Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Benih-Benih Cinta


__ADS_3

Ram menurunkanku di depan pondok yang kutempati saat kami kembali ke peternakan, lalu ia kembali ke penginapan untuk menurunkan barang-barang persediaan dari truknya. Dari caranya yang tidak bicara denganku di sepanjang perjalanan pulang dan tak mengatakan apa pun saat aku turun dari truknya, dia pasti berpikir: dari semua nasib yang menyedihkan, pasti nasibnya-lah yang paling buruk. Dan dia pasti mempertanyakan mengapa aku muncul di sini, dari semua tempat yang ada? Aku tidak lebih dari seorang gadis cilik saat ia bertemu denganku sebelum ini, berumur enam belas tahun sementara ia sendiri sembilan belas tahun. Tetapi sekarang kami telah sama-sama dewasa dan kembali bertemu dalam situasi sebagai sepasang mantan kekasih.


Menyingkirkan akan buruknya suasana hatiku saat ini, aku pun lekas-lekas bersiap untuk ikut berkuda. Hingga setelah beberapa menit berlalu, aku sudah siap dengan pakaian berkudaku, tentu lengkap dengan sepatu bot dan topi koboi di atas kepala.


Seraya terburu-buru, aku menuruni tangga dan menyusuri jalan setapak. Aku tak dapat memikirkan hal lain yang lebih buruk daripada perjalanan dengan Ram tadi hingga tahu-tahu aku telah tiba di area kandang kuda dan mendapati Ram sedang menunggu di sana bersama enam tamu lainnya. Mataku membelalak begitu melihatnya, dan ia pasti tahu dari reaksiku bahwa aku tidak berada di sana karena sengaja ingin bertemu dengannya. Memang bukan karena itu. Bukan.


Merasa gugup, aku berusaha menenangkan diri dan menghela napas dalam-dalam. Berusaha mengabaikan sesuatu yang terjadi di dalam diriku akibat hal yang tak terduga ini.


Ram dan satu karyawan lain sudah menyiapkan kuda-kuda sebelum aku datang. Kuda-kuda itu terikat di pagar kandang dengan ekor yang mengibas malas. Kemudian ia mengangguk ke arah para penunggang kuda. Perjalanan berkuda ini khusus ditujukan bagi orang dewasa. Pasangan paling muda berusia pertengahan dua puluhan, pasangan paling tua berusia enam puluhan. Aku satu-satunya orang yang tidak memiliki pasangan.


"Selamat siang semuanya," pria itu mulai berpidato, membuatku menciut.


Benar-benar dia yang akan memandu perjalanan ini, batinku lirih.


"Apakah ada di antara kalian yang sudah tahu cara berkuda? Tidak ada? Baiklah, tidak apa-apa, begitu hari ini berakhir, saya sangat yakin, kalian semua akan menjadi koboi yang mahir. Pertama-tama kita akan belajar bagaimana memasang pelana. Jangan khawatir mengenai kuda-kuda ini. Ini kuda-kuda terlatih."


Ram menghabiskan beberapa menit untuk memasang-masangkan kuda dengan penunggangnya, menyisakan kuda favoritnya untukku. Tetapi ketika ia sampai di hadapanku, aku menggeleng. "Tidak usah," tolakku. "Aku sudah memutuskan untuk tidak berkuda hari ini."


Kupikir seharusnya dia lega, tetapi tidak begitu. Dia malah bertanya, "Kamu takut berkuda berdua denganku?"


Aku mengangkat dagu dan meluruskan bahu. "Tentu saja tidak." Karena itu memang keinginanku. "Tapi, ya, aku hanya mengira kamu sudah cukup bertemu denganku dalam satu hari ini. Aku khawatir kamu akan bosan melihatku."


"Sayang," ujarnya, suaranya rendah sehingga hanya bisa didengar olehku, "percayalah, kau selalu tidak pernah cukup bagiku. Tidak akan pernah cukup. Dan aku tidak akan pernah merasa bosan denganmu."


Uuuh... kata-kata pria itu menciptakan rasa hangat di seluruh tubuhku. Terpesona, aku hanya dapat menatapnya dengan jantung berdebar liar.

__ADS_1


"Jadi," ia berbisik mesra, "kau akan berkuda siang ini, atau kau akan melarikan diri lagi?"


"Aku tidak pernah...." Aku menggigit bibir. "Aku akan berkuda, Tuan Ram."


"Baiklah, para cowboy." Pria itu mengangguk kepadaku. "Dan cowgirl. Saya akan menjelaskan...."


Ya Tuhan... aku terpesona....


Pria itu patut diberi pujian karena tidak menampakkan rasa puas diri. Sembari mengambil selimut dan meletakkannya di atas pelana, dia menahannya. "Begini cara kita memasang pelana kuda. Selimut terlebih dahulu." Ia meletakkan selimut itu di punggung kuda yang ia pilih untukku. "Pastikan untuk meratakannya. Sebuah kerutan di selimut akan membuat kuda tidak nyaman dan dapat menyebabkannya terluka."


Ram menyusuri barisan, memastikan semua orang memasang selimut dengan benar, sebelum kembali ke kuda tungganganku.


"Baiklah, berikutnya pelana. Pastikan pelana diletakkan tepat di tengah-tengah, lalu ikat dengan kencang. Jika kuda tidak bisa diam, Anda perlu menepuk-nepuk perutnya untuk membuatnya tenang. Kalau tidak, Anda tidak akan dapat mengikat pelana dengan benar."


Setelah itu, sekali lagi ia berjalan menyusuri barisan, memastikan semua ikatan telah dikencangkan dengan benar.


"Baiklah, mari kita mulai. Pegang tali kekang, letakkan kaki kiri kalian di sanggurdi dan angkat tubuh kalian ke atas pelana. Berpeganglah di ujung pelana jika perlu." Dia memperhatikanku saat aku naik ke atas kuda. "Ya, benar begitu, Sayang." Kemudian ia berbisik, "Namanya Ram, dan kau sudah menungganginya."


Eh? Dasar...! Aku nyaris terbahak karenanya.


Ketika semua penunggang sudah berada di punggung kuda, Ram menaiki kudanya sendiri, yaitu seekor appaloosa yang kurus dengan surai yang dipotong pendek dan ekor yang tebal. Kuda itu tidak kelihatan bagus, tapi kuda itu adalah kuda jelajah terbaik di peternakan.


Ram menoleh ke balik punggungnya untuk memastikan semua orang sudah siap. "Kalau kalian ingin berbelok ke kiri, tarik tali kekang sebelah kiri. Kalau kalian ingin berbelok ke kanan, tarik tali kekang sebelah kanan. Tarik kedua sisi tali kekang pada saat bersamaan bila ingin berhenti. Jangan mengentak tali kekang. Ada pertanyaan?"


"Apakah kita akan melihat hewan liar?" pertanyaan itu datang dari seorang pria paruh baya dengan kamera tergantung di lehernya.

__ADS_1


Ram meringis. "Itu tergantung pada jenis hewan liarnya, tapi biasanya kita bisa melihat unggas-unggas yang cantik pada saat-saat seperti ini."


"Apakah kudaku punya nama?" pertanyaan itu datang dari pasangan wanita berusia pertengahan dua puluhan.


Ram tersenyum. "Dandy."


"Dandy. Terima kasih." Wanita itu balas tersenyum.


Ram mengangguk. "Ada lagi?" tanyanya. "Baiklah, semua siap?"


Ada anggukan dan acungan ibu jari berselingan dengan seruan "Oke" dan "Ayo kita pergi". Seraya melirik ke arahku, Ram mengetukkan kakinya pada Dakota dan kuda besar itu melangkah. Seorang koboi lain, Emil Akbar, mengikuti di belakang.


Jalur untuk penunggang pemula mudah. Jalur itu menyusuri aliran sungai kecil kurang-lebih sepanjang satu setengah kilometer, lalu tiba di sebuah percabangan. Aliran di sebelah kiri menuju ke hutan belantara. Aliran ke kanan membuat putaran yang menuju kembali ke penginapan. Sekitar satu mil di depan percabangan, jalur itu menanjak landai menuju ke punggung bukit yang datar. Ram berhenti di puncak itu sehingga penunggang lainnya bisa memandang peternakan dan pedesaan. Dari sana, kami menuruni lembah dan berkuda melewati padang rumput ke sebidang hutan. Di sinilah kami melihat banyak jenis unggas. Tupai sering kali terlihat di sepanjang jalur. Dan elang sering terlihat melayang mengikuti arus angin.


Di puncak bukit, Ram bertukar posisi dengan Emil. Menjadi penjaga di belakang di mana aku adalah penunggang terakhir, dan kurasa jika aku tidak salah menilai, dia pasti tidak kuasa mengalihkan tatapannya dariku sebagaimana tadi yang kurasakan saat ia berada di depan. Saat ia berkuda dengan santai di atas pelana, bergoyang seirama dengan gerakan kuda. Ia duduk dengan santai dan rasanya menyenangkan menatapnya, bahkan dari belakang. Pasti demikian juga yang ia rasakan saat ini di belakang sana. Menatapku... dengan sepasang mata elangnya.


Dan aku benar. Begitu aku sengaja menoleh ke belakang dengan tiba-tiba, pria itu tertangkap basah sedang menatapku seolah aku sang dewi yang turun dari kayangan.


Bingo!


Dia ketahuan!


Tersipu malu, Ram memalingkan wajahnya dariku. Dan begitu ia memutuskan untuk sejajar denganku, dia berkata, "Aku tidak menatapmu. Jangan GR!"


Haha! Dasar kekanakan!

__ADS_1


__ADS_2