
Aku tidak tahu keyakinanku datang dari mana. Aku yakin Ram adalah belahan jiwaku -- yang pernah terenggut namun kali ini tak akan terenggut lagi. Seperti dulu, dia pria yang membuatku lupa akan segalanya dan berani menghadapi apa pun. Dulu aku lupa pada sikap keras ayahku dan berani menentang semua perkataannya, dan sekarang itu kembali berlaku. Lebih daripada itu, pria itu membuatku lupa pada rasa takut dan kekhawatiranku akan kematian tragis yang menimpa pasanganku, dan membuatku berani mengambil sikap: bahwa aku ingin merajut kembali cinta kami. Entah ini murni hanya karena cinta atau juga karena obsesi. Aku tidak peduli. Aku menginginkan cinta Ram. Aku ingin masa delapan tahun yang terbuang sia-sia itu terbayar lunas saat ini, aku ingin dicintai lagi oleh Ram.
Kalau boleh jujur, aku memang tidak membayangkan untuk sebuah pernikahan, sama sekali belum berpikir untuk menikah lagi. Tapi aku tahu bahwa aku sangat menginginkan Ram. Aku ingin bersamanya. Aku menginginkan cintanya. Aku ingin disentuh olehnya. Aku ingin kami bercinta, menyatu dan saling memiliki. Dan aku tahu aku memang sudah tidak waras. Masa delapan tahun itu telah menggerogoti jiwaku dan aku merasa... aku merasa jiwaku sudah lama mati. Dan sekarang aku tidak ingin lagi hidup seperti raga tanpa jiwa. Aku ingin hidup seutuhnya -- kehidupan dan kebahagiaan yang hakiki. Dan hidup yang seperti itu hanya kurasakan saat aku bersama Ram. Hanya kuperoleh dan akan kuperoleh dari sosok Ram. Hanya Ram.
Yah, aku orang tidak waras. Kini aku sudah tidak waras. Perempuan sinting. Dan aku bukan seorang pecinta sejati, seorang pecinta yang tulus. Jika tidak, pasti aku sudah merelakan Ram dan segera angkat kaki supaya dia tidak mati. Seperti yang kulakukan saat meninggalkan Tuan Hartawan di altar, aku tidak ingin dia mati meski alasanku seratus persen bukan karena cinta.
Bisa Kau dengar aku, Tuhan? Aku menginginkan Ram. Itu saja! Tolong kasihanilah aku.
Itu -- yang ingin diteriakkan oleh hatiku saat ini, yang dipenuhi oleh rasa jengkel.
Untungnya sebagian kejengkelan itu berkurang setelah kami berkuda melintasi padang rumput yang luas, yang dikelilingi pepohonan dan bertaburkan bunga. Ini benar-benar negeri milik Tuhan, batinku, merasakan keindahan alam itu meredakan amarahku.
Sisa perjalanan berlalu tanpa banyak peristiwa. Sudah saatnya makan siang saat kami tiba kembali ke peternakan. Tuan Hartawan bersikeras untuk makan bersamaku.
"Terserah!" kataku, kembali merasa jengkel.
Usai makan siang, kami bermain lempar anak panah bersama Nyonya Laura dan suaminya. Saat Ram melintas, aku tertawa dan berpura-pura sedang bersenang-senang. Ram memberengut marah ketika memandangku, namun ketika pria itu menghilang, aku duduk di bangku, bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin kubuktikan. Aku menyadari sikapku yang labil dan kekanakan. Alangkah bodohnya aku membuat pria itu membenciku, sesalku. Namun sepertinya aku tak kuasa menahan diri.
__ADS_1
Sesudah itu kami pergi ke bar untuk minum-minum, kemudian aku pamit untuk kembali ke pondok, bersiap-siap untuk acara makan malam.
Seraya berdiri di bawah pancuran, dengan air hangat yang menyejukkan pegal-pegal akibat berkuda selama dua jam, aku mendapati pikiranku kembali tertuju kepada Ram, sepasti malam yang mengikuti siang.
Dasar keras kepala! Kita baru saja mendekatkan diri kembali dan sekarang begini! Sialan Tuan Hartawan itu! Pilihan waktunya datang kemari sangat buruk.
Seraya membungkus rambutku dengan handuk, aku keluar dari pancuran. Aku mengenakan jubah mandi dan mulai mengeringkan rambut, bertanya-tanya bagaimana caranya aku bisa menghindari Tuan Hartawan tanpa menimbulkan keributan yang akhirnya akan mempermalukan banyak pihak.
Setidaknya bagaimana menghindarinya sepanjang sisa malam ini.
Ternyata untuk malam ini bukan masalah. Tuan Hartawan menelepon, ia berkata bahwa badannya terlalu pegal untuk keluar dari bathtub dan akan menemuiku besok pagi untuk sarapan.
Begitu selesai mengeringkan rambut, aku segera mengenakan gaun terusan berwarna merah yang kubeli di kota. Seraya mengenakan sepatu sandal, aku meninggalkan pondok dan berjalan menuju papan pengumuman untuk membaca pengumuman pertunjukan apa yang dijadwalkan malam ini. Agenda di papan pengumuman menunjukkan akan ada pemutaran film Disney di ruang rekreasi. Aku sedang tidak berniat untuk menonton film dan aku sedang mengecek acara apa lagi yang ditawarkan saat mendengar suara pembawa acara dari arah panggung.
Sembari mengikuti kerumunan orang yang menuju panggung, aku bergegas mengejar Nina Wijaya.
"Hai, Nona Purna," sapa Nina.
__ADS_1
"Hai, ada apa, sih?"
"Anda belum dengar? Proyektor filmnya rusak. Jadi bagian pengurus seni meminta idolaku mengisi acara. Itu menyenangkan, bukan? Anda tentu menyukainya."
"Ya," gumamku seraya mengikuti Nina menyusuri gang tempat kami menemukan dua kursi, di samping di dekat panggung. "Aku memang suka. Dia sangat menyenangkan."
Cahaya meredup dan penonton hening ketika Ram masuk. Aku mencondongkan tubuh ke depan, memusatkan seluruh perhatianku kepada Ram. Aku tidak mendengar kata sambutan atau hal lainnya. Yang aku lihat hanyalah Ram yang tampan dan seksi dari sebelumnya. Gairah menggelia* di dalam diriku saat menonton pria itu menyanyi. Tetapi kali ini ia membawakan sebuah lagu tentang patah hati, kebencian dan rasa cemburu. Dan aku tahu lagu itu untukku dan si Tuan Hartawan. Melihat Ram dengan ekspresi yang begitu dalam membuat bulu kudukku meremang.
Tepuk tangan membahana di seluruh penjuru ruang terbuka saat Ram selesai menyanyi.
Ram berdiri di sana, mata kelamnya nampak bercahaya oleh api dari dalam dirinya saat ia melihat ke penonton. Rasa senang merayap dalam diriku saat tatapan Ram berhenti di wajahku.
Ram mungkin masih marah, batinku. Pria itu mungkin mengira mampu meninggalkanku dan tidak menoleh lagi, tetapi aku tahu saat itu juga bahwa diriku memiliki kekuatan untuk memenangkan pria itu kembali.
Seraya mendesa* berat, aku menatap Ram. Pria itu terlihat gagah seperti seorang kesatria. Dan aku ingin sekali tersenyum saat tatapan marah pria itu memudar dan kini ia menatapku seolah aku satu-satunya orang di hadapannya, satu-satunya orang di dunia. Aku ingin ia menyadari bahwa aku berada di sini untuknya. Bahwa aku sekarang sendiri tanpa Tuan Hartawan di sampingku, meski pria itu masih ada di sini. Dan Ram pasti tahu kebenarannya bahwa pria itu tidak keluar dari pondoknya karena terlalu kesakitan akibat acara berkuda tadi pagi, bukannya sengaja membiarkan aku sendiri tanpa kehadirannya.
Suara lembut alunan gitar terdengar kembali. Ram bersitatap denganku, lalu ia mulai menyanyi sekali lagi. Aku menyadari bahwa pria itu selalu melirik ke arahku. Dan aku tahu ia menyampaikan isi hatinya melalui lirik lagu, dan itu hanya untukku. Bahwa ia hanya memperhatikan aku. Tapi ia terlalu keras kepala untuk menolak hubungan kami.
__ADS_1
Apa yang mesti kulakukan untuk meruntuhkan egomu? Membunuh sikap keras kepalamu itu, apa?