Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Tekad


__ADS_3

Seperti seorang penguntit, itu yang kulakukan sekarang karena tidak bisa mendekati Ram. Jadi aku hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan. Dan sebenarnya seraya mengaguminya, sekaligus menyesali sikap pesimisnya. Dia mungkin terlalu merendahkan diri. Padahal dia selalu hebat di mataku, tentu saja di luar sikap pesimis dan keras kepalanya itu. Tapi sumpah, di luar itu, dia sosok pria yang hebat di mataku dan aku sangat mengaguminya. Dia memang hebat. Bisnis di peternakan telah berkembang sejak ia berada di sini. Dengan caranya sendiri, ia berusaha mempertahankan adat-istiadat dan tradisi masyarakatnya. Tidak hanya itu, ia juga membantu anak-anak di pedesaan untuk merasa bangga pada warisan budaya mereka. Jadi, dengan semua itu, mestinya ia sedikit saja menghargai dirinya sendiri dan bersikap optimis, termasuk dalam menyikapi hubungan kami.


Aku jadi teringat cerita yang Ram bagi denganku kemarin malam, sebelum mengantarku kembali ke pondok, di malam sebelum Tuan Hartawan itu datang. Katanya saat mulai bekerja dan menyanyi untuk pertama kalinya di peternakan setelah ia bebas dari penjara, Ram mengungkapkan keraguannya kepada bibinya tentang tampil di panggung di hadapan orang-orang karena statusnya sebagai seorang mantan nara pidana yang membuatnya malu untuk berada di atas panggung dan tampil di hadapan orang banyak. Dia mengatakan bahwa para penonton seharusnya menyaksikan idola yang sesungguhnya, seseorang yang hebat dan cemerlang, dan bukannya seseorang dengan catatan kriminal seperti dirinya. Tetapi bibinya mengingatkan bahwa itu merupakan kesempatan bagi Ram untuk tetap mempertahankan eksistensi diri dan hobinya dalam bernyanyi, juga dalam segala urusan mengenai seni dan kebudayaan: satu cara untuk melestarikan adat-istiadat negara ini. Dan bibinya benar. Anak-anak, bahkan para wisatawan dan turis asing sering menghampirinya, ingin tahu lebih banyak mengenai adat-istiadat mereka. Para remaja tanah air yang sama sekali tidak tahu soal warisan budaya mereka memberitahunya bahwa dengan melihat pertunjukan seni yang ditampilkan di sana membuat mereka dipenuhi rasa bangga akan leluhur mereka. Ram dan pengurus penginapan lainnya juga menyediakan waktu untuk mengajari mereka beberapa langkah dasar dari sebagian tarian yang sederhana. Dan yang membuatnya merasa paling bangga adalah ketika ia mampu mengajari para pemula untuk menunggang kuda, juga keahliannya dalam mengerti bahasa hewan peliharaannya, dan saat ia mampu menjinakkan kuda-kuda liar, serta saat hewan-hewan itu menjadikan dirinya layaknya seorang teman. Lalu, yang terpenting dari itu semua, tidak ada seorang pun yang mempertanyakan latar belakangnya, apalagi latar belakang keluarganya, dan, tidak ada seorang pun yang tahu ataupun meledeknya karena ia bekas seorang nara pidana.


Ah, tentu saja, semua itu hanya berlaku di sini. Tetapi bila dia bersamaku, akan ada banyak orang yang mengorek masa lalunya, mempertanyakan latar belakang dirinya dan keluarganya, dan akan meledeknya karena masa lalunya. Tapi yang penting bukan aku, kan? Bukan aku yang akan mempertanyakan dan meledeknya. Tapi... yah, tentu saja aku yang akan menjadi penyebabnya.


Malam itu Ram mengumpulkan perlengkapannya dan meninggalkan panggung menuju pondok. Di sana ia mondar-mandir seraya terus menggerutu dengan sebotol anggur di tangannya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak membutuhkan aku dalam hidupnya. Katanya ia telah berhasil menjalani delapan tahun terakhir ini tanpa aku, ia juga akan bisa melewati delapan tahun ke depan tanpa aku. Dan aku merasa sedih. Sebegitunya dia berusaha menyangkal bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain. Bukan perkara tidak bisa hidup, tapi tentang kebahagiaan. Itu intinya. Aku tidak bahagia tanpa Ram, dan aku tahu dia pun tidak bahagia tanpa aku.


Siapa sebenarnya yang coba ia tipu? Kami sudah berusaha saling melupakan selama delapan tahun, tetapi belum berhasil, dan sepertinya tidak akan pernah berhasil.

__ADS_1


"Berengsek!" ia mengumpat. "Delapan tahun aku tersiksa karenamu Purna! Selama itu tidak satu pun hari berlalu tanpa memikirkanmu! Aku selalu ingin tahu kamu di mana, apa yang sedang kamu lakukan, aku ingin tahu segalanya! Kamu menyiksaku! Berengsek!"


Aku menangis di balik pohon. Enak saja dia marah-marah. Memangnya dia pikir aku tidak sama menderitanya seperti yang dia rasakan?


Kamu juga menyiksaku, Ram! Tapi kenapa kamu keras kepala? Kenapa kamu tidak menjadikan segalanya lebih mudah? Kamu yang berengsek. Kamu....


Kenapa kamu menginginkan itu?


"Itu mungkin lebih baik. Meskipun... meskipun dia masih memenuhi benakku, masih menjadi godaan, setidaknya... setidaknya dia menjadi sosok tak tersentuh. Meskipun akan terasa sangat menyakitkan bila aku tahu dia menjadi milik orang lain, setidaknya aku tahu dia sudah tidak berada di dalam jangkauanku lagi. Tidak bisa kupeluk lagi, dan tidak bisa... tidak bisa menciumnya lagi. Dan mungkin saja saat itu aku akan bisa melanjutkan hidupku. Aku akan memilih satu perempuan untuk menikah denganku. Dia harus terganti! Pergilah, Purna...."

__ADS_1


Dadaku dipenuhi rasa sesak karena penolakan Ram yang sebegitu besar terhadapku. Akhirnya dengan isakan tangis, aku kembali ke pondokku. Di dalam pondok, lututku menabrak sebuah kursi ketika aku meraba-raba mencari tombol lampu, tetapi rasa sakit di kakiku tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku.


Aku menenggelamkan diri di sofa dan memejamkan mata, dan pertanyaan penuh penyesalan kembali menyesakkan dada. Kenapa aku harus kembali ke tempat ini dan bertemu Ram lagi? Kenapa semua ini harus terasa begitu menyakitkan? Mungkin ayahku benar, batinku. Mungkin seharusnya aku menikah dengan Tuan Hartawan. Kami berasal dari latar belakang yang sama. Sama-sama memiliki gelar M.B.A dari Warton School of Business. Orang tuanya menyukaiku, dan orang tuaku menyukainya. Meski ia tidak akan pernah menyanyi untukku, atau berjalan bertelanjang kaki bersamaku menyusuri pantai di malam hari, tapi dia tidak akan membuatku patah hati dan tak akan pernah bersikap kasar. Sekalipun pria itu mati setelah menikah denganku, aku akan menikah lagi sampai tidak akan ada lagi pria yang berani datang kepada ayahku untuk memintaku, melamarku dan menjadikanku sebagai istri.


Amarah melanda diriku. Mengapa aku hanya duduk di sini dan mengasihani diri sendiri? Aku masih muda. Cerdas dengan gelar terhormat. Masih perawan walaupun sudah berstatus janda. Dan aku tidak jelak. Aku cantik. Jika Ram terlalu buta untuk menyadari semua itu, dia sendirilah yang rugi! Aku tidak membutuhkan Ram!


Tetapi itu hanyalah tipuan diri. Faktanya aku tahu aku membutuhkan pria itu. Dan amarahku surut dan menghilang dengan cepat. Ada satu hal lagi tentangku, batinku seraya menyereringai. Aku seorang yang ulet, keras kepala, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang aku inginkan. Dan aku menginginkan Ramana Lingga. Dan aku berniat mendapatkannya. Aku belum kalah, dan tidak ingin kalah. Setidaknya masih belum, dan belum ingin menyerah.


"Aku akan berusaha mendapatkan Ram kembali," ujarku, lalu meringis lagi, aku bertekad untuk menang.

__ADS_1


__ADS_2