Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Malam Purnama


__ADS_3

Wajahku memerah. Tanpa drama dan air mata, konsentrasiku terkerah sepenuhnya, dan aku sepenuhnya tersadar akan situasi di antara aku dan Ram. Tiba-tiba aku merasa kikuk saat menyadari kini aku terbaring telanjan* bersama seorang pria, yang tak pernah terjadi sebelumnya bahkan setelah tiga kali menikah. Aku menyadari bahwa pria tampan yang kucintai itu menatap terpana pada keindahan tubuhku, di bagian dadaku. Dia mengurung tubuhku di antara lengannya, kemudian ia menunduk untuk menciuminya, menggigit lembut, mengisapnya hingga kehangatan gairah yang asing mengalir dan menyiksaku dengan rasa yang begitu indah.


Oh... aku tergelitik saat pria itu membelai lekukan di perutku, lalu menyelinap ke dalam lekukan selembut sutra... untuk menyentuh apa yang bagaikan inti dari jiwa seorang wanita....


Rasanya tak tertahankan. Begitu menguasai. Aku terkesiap samar dan mencoba menyentakkan diri menjauh.


Tapi Ram menahanku dengan satu tangannya, dan menggeram di dadaku. Suara kenikmatan intens terdengar dari dalam kerongkongannya. Dia menyapu kembali bagian menakjubkan itu dengan jemarinya, hingga aku terisak penuh kenikmatan.


"Oh... oh...." Aku bernapas dalam cahaya remang. "Hentikan, Mas...!" *rangku. Terbakar oleh rasa malu dan kenikmatan, dan tanpa sadar tumitku menekan kuat ke ranjang, melengkung kuat dengan tanganku. Mencari-cari, penuh hasrat.


Tetapi pria itu tak mau berhenti. Dan memang tak harus berhenti. Tidak boleh berhenti.


Malam ini milik kami, dan ia meluncur turun lalu menguburkan wajahnya dalam lekukan di antara tungkai kakiku. Kuat dan berat, tangannya menyelinap ke paha bagian dalam, merentangkanku, dan, ia menghunjamkan lidahnya ke dalam kelembapan itu.


"Oh....!"


Betapa liar dia malam ini. Lidahnya meliuk masuk ke dalam diriku, mencari-cari hingga menemukan tempat yang telah ia sentuh dengan jemarinya. Membuatku memekik tertahan. Pinggulku kembali melengkung di atas ranjang, tapi lengan kuat pria itu memaksaku turun kembali. Dengan sengaja dan manis, ia menyiksa diriku, terus mencumbuku dengan keliarannya. Dengan rakus ia mengisap, menghirup hasratku, menguasai bagian terlarang itu. Dan membuatku bertanya-tanya, bagaimanakah rasanya saat ia mengoyak masuk ke dalam kepolosan yang begitu murni? Bisakah aku menangung rasa sakitnya?


Tapi aku sudah terbakar. Aku ingin Ram mengambilnya, membuatku menjadi miliknya. Tak ingin ada yang menghentikannya. Tidak dirinya sendiri. Aku sudah tidak bisa menahan hasratku lagi. Aku menggelia*-lia* di atas ranjang, dengan napas cepat dan serak, menggumam tidak jelas, mencengkeram penutup ranjang, dengan rambut hitam tergerai kusut di atas bantal dengan semaraknya. Dalam cahaya temaram, kulitku berkilau, dengan keindahan lekuk tubuh yang halus dibanjiri semburat merah muda. Aku ingin malam ini sempurna.


Dengan rintihan tertahan, Ram memejamkan matanya dan merasai diriku dalam-dalam, barangkali sama sepertiku: mengingat delapan tahun panjang khayalan penuh nafsu -- mimpi panas yang obsesif -- yang tak satu pun bisa dibandingkan dengan kenyataan ini.


Ram sudah berkeringat, dan aku yakin ia sudah terangsan* dan menegang sepenuhnya. Namun, ia masih menahan dorongan untuk menguasaiku, ia menyentuhku lagi dengan lidahnya, membelai dan menggoda. Dia telah menjanjikan kenikmatan, dan aku mesti mendapatkannya, meskipun tubuhku bisa meledak akibat pertarungan panas malam ini.


Dan itulah kebenarannya. Aku ingin meledak. Pelepasan itu datang menguasaiku dengan cepat, meninggalkan diriku bergidik dan gemetar, membuat tubuhku terasa kaku. "Ah...." Napasku memburu dan terasa sesak. "Mas...," *rangku, kian erat mencengkaram penutup ranjang.


Sebagai balasannya, Ram bergerak naik di tubuhku dan memeluk seluruh tubuhku hingga getaran itu mereda. "Rasamu membuatku tergila-gila," bisiknya serak, menimpakan seluruh berat tubuhnya kepadaku, mendesakku turun ke dalam ranjang yang hangat.


Dan dia membuatku takut, takut ia berhenti dan memutuskan bahwa ini selesai -- sudah selesai tanpa ia harus benar-benar menyatu denganku. Dan rasa ini menakutkan.


"Masuklah," akhirnya aku berbisik, suaraku serak dan asing. "Aku ingin kita menyatu sempurna. Please. Aku tahu ini salah, tapi aku menginginkanmu sepenuhnya. Jangan sakiti perasaanku dengan... dengan penolakanmu. Aku mohon...."


Di belakang kepalaku, aku merasakan tangan kekasihku itu mengejang saat ia memelukku dan menekankan pipiku di dadanya. Dia menutupiku dengan tubuhnya dan menciumku kembali. "Aku tidak akan menyakiti perasaanmu. Tidak pernah berniat sekali pun," gumamnya ke dalam helaian rambutku, kemudian Ram mengangkat tubuhnya, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan merentangkan kakinya di sela tungkaiku, dan ia menyelinap masuk kali ini -- ke dalam kehangatanku, menekan ke batas yang menahannya mencapai dasar. Keras dan berdenyut.


Aku bergidik merasakan sensasi baru itu, sensasi tubuh Ram yang berat dan panas membakar diriku. Ini terasa menyenangkan. Manis dan sempurna. Yang kunantikan seumur hidupku.


Ram bertahan. Perlahan ia menarik diri, dan aku menjerit, tersengat oleh kekosongan, oleh sesuatu yang amat sangat kuharapkan tapi terlepas dari diriku.


"Ssst...," desisnya.


Aku menggeleng-geleng frustrasi, tetapi Ram dengan cepat membungkamku dengan ciumannya. *elumatku hingga aku terdiam. Dengan tangan memosisikan gairahnya, ia mendorong masuk kembali, kembali menyelinap dalam-dalam. Lagi, dan lagi, sedikit demi sedikit mencapai ke batas yang menahan antara ia dan dasar kedalaman surgaku. Asing. Dan menakjubkan.

__ADS_1


Namun aku menginginkan sesuatu yang lebih. Ketuntasan. Penyatuan sempurna tanpa batas penghalang. Kepala Ram tertunduk, matanya terpusat pada penyatuan itu, dan ia mulai bergidik, ototnya mengencang.


"Please," aku *endesah, penuh harap.


"Ini akan membuatmu kesakitan," bisik Ram, suaranya tegang.


"Aku akan menahannya. Aku mohon, please... sekarang, seluruhnya."


"Oh, Tuhan, Purna. Aku merasa seperti seorang bajingan--"


"Akan lebih menyakitkan kalau kamu menolakku! Akh!"


Pria sialan! Kenapa dia tidak bisa melakukannya dengan manis? Kenapa mesti kuteriaki lebih dulu dan dia menyerangku tiba-tiba begini? Argh!


"Ya Tuhan, apa kamu kesakitan?" tanyanya khawatir.


Aku menggeleng, mengalungkan lenganku di lehernya dan berkata, "Cintamu tidak akan menyakitiku. Hmm? Please...?"


Ram mengangguk samar. Sambil menatap lekat kedua mataku, ia menyelinap masuk ke dalam. "Aku mencintaimu," bisiknya. Ia menyelipkan kedua tangannya di bawah punggung dan leherku, dan ia menekankan dirinya kuat-kuat.


"Eummmmmmm...." Mataku terpejam. Aku berjuang menahan rasa sakit dari gerakan dan tekanannya yang berusaha mengoyakkan keperawananku.


"Akh...!" aku menjerit, kesakitan, napasku tercekat di tenggorokan. "Ouch... sakit...."


Ada sekilas rasa nyeri yang luar biasa, tajam, menyerbu dengan intens.


"Ya Tuhan," Ram mengeran* pelan, kepalanya terlempar ke belakang, matanya terpejam erat, urat di lehernya menyembul dan licin oleh keringat. "Purna... kamu terluka?" bisiknya parau, suaranya lemah, tubuhnya gemetar oleh apa yang terasa bagaikan upaya yang melampaui batas manusiawi.


Mataku mengerjap. "Aku--aku baik. Aku baik-baik saja," aku berhasil bicara, merasakan dirinya mendenyar dan berdenyut di pintu masuk rahimku.


"Apa sakit?"


Kugelengkan kepalaku dengan lemah. "Sedikit," kataku. Rasa sakitku sudah berkurang, tubuhku telah menerima Ram sepenuhnya. Dan aku menginginkan sensasi itu kembali: sensasi saat tubuhnya yang keras dan panas menyelinap masuk ke dalam diriku.


"Aku mencintaimu," bisiknya lagi, kembali bergidik dengan getaran yang terasa hingga ke tulang.


Dan aku mencoba bergerak...


Membuat pria itu terkejut. "Tidak! Tidak!" teriaknya dalam suara tertahan, menekan kembali pinggulku dengan keras di ranjang. "Oh, Sayang, jangan... jangan bergerak," bisiknya serak. "Jangan tarik dirimu, Purna. Dan jangan dorong. Kumohon jangan bergerak."


Aku terdiam, ruangan kecil itu seketika hening sempurna, kecuali deru napas kasar yang keluar masuk dari dada pria-ku itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku halus, menggapai ke atas untuk menyisihkan tirai lebat rambut dari wajahnya. "Apa kamu menyesal? Apa... kamu merasa tidak senang?"


Dia memberiku senyuman, diusapnya pipiku dengan sayang. "Jangan tersinggung," katanya. "Ini terlalu menyenangkan. Amat sangat menyenangkan. Kupikir aku bisa mati."


Aku mengangguk. Mencoba melakukan seperti yang ia minta dan berbaring diam di bawah himpitan tubuhnya.


Ram mengecup hidungku. "Perlahan, Sayang," gumamnya, lalu ia bergerak sekali dengan penuh gairah di tubuhku, di atasku, manis dan nyata. Sensasi membutakan bergerak mendekat. Dalam keheningan, Ram mengeran*, dengan suara halus tersiksa dari seorang pria yang didorong melalui batasan dirinya.


"Jangan berhenti," rintihku, kembali tersiksa rasa putus asa. "Jangan berhenti, please...?"


Ram menatapku, matanya melebar dan kelam memperingatkan. "Tidak akan," bisiknya parau. "Hanya saja... biarkan aku melakukannya, dan... nikmati saja momen ini, oke?"


Aku mengangguk tanpa suara, dan Ram mendorong masuk ke dalam-ku lagi. Sempurna. Mencapai dasar. Dan teramat manis. Membuatku tanpa sadar menggapai ke arahnya, mencengkeram otot bahunya yang kencang tanpa daya. Bahkan, begitu kusadari, aku mendapati diriku bergayut di tubuhnya, mengangkat diriku tinggi ke arahnya, mendesaknya untuk bergerak di tubuhnya, untuk memberiku apa yang telah pria itu berikan sebelumnya.


"Ya Tuhan, beri aku kekuatan," gumamnya, menundukkan kepala dan menarik dirinya keluar dengan belaian hangat bak sutra di tubuhku. Kembali, dia menghunjamkan dirinya ke dalam diriku.


Oh... dia membuatku mengeran* dan mengangkat tubuhku kembali, menggelinjan* di bawah hunjamannya. Lagi dan lagi, dia mendesak ke dalamku, hingga napasnya tersengal, kepalanya mendongak, memompa penuh hasrat. Apa yang sebelumnya menyakitkan menjadi siksaan, dan kemudian... sesuatu yang lebih. Dengan membuta.


Kali ini, Ram jatuh sepenuhnya di atasku, memaksa bahuku terbenam ke dalam ranjang, dengan kasar mendesakkan dirinya berkali-kali kepadaku sampai aku tak mampu berbuat apa-apa kecuali membisikkan namanya. Sampai pada akhirnya, aku meledak di dalam, meluap, menghangatkan dirinya.


"Ya Tuhan, Purna!" *rangnya tertahan. "Ya Tuhan!" suaranya serak dan putus asa, sekaligus takjub akan kehangatan itu.


Aku bahagia, tapi juga merasa malu. Namun hanya untuk sesaat, sebabnya Ram seketika sampai pada ujung pelepasannya. Dia mengeran*, menyuruk ke leherku, menggigit -- kuat dan nikmat, tanpa sengaja membuat gigi-giginya terbelit di rambutku. Ia mengisapku dengan sepenuh gairah.


"Ya Tuhan...." Ram menyentak di tubuhku tiga kali lagi, membuat kepala ranjang berderak menghantam dinding. Dia mencengkeramku lebih kencang, menyeretku ke dirinya, bergidik gemetar, mendorong, berdenyut di dalam diriku hingga ia terkuras habis. Kurasakan kehangatan menyeruak di dalam rahimku.


Untuk waktu yang lama, Ram memelukku, bergayut dengan canggung. Rahangnya yang keras terjatuh di atas keningku, lembap oleh keringat. Pada akhirnya, *esahan, rintihan, lolos dari bibirnya, dan, tubuhnya roboh, bahunya bergetar untuk terakhir kali sebelum ia menyadari air mata mengalir dari sudut mataku.


"Purna?" Dia menatapku dengan rasa bersalah. "Apa kamu menyesal?"


Ah, dasar bodoh....


"Aku bahagia," isakku. "Kali ini aku tidak bermimpi. Ini nyata. Aku... aku sangat bahagia. Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu."


Ram menghela napas lega. "Kamu membuatku... takut. Aku takut kamu menyesal."


"Tidak akan."


Dia mencium keningku dan bergulir ke satu sisi, membawaku bersamanya. Dan aku jatuh tertidur dalam tidur nyenyak tanpa mimpi.


Terima kasih, Cinta. Ini malam Purnama yang terindah....

__ADS_1


__ADS_2