Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Gelisah


__ADS_3

Kami sepakat untuk tidak mengobrol atau melakukan apa pun selain memejamkan mata. Bahkan Ram memaksaku untuk diam dan dia menyuruhku berusaha tidur. Aku menurut. Aku tahu, dia begitu karena sikap antisipasi dari dalam dirinya, dan aku tidak ingin nekat melakukan apa pun dengan risiko membuat Ram memilih tidur di luar tenda dan aku tidak bisa tidur dalam pelukannya malam ini. Jadi ya sudahlah. Kupejamkan mataku hingga aku jatuh tertidur entah di menit ke berapa.


Besok paginya, kami terbangun ketika matahari sudah bersinar terang benderang -- walau tidak seratus persen benar, sebab, ketika aku mengajaknya bangun untuk menyaksikan matahari terbit, Ram menolak. Makin ia eratkan pelukannya ke tubuhku dan ia bilang bahwa ia masih sangat mengantuk. Bahkan, matanya pun masih terpejam ketika ia bicara.


"Kasihani aku, Sayang. Tetap di sini dan diamlah dalam pelukanku. Aku mohon."


Ah, bisa apa lagi aku kalau dia meminta padaku semanis itu. Aku pun menurutinya. Aku diam dan membiarkan lengan yang kokoh itu tetap memelukku, dan aku kembali tidur. Alhasil, kami terbangun amat sangat kesiangan dan itu pun karena Ram kelaparan. Tapi tetap saja, sebelum keluar dari tenda, dia melahapku lebih dulu.


"Ayo, kita harus mencari makan. Setelah itu kita mandi dan bersantai. Hari ini waktuku milikmu sepenuhnya."


Bagaimana denganku? Apa aku bisa menjadi milikmu sepenuhnya malam ini?


Ah, andai aku punya nyali untuk menanyakan pertanyaan itu.


Sebelum mencari tempat untuk makan, Ram bicara dengan seorang pria yang sebaya dengannya. Ram bilang padaku bahwa itu temannya. Pada pria itu, Ram memesan segala perbekalan yang diperlukan untuk kami berkemah nanti malam. Lalu setelah itu kami berjalan untuk mencari warung makan. Karena Ram tidak mau pergi jauh-jauh, jadi kami hanya pergi ke warung makan di dekat pantai.


Ram memesan untuk dirinya sendiri dua porsi mie rebus dengan telur double, dua buah roti bundar, sepiring gorengan, kacang dan secangkir kopi, dan untukku dia memesankan seporsi mie rebus dengan telur double dan secangkir teh. Setelah melihat pesanannya, aku merasa perlu berkomentar bahwa menurut pendapatku jumlah porsi makanan yang dipesannya itu lebih cocok untuk makan siang daripada sarapan.


"Semua yang dimakan sebelum tengah hari mau sebanyak apa pun, bisa dianggap sarapan, apa pun makanannya," Ram menjelaskan. "Dan aku memang butuh banyak makan karena aku mesti memenuhi semua yang kamu inginkan hari ini."


Aku semringah! Aku senang sekali mendengarnya. "Apa pun? Tanpa terkecuali?" Kusodorkan jari kelingkingku kepadanya bermaksud memintanya untuk berjanji.


"Tidak juga. Aku tidak punya banyak uang untuk membelikanmu rumah, mobil mewah, ataupun barang-barang berharga, juga liburan ke luar negeri. Maaf...?"


Hmm... aku merajuk. "Bercandamu tidak lucu!" protesku.


"Aku hanya bercanda." Ram menyengir konyol dan meraih tanganku lalu menautkan kelingking kami. "Aku berjanji."


Huh! Aku menghela napas dalam-dalam. "Jadi?"


"Akan kulakukan apa pun untukmu. Apa pun."


"Tanpa terkecuali?"


"Yap. Tanpa terkecuali."


"Janji?"


"Aku berjanji, Purna Sayang."


"Terima kasih, Mas Sayang...."


Dan aku menginginkanmu seutuhnya. Malam ini.


Tapi bagaimana aku mesti mengungkapkannya?


Malam ini malam bulan purnama, dan aku merasa gelisah memikirkan bagaimana kami akan melewati malam yang indah ini sesuai dengan apa yang ada di dalam mimpiku selama ini. Sesuai dengan apa yang aku harapkan. Yang aku impi-impikan. Bagaimana?

__ADS_1


Aku tidak memiliki jawabanku. Aku hanya bisa duduk dan memandanginya makan, sambil dalam hati berharap bahwa dia mengerti apa yang sangat aku inginkan darinya tanpa aku mesti mengatakannya, dan dia akan memenuhinya.


"Kamu baik-baik saja? Kamu kelihatan gelisah."


Aku mengangguk. "Kurasa aku mesti cepat-cepat menghabiskan makananku dan segera mandi."


Ram mengendus ketiaknya. "Benar. Kalau saja aku tahu kita tidak akan langsung pulang. Ya ampun." Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Seharusnya aku membawa lebih banyak pakaian ganti."


"Tenang. Aku sudah mencuci pakaianmu."


Boo!


Menyebalkan! Ram menatapku dengan sorot mata aneh. "Aku tidak tahu kalau kamu bisa mencuci."


Hah? Aku memberengut ke arahnya. "Aku memang tidak pernah mencuci!" rajukku. "Tapi aku punya otak, dan aku ini waras. Masa iya aku tidak bisa mencuci? Jelas-jelas definisi mencuci pakaian itu adalah membersihkan pakaian dari kotoran ataupun bau yang tidak sedap dengan menggunakan air dan detergen, bisa dengan mesin cuci atau secara manual, dikucek dan jika perlu disikat, lalu dibilas sampai bersih. Kemudian diperas dan dijemur. Dan yang penting tidak mubazir air. Apa aku benar? Memangnya aku ini tidak punya otak? Dasar menyebalkan!"


Ram hanya tertawa. "Kamu benar. Semua orang berakal sehat bisa melakukannya. Hanya perkara kita mau atau tidak melakukannya. Dan aku salut padamu. Kukira nona kaya di hadapanku ini hanya mau dilayani."


"Ya, asal jangan menyuruhku memasak. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa. Walaupun bisa, pasti tidak dalam waktu cepat dan tidak akan terjadi dengan mudah. Kecuali hanya merebus, menggoreng, membakar, atau tinggal mencampurkan bumbu instan. Mungkin bisa." Aku tertawa cekikikan.


Ram mengangguk, dia menjulurkan tangan dan menggenggam tanganku. "Kamu tidak perlu belajar memasak, tidak perlu mencuci, atau melakukan pekerjaan rumah lainnya. Karena kita akan tinggal di peternakan. Di sana semuanya tersedia dan ada yang mengerjakan, ya meski bukan seperti pelayan pribadi seperti di rumah orang tuamu."


"Nah, itu...." Aku tersenyum semringah. "Kamu bukan pria miskin sampai kamu akan membuatku hidup sengsara. Buktinya ini, bersamamu aku tidak perlu hidup susah. Aku hanya perlu mencintaimu, menemanimu, menghangatkan malam-malammu, memberimu banyak anak, mengurusi mereka serta menemani dan menjaga Bibi El. Aku istri yang sangat beruntung."


Di saat itulah aku menyadari sesuatu yang menakutkan.


"Tidak. Tidak. Bicara apa aku?" gumamku, membuat senyum yang sedari tadi menghiasi wajah Ram pudar seketika.


Aku menggeleng.


"Ya memang tidak ada. Yang kamu katakan benar. Nona manja-ku ini akan tetap hidup dengan dilayani, hanya saja tarap kemewahannya turun drastis, karena kita hanya akan tinggal di sebuah pondok kayu berukuran kecil dan bukannya mansion mewah. Dan bukan berkendara dengan mobil mewah yang mahal, tapi hanya dengan sebuah truk."


Dia salah mengerti karena dia memang tidak memahami bagian ini. Aku memang pernah menikah dan bahkan sebanyak tiga kali. Tapi aku tidak pernah benar-benar menjadi seorang istri. Jangankan menjalankan kewajiban lain, aku bahkan belum pernah masuk ke kamar pengantin bersama suamiku.


"Memangnya mungkin, ya, kita menikah? Jika iya, apa kamu mau menunggu restu? Atau kita menikah diam-diam saja?"


Oh, aku berusaha mengalihkan perhatian. Yang sesungguhnya aku takut menikah, aku takut Ram juga akan terenggut dariku. Karena kalaupun ingin menikah, aku tidak peduli ayahku akan merestui kami atau tidak. Tapi rasa takut kehilangan itu...


Kalau bisa, aku lebih memilih bersama walau tanpa pernikahan, daripada menikah tapi akhirnya terpisah oleh kematian. Karena kalau hanya berpacaran... sepertinya akan aman. Seperti aku yang berpacaran lama dengan Christian, dia tetap hidup dan kami bisa bersama dalam waktu yang lama. Dia meninggal setelah kami menikah. Dan aku tidak ingin Ram mengalami apa yang dialami oleh ketiga mendiang suamiku. Aku ingin bersama Ram seperti aku bersama Christ. Dan andainya bisa, aku ingin menikah dengan Ram dan dia tidak mati. Tapi apa bisa?


"Hei, apa kamu mendengarku?"


Ya ampun, aku bengong. "Maaf, kamu bilang apa tadi?"


"Kita usahakan dulu untuk mendapatkan restu dari ayahmu. Semoga bisa, ya?"


Aku mengangguk. "Aamiin...."

__ADS_1


"Ayo, habiskan makananmu. Kamu bisa makan mie dengan harga rakyat jelata, kan?"


Ugh! Mulai deh....


"Aku tidak jijik. Aku tidak akan menghina ataupun memandang hina makanan. Dan yang lebih penting, lambungku tidak akan terganggu memakan makanan ini, oke? Puas, Masku Sayang?"


Pria itu malah menggeleng. "Belum. Bagaimana aku bisa puas kalau aku belum memilikimu sepenuhnya?"


"Malam ini. Miliki aku sepenuhnya."


Ram terkejut mendengar jawaban spontan yang kucetuskan itu. Alisnya kembali mencuat naik, lalu dia menggeleng-gelengkan kepala.


"Ini permintaanku, dan kamu sudah berjanji akan memenuhi semua permintaanku. Apa pun. Tanpa terkecuali."


Argh! Perutku mulas-mulas saking tegangnya membayangkan responsnya. Aku yakin sekali dia akan mengatakan hal yang sama seperti delapan tahun yang lalu saat aku meminta supaya ia mau bercinta denganku: bahwa dia tidak ingin aku melakukan kesalahan yang akan kusesali suatu hari nanti.


"Jangan beri aku jawaban yang sama seperti delapan tahun yang lalu. Aku bukan Purna enam belas tahun. Aku Purna yang janda, yang sekarang berusia dua puluh empat tahun. Dan aku selalu menunggumu. Kamu selalu datang ke dalam mimpiku, kamu... kamu... kita, kita bercinta. Aku memimpikan semuanya. Hampir setiap malam. Aku ingin semua itu menjadi nyata. Aku...."


Aku tahu aku tak semestinya mengatakan semua ini. Dan parahnya -- akhirnya aku malah menangis.


Ram tidak mengatakan apa pun untuk pembahasan ini. Dia kembali mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku dengan lembut. "Makanlah," ujarnya. "Habiskan. Nanti kita jalan-jalan dulu ke bibir pantai, agak siangan baru kita mandi, oke?"


Kuusap air mataku dan aku mengangguk. Aku maklum kalau Ram menghindari obrolan ini. Bahkan dulu saat ia berusia sembilan belas tahun, remaja tanggung, ia menolak untuk bercinta denganku. Jadi wajar kalau sekarang pun dia menolak. Dia pria dewasa yang pastinya lebih bijak dan lebih bisa mengontrol diri.


Lama setelahnya, kami tidak mengatakan apa-apa. Kami sama-sama mengisi perut meski tidak sungguh-sungguh menikmati apa yang kami makan. Setelah itu, sambil bergandengan tangan, kami berjalan di tepi pantai, lalu menemukan tempat teduh untuk duduk berduaan. Ram merangkulkan tangannya di pundakku dan menyandarkan aku di bahunya.


"Apa kamu tidak pernah memimpikan aku? Bercinta denganku meski hanya di dalam mimpi?" akhirnya aku berkata, memberanikan diri.


Ram mencium keningku. "Selalu," katanya. "Hampir setiap malam."


"Lalu? Apa kamu tidak ingin...?"


"Ssst...."


"Mas...?"


"Di mataku kamu wanita terhormat."


"Tapi aku janda, apa bedanya?"


"Sayang, janda bukan berarti hina. Oke?"


"Apa itu artinya...? Tidak akan pernah...?"


Tidak ada jawaban. Dan memangnya dia harus menjawab apa?


Aku tahu aku seperti wanita tidak tahu malu, dan tidak punya harga diri. Tapi aku sudah terlalu putus asa menjalani hidupku.

__ADS_1


Janda perawan dari tiga kali pernikahan. Mungkin Ram akan takut bercinta denganku begitu ia mengetahui fakta ini. Tetapi setelah bertemu Ram kembali, aku bertekad tidak ingin melakukannya dengan pria lain. Aku menginginkan Ram. Hanya ingin bercinta dengan Ram seorang. Hanya Ram....


Bagaimana membuat pria ini menyentuhku tanpa aku harus mempermalukan diri untuk meminta apalagi menggodanya, dan tidak pula dengan cara yang menjijikkan apalagi dengan cara yang curang?


__ADS_2