
Aku terbangun oleh suara sayup-sayup para tamu D'Ranch di luar pondokku. Hari sudah hampir jam enam pagi, dan di luar sana, mentari yang hangat mulai menampakkan sinarnya. Dengan canggung, aku bertumpu di kedua siku dan melihat ke sekeliling ruangan, dengan bau manis gairah yang masih tertinggal di udara.
Aku menunduk menatap pria yang tertidur lelap di sampingku dan merasakan kerinduan tajam dan tiba-tiba, yang menentang semua logika dan ketakutanku. Bukan kerinduan akan pelepasan fisik, namun sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih sulit untuk dilihat. Kebutuhan untuk menyentuh, membaui, memeluk, dan memiliki sepenuhnya. Kebutuhan untuk tinggal -- untuk terikat dalam pernikahan.
Aku mengangkat satu tangan dan menepis juntaian rambut dari wajahku. Ya Tuhan, sudah waktunya bagi Ram untuk pergi. Takut kembali tertidur, aku duduk tegak, bangkit dari sosok tubuh Ram yang ramping dan hangat dan memaksa diriku segera turun dari tempat tidur. Kakiku menyentuh lantai, tapi, tak mampu menahan diri, aku melihat lagi ke belakang. Ram bahkan terlihat lebih tampan daripada saat ia bangun, karena dalam tidurnya, ia tampak jauh lebih santai.
Dengan mengantuk, aku meregangkan tubuh, menyentuh jari kaki, dan mempertimbangkan bagaimana sosok pria itu saat masih kanak-kanak. Kurasa pasti ia sangat menggemaskan, tidak diragukan lagi.
Sambil tersenyum, kuraih jubahku yang terkapar di lantai dan mengenakannya, membungkus kembali tubuh telanjangku kemudian merangkak kembali ke atas ranjang, menghampiri kekasihku.
Dengan lembut, aku menunduk untuk mencium pipinya. Sudah waktunya untuk ia pergi. Aku harus membangunkannya untuk melepasnya pergi dan memintanya segera pulang dengan selamat.
Ah, seolah ini untuk pertama kali, pikirku. Aku menertawai diriku sendiri. Ram pemuda tangguh yang mungkin sudah ribuan kali menaklukkan tebing tinggi. Kenapa aku mesti mengkhawatirkannya? Cemasku tak beralasan.
Well, meski sudah dicium, Ram masih tidak bergerak. Dengan sangat lembut, kuisap daun telinganya dan menggigitnya ringan. Merasakan itu, mata Ram bergetar membuka, dan dari balik selimut, ia berguling untuk menarikku kembali ke dalam pelukannya. Mengerjap, Ram menatap ke arahku. Kemudian, hampir saat itu juga, wajahnya pecah menjadi sebuah senyum mengantuk yang indah.
"Kamu sangat cantik," bisiknya, suaranya masih kental diwarnai kantuk. "Betapa beruntungnya aku karena memilikimu."
Ah, gombal! Dengan bermain-main, aku menyodok rusuknya ringan dengan satu jari. "Dasar pria bermulut manis," ledekku.
"Oh, well!" geramnya, menyeretku ke balik selimut dan merangkak ke atas tubuhku dengan seluruh bobot tubuhnya. "Demi Tuhan, akan kutunjukkan kepadamu apa itu bermulut manis, dasar gadis kecil-ku yang nakal."
Ya Tuhan, dia meluma* bibirku dengan liar. "Ingin yang lebih manis?" bisiknya. "Akan kutunjukkan.
"Oh...!"
Ya ampun, ya ampun, ya ampun....
Pria bermulut manis itu menyuruk ke leherku, menggigit dan mengisap tengkuk leherku dengan kuat. Teramat manis, dan, begitu nikmat....
__ADS_1
"Oh, hei!" aku terpekik kaget ketika Ram merenggangkan pahaku dengan lututnya dan menyibakkan bagian bawah jubahku. "Hampir jam enam. Bukannya kamu mesti pergi?"
Dia hanya menyengir konyol. Satu tangannya bergerak menuju hasratnya yang mencuat dan segera mengarahkan diri kepadaku. "Untuk sebuah ketenangan... lahir dan batin," ujarnya. "Tidak ada yang akan protes kalau aku terlambat setengah jam."
Hmm... dia kecanduan manisnya rasa bercinta.
"Akh!" napasku seketika tercekat di tenggorokan.
Gila! Dia benar-benar sudah gila! Dengan cepat dan keras, ia memasukiku dan menghunjamkan diri tiba-tiba.
"Ah... Purna," bisiknya, menunduk menatapku. "Aku tidak ingin kelembutan pagi ini. Boleh aku menggila padamu? Aku ingin bebas dan liar, dan sedikit kasar? Boleh?" Ia memperdalam lagi gerakannya, dan aku terkesiap, berjuang untuk ke belakang. "Katakan ya, Purna?"
Deg!
Ya Tuhan, sejak delapan tahun lalu aku tahu ada keliaran di dalam jiwa pria itu, hanya saja aku tidak menyangka ia akan terang-terangan mengatakannya, dan, memintanya dariku.
Dia tersenyum, lalu dengan luwes ia menarik jubahku hingga terlepas dan melemparnya ke sisi tempat tidur. "Terima kasih, Sayang," ucapnya dengan satu ciuman di puncak hidungku.
Aku mengangguk, bermaksud menyiapkan diri, tetapi...
"Akh!"
Astaga...! Lebih cepat dari dugaanku, Ram mengentakkan dirinya lagi kepadaku. "Demi Tuhan, maafkan aku, Sayang. Maaf. Ugh!"
Gila! Aku terkesiap oleh serbuan itu. Dengan terlambat menyadari bahwa tubuhku belum sepenuhnya siap. Tapi Ram tampaknya tidak memperhatikan. Dengan satu lagi bisikan maaf, ia mendorong dirinya makin kuat dan makin dalam, mengangkat dan merentangkan *okongku yang seksi untuk membuai dirinya saat tiap kali ia meluncur turun dari pinggulnya yang mengentak maju-mundur dengan kekuatannya yang maha dahsyat.
Aku mesti menyesuaikan diri dengan kegilaannya....
Saat tubuhku menjadi terbiasa lagi dengan pria itu, kakiku melingkari pinggangnya dan membuat diriku tertarik ke arahnya. Dengan tangan yang terkulai di atas kepala tanpa satu pun tempat berpegang, aku merasa begitu ringan dan terasa tanpa bobot, menggelepar dan terapung-apung dalam kelembutan ranjang sewaktu pria itu berdiri tegap dengan kedua lututnya, menjulang di atasku, membayangi tubuh telanjangku dengan wajah sebuas dan sekeras hasratnya.
__ADS_1
Sedikit takut akan intensitas yang terpancar di mata pria itu, aku melonggarkan kakiku di pinggulnya, tetapi ia justru mengangkat kakiku lebih tinggi, menaruhnya di pundak, dan, membuat serangannya lebih kencang ke dalam kelembutan diriku, membuat mulutku menganga -- menjerit tanpa suara. Di bawah tubuhku, kepala ranjang berguncang oleh kekuatan tekanan tubuhnya.
"Sssssh... arggggggg...!" Ram menggeram saat memperdalam lagi gerakannya, dan aku kembali terkesiap, membuat kakiku meluncur turun dengan sendirinya dan berlabuh di atas kedua pahanya. Lalu, dengan kasar, Ram menurunkan tangannya di bahuku, menekan bahuku dalam-dalam di ranjang, memaksaku untuk tidak bergerak, dan tidak memberiku ruang atau tempat untuk berpegang atau menghindar. Seluruh tubuhku meluap ke arahnya, dan aku merasakan ujung pelepasan berada sangat dekat. Irama gerakan Ram yang dalam berlangsung terus dan terus, tanpa ampun, seolah tanpa awal atau pun akhir.
Aaaaah... aku merasakan tubuhku bergetar saat pinggul dan bahuku tertekan oleh bobot pria itu, kekuatan hunjamannya. Dia melakukannya lagi dan lagi -- membelai, menghunjam, menggoda dengan hasrat -- intensitasnya terlalu besar untuk ditanggung. Aku merasa jiwaku akan terpisah dari ragaku, gerakannya yang berirama dan terus-menerus mendorongku ke tingkat kesadaran -- tempat di dalam diriku -- yang tak kuketahui.
Itu semua terlalu menguasai, terlalu banyak, hingga aku sampai ke puncak yang tak tertahan. Aku menjerit, sekaligus menahan suaraku agar tak terdengar sampai ke luar. "Ya! Ya!" jeritku saat ledakan terjadi di dalam diriku bersamaan desakan Ram di dalamku. "Maaaaaaas...!"
Aku memekik dalam kegelapan cahaya yang remang di dalam kamarku yang tertutup, bercampur dengan suaranya yang rendah dan parau saat pria itu mendorong, mendesak, dan menumpahkan kehangatan dirinya di dalamku. Aku terlempar ke dalam gairah yang membara. Terengah liar. Gemetar. Terbakar bersama gairahnya. Kemudian, ia menggigit kuat kulit bahuku, dan mencengkeram dadaku dengan kekuatan penuh. Dan, ia berdenyut-denyut di dalam diriku setelah pelepasan yang begitu kuat. Memaksakan hasratnya dalam-dalam di pusat tubuhku. Menekan tanpa ampun. Menyebarkan benih cinta.
Sungguh, dia memenuhi hasrat ini dalam segala cara.
Dalam kesunyian sesudahnya, aku masih bisa merasakan diamnya tubuh Ram menekan ranjang, masih bertelungkup malas di atasku, menyatu-menempel dalam butiran keringat. Memulihkan tenaga. Lalu, beberapa saat setelahnya, Ram tersenyum bahagia. Dengan enggan, ia bangkit dan turun dari ranjang, memunguti pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Mandi kilat dengan air hangat membuatnya kembali bugar. Aku sudah mengenakan kembali jubahku ketika ia keluar dengan style-nya yang keren.
"Sudah setengah tujuh. Aku harus pergi," katanya, dia menciumku, dan menciumku lagi.
Aku mengangguk, kali ini benar-benar membiarkannya pergi dengan senyuman.
"Ingat, kamu sudah berjanji untuk merindukanku."
"Aku ingat. Sekarang saja aku sudah merindukanmu. Serius. Aku akan menunggumu pulang."
"Terima kasih. Dengan kamu berada di sini, menungguku, mereka mungkin tidak akan menempuh perjalanan selama yang mereka inginkan. Karena aku ingin segera pulang." Ram menciumku sekali lagi dengan ciuman posesif yang lebih ganas, memelukku dengan begitu erat sehingga nyaris mematahkan tulang rusukku, lalu pergi.
Aku masih tersenyum saat merangkak kembali ke tempat tidur, dengan hati bahagia dan merasa... itu perpisahan yang termanis.
Dan sekarang aku butuh tidur, kembali istirahat dari rasa letih yang sampai ke tulang akibat serangan cinta dari kekasihku yang sangat liar. Luar biasa liar.
Oh... meremang aku mengingatnya....
__ADS_1