
Hari senin berlalu tanpa Ram. Dia sibuk membantu pamannya dalam persiapan acara yang akan diselenggarakan pada hari selasa: acara dengan tema pagelaran seni -- mengangkat seni dan kebudayaan lokal -- yang dilangsungkan di Alun-Alun Lapangan Parigi Pangandaran, dengan kurang lebih menghadirkan puluhan seniman asal Pangandaran. Ram juga memberitahuku akan ada beragam kesenian ditampilkan dalam acara tersebut, diantaranya seni karinding, seni reog, seni calung, seni tari, rampak kendang, pencak silat, dan, di ujung acara juga akan ditampilkan sandiwara Sunda dengan tema asal-usul Ronggeng Gunung yang diklaim sebagai kesenian tradisional khas Kabupaten Pangandaran.
Sebenarnya sore itu aku dan Kartika, adik sepupu Ram, berencana menyusul ke Alun-Alun untuk menyaksikan pagelaran ini, tetapi karena hujan mengguyur sejak sore hari, kami berdua tidak jadi pergi karena cuaca yang tidak mendukung itu membuat kami kesulitan mencari transportasi.
Dan sesuai jadwal yang sudah disusun rapi oleh Ram sejak beberapa hari sebelumnya, Ram berencana mengajakku kembali ke Lembang malam itu juga, dia tidak bisa membantu pamannya sampai acara pagelaran itu benar-benar selesai. Tentu keluarganya sudah tahu tentang hal itu. Tetapi tidak denganku, aku tidak tahu kenapa Ram hanya bisa meluangkan waktunya sampai hari selasa dan mesti bergegas pulang malam itu juga. Jadi, sesaat setelah kami berpamitan pada keluarga Ram, aku segera mencari tahu apa kesibukan Ram esok hari, sampai-sampai kami tidak bisa menunggu pagi untuk pulang ke Lembang.
"Aku lupa memberitahumu," ujar Ram. "Aku akan membawa sebuah kelompok untuk berkuda semalaman besok. Kami akan berangkat dari pagi. Jadi aku mesti sampai ke peternakan sebelum matahari terbit."
Ya Tuhan, aku hanya bisa ternganga. Sungguh, hal itu membuatku sangat terkejut.
Tapi Ram justru tersenyum bangga. "Yeah, Sayang, mereka ingin mencari tantangan yang lebih sulit. Kamu tahu, kan, berkemah, memasak dengan api unggun, tidur di bawah bintang-bintang, dan lain-lain. Pengalaman baru yang menantang."
"Kedengarannya menyenangkan," ujarku.
"Yap."
"Boleh aku ikut?"
"Seandainya saja bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
"Semua anggotanya pria, Sayang."
"Oh?"
"Ya, akan berbahaya jika gadis secantik kamu berada di antara sekelompok serigala jantan. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Kamu mengerti, kan? Lagipula semua kuda akan terpakai."
Aku mengangguk lesu.
__ADS_1
"Hanya semalam, kok."
"Aku tahu, tapi kita sudah kehilangan begitu banyak waktu bersama. Aku...."
"Hanya satu hari satu malam, oke? Aku harap kamu mengerti. Ini pekerjaanku. Dan aku tidak ingin hal seperti ini membuat kejadian delapan tahun yang lalu kembali terulang. Purna-ku yang sekarang sudah dewasa, bukan?"
Kata-kata Ram membuat tenggorokanku tercekat. Aku menangis. Tidak tahu kenapa, tapi yang jelas aku tidak tersinggung apalagi marah atas kata-kata yang ia ucapkan itu. Hanya saja, kata-katanya itu membuatku merasa tertampar oleh masa lalu. Rasanya sangat menyakitkan, dan aku tidak ingin kejadian itu sampai terulang kembali. Tidak akan!
Ram mengembuskan *esahan. Ia memperlambat laju truknya dan menepi di pinggir jalan. "Maafkan aku. Tolong jangan menangis." Ram menarik tanganku dan mencium punggung tanganku dalam-dalam.
"Tidak. Kamu tidak salah, kok. Terima kasih karena sudah mengatakannya. Yang kamu bilang barusan benar. Aku tidak ingin keegoisanku membuat kita berpisah lagi. Maafkan aku, ya? Maaf?"
Tapi hatiku terlanjur kecewa. Kata-kata Ram hari minggu kemarin membuatku yang terlalu putus asa dalam urusan asmara ini, berharap apa yang ia katakan itu akan terealisasi. Aku mencari tahu lewat internet, bulan purnama akan menampakkan sinarnya besok malam, rabu, setelah matahari terbenam. Tetapi ternyata Ram ada kesibukan lain. Lalu aku bertanya-tanya: apa maksudnya? Dia hanya iseng? Dia lupa? Dia tidak tahu bulan purnama akan bersinar besok malam? Atau dia sekadar memberiku harapan padahal ia tahu di malam purnama itu ia tidak akan berada di sisiku? Aku ingin bertanya, tetapi aku malu. Meski aku seorang janda, aku tidak bisa terlalu menunjukkan kepada Ram bahwa aku menginginkan untuk kami saling memiliki seutuhnya walau belum terikat pernikahan. Aku tidak yakin Ram bersedia menikahiku tanpa restu dari ayahku. Dan aku lebih tidak yakin lagi ayahku akan memberikan restunya dengan mudah. Jika ingin menikah, apalagi dengan restu ayahku, pernikahan itu seperti sebuah angan yang sulit untuk kami wujudkan.
"Jadi aku boleh pergi, kan? Aku memang bukan meminta izin, tapi aku butuh keikhlasanmu. Kita jaga hubungan kita baik-baik kali ini, oke?"
Aku mengangguk kuat-kuat. "Ya," kataku. "Ya. Aku ikhlas. Aku tidak akan bersikap seperti dulu."
"Ya. Aku janji, aku akan berusaha."
Setelah melepaskan pelukan, Ram mengusap air mataku dan memintaku untuk tersenyum, dia memberikan satu ciuman singkat di bibirku lalu kami melanjutkan perjalanan.
Tetapi Ram malah jadi gelisah sendiri. Setelah beberapa belas menit melaju di jalan raya, ia kembali menghentikan laju truknya dan kembali menepi di pinggir jalan.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata terpejam dan tangan kanan mengepal di dahi, tampak jengkel pada dirinya sendiri dan seakan "menyerah".
Ram mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan telepon sementara aku hanya menyeringai, menatapnya dengan kebingungan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku.
Dia tidak menyahut. Dan dalam beberapa detik, panggilannya langsung terhubung. Dia menelepon Emil dan membahas tentang rencana berkuda itu. "Aku ingin bertukar jadwal denganmu kalau kamu bisa. Kamu minggu ini dan aku minggu depan. Bagaimana? Apa bisa?"
Ya Tuhan... aku memang mencari sosok kekasih yang seperti itu, yang selalu menjadikan aku sebagai prioritas utamanya. Tapi kenapa aku malah jadi tidak enak hati begini?
"Oke. Berarti sepakat, ya. Tolong katakan pada Bibi, kami akan pulang hari kamis. Trims, Kawan."
Ram memutus sambungan telepon.
"Sekarang senang?" tanyanya.
Aku tidak tahu mesti menjawab apa dan bereaksi bagaimana? Aku malah jadi kebingungan. "Kamu tidak perlu melakukan ini," kataku. "Aku... aku jadi merasa tidak enak. Aku tidak mau kalau--"
"Ssst... it's ok. Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahanku lagi. Aku pernah mengecewakanmu dan akhirnya aku malah kehilanganmu. Sekarang aku tidak ingin hal itu sampai terjadi lagi sebab itu aku mengalah. Tapi hanya kali ini saja, ya? Sekali ini saja. Lain kali tolong jangan bebani aku dengan ketidakrelaanmu, oke? Pahami aku, beri aku pengertian dan dukung selalu pekerjaanku, janji?"
Aku mengangguk dan segera menyuruk ke dalam pelukannya. "Aku janji. Aku tidak akan kembali menjadi gadis manja yang egois. Aku akan berusaha menjadi kekasih yang terbaik untukmu. Aku janji."
"Ya, semoga kamu dengan sadar mengucapkan janji ini. Bukan sekadar dorongan sikap emosionalmu." Ram melepaskan pelukan dan kembali menggenggam kedua tanganku, dia menatap lekat kedua mataku dan berkata, "Sekarang dengar apa yang ingin kukatakan kepadamu baik-baik. Kamu mau mendengarkan aku?"
Aku mengangguk.
"Aku mencintaimu. Aku mau kamu tahu, kamu adalah prioritas utama dalam hidupku. Kamu yang terpenting dan yang paling ingin kubahagiakan. Tapi jangan jadikan kelemahanku ini untuk membuatku terus mengalah dan mengabaikan hal-hal lain demi kamu. Itu tidak akan baik. Pekerjaanku juga hal yang penting karena aku bekerja bukan untuk diriku sendiri. Untukmu, untuk peternakan, untuk masa depan kita. Jadi tolong, lain kali jangan menghalangiku seperti sekarang apalagi seperti di masa lalu, jangan bertengkar dan jangan bilang aku tidak pengertian. Oke? Sumpah demi Tuhan aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Sebagai pasanganmu aku akan membagi waktuku denganmu. Membagi, bukan memberikan semua waktuku. Kamu bisa memahami kata-kataku, kan? Purna-ku sudah dewasa, boleh manja, tapi tolong jadilah kekasih yang selalu pengertian. Bisa, Sayang?" Ram menatapku penuh harap.
Aku tersenyum. "Ya, aku janji. Sekarang pun kalau kamu harus pergi, aku rela. Aku tidak akan ngambek, dan tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan menunggumu pulang."
"Ini yang harus kamu lakukan ke depan. Sikap seperti ini yang harus selalu kamu tunjukkan padaku. Ya?"
Aku mengangguk. "Tidak akan ada lagi Purna yang egois dan ambekan. Aku janji padamu."
__ADS_1
"Oke." Dia kembali memelukku dan merasa lega.
Dan aku bersyukur. Aku akan berusaha mengendalikan diriku demi Ram, demi cintaku kepadanya. Dia mencintaiku. Aku sama sekali tidak meragukan hal itu. Tetapi mungkin cinta memang tidak cukup bagi dua orang yang sangat berbeda seperti kami. Tapi karena aku mencintainya, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Aku tidak akan lagi menjadi Purna yang egois seperti dulu.