa benar-benar menang.
"Oh Tuhan... aku mulai gerah." Pria itu berdiri, melepaskan ikat pinggang dan menanggalkan sisa pakaiannya dengan cepat. Hanya menyisakan celana pendek ketat dengan tonjolan super besar di baliknya. "Suplemen yang bagus."
Dia sudah nyaris polos sepenuhnya di hadapanku. Aku semakin benci berada di sini, saat ini, dalam momen ini: melihat pria itu dengan gairahnya yang luar biasa. Besar dan menantang.
Dan sesungguhnya aku mulai takut: aku tidak benar-benar siap pria itu menyentuhku. Ketakutan itu membuat air mataku kian mengalir deras.
"Menangis saja. Aku tidak akan mencegahmu. Aku tidak akan peduli." Ia berjalan mengitariku, berdiri di belakangku, dan menurunkan ritsleting gaunku. Menanggalkannya. Lalu ia berbisik di telingaku, "Yang aku inginkan hanyalah... kamu terbaring di bawahku, dan aku menyatukan diri denganmu. Menjadi satu dan sempurna. Kau... Cahaya Purnama milikku. Hanya milikku seorang."
Sakit sekali rasanya hatiku di dalam ketika aku hanya berdiri tak berdaya sementara pria itu menangkupkan kedua belah tangannya di dadaku, merema* dengan kekuatan penuh, lalu ia berdiri di hadapanku untuk sekadar melucuti *alamanku, lalu berlutut dan menghunjamkan lidahnya kepadaku.
"Benar-benar menggiurkan."
Argh!
"Mari, Sayang, kita tuntaskan ini di ranjang pengantin kita." Ia kembali berdiri tegap di hadapanku, menyelipkan kedua tangan ke bagian belakang pahaku, lalu mengangkatku, menggendongku bak koala di dadanya dan membawaku ke tempat tidur. Sambil memelukku di dada, ia menurunkan aku dan akhirnya aku terbaring di ranjang itu. Ia mengikuti tanpa melepaskan aku, tubuhnya yang besar menutupi tubuhku sementara ia menciumi wajah, leher, dan kelembutan dadaku, kemudian turun di antara tungkaiku. Dibenamkannya wajahnya di sana. Dirasainya aku dalam-dalam dengan penuh gairah. Merasa mabuk oleh kenikmatan.
Sumpah, sakit sekali hatiku. Aku mengeran* lirih, setiap saraf dan sel dalam tubuhku menegang marah kepadanya. Tapi aku tidak bisa bereaksi apa-apa. Hanya bisa memejamkan mata. Terus memejamkan mata selama ia mencumbuku dengan bibir, mulut, dan lidahnya, dan kekuatan kedua tangannnya.
"Sssssh...," dia mendesis penuh kenikmatan. "Ya Tuhan, Sayang, kamu benar-benar cantik. Nikmat. Menggairahkan," gumam pria itu seraya bangkit, melepaskan celana pendek ketat yang membungkus dirinya dan segera memosisikan gairahnya. "Aku benar-benar tidak sabar menyatukan diri denganmu." Dia sudah menempel di ambang pintu-ku, dengan ujung dirinya siap untuk menekan masuk. "Oke, aku sudah siap sedia. Sambutlah aku...."
"Kamu sudah tidak perawan? Bagaimana mungkin?"
Ia menarik diri. Turun dari ranjang. Berang. Marah. Berteriak hingga menggelegar. Berengsek! Bedebah! Jalan*! Keparat! dan segala macam jenis hinaan ia teriakkan kepadaku. Matanya menatap tajam kepadaku. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Kurang ajar kamu, Purna! Bagaimana bisa?"
Aku terduduk di sana, di atas ranjang itu. Masih menangis, tapi kali ini ada sedikit rasa puas yang tidak kumengerti, seolah: untung saja aku sudah melakukan dan menyerahkan keperawananku kepada pria yang benar-benar kucintai. Dan bukannya kepada pria di hadapanku ini. Aku memberanikan diri menatapnya. "Tidak ada syarat aku mesti perawan, bukan? Kamu juga tidak mempertanyakan keperawananku sebelum aku tanda tangan tadi, ya kan?"
"Berengsek! Kita sudah melakukan pemeriksaan ke dokter sebelumnya. Dan kamu masih perawan. Kenapa sekarang tidak? Kamu sudah bercinta dengan bocah ingusan itu? Iya?" berangnya, bicara dalam nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk diriku. "Kurang ajar!"
Aku menutup mata ketakutan kali ini saat pria itu membentakku lagi. Wajahnya benar-benar seperti iblis yang siap mencabut nyawa.
"Baiklah, Purna. Kamu sudah mengecewakan aku. Akan kuberi kamu pelajaran."
Aku terperangah. Wajah pria itu menyeringai dan dengan cepat menyambar ikat pinggangnya dari sofa. Aku langsung meringsut ke kepala ranjang, sangat ketakutan. Apalagi saat melihat pria itu berjalan ke arahku dengan ikat pinggang yang ia pegang.
Plak!
__ADS_1
"Ahhhhhk...!" aku berteriak kesakitan saat Tuan Hartawan mencambukku dengan ikat pinggang itu.
Sakit... sakit sekali. Air mataku jatuh semakin deras. Pria itu mencambukku lagi dan lagi. Ia tidak peduli melihatku menangis kesakitan, ataupun kasihan melihat tubuhku yang terluka, atau mendengar teriakanku dan permohonanku.
"Tolong berhenti. Ampuni aku...."
Aku menangis sambil berusaha menjauhkan diri namun pria yang tengah diselimuti amarah itu terus mencambukku dengan membabi buta.
"Kamu pantas mendapatkan hukuman ini!" teriaknya sambil mencambukku lagi, berkali-kali. "Aku sudah berusaha menyingkirkan semua sainganku demi keperawananmu, tapi yang kudapatkan tetap saja barang bekas! Berengsek! Rasakan ini!"
Plak!
Aku tak dapat mencerna kata-katanya saat itu karena menjerit kesakitan. Dan entah bagaimana persisnya, aku mendapati diriku meloncat mundur dan terjengkang. Jatuh terduduk di lantai. “Tolong… jangan sakiti aku,” aku terus mengiba kemudian memeluk kaki pria itu saat ia kembali menghampiriku. Memohon ampun dan belas kasihan.
Pria itu tetap tak peduli. Sekarang ia justru menendangku. Aku kembali terjengkang di lantai, dan semakin jadi ia menghantamkan kakinya kepadaku, sesekali menyerang dada, lalu beralih ke punggung. Kepalaku dibenturkan ke lantai atau ke tembok kamar. Kemudian beberapa tamparan keras mendarat di pipi. Tubuh telanjangku tak berdaya, terkapar di lantai kamar. Seluruh tubuhku sudah penuh dengan bekas cambukan, bahkan sampai berdarah-darah. Bercak merah kehitaman itu menghias karpet impor mahal—asli Turki di mana aku terbaring. Kemudian seolah penderitaanku belum cukup, pria itu berjongkok, menjambak rambutku. Menarik dengan keras hingga wajahku hampir beradu dengan wajahnya. “Ini, kan, yang kamu suka? Dasar jalan*!”
Aku amat sangat ketakutan. Tampak betul dari gemetar tubuh yang tak dapat kukendalikan. Lalu pria itu meluma* kasar bibirku.
“Menarik, bukan? Mari kita teruskan pertunjukkannya." Dia tertawa terbahak-bahak sementara aku hampir tak bisa bernapas.
Aku menatap nanar pada pria itu sambil terus memohon. "Tolong berhenti... ahk! Sakit...!"
Tapi pria itu tak sedikit pun merasa kasihan padaku. Hingga akhirnya aku tak kuat lagi menahan sakitnya cambukan-cambukan yang menghantam tubuhku dan siksaan dari hantaman tangan dan kakinya. Aku terkulai lemas, lalu pria itu menyeretku ke atas ranjang. Menindih dan memperkos*. Ia memaksakan dirinya kepadaku lantaran tak mampu menahan hasrat efek dari suplemen dalam jus yang ia tenggak, sekaligus untuk melampiaskan amarah atas kekecewaannya. Pria itu menghunjamkan diri kepadaku lebih dari seekor kuda liar. Dengan sisa-sisa tenaga aku meronta-ronta hingga akhirnya benar-benar lemas tak berdaya. Aku pasrah, lalu tak ingat pada apa pun lagi selain rasa sakit yang diberikan pria itu. Sakit pada jiwa dan raga yang membuatku berharap aku tidak akan bangun lagi.
Tapi nyatanya aku tetap terbangun keesokan paginya, di keheningan subuh yang lembap. Mataku terbuka secara perlahan. Melihat ke kanan dan ke kiri lalu berusaha bangun dari ranjang itu. Tuan Hartawan berbaring telentang di sebelahku. Di dalam selimutnya. Aku meringis saat seluruh tubuhku terasa sakit. Kemudian bayangan-bayangan saat Tuan Hartawan menyiksaku semalam membuatku kembali menangis. Kutatap seluruh tubuhku yang dipenuhi luka dan lebam. Dan tiba-tiba teringat samar-samar ucapan Tuan Hartawan semalam: dia sudah berusaha menyingkirkan saingan-saingannya untuk mendapatkan keperawananku.
Apa maksudnya? Apa jangan-jangan...?
Aku mengeran*, marah dan teramat benci. Sehingga begitu aku melihat pria itu tertidur nyaman di sebelahku, niat jahat seketika terbesit di benakku: Bunuh dia, Purna. Dia pantas mati.
Ini kesempatan, pikirku. Aku tidak sudi hidup dengan iblis seperti dia.
Dengan mengerahkan segenap kekuatanku, aku bangkit dan terseok-seok berjalan ke arah nakas, meraih pisau buah dan...
Menghunjam tepat di jantungnya. "Mati kamu! Mati!"
Pria itu megap-megap, bersimbah darah, sempat menghardikku dengan suara parau dalam proses meregang nyawa, lalu tewas....
Dia mati!
Untuk sesaat aku tertawa. Bahagia. Merasa menang. Lalu kemudian tiba-tiba saat kesadaran kembali mengasaiku, aku melihat pria itu terbujur kaku, aku merasa ketakutan. Karena pada akhirnya aku menyadari bahwa tindakanku ini akan mengantarku ke balik jeruji besi: lima belas hingga dua puluh tahun penjara, atau sekurang-kurangnya empat hingga enam tahun?
__ADS_1
Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau hidup sebagai beban bagi semua orang yang mesti menahan malu akibat tindakanku yang gegabah. Meski aku tidak menyesal sama sekali, tapi hidup dalam sel tahanan kelak akan membuat orang-orang semakin membenciku. Mungkin kasihan pada awalnya, tapi pada tahun-tahun berikutnya aku hanya akan mendapatkan kebencian dan hanya akan disalahkan. Kesalahan yang kulakukan ini akan mempengaruhi bisnis dan karir mereka, dan pada akhirnya mereka semua akan menyalahkanku. Dan aku tidak mau menanggung derita yang berlimpah. Aku tidak mau. Dalam dilemaku, aku berniat bunuh diri.
Dan kulakukan: jatuh dari ketinggian... dalam balutan gaun pengantin.