
Ketukan yang terus-menerus di pintu membangunkanku beberapa waktu kemudian. Aku bangun dengan enggan, tidak ingin meninggalkan mimpiku dan menghadapi kenyataan. Mimpiku sangat indah: aku sedang duduk bersama Ram di tepi sungai yang mengalir tenang dan berliku melewati padang rumput yang disinari matahari. Ram sedang mencondongkan tubuh mendekatiku, matanya yang kelam berbinar menyiratkan cinta, terpusat di bibirnya... dan kami nyaris saja berciuman....
Andai tidurku tak terganggu.
Seraya melemparkan selimutku, aku meraih jubah kamarku dan melangkah bertelanjang kaki menuju pintu, lalu bertanya siapa di luar.
"Aku."
Aku mengenali suara Ram. Aku pun membuka pintu seraya menguap.
"Mas...?"
"Maaf mengganggu tidurmu."
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu tahu sekarang jam berapa?"
"Jam dua kurang seperempat," sahut pria itu seraya masuk ke dalam pondokku, kemudian ia mengunci pintu lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Aku tidak bisa tidur dan tidak bisa pergi dengan tenang sebelum...."
Aku tersenyum semringah. "Apa?" tanyaku dengan nada menggoda, mendongak menatapnya dengan sepenuh cinta.
"Untuk kenangan yang manis...." Ram menciumku. Dapat kurasakan kekuatan tangannya ketika ia menangkup tengkuk leherku, dan gelombang emosi yang manis dengan cepat menenggelamkanku. Kami sudah terpisah begitu lama, dan sekarang aku menempel kepadanya seperti kemarin malam.
Aku tenggelam....
Kutekan tubuhku pada dirinya dan kutelusurkan tangan ke balik jaket kulitnya.
Ram mengeran*, dan menarikku lebih dekat ke dekapannya, melepaskan jubahku dan membuat tubuh telanjangku kembali terpapar di depan matanya. Kami bergerak mundur, sampai punggungku menyentuh dinding. Kutelusurkan tanganku ke atas, mengaitkan jemariku ke rambutnya, dan tangannya bergerak, ke tulang leherku.
Aku tak bisa berhenti menciumnya. Mencicipinya. Menyentuhnya. Dan tanganku meraba-raba dengan bebas.
Ram menghentikan ciuman kami lalu mencium leherku, membuatku merinding. Ia menyentuh titik sensitif di bawah telingaku, dan lututku goyah. "Eummmmmmm...."
Dia mengisap tengkuk leherku, kuat dan manis. "Kamu membuatku tak bisa tidur," bisik Ram. Ia menautkan jemari kami, lalu mengunci tanganku ke dinding. "Aku tergila-gila padamu. Sungguh tergila-gila...."
"Mmm-hmm," kataku sambil menggeser kepala untuk memberinya akses yang lebih baik.
__ADS_1
Ram kembali membenamkan taringnya di tengkuk leherku, lalu mengeran* lagi. "Penyiksaan."
Tiba-tiba ia mendekapku erat-erat, menarik kami ke arah tempat tidur, menjatuhkan diri ke sana. Ia menarikku ke atasnya, kakiku mengait kakinya, sementara napas memburu di antara kami. Ram menelusurkan satu tangan dengan lembut ke wajahku.
"Aku sudah menunggu kama untuk melakukan ini," katanya. "Dan sepertinya aku harus melakukannya lagi."
Deg!
Aku tersenyum dengan perasaan bahagia yang membuncah. Kubiarkan ia menarikku untuk satu ciuman lain, dan kali ini kami berdua tersesat. Rasa laparku terhadap dirinya tak dapat terpuaskan. Ia menggoda ujung bibirku, dan kubuka mulutku untuknya. Tapi dia menjauh.
Kucoba untuk menariknya mendekat lagi, menawarkan diriku, ketika ia bergeser ke bagian samping pandanganku. Perlahan-lahan ia menciumi sepanjang sisi wajahku, turun sampai ke leherku.
Kulitku terasa semakin panas. Terlalu panas, dan aku ingin terbakar bersamanya. Aku ingin menanggalkan semua pakaiannya. Sekarang.
Kini giliran diriku yang menjauh, dan ia berusaha mengikuti. Tapi aku menahannya dengan telapak tangan. Seraya menggeleng, aku tersenyum malu-malu ke arahnya dan mengalihkan perhatianku pada kancing jaket kulitnya. Mudah membuka seluruh kancingnya, juga kausnya, dan dalam waktu singkat dadanya sudah terpapar.
Kutelusurkan ujung jari di kulit telanjangnya, dan Ram menggigil. "Kamu menggodaku," bisiknya.
"Menggoda? Tidak." Kuselipkan jemariku ke bawah dan membuka kaitan celana jeans-nya dan menurunkan ritsletingnya. "Hanya melakukan yang semestinya. Hmm?"
"Aku memimpikan momen ini sepanjang waktu, tahun demi tahun," kataku pelan seraya menatap telapak tanganku yang kuletakkan di dadanya. Aku dapat merasakan detak jantungnya berdetak. "Sebelum kemarin, aku tidak menyangka kita akan mendapat kesempatan untuk--"
Ia meletakkan satu jari di bibirku. "Terima saja. Hanya itu yang penting sekarang ini. Tetaplah bersamaku. Di sini, dan sekarang."
Aku mengangguk dengan goyah, kemudian memindahkan tangannya ke dada. Kutempatkan kelembutan itu dalam genggamannya. "Kamu selalu datang ke mimpiku. Begitu liar. Aku ingin keliaran itu dalam versi yang nyata."
"Apa pun untukmu, Purna," katanya. Nada suaranya lirih dan syahdu.
Kami berciuman untuk waktu yang lama. Ram meletakkan tangannya yang hangat di kaki telanjangku, dan akibat sentuhan itu, darah di pembuluh darahku mendidih. Meluap-luap dan aku ingin meledak rasanya. Kutangkup wajahnya dan kupeluk ia erat-erat. Sambil menatap matanya yang indah, aku tersenyum bahagia.
"Aku menginginkan dirimu," ujarnya. "Setiap bagian dirimu, lagi."
Aku mengangguk. "Aku milikmu, Mas."
"Ya, Sayang. Aku ingin meninggalkan kenangan yang indah untukmu sekarang ini, dalam penantianmu, dan membuatmu tidak sabar menungguku kembali. Jadi, malam yang hangat ini untukmu. Hanya untukmu."
__ADS_1
Ah... dadaku mengembang oleh napas bahagai. Rasanya manis sekali. Ram memasukiku dalam gerakan perlahan, dengan denyar dan denyut mendesak ke dalam, menumpukkan tubuh di atasku dengan kehangatan. Kemudian...
Ram tersenyum dengan sejuta pesona, lalu ia berbisik di telinga, "Liarlah bersamaku, Purna...."
"Oh...!"
Dia menghentakkan diri begitu kuat kepadaku. Otot lengan dan lehernya mengencang saat dia menghunjamkan dirinya ke dalam surgaku bagaikan pria yang kerasukan.
"Mas...," napasku tersengal.
Ram sudah dalam perjuangannya. Matanya terpejam rapat. Kepalanya menengadah, tersentak berulang kali. "Ah, Purna... oh....," suaranya parau, dengan berapi-api menghunjamkan dirinya kepadaku, terus-menerus, mendorong tubuhku ke belakang. Menggila dan membabi buta. Tanpa jeda. Tanpa henti. Membuatku bergidik ngeri kalau-kalau ranjang kayu itu akan berderak patah dan roboh akibat kekuatan dan keliaran Ram malam itu. "Ya Tuhan, Sayaaaaaaang...!" Ram menggeram. "Akh!"
Selesai!
Benih cintanya mengalir hangat di dalam diriku.
Oh Tuhan... aku menerimanya.
"Aku mencintaimu, Purna." Napas Ram memburu hebat di telingaku. Dia mendesakkan dirinya untuk terakhir kali, lalu roboh terkulai, gemetar di tubuhku.
Aku tak perlu membalas kata-kata cintanya. Itu tidak diperlukan dalam momen yang indah ini. Sebagai balasannya, kutekankan bibirku pada kulit lembap lehernya, dan merasakan ia menelan ludahnya dengan tegang. Sementara Ram mengubur wajahnya di rambutku yang kini tergerai liar acak-acakan, aku mengeluskan telapak tanganku di punggungnya. Bermaksud menenangkan.
"Maafkan aku," engahnya.
"Maaf? Untuk apa?"
"Dalam keadaan sadar, aku tidak pernah hilang kendali dengan begitu rendahnya."
Aku menyeringai. "Tapi aku suka. Keliaranmu lebih dari yang kurasakan di dalam mimpi. Dan aku... aku terpuaskan."
Dengan kikuk, Ram mengangkat dirinya dan menunduk menatap wajahku untuk waktu yang lama. Kemudian ia menangkup wajahku, dan dengan lembut menyibak helaian rambutku dari sana. "Aku mencintaimu, Purna. Melebihi hidup. Melebihi kematian. Melebihi keabadian."
Dan kami kembali berpelukan.
Entah berapa lama setelahnya, aku tenggelam lagi dalam tidurku yang lelap, dan mimpiku yang indah. Tapi kali ini aku tidak sendirian. Kali ini ia bersamaku. Dan kami terlelap bersama-sama. Berkelana dalam mimpi yang indah....
__ADS_1