Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Drama Dalam Penantian


__ADS_3

"Kamu sebaiknya kembali ke tenda," ujar Ram, membuat hatiku kian melesak. Dia memang tidak ingin menyempurnakan malamku.


Dengan perasaan nelangsa, kuraih mantel dan sandalku dan aku kembali ke tenda tanpa menghiraukan Ram yang berdiri kaku di belakang sana -- bukan untuk tidur, tapi untuk menangis sendirian di sisa malam itu. Menumpahkan air mata karena rasa sesak dalam tangis tanpa suara, beberapa saat lamanya, hingga mataku begitu perih karena panasnya air mata.


"Hei, Sayang," suara Ram membuatku kaget sewaktu ia memeriksa keadaanku di dalam tenda, tapi aku tetap bertelungkup, memunggunginya, menyembunyikan wajahku yang basah oleh air mata. "Jangan menangis." Dia menyelinap masuk ke tenda. "Sayang, please, jangan seperti ini. Jangan membuatku merasa buruk. Tolong?"


Aku tidak ingin bicara.


"Sayang...." Ram menarik bahuku hingga aku terduduk di hadapannya, tak berani menatap matanya. "Jangan menangis. Tolong, berhentilah menangis, ya?" Dipeluknya aku, diusap-usapnya punggungku, tapi rasa kecewa sudah terlalu menusuk hatiku. Aku sangat kecewa.


Aku terus kehilangan menit demi menit dalam pelukan pria itu dan derai air mata.


"Kamu masih tidak berhenti menangis. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak suka melihatmu seperti ini. Tolong, Purna, apa yang harus kulakukan?"


Aku menggeleng. "Tidak ada. Sebaiknya... sebaiknya kamu tidur. Kita akan pulang pagi nanti, kan? Kamu... kamu harus istirahat. Tidurlah."


"Bagaimana aku bisa tidur sementara kamu terus menangis seperti ini?"


Ya, aku yang salah. Kubaringkan tubuhku dan kembali meringkuk memunggunginya, terus menangis. "Aku akan tidur," kataku tanpa menatap pria itu. "Jangan pedulikan aku."


Ram merasa sesak. Dihelanya napas dalam-dalam lalu ia kembali menarikku bangkit. "Ayo, ikut aku. Dan jangan banyak bertanya."


Dia sudah memperingatkan sebelum aku membuka mulut.


Di luar, Ram menggandeng tanganku dalam kebisuan hingga langkah kami berhenti di area parkir. Dibukakannya pintu truk itu untukku dan ia menyuruhku masuk, duduk di bangku penumpang. Sebelum ia masuk dan duduk di balik kemudi, Ram berpamitan pada teman-temannya.


Dalam menit berikutnya, kami sudah melaju menyusuri jalanan sepi dan tanpa kuduga, kurang dari dua puluh menit, perjalanan kami berhenti di sebuah penginapan. Sebuah cottage di dekat pantai yang lain.


Deg!


Aku tidak tahu bagaimana mesti bereaksi, senang, heran, menerima dengan suka hati, atau menolak karena ego?


Tapi aku hanya diam saja.


"Ayo." Ram sudah berdiri di sampingku, membukakan pintu dan mengulurkan tangan.


Kuusap air mata di wajahku hingga kering, lalu menyambut uluran tangan Ram. Untuk hal berikutnya aku tidak menyadari apa pun karena lebih menghindar, dan tidak fokus. Ram menyuruhku menunggu sesaat sementara ia memesan kamar untuk kami berdua. Dia tidak mengatakan apa pun saat kembali, hanya langsung meraih tanganku dan menggandengku menuju sederetan pondok beratap jerami. Aku menatap terpaku apa yang tersuguh di hadapanku.


"Waw!" aku bergumam dalam suara rendah, namun mataku lebih mewakili keterpanaanku, aku berdecak kagum melihat apa yang ada di depan mataku. Ini sesuai impianku, sebuah pondok beratap jerami yang menghadap ke lautan lepas, dan di dalamnya....


Hotel bintang empat, batinku. Sempurna. Seperti impianku. Sebuah tempat sederhana, indah, menawan dan... dengan fasilitas yang lengkap.


Aku terlalu terpana atas apa yang kulihat di depan mataku hingga lupa akan situasi antara aku dan Ram. Begitu aku sadar bahwa aku tidak sendirian, aku menoleh ke belakang.


Ram berdiri di sana, bersandar di pintu masuk seperti pemuda putus asa, tak berdaya, sekarat, sekaligus bergairah. Bisa kau bayangkan? Dia terperangkap dalam situasi yang sangat ingin ia tentang, sekaligus menariknya untuk... untuk melakukan, untuk menyerah dalam godaan. Untuk bercinta di malam purnama. Dan aku hanya berdiri di sana, mematung menyaksikan ketidakberdayaan pria itu. Dengan air mata yang kembali menggenang. "Aku tidak... aku tidak ingin... memaksamu. Aku tidak ingin...."


Ram menyentakkanku dengan keras ke dalam pelukannya, dan meremukkanku di dadanya. "Diamlah, Purna."


Oh...!


Ram menciumku tanpa ragu. Ciuman itu bukanlah ciuman lembut seorang kekasih. Dia memaksakan lidahnya ke dalam mulutku dan menyisipkan satu tangan ke dalam rambutku, mencengkeram hingga kulit kepalaku terasa terbakar. Dan Ram tetap menciumku, dengan putus asa, nekat, tanpa keahlian ataupun kelembutan. Dia menyapu bibir dan mulutku dengan mulut dan bibirnya, dengan lidahnya, dan menggesek wajahku dengan bayangan rambut-rambut kasar di rahangnya. Dalam amarah, gairah, dan ketidakberdayaan.


Aku membiarkan diriku terangkat naik oleh gelombang pasang emosi, merasakan getaran gairah dan amarah Ram. Namun aku tahu bukan diriku yang menjadi sasaran amarahnya, melainkan terhadap dirinya sendiri yang -- merasa gagal dalam pengendalian diri.

__ADS_1


"Oh, Purna," gumamnya, mengubur wajahnya di rambutku, menyusuri bahuku dengan telapak tangannya. "Kenapa kamu merasukiku begitu dalam?"


Ya Tuhan, aku takut pada reaksi pria ini. Takut pada penolakannya yang akan semakin menyakiti hatiku.


"Aku selalu merasa kamu menginginkan aku, sama seperti aku menginginkanmu. Tapi, tapi kamu selalu... menolak. Kamu menolakku. Kamu tidak menginginkan aku."


Ram terperangah oleh ucapanku. Dengan lembut ia mendorongku sedikit menjauh dan menatap ke dalam sepasang mataku yang sayu. "Aku menginginkanmu. Selalu. Dan kamu tahu benar soal itu."


"Tapi kenyataannya kamu selalu menolakku!"


Srettt!


Ram menyentak lepas dress tipis itu dari bahu kiriku, dan, menelanjangi sebelah bagian dadaku. "Oh, Tuhan...," bisiknya parau. Dia menangkup kelembutan itu lalu menyapu ringan bagian itu dengan jemarinya. Membuatku meremang oleh sentuhannya.


Lalu, yang membuatku terkejut, Ram menundukkan kepala dan membenamkan wajahnya, mencium, mengisap lembut, nyaris memuja. Seakan kendalinya sudah berakhir.


Persetan dengan kata tidak. Aku menginginkan Ram. Ingin merobek lepas pakaiannya. Benar dan salah bisa menunggu.


Tapi tidak! Ram berpikiran lain. Dengan tiba-tiba, dia menarik wajahnya dari kelembutan itu dan menarikku kembali ke arahnya. "Cukup, Purna," Ram berkata parau di pipiku. "Itu sudah cukup. Kita -- aku -- harus berhenti. Ini gila."


"Please...? Tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Jangan menarikku untuk menghempaskanku kembali, Mas. Tolong...?"


Ram tidak mengatakan apa pun. Juga tidak melepaskanku dari pelukannya.


"Please...?" pintaku lagi, tapi ia masih tanpa reaksi.


Kupikir... kupikir ia telah mengalah dan memberiku izin sehingga aku membuka mulutku di lehernya, menelusuri tepian kerah kemejanya, menghirup wewangian cendana yang eksotis bercampur bau samar tubuhnya. Memuja, menikmati surga yang manis. Begitu menggoda....


Aku membiarkan tanganku menjelajahi tubuh pria itu dengan takjub. Ram bertubuh tinggi, jauh lebih tinggi dariku, dan ramping, berbahu lebar. Impian, dan khayalan para wanita. Tuhan tahu betapa sering pria itu menghantui tidurku.


"Ya," bisikku, menolak untuk membalas tatapannya.


"Aku takut akan menyesali ini, Purna. Aku takut aku akan mengutuk diriku--"


"Please...." Aku memaksa diriku untuk mendongak ke arah Ram. Ketampanan pria itu hampir memilin jantungku keluar dari dada. "Aku menginginkanmu, seutuhnya. Aku tahu aku salah, tapi... aku menginginkanmu."


Dalam pelukanku, ia gemetar, matanya terpejam rapat. Tanpa memandang, ia mengangkat tangannya dan mengeluskan punggung tangannya di pipiku. "Menginginkan tidak membuat ini menjadi benar," jawabnya halus. Meski demikian, tangannya terkulai menjauh, dan perlahan, begitu pelan, dia menundukkan kepala ke arahku.


Jika ciuman pertama Ram terasa begaikan api, ciuman kali ini terasa bagaikan lelehan lava. Ciuman itu dicurahkan ke atasku, membebani tubuhku, menyeretku ke arahnya. Menggugah dan menggoda, membuatku gemetar oleh rasa lapar.


Oh, Tuhan, aku begitu tergoda. Ini adalah kegilaan. Dan aku berharap semoga kali ini tak ada satu pun yang akan menghentikan kami. Aku berharap Ram membiarkan dirinya menyerah pada dorongan nafsunya sendiri, dan menyelamatkanku dari delapan tahun penuh siksaan.


Aku membalas ciuman Ram. Aku mencium pria itu sebagaimana ia menciumku, dengan mendesak, rakus, dengan mulut dan lidah, menyelinap masuk ke dalam kehangatan cinta, merasakan, menyentuh, dan mempelajari. Mulut Ram mengulumku saat lidahku meliuk masuk, menggoda dan menyelidiki kedalaman hasratnya. Kebutuhan putus asa untuk memiliki Ram seutuhnya, membawaku ke dalam dan membuat pria itu menjadi bagian dari diriku. Aku hanya sedikit sadar bahwa aku mulai menarik keluar keliman kemeja Ram dari celananya. Bahwa aku menelusuri kelembutan punggung telanjang Ram yang kencang berotot dengan tanganku. Kemudian jari-jemari Ram melepaskan pengait bra di punggungku.


"Jangan hentikan ini lagi," pintaku, berhasil mengguman di leher panas pria itu.


Aku memohon....


"Demi kamu. Kuda liar pun tak akan bisa menyeretku pergi," jawabnya, menurunkan dress lembut itu melewati lenganku, dan menanggalkan semua *alaman yang tersisa di tubuhku, membuat pipiku memerah. Terbakar rasa malu.


Tapi yang terjadi selanjutnya justru kembali membuatku meringis. Gerakan Ram terhenti sepenuhnya. Ia hanya menatap turun, matanya menelusuri tubuhku yang telanjang, dada yang padat, kedua bahu, dan akhirnya terhenti di wajahku.


"Mas...?" bisikku.

__ADS_1


Menanggapiku, pria itu hanya merendahkan tubuhnya di atasku, mulutnya terbuka, napasnya terdengar parau di telingaku, tangannya menyusuri rambutku yang terurai lepas.


"Ada apa?" tanyaku pelan, terdengar sendat tersiksa dan merasa sangat malu. Dan sangat bingung.


Ram bernapas di kulitku yang merona. "Ya Tuhan, Purna, Sayang, aku... kurasa aku tidak bisa... maksudku... ini hanya tidak terasa... benar."


Tetapi di hadapannya, aku sudah terlanjur bergetar oleh amarah. Atau begitulah pikirku. Sampai akhirnya aku merasakan hangatnya air mata yang kembali menetes turun di sepanjang pipi dan mengalir jatuh.


Tak mampu berkata-kata, Ram hanya menatapku dengan perasaan bersalah.


"K-k-kamu tidak menginginkan aku," aku meratap pelan, menggigit kepalan tanganku.


"Ya ampun, Sayang," bisiknya. "Sumpah itu sama sekali tidak benar."


"Oh, y-ya, itu benar." Aku mengangguk lemah, mengisak lemah. "Kamu t-tidak menginginkanku. Kamu hanya ingin menyiksaku. Aku sudah bersumpah bahwa aku ingin menyerahkan... aku... aku ingin malam pertamaku bersamamu. Aku ingin... aku ingin kamu jadi yang pertama untukku. Tap-tapi, a-apa itu artinya b-bagimu?"


Ram menatapku dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Apa maksudmu?"


"Jangan tanya. Jangan. Sudah cukup." Kuseka air mata dengan gusar, tapi wajahku tetap saja basah dan perih.


Dengan kasar, Ram mengalungkan lengannya di sekeliling tubuhku dan mendekapku. Ia pasti bisa merasakan air mataku melembapkan bagian depan kemejanya. Untuk waktu yang lama, ia hanya memelukku ketika aku menangis, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan.


Ram menundukkan kepala dan mencium keningku dengan ringan. "Purna, Sayang, jangan salah paham--"


"Jangan bohong. Jangan membodohiku," aku mengisak sengsara di kemejanya. "Kamu tidak. Kamu tidak pernah menginginkanku."


Ram menggeleng. Dengan lembut dia mendorongku sedikit menjauh seperti tadi untuk kembali menatap ke dalam sepasang mataku yang sayu. "Aku memang menginginkanmu," sesalnya. "Tapi hasrat seorang pria adalah hal yang rumit. Dan ini bukan sekadar soal nafsu. Aku hanya takut melakukan kesalahan padamu. Kamu gadis dari keluarga terhormat. Dari keluarga terpandang. Kamu bisa memahami maksudku, bukan?"


Seolah merasa malu, aku mengusap setetas air mata di bawah mataku. "Tidak ada bedanya. Aku tetap... janda perawan yang menyedihkan."


"Purna," *rangnya, menarikku sedikit lebih dekat. Dengan kikuk ia bertanya, "Purna, pernikahanmu... kenapa... um...."


Aku menggeleng. "Jangan... jangan tanyakan hal ini, tolong...."


"Kemari," ajaknya.


Ram menggandengku menuju tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang dan menarikku di antara kedua kakinya, ia melepaskan mantelnya lalu mendongak menatapku, matanya gelap dan berkilau samar dalam cahaya lampu yang menyala di sisi tempat tidur. Tanpa suara, ia mengulurkan tangan dan menyusurkan jemarinya di sepanjang lenganku. Tangannya gemetar samar ketika menyentuh kulit telanjangku inci demi inci.


"Purna, kamu yakin?"


Aku menunduk menatap jari-jari Ram saat jari-jari itu turun melewati lenganku. "Ya," bisikku, memejamkan mataku. "Tanpa penolakan, aku mohon...."


Seakan telah mengatakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, Ram bangkit, melepaskan kemejanya di hadapanku lalu memutari tubuhku, dan melepaskan celananya.


"Tidak akan...."


Ram menelusuri punggungku, menyibakkan rambutku ke bahu, lalu menyapu leherku dengan kehangatan bibirnya, kemudian ia melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhku. Membuat dadaku tercetak di tangannya. Dari belakang, ia membelaiku, sementara bibirnya menyapu rambutku. Dia memang menginginkanku. Aku bisa merasakan tatapannya yang panas, memandangiku dari atas bahuku, mengamati reaksi tubuhku yang menegang dan gemetar saat ia menyentuhku. Kenikmatan itu terlalu indah untuk ditahan. Nyaris di luar kehendakku, aku merintih saat kepalaku bersandar padanya, memaparkan tubuhku dalam pandangannya.


"Ya Tuhan, Purna," bisiknya, dengan lembut mencengkeramkan telapak tangannya di dadaku. "Kamu jauh lebih cantik sekarang daripada saat pertama aku--"


Aku berbalik dalam pelukannya dan menciumnya. Aku tak ingin diingatkan akan masa lalu. Mata Ram terpejam rapat ketika aku memperdalam ciuman itu ke dalam intensitas yang membakar.


Tiba-tiba, Ram melepaskan diri dari ciumanku. Dia menatap mataku lekat-lekat ketika tangannya menelusuri bahuku yang telanjang, turun ke punggungku dan menangkup *okongku. Dengan geraman rendah maskulin yang tidak sabar, dia mendorongku ke atas ranjang.

__ADS_1


"Kamu milikku," bisiknya mengikutiku ke atas ranjang, menindihku... dengan tubuhnya. "Kamu milikku. Cahaya Purnama-ku yang terindah...."


__ADS_2