
Kami tiba di Pangandaran setelah menempuh perjalanan selama hampir delapan jam. Perjalanan yang mestinya ditempuh dalam waktu lima jam lebih sedikit itu jadi molor hampir tiga jam karena pemberhentian untuk beberapa kali istirahat plus untuk makan siang, dan sedikit macet. Ram tidak ingin aku kelaparan, kelelahan, ataupun merasa jenuh dalam perjalanan kami, jadi ia sengaja sedikit memperpanjang waktu makan siang kami untuk istirahat dan bersantai. Alhasil, meski kami berangkat jam setengah tujuh, lebih cepat satu jam dari waktu yang dijanjikan, tetap saja, kami tiba di kampung halaman Ram setelah jam dua lewat.
"Kita hampir sampai," Ram berujar ketika kami memasuki wilayah kecamatan Kalipucang. Dia terlihat agak gelisah. Aku tahu ia merasa cemas tentang bagaimana reaksiku nanti ketika kami tiba di tempat tujuan.
Sebenarnya ya, belum sampai ke tempat tujuan, aku sudah ternganga melihat kondisi jalan yang mesti kami lalui. Sebuah sungai yang berarus deras membelah jalan yang mesti kami lintasi. Sungai Bojong, tidak ada akses jalan lain selain menyeberangi sungai itu untuk sampai ke rumah Pamannya Ram.
"Ram, apa ini aman?" tanyaku khawatir saat kepala truk mulai mendekati tepi sungai.
Ram hanya menyengir konyol. "Ini truk, Sayang. Bukannya kuda. Kedalaman aliran sungainya paling tiga puluh senti sampai lima puluh senti. Aman, kok."
"Syukurlah kalau begitu. Aku percaya padamu."
Dalam perjalanan ini kusadari Ram sering melirikku, seakan-akan ia merasa mungkin suatu kesalahan membawaku ke kampung halamannya. Sementara aku, aku terus mencoba mengingatkan diriku sendiri: bahwa apa pun yang akan kulihat dan kudapati nanti, itu hanyalah bagian kehidupan Ram. Itu tidak berarti kami akan tinggal di tempat -- di mana pun itu -- selain di Lembang. Aku tahu Ram tidak akan meninggalkan Bibi El sendiri di peternakan.
Rileks, Purna. Bersikaplah sesantai mungkin walaupun ini agak mengejutkan.
Aku menatap ke luar jendela. Aku tidak yakin pada apa yang ingin kulihat, tetapi bukan yang seperti ini. Aku memang tidak pernah tahu di mana dan bagaimana kampung halaman Ram, tapi dalam imajinasiku tentang Pangandaran: aku membayangkan tempat tujuan kami adalah sebuah desa yang asri, rumah-rumah biasa dan perkampungan yang biasa, di sekitar wilayah pantai. Bukan yang seperti ini.
Rumah-rumah yang kulihat berukuran kecil, perlu dicat, bahkan masih banyak yang berdinding batako dan bata oranye tanpa plaster. Banyak rumah yang tanpa halaman, dan rata-rata beratap perak yang sudah usang.
"Pamanmu tinggal di sini?" tanyaku.
Ram mengangguk. Aku langsung membungkam bibirku. Gawat, pikirku. Ram bisa mengetahui dari nada bicara dan ekspresi di wajahku bahwa aku terkejut melihat daerah di sekitar sini, mungkin seperti yang sudah ia duga.
__ADS_1
"Daerah sini masih rawan banjir kalau musim penghujan. Dan... kadang-kadang masih kesulitan air bersih dan mesti menunggu kiriman air dari luar."
Aku mengangguk-angguk. Berhati-hati dalam menjaga sikap.
Sesampainya di rumah pamannya Ram, aku bertemu dengan semua anggota keluarga Ram. Ada pamannya: kakak laki-laki dari ibunya, yang juga merupakan adik laki-laki dari mendiang suami Bibi El. Paman Ram seorang pria bertubuh kurus dengan hidung yang tajam dan mata bersinar ramah. Aku juga bertemu teman-teman Ram, beberapa telah Ram kenal sejak kanan-kanak. Aku juga bertemu para sepupu Ram, serta seorang bibi dan neneknya: istri dan ibu mertua pamannya, yang sudah seperti bibi dan nenek kandungnya sendiri. Mereka semua tersenyum dan menyambutku dengan ramah, meski aku bisa melihat sorot rasa ingin tahu di mata mereka.
Sore hari berlalu begitu saja. Ram menghabiskan waktunya dengan pamannya dan sepupu-sepupu lelakinya, sementara aku ditinggal bersama bibi, nenek, dan sepupu perempuannya yang masih remaja.
Malam itu, setelah makan malam, Ram mengajak sepupu-sepupunya untuk sekadar jalan-jalan mencari jajanan. Dengan semangat, gadis remaja itu dan ketiga pemuda usia dua puluhan itu menerima ajakan Ram. Salah seorang bisa membawa kendaraan dan ingin membawa truk itu, dan Ram tidak enak hati untuk menolak. Jadi, ya sudahlah. Aku dan Ram, dan yang lainnya duduk di belakang, di bak terbuka.
Malam itu, selagi menunggu tukang sate menyiapkan pesanan kami untuk dibawa pulang, aku dan Ram mencari tempat sepi untuk berduaan.
"Jadi," ujar kekasihku itu, menjaga nada bicaranya tetap netral, berharap aku tidak mengetahui betapa penting jawabanku baginya, padahal aku jelas tahu benar akan hal itu, "bagaimana menurutmu?"
"Aku menyukainya!" sahutku antusias. "Sangat. Aku merasa dianggap di sini. Tidak diabaikan. Keluargamu sangat ramah. Mereka bersikap baik padaku. Ya meskipun beberapa orang sepertinya menganggapku aneh."
Ah, gombal. Pipiku merona merah. Tapi tetap saja aku tidak luput menyadari pentingnya kata-kata itu. "Omong-omong, kamu punya rumah di sini?"
"Tidak. Ibuku yang punya rumah di sini tapi sudah tidak dipakai. Aku biasanya menginap di rumah pamanku."
"Apa ibumu ada di sini sekarang?" tanyaku penasaran mengapa aku belum bertemu dengan wanita itu.
"Tidak. Dia tinggal di Sukabumi sekarang. Aku akan mengajakmu bertemu dengannya kapan-kapan. Dia tidak pernah lagi datang ke kampung ini."
__ADS_1
Aku menyeringai. "Kenapa?"
"Entahlah. Menurutku dia bertengkar dengan pamanku bertahun-tahun lalu, tapi aku tidak yakin. Aku pernah bertanya satu kali pada ibuku, tapi dia menolak untuk membicarakannya." Tatapan Ram berhenti di bibirku. "Dan aku juga tidak mau membicarakannya," nada bicaranya terdengar parau. Seraya merendahkan kepalanya, Ram menciumku.
Hanya ciuman singkat, tetapi membuat dadaku terasa sesak dan napasku jadi tidak teratur. Aku menengadah, menatap Ram, menginginkan lebih, dan pria itu dengan patuh mengabulkannya untukku. Dengan bergairah, bibirnya menguasaiku, dan lidahnya menyelinap masuk, dan aku suka ketika jemarinya menjelajahi punggungku, sementara tangan kanannya bersemayam di pipiku. Menghangatkan.
Tiba-tiba merasa lututku lemas, cepat-cepat aku melingkarkan lengan di pinggangnya.
Ram tersenyum padaku karena terlalu menyadari pengaruh ciumannya terhadapku. "Well, berhubung hari sudah cukup larut, lebih baik kita segera tidur."
"Di mana kita akan menginap malam ini?"
"Kita akan menginap di rumah paman," ujar Ram.
"Oh?" Aku tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dalam suaraku.
Ram mengangguk. "Aku tidak mempercayai diriku sendiri untuk berduaan saja denganmu. Kamu paham, kan? Tidak malam ini."
"Lalu? Kapan?"
Ram mencium bibirku sekali lagi. "Jangan nakal!"
"Mau bagaimana lagi, delapan tahun kamu selalu datang ke dalam mimpiku. Kenapa tidak datang dalam kenyataan?"
__ADS_1
Ram menggeleng, lalu menatap mataku dalam-dalam. "Purnama di atas sana belum sempurna, Sayang. Tunggulah."
Eh? Apa maksudnya?