
Setelah memberitahu Bibi El bahwa aku akan menunda kepergianku, aku segera kembali ke pondok. Menghabiskan waktu di tempat tidur sambil mendengarkan musik, menunggu sore dalam keresahan yang tidak kumengerti, seperti gadis remaja yang menunggu pacar untuk kencan pertama. Dan aku tidak tahu kenapa: aku nervous. Juga, tidak berani membayangkan atau mengharapkan apa pun atas pertemuan ini. Baik nanti, atau setelahnya. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi rasa sakit hati lagi.
Senja sudah menunjukkan warnanya di atas sana ketika aku memutuskan untuk mandi, keramas, dan mencukur bulu kaki, dan sepanjang waktu itu perutku bergolak penuh antisipasi. Aku menyemprotkan parfum, lalu mengenakan gaun terusan berwarna kuning cerah dan mematut diri di depan cermin. Cantik. Sempurna. Rambutku yang sengaja kubuat bergelombang jatuh dengan lembut membingkai wajah. Gaunku tampak semakin indah dengan pinggang yang pas dan rok yang panjang.
Aku mengenakan rias wajah dengan hati-hati, menyemprotkan sedikit lagi parfum, lalu duduk menunggu. Beberapa menit kemudian, aku mengecek waktu, lalu bangkit untuk melihat ke luar jendela. Tidak ingin Ram melihatku sedang menunggu-nunggu, aku duduk kembali, menyilangkan dan menyelonjorkan kaki. Kemudian, nyaris terlonjak dari kursi saat mendengar Ram mengetuk pintu.
Aku menghitung sampai lima sebelum membuka pintu, dan menahan napas. "Hai."
"Hai."
Tampak jangkung, tampan dan mempesona, berkulit putih kehitaman karena sengatan matahari, gagah, dan meluluhkan -- begitulah penampilan Ram. Pria itu mengenakan celana jins berwarna krem, kemeja dengan warna senada, dan jaket kulit bergaya western.
"Kamu siap?" tanya Ram.
Aku mengangguk.
"Kamu tampak menggiurkan," ujarnya dengan nada rendah dan serak.
Aku tersenyum. "Kamu juga."
Ram menatap lekat-lekat diriku, mata kelamnya bergerak menelusuri sekujur tubuhku. "Kuharap kamu lapar."
"Apa?"
Ram tersenyum ke arahku, mengingatkanku pada serigala dalam cerita Gadis Berkerudung Merah. "Untuk makan malam," lanjut pria itu lagi dengan lancar, meski kami berdua menyadari bahwa pria itu tidak membicarakan makanan. "Dan mungkin sedikit berdansa. Kamu siap untuk pergi?"
"Ya, kuambil sweterku dulu." Aku menyampirkan sweter itu di bahuku, menyambar tasku, dan menyerahkan tanganku ke dalam genggaman Serigala Besar yang lapar. Tak kuasa menolak uluran tangannya.
Band yang tampil di panggung malam ini berbeda.
"Band lokal dari kota," jelas Ram. "Mereka bergantian antara bermain di sini dan di satu klub di kota setiap sabtu malam. Mereka cukup punya banyak penggemar."
Aku mengangguk-angguk. "Itu pasti bagus untuk bisnis," ujarku, menyadari bahwa penginapan itu lebih ramai daripada yang pernah kulihat. Aku juga menyadari bahwa tidak ada anak-anak, hal itu tidak diragukan lagi karena mereka menyajikan lebih dari sekadar minuman ringan di bar. Dan aku jadi tersenyum, nyaris tertawa.
"Ada apa?" tanya Ram. "Ada yang lucu?"
Aku mengedikkan bahu. "Aku bersyukur tidak ada anak-anak malam ini. Kalau tidak, Nina pasti akan ada di sini dan cemburu padaku, ya kan?"
Ram menyeringai geli. "Gadis kecil itu mengingatkanku pada Purna berusia enam belas tahun. Agresif!"
__ADS_1
Eh?
Mataku nyaris melotot mendengarnya. "Jangan meledekku...," rengekku.
"Kamu masih manja," ujarnya lembut.
"Aku tahu. Tapi...."
"Jauh lebih cantik daripada delapan tahun yang lalu."
Ugh! Dia sedang memuji, atau menggoda?
"Dasar gombal!"
Ram hanya tertawa, lalu memanggil pelayan dan memesan steik dan kentang panggang untuk makan malam, lalu ia mengajakku ke lantai dansa. "Mau berdansa denganku, please?"
Aku mengangguk, menyambut uluran tangannya yang menggandengku ke lantai dansa. Band itu memainkan lagu A Thousand Years, yang selalu menjadi lagu favoritku. Aku mendesa* ketika Ram menarikku ke pelukannya. Menghimpitku ke dalam erat dekapannya. Rasanya tepat berada di situ, untuk menyandarkan kepalaku di dada Ram, mendengar denyut jantung pria itu yang mantap dan kuat di bawah telingaku. Yang berdetak keras untukku, karena aku....
Saat kami meluncur di lantai dansa, aku memejamkan mataku, melupakan orang atau hal lain kecuali lengan Ram yang memelukku, dan aroma samar losion aftershave pria itu. Dan aku saaaaangat bahagia merasakan kekuatan tangan Ram saat mendekapku, seakan ia takut kehilangan aku, lalu ia berbisik, "Aku minta maaf atas semua air mata yang tumpah karena sikapku. Maafkan aku, Purna."
"Aku tidak ingin membahas apa pun sekarang," kataku, kubiarkan mataku tetap terpejam, merasakan hangat pelukannya seraya menyandarkan kepalaku di dadanya. "Biarkan aku menikmati saat ini. Just it...."
Kami berdansa di lagu berikutnya dan berikutnya, dan ketika lagu akan segera berakhir dan aku membuka mataku, tatapanku terpaku pada sosok Welly Damiri. Seketika aku teringat kedekatan antara ia dan Ram semalam. Segera aku menjauhkan kepalaku dari sandaran dada yang mendekapku. "Maaf," kataku, tiba-tiba aku merasa resah.
"Kenapa?" Ram bertanya heran.
"Gadis yang bersamamu kemarin malam...."
"Lupakan saja."
"Tapi dia melihat kita, melihatku... tadi...."
"Purna...."
"Sepertinya dia marah. Aku... aku merasa tidak enak."
"Untuk apa? Dia bukan kekasihku. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kami. Oke? Percaya padaku."
Aku menengadah, menatap kedua matanya. "Tapi kemarin kalian... menghabiskan malam bersama. Gelap... gelap-gelapan."
__ADS_1
Euw! Ram terkekeh menertawaiku. "Kami menonton film, sebab itu lampunya dipadamkan. Selebihnya tidak ada apa pun yang terjadi. Percayalah," katanya, menatap lekat kedua mataku. "Aku kembali ke pondokku bahkan sebelum filmnya selesai diputar. Serius."
Kenapa kesannya seolah ia sedang meyakinkan aku untuk mendapatkan kepercayaanku? Keadaan itu membuatku mesti menekan kuat harapanku supaya tidak kembali naik dan tergantung di atas kepala.
"Baiklah kalau memang begitu. Aku hanya takut kalau aku merusak hubungan kalian. Aku takut... berada di tempat dan waku yang salah. Maaf?"
Ram hanya menggeleng pelan, tersenyum simpul lalu menggandengku kembali ke meja makan. Makan malam kami sudah tersedia. Terperangkap bersama Ram, merasa hangat melihat tatapan pria itu, aku nyaris tidak bisa merasakan setiap gigitan steikku.
Setelah kami selesai makan, Ram meninggalkan beberapa lembar uang di meja dan membawa minuman untuk kami berdua, lalu menggandeng tanganku dan mengajakku pergi ke luar.
Kami berjalan mengitari sisi penginapan hingga menemukan sebuah tempat untuk kami bisa berduaan saja. Aku bersandar pada bangunan itu, masih bisa mendengar suara musik dari dalam penginapan.
"Ini malam yang indah," ujarku. "Bintang-bintang tampak lebih dekat, kita seolah nyaris bisa menggapai dan menyentuh mereka."
Ram mengangguk sepakat. "Nyaris," ujarnya.
"Lihat itu!" seruku seraya menunjuk. "Ada bintang jatuh! Buat permohonan, cepat."
Ram tertawa lembut. "Kamu sudah tidak percaya pada hal semacam itu lagi, kan? Hanya anak-anak yang masih percaya."
"Mungkin aku memang masih anak-anak."
Ram menghabiskan minumannya dan meletakkan gelasnya di susuran beranda. "Kamu tidak terlihat seperti anak-anak."
"Benarkah?"
Ram mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya di sebelah gelasnya. "Ya. Kamu terlihat seperti wanita yang menunggu untuk dicium."
Aku menelengkan kepala. "Benarkah?" bisikku.
Ram mengangguk saat ia memperkecil jarak di antara kami. "Apa aku salah mengartikan? Katakan kalau aku salah."
"Menurutmu?"
Dia menggeleng, namun tatapanya enggan lepas dariku. "Menurutku aku tidak salah menilai."
"Well?"
Eummmmmmm....
__ADS_1