
Tanpa Ram aku memilih untuk segera tidur saja malam itu. Aku tidak tertarik untuk melakukan hal lain, termasuk tidak tertarik untuk menghadiri acara dansa malam sabtu. Jadi, setelah makan malam di ruang makan, aku segera kembali ke pondokku, berbicara sebentar dengan Ram lewat sambungan telepon, kemudian tertidur. Kami tidak bisa bicara lama-lama, sebabnya saat itu daya batrai ponsel Ram hampir habis.
Belum lama setelah aku terlelap, aku dibangunkan oleh dering telepon yang terus memanggil.
Aku mengangkat telepon itu pada dering ke-empat. "Halo?"
"Purna?"
Aku langsung terbangun duduk. "Mama?"
"Kamu harus segera pulang. Papamu...."
"Ada apa? Papa kenapa?"
"Dia masuk rumah sakit. Jantungnya... kondisinya buruk, Sayang."
"Oh... ya Tuhan...," gumamku nyaris tak bersuara. Menyadari ibuku terisak di seberang sana, aku mengerahkan seluruh konsentrasiku. "Oke," kataku cemas. "Aku akan menyewa mobil dan pulang secepatnya. Cobalah untuk tenang, ya, Ma? Aku pulang sekarang. Sampai ketemu. Bye, Ma."
Aku segera memutus sambungan telepon dan bergegas turun dari tempat tidur. Dua puluh menit kemudian, aku sudah berpakaian, berkemas, dan menunggu seseorang untuk mengantarku pulang ke Bogor. Naasnya, di luar penginapan, sewaktu aku berjalan menuju ke mobil sewaanku sambil berusaha menghubungi Bibi El untuk berpamitan dan menitip pesan untuk Ram, ponselku malah dirampas oleh dua remaja bersepeda motor.
Tercengang. Aku kebingungan untuk sesaat. Tidak tahu mesti berbuat apa pada saat itu, tidak mungkin mengejar dua remaja bermotor itu ataupun kembali masuk ke peternakan dan menemui Bibi El yang sudah istirahat di pondoknya, dan kebetulan mobil sewaanku pun sudah tiba dan menungguku, aku memutuskan untuk langsung masuk ke mobil dan berangkat.
Dalam perjalanan pulang ke Bogor, aku begitu cemas memikirkan kondisi ayahku. Aku nyaris tidak mempercayai hal ini. Ayahku selalu tampak begitu kuat dan tangguh. Sebagai gadis cilik yang selalu dimanja oleh ayahku, aku sangat mengidolakan ayahku. Dia selalu ada untukku, menghiburku ketika aku sedih, menemaniku ketika aku meminta waktunya, dan memberikan apa pun yang kuminta tanpa peduli seberapa banyak uang yang mesti ia habiskan untukku. Aku berharap ia akan baik-baik saja dan aku ingin sempat mengatakan kepadanya bahwa aku sangat menyayanginya. Tapi bagaimana bila aku tidak punya kesempatan itu lagi?
Hari sudah sangat larut ketika aku tiba di rumah, meninggalkan barang-barangku begitu saja di depan pintu dan segera menyambar kunci mobilku, lalu berlari lagi ke luar.
Aku kesal, waktu itu lalu lintas masih saja padat hingga larut, menambah ketegangan yang membuat sarafku semakin tegang setiap menitnya. Aku mengemudi dengan kedua tangan pada roda kemudi, semua perhatianku terfokus pada jalanan di depanku. Aku tidak boleh memikirkan kondisi ayahku, tidak sekarang dalam perjalanan ini, atau aku akan menangis dan membuyarkan konsentrasiku di jalanan yang masih dipadati kendaraan roda empat.
Aku berhenti di area parkir rumah sakit beberapa belas menit kemudian dan memarkir mobilku. Seraya mengambil napas dalam-dalam, aku turun dari mobil dan bergegas melintasi area parkir menuju lobi.
Seorang resepsionis duduk di balik meja lengkung. Wanita itu menengadah begitu mendengar langkah kakiku. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Bisa tolong beritahu di mana kamar Tuan Adrian Mahardika?"
Sang resepsionis itu memeriksa kartu arsip pasien. "Beliau berada di lantai tiga di Instalasi Perawatan Intensif."
"Terima kasih."
Aku bergegas menuju lift yang sudah terbuka, melangkah masuk dan menekan tombol 3, lalu mengepalkan kedua tangan saat lift itu bergerak naik. Sejurus kemudian, aku keluar dan menyusuri lorong lebar, mengikuti anak panah menuju ICU dan mendapati ibuku sedang duduk di kursi di luar ruangan berpintu ganda.
"Ma...."
"Purna." Ibuku bangkit dan bergegas ke arahku.
"Maafkan aku." Aku melingkarkan lengan ke tubuh ibuku dan memeluknya dengan erat. "Maaf karena membiarkan Mama sendiri menghadapi situasi seperti ini."
Ia hanya mengangguk.
"Bagaimana kondisi Papa?"
"Buruk. Dokter dan perawat hanya mengizinkan Mama masuk selama lima menit setiap jamnya."
"Mama sendiri, apa Mama baik-baik saja? Lalu yang lain, apa sudah dikabari?"
Aku membimbing ibuku kembali ke deretan kursi di sepanjang dinding dan kami duduk bersebelahan sembari bergenggaman tangan. Ibuku tampak lelah. Ada bayangan gelap di bawah matanya, dan rambutnya yang biasanya tampak rapi sekarang sedikit acak-acakan.
"Oom Rudy dan Tante Linda akan datang besok pagi. Setya dan Dini pergi berlibur bersama anak-anak mereka. Mereka sedang berkemah di gunung. Tidak baik membuat mereka khawatir dan mesti turun gunung malam-malam begini."
Aku mengerti. "Lalu Kak Pram?" Kakak sulungku, pengacara di Jakarta.
"Dia akan datang secepatnya bersama Niki dan anak-anaknya."
__ADS_1
Aku mengangguk lemah, lalu termenung sejenak. "Apa yang terjadi? Papa tidak pernah sakit satu hari pun sepanjang hidupnya."
Air mata menetes di pipi ibuku. "Tidak tahu, Sayang. Papamu sedang di kantor. Mama dikabari saat ia dilarikan ke rumah sakit. Kata sekretarisnya, papamu sudah tergeletak di lantai saat dia masuk ke ruang meeting, kepalanya terbentur tepi meja. Ada luka yang cukup parah di bagian belakang kepalanya."
"Apa Papa ada masalah di kantor?"
"Tidak tahu, Sayang. Semoga saja tidak."
"Em, semoga."
"Kata dokter, kondisi jantungnya mungkin sudah cukup lama memburuk. Dokter malah terkejut kalau papamu tidak mengalami serangan jantung sebelumnya. Kamu tahu, kan, bagaimana papamu itu? Dia tidak pernah pergi mengontrol kesehatannya seperti seharusnya, tidak pernah berlibur, dan dia merokok terus meski Mama sudah menasihatinya, bahkan sudah memohon." Ia merema* tanganku. "Mama sangat takut."
Aku juga sangat takut. Tapi aku harus menenangkan Mama. "Kita hadapi ini sama-sama. Kita berdoa yang terbaik untuk Papa."
Ibuku terisak seraya memaksakan seulas senyum di antara air mata. "Mama senang kamu ada di sini. Bagaimana hari-harimu di peternakan wisata itu? Kamu bersenang-senang di sana?"
Aku mengangguk. "Dia ada di sana, Ma."
"Hartawan? Ya, Mama tahu. Dia menelepon."
"Bukan. Bukan dia. Tapi Ram."
"Ram? Mantan pacarmu itu? Dia ada di peternakan wisata itu? Apa itu alasanmu pergi ke sana?"
"Bukan. Bibinya pemilik peternakan itu. Aku tidak tahu dia akan berada di sana."
"Apa dia alasanmu meninggalkan Hartawan dan membatalkan pernikahan kalian?"
"Aku masih mencintainya, Ma. Bahkan sekarang... lebih dari sebelummya. Aku sangat mencintai Ram."
Aku tahu ibuku akan kebingungan mendengar hal ini.
"Purna, Sayang...."
"Well, apa pun yang kamu lakukan, jangan ceritakan hal itu kepada papamu. Jangan sekarang."
Percakapan selesai!
Aku mengajak ibuku ke kafeteria untuk makan malam karena sewaktu kutanya ternyata ia belum makan, jadi aku memaksanya meski ia tidak berselera. Aku mencoba memancing percakapan, berharap kami bisa mengalihkan pikiran kami dari kondisi serius ayahku, tetapi dengan cepat aku kehabisan bahan pembicaraan. Seolah tidak ada hal lain yang penting, apalagi dengan kondisi ayahku yang sedang sekarat.
Malam itu terasa panjang. Ibuku masuk melihat ayahku begitu kami kembali ke lantai atas, setelah dia keluar, giliran aku yang masuk. Aku terkejut melihat ayahku yang nampak berbeda dari ia yang biasanya. Terlihat kurus, pucat, dan dingin, pipinya cekung. Ia dikelilingi layar monitor, dengan slang dan tabung di mana-mana. Sungguh merupakan pemandangan mengerikan untuk dilihat.
Setelah aku kembali ke luar, aku duduk di salah satu kursi yang keras itu dan memikirkan Ram. Dia pasti sudah berbaring di dalam kantong tidurnya, di bawah bintang-bintang. Apakah dia memikirkan aku? Dan sekarang aku kembali ke sini. Aku takut, aku jadi memikirkan apakah kami sungguh-sungguh memiliki kesempatan untuk memperbaiki apa yang terjadi di antara kami? Latar belakang kami begitu berbeda, tapi apakah hal itu penting bila kami saling mencintai? Ram seorang pria yang cerdas. Dia tidak akan kesulitan memperoleh pekerjaan di kota ini seandainya dia mau. Kami bisa tinggal di apartemen yang dekat dengan rumah orang tuaku. Dan aku juga bisa bekerja. Tapi itu rasanya mustahil. Kemungkinan besarnya Ram ingin tinggal di peternakan. Dia tidak akan meninggalkan Bibi El yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri -- bahkan, dia lebih menyayangi Bibi El daripada ibu kandungnya sendiri. Dan sebenarnya aku tidak masalah dengan hal itu. Aku akan mencoba dan bersedia menyesuaikan diri jika itulah yang Ram inginkan. Masalah sebenarnya adalah restu orang tua kami. Tapi, aku bertekad kali ini, sama seperti dulu: cepat atau lambat, keluarga kami harus menerima hubungan ini, jika tidak...
Aku tidak mau memikirkan hal itu. Aku menyayangi kedua orang tuaku, dan aku tahu bahwa Ram juga menyayangi dan menghormati ibunya. Entah bagaimana, aku akan membuat hubungan ini berhasil. Tidak peduli pada apa pun!
Aku mengerjap manahan air mata agar tidak jatuh. Tapi sia-sia. Aku menangis sepanjang malam, dan tidak bisa tidur hingga pagi akhirnya datang. Aku sengaja menunggu jam sembilan untuk meminjam ponsel ibuku, untuk menelepon ke peternakan. Aku tidak menyimpan nomor ponsel Ram ataupun nomor ponsel Bibi El di buku catatan, dan aku tidak ingat kontak mereka. Aku mesti browsing dari internet untuk mendapatkan nomor kontak peternakan. Begitu aku mendapatkannya, aku langsung menelepon.
Wanita di ujung telepon yang biasanya melayani di meja resepsionis menyapa dengan profesional ketika menerima telepon dan aku mengatakan aku ingin bicara dengan Bibi El. Resepsionis itu memintaku menunggu sebentar persis ketika aku mendengar suara Ram yang cemas dan bicara dalam nada tinggi.
"Pergi? Apa maksud Bibi, dia sudah pergi?"
"Tenanglah, Nak...."
"Ke mana dia pergi?"
"Bibi tidak tahu. Dia belum mengabari. Semalam dia hanya mengembalikan kunci ke meja resepsionis."
Ram mengumpat seperti kebiasaannya. Aku tahu ia kesal. Aku memahami. Dia telah menghabiskan dua hari terakhir, sejak kemarin hingga detik ini, untuk memikirkan bahwa aku sedang berada di sana, sedang menunggunya. Barangkali ia selalu menghitung setiap detiknya untuk bisa bertemu denganku lagi, tetapi aku sekarang bahkan tidak berada di sana. Aku tahu begitulah persis pikirannya.
"Aku akan menemuimu lagi nanti," kata Ram, membuatku kembali tersadar dengan situasi dan cepat-cepat bicara ke resepsionis yang sedang menunggu Bibi El untuk menerima telepon.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa aku berkata, "Tolong berikan teleponnya ke Mas Ram."
Tapi sepertinya kata-kataku tak terdengar oleh resepsionis itu. Dia memanggil Bibi El dan mengatakan ada yang ingin bicara di telepon.
"Halo?"
"Bibi ini Purna," sambarku.
"Purna?"
"Aku ingin bicara dengan Ram. Tolong?"
Aku bisa menebak Bibi El melambaikan tangannya dan mengangkat gagang telepon tinggi-tinggi ketika ia memanggil nama keponakannya itu.
Kuharap dia segera menoleh dan melihat bibinya dari bahunya yang tegap. Kumohon....
"Dari Purna...," Bibi El berteriak.
Harapanku terkabul.
Ram mengambil napas dalam-dalam saat meraih gagang telepon sehingga aku bisa mendengar *esahannya dengan jelas. "Halo?"
"Mas, hai."
"Hai juga."
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku. "Kamu terdengar...."
"Jelas. Karena tadinya aku berharap kamu berada di sini saat aku pulang." Dia tertawa getir. "Kamu mulai punya kebiasaan selalu melarikan diri."
Aku terpancing. "Menurutmu itu yang kulakukan?"
"Memangnya bukan? Heh?"
Berengsek! Dia membuatku kesal. Nada bicaranya terdengar mencemooh.
"Bukan."
"Jadi kamu tidak melarikan diri? Lucu! Aku tidak melihatmu di sini."
"Mas," kataku, berusaha menahan amarah, "kalau kamu mau mendengarkan...."
"Teruskan, aku mendengarkan, apa alasanmu kali ini?"
"Aku pulang ke Bogor. Ayahku terkena serangan jantung."
Ram mengumpat lirih.
"Aku tahu seharusnya aku meninggalkan pesan. Tapi kupikir aku akan menghubungi Bibi El via telepon, tapi tidak bisa. Ponselku dijambret orang sewaktu aku keluar dari peternakan. Aku baru bisa menelepon sekarang."
Tak bisa kutahan, aku menangis karena sikap Ram yang menganggapku sama seperti Purna yang dulu.
"Purna, Sayang, maafkan aku."
"Kondisi ayahku buruk. Aku mesti pulang."
"Purna, Sayang, dengar, aku--"
"Sori, mamaku memanggil. Aku harus pergi. Dah, Mas."
Aku langsung menutup panggilan telepon dan berusaha menahan air mata ketika kembali ke ICU. Kakak sulungku dan kakak iparku beserta ketiga anak mereka tiba belum lama. Oom Rudy dan Tante Linda tiba tidak lama setelah itu. Mereka duduk bergerombol, mengobrol, sembari minum kopi dari gelas plastik. Aku duduk di sebelah ibuku, berharap andai saja Ram berada di sini bersamaku, memberiku kekuatan, untuk meyakinkanku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dan jika semuanya tidak berakhir dengan baik... saat itu aku membutuhkan bahu yang kuat sebagai tempat mencurahkan kesedihan. Tetapi Ram tidak berada di sini, dan begitu mendengar nada bicara pria itu tadi di telepon, aku tidak jadi memintanya untuk datang dan menemaniku di sini.
__ADS_1
Aku menahan air mata dan memaksakan diri memusatkan perhatianku pada pembicaraan yang sedang berlangsung. Aku tidak boleh menjadi lemah, tidak sekarang, apalagi pada saat ibuku membutuhkan kekuatanku. Tetapi aku tidak merasa kuat. Hanya merasa sedih, takut, dan kesepian. Dan yang membuat hatiku bertambah perih, aku melihat tatapan marah di mata kakak sulungku yang mengatakan bahwa akulah penyebab ayahku jatuh sakit.
Dan sepertinya memang seperti itu. Dia tidak menyapa, memeluk, ataupun menanyakan kabarku. Dia juga tidak tersenyum kepadaku. Dan enggan menatap kepadaku. Aku merasa asing di sini. Begitu asing....