Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Saling Memahami


__ADS_3

Aku terbangun oleh cahaya matahari yang menyilaukan, yang menyinari kamar penginapan kami hingga terang benderang sampai-sampai nyaris membutakan, dan sangat panas hingga aku hampir tidak bisa bernapas. Kukerjap-kerjapkan mataku, dan pikiranku melayang pada saat-saat beberapa jam yang lalu. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku terbangun dengan perasaan bahagia. Kuulurkan tanganku, mencari-cari kekasihku.


Tak ada siapa-siapa.


Jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, dan meskipun aku masih setengah mengantuk, sejuta pikiran bergemuruh di dalam benakku. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk padanya? Seperti yang dialami...?


"Tidak. Tidak. Tidak," gumamku ketakutan. "Tidak, Purna. Jangan berpikir macam-macam. Dia pasti baik-baik saja."


Aku bangkit, mengabaikan rasa kaku di pangkal pahaku dan berjalan keliling kamar sambil membisikkan namanya. Tidak ada apa-apa. Celana jeans-nya tidak ada, sandalnya tidak ada, mantelnya tidak ada. Aku ketakutan. Kuraih dress dan mantelku dari atas sofa dan mengenakannya. Dan keluar dari kamar.


"Mas...."


Ah, syukurlah. Dia sedang menelepon di luar. Di bawah pohon teduh di depan sana. Begitu melihatku, ia segera menutup teleponnya dan bergegas menghampiriku.


"Ada apa? Kamu kenapa?" tanyanya.


Aku menggeleng. Mengusap wajahku yang pias karena rasa takut. "Tidak. Tidak apa-apa," ujarku.


"Jangan menutupi apa pun lagi dariku, Purna," katanya. Ia menggandengku masuk dan menutup pintu di belakang kami, lalu mengajakku ke tempat tidur. Duduk di sana, lalu Ram meraih tanganku, mengarahkan ke sisi bercak darah perawan-ku yang mewarnai seprai putih di belakang kami. Dia tersenyum getir. "Kita sudah sedekat ini," katanya. "Sangat intim. Kamu dan aku, tubuh kita berdua sudah saling menyatu tanpa jarak. Kamu ingat bagaimana kita semalam, kan? Kita sudah menyatu. Kita saling memiliki satu sama lain. Kenapa masih ada yang ditutupi? Bahkan setelah kita sudah saling terbuka? Ketika kita sudah sedekat ini? Kenapa?" tanyanya, tak seperti ia yang biasanya. Kali ini Ram benar-benar tampak tenang dan sangat lembut. "Tolong, jangan ada yang kamu tutupi lagi dariku. Kamu milikku, aku berhak tahu apa pun tentangmu, termasuk tentang masa lalumu. Benar, kan?"


Kuteguk ludah dengan susah payah, menarik tanganku dari seprai dan menggosok-gosokkan telapak tanganku yang kini terasa lembap. "Aku... aku...."


"Ceritakan? Kamu kenapa? Kamu tadi terlihat cemas, dan waktu kamu melihatku di luar tadi, kamu tiba-tiba terlihat lega. Apa alasannya? Kamu mencemaskan aku berlebihan, kenapa? Apa hal ini ada hubungannnya dengan... kematian...?" Sebelah alisnya terangkat. "Sekarang tolong dijawab, apakah yang ada di pikiranku ini benar?"


Aku mengangguk.


"Well, langsung saja ke poin utamanya. Ceritakan kepadaku bagaimana kronologi sebenarnya yang kamu alami di masa lalu? Kamu sudah pernah tiga kali menikah, tapi kamu masih perawan, bagaimana bisa seperti itu?"


Gleg!


"Ceritakan, bagaimana mereka meninggal, dan kapan?"


Air mata sudah menyengat di pipiku. Mengucur deras. Bukan aku sedih karena mengenang pria-pria yang tewas setelah menikahiku -- maaf, bukan karena aku tak berperasaan, tetapi karena aku tidak mencintai mereka sepenuh hatiku, jadi, rasa sedihku bukan karena rasa kehilangan, dan bukan kesedihan dalam artian sesuatu yang akan kuratapi atau kutangisi. Jadi, air mata yang sekarang menetes dari mataku adalah air mata ketakutan: takut pada peristiwa-peristiwa tragis di masa lalu itu, takut itu akan terulang kembali, dan, aku takut ketika aku mengungkap cerita kelam itu kepada Ram, pria itu akan berpaling dan meninggalkan aku. Itulah alasan-alasan aku menangis saat ini. Aku tidak ingin kehilangan Ram untuk alasan apa pun.


"Purna?"


Mataku terpejam. "Mereka... mereka meninggal di hari pertama pernikahan kami. Seperti... seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, suami... suami pertamaku diserang oleh kawanan begal. Itu terjadi sewaktu mobil pengantin kami sedang melaju menuju hotel tempat kami akan... akan menginap, ya begitulah. Dan... setelah penyelidikan polisi selesai, para pelakunya berhasil diringkus, dan kesimpulan polisi bahwa itu hanya insiden kecelakaan murni. Dalam artian, para kawanan begal itu tidak sengaja menyerang suamiku sampai menusuknya dan membuatnya meninggal. Bukan pembunuhan berencana. Rencana mereka hanya menghadang dan akan merampok mobil yang lewat, dan naasnya itu mobil pengantin kami."


Ram mengangguk, memahami. "Dan yang kedua? Suami kedua-mu?"


"Suami kedua-ku, dia... dia keracunan makanan di pesta resepsi kami. Ada banyak korban juga. Tapi cuma dia yang meninggal. Gagal pernapasan akibat keracunan, dokter memperkirakan karena dia mengidap alergi tertentu. Tapi entahlah, aku... aku tidak mengerti. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Di dalam ambulans. Aku heran sebenarnya, dari sekian banyak tamu yang keracunan, baik yang sempat dilarikan ke rumah sakit atau yang hanya mendapatkan penanganan di tempat, kenapa hanya dia yang meninggal? Dalam hal ini pihak katering tidak bisa disalahkan, karena tidak semua orang yang mengonsumsi makanan yang sama mengalami keracunan. Yang berarti, racun itu baru tercampur ke dalam makanan atau minuman sesaat sebelum anggota keluarga kami makan. Entahlah. Aku sempat terpukul atas kejadian itu, trauma, tapi tidak begitu mendalam. Tidak seperti setelah pernikahan ketiga-ku."


Ram nampak sedikit gusar mendengar ceritaku. Aku menyadari hal itu meski samar-samar. Tetapi ia berusaha keras untuk tetap tenang. Dirangkulnya pundakku dan ia menyandarkanku ke dadanya. Ia mengusap punggungku dengan lembut, dan kurasakan hangat bibirnya menempel di keningku. "Lanjutkan saja," pintanya sambil menggenggam erat tanganku. "Aku mendengarkanmu."


Aku mengangguk. "Aku... aku mengalami depresi berat pasca pernikahan ketiga-ku, dan perlu penanganan dokter selama berbulan-bulan karena trauma. Bukan karena kehilangan, tapi... karena insiden itu terjadi tepat di depan mata dan kepalaku, dan... terjadi di hari yang sama seperti dua pernikahanku sebelumnya."


Ya Tuhan... tragedi-tragedi itu melintas jelas di dalam benakku. Dalam ingatan memoriku. Membuatku ketakutan.


"Purna?"


Aku gemetar. "Suamiku... suamiku meninggal tepat di hadapanku, persis di saat... di saat aku memeluknya dalam pose foto pernikahan kami. Dan dia... dia tersenyum ke kamera, lalu... tiba-tiba peluru... peluru menembus... peluru menembus...." Aku terisak-terisak, menyentak dadaku sendiri. "Papa... Papa bilang... Papa bilang karena pria itu seorang abdi negara, tidak heran kalau dia punya musuh. Tapi... tapi kurasa itu karena aku. Aku yang membawa sial. Karena dia menikahiku, dia... dia sampai tewas terbunuh. Aku... aku penyebabnya. Gara-gara menikahiku. Gara-gara aku. Gara-gara... aku...."


Aku mulai tak terkendali. Gemetar semakin jadi.


"Purna, Sayang, ada apa?" tanya Ram, sangat khawatir saat pertama kali ia melihat kondisiku yang seperti itu. "Tenang. Tenang, oke? Tenang. Tenanglah."


Aku menggeleng. "Jangan ingatkan aku lagi. Aku takut... aku... aku takut...."


Napasku terasa sesak, aku kesulitan bernapas. Dan Ram ikut panik melihat reaksiku.

__ADS_1


"Jangan ingatkan aku...," gumamku berulang-ulang. "Jangan ingatkan aku...."


Untuk beberapa menit berikutnya, Ram hanya mendekapku erat-erat. Kedua lengan kokoh itu melingkar kuat di sekeliling tubuhku sementara aku terus menggumam gelisah. "Tidak lagi," bisiknya. Ram mencengkeram helaian rambut di belakang kepalaku kuat-kuat, memaksaku mendongak ke wajahnya. "Aku tidak akan bertanya lagi, oke? Sekarang tenanglah. Ada aku. Aku bersamamu, Purna. Ada aku bersamamu."


Dan dia menciumku. Meluma* bibirku hingga aku merasa engap, aku kehabisan napas dalam ciumannya. Ram memaksakan lidahnya masuk, menjelajahi kerongkonganku dan memaksaku terbaring.


Di saat itulah aku berusaha mengendalikan diriku. Mendorongnya mundur dengan lembut untuk melepaskan ciumannya. Aku butuh bernapas.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku?" tanyaku, kutatap lekat kedua mata pria itu dengan penuh harap. "Kamu tidak akan takut bersamaku?"


Ram tersenyum samar. "Sudah kukatakan padamu, aku tidak takut mati." Dia kembali menempelkan bibirnya padaku untuk satu ciuman lembut. "Jangan takut. Mungkin saja semua yang terjadi itu hanyalah kebetulan terjadi di hari pernikahanmu. Ah, sudahlah. Jangan dibahas. Jangan dipikirkan. Aku tidak mau kamu histeris. Oke? Ingat, kita harus pulang ke peternakan hari ini. Jadi jangan bahas ini lagi dan jangan dipikirkan lagi? Hmm?"


Aku mengangguk.


"Sekarang pergilah mandi dan bersiap-siap. Kita akan pulang setelah sarapan sekaligus makan siang."


Pulang. Aku tidak menyukainya tapi itu sebuah keharusan.


Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh ketika aku melangkahkan kaki ke kamar mandi. Menghabiskan waktu beberapa puluh menit untuk mandi lalu berdandan. Sementara Ram mandi, aku segera mengemas pakaian kami.


Jam sebelas siang, kami check out dari penginapan, makan siang di restoran, lalu ke pantai sebentar untuk hunting foto berdua dan mengganti wallpaper di ponselku.


Dan aku merasa sangat puas untuk perjalanan ini. Aku bahagia. Sepanjang pulang ke peternakan, kami mengobrol. Aku telah menyiapkan diri mendengar semacam kritikan mengenai kondisi kejiwaanku dari Ram, juga tentang masa laluku, tapi Ram tidak pernah mengatakan apa pun atau memperlihatkan rasa keberatannya akan semua itu, dan aku semakin mencintai Ram karena itu.


"Kamu tidak ingin mengatakan apa misalnya tentang asal-usulku atau tentang keluargaku?" tanya Ram. "Padahal aku sudah mempersiapkan diri mendengar kritikanmu."


Mataku memicing dan keningku mengerut.


Ram menghela napas dalam-dalam. "Maksudku, dengan melihat di mana kamu tinggal dan bagaimana kamu dibesarkan, kupikir kamu akan memandang... jijik pada keluargaku dan cara hidup kami. Barangkali...?"


"Memangnya kamu pernah melihatku seperti itu?"


Ram menggeleng. "Tidak."


"Entahlah."


"Well, apa aku boleh berkata jujur?"


"Harus jujur."


"Oke. Aku akan jujur. Sebelumnya maaf, tapi begini, kamu tahu aku tidak akan memandang hina atau merasa jijik pada kehidupan... maaf, jangan tersinggung kalau aku menyebut kata... kelas bawah, hmm? Aku tidak jijik dan tidak memandang hina. Tapi... jujur saja... emm... aku... keberatan kalau kita mesti menetap di daerah yang masih tertinggal. Yang masih kesulitan air bersih, atau... yang masih susah transportasi, dan... yang akses jalanannya... buruk. Maaf? Tapi aku harus jujur, kan? Aku keberatan kalau mesti menetap di kampungmu. Emm... begini, kalaupun kita mesti menetap di Pangandaran dan bukannya di Lembang, maksudku di peternakan, atau di kota Bandung, kita bisa tinggal di area kota, bukan? Pangandaran kota, atau minimal di area di pesisir pantai, di desa-desa wisata yang pasti akan dikelolah dan dikembangkan oleh pemerintah. Jangan di...?"


Ram berdeham pelan. "Aku mengerti," ujarnya. "Tenang saja. Aku tidak akan membuatmu hidup dalam kesulitan, dan tidak akan tinggal di tempat yang akan membuatmu kesulitan beradaptasi."


"Kamu tidak tersinggung, kan?"


Dia tersenyum tulus. "Tidak sama sekali."


"Huh! Lega. Terima kasih, Mas Sayang. Kamu yang terbaik." Kucondongkan tubuhku dan aku mencium pipinya.


Siang itu berlalu dengan baik. Hari sudah menjelang malam ketika kami tiba di peternakan dan Ram memarkir truknya di depan pondok dan menarikku ke dalam pelukannya.


"Ada yang ingin kusampaikan padamu."


"Apa itu?"


"Well, kamu bisa tenang?"


"Emm? Kenapa...?"

__ADS_1


"Besok aku ada pekerjaan dan harus pergi untuk semalam. Boleh, kan? Dan jangan terkejut, jangan shock. Rileks, oke?"


Dia sudah mengontrol emosiku di awal. Well, well, well, kuhela napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Rileks, Purna. Rileks. "Kamu mau ke mana?"


"Tidak jauh. Hanya ke Gunung Batu, dekat dari sini. Hanya saja kami akan menginap. Aku akan membawa serombongan pemuda untuk panjat tebing, dan setibanya di puncak kami akan berkemah. Hanya semalam. Kamu tidak bisa ikut dan jangan meminta untuk ikut karena ini panjat tebing. Untuk para lelaki meneriakkan kemenangan dan bukan untuk mendengar para gadis menjerit ketakutan. Oke? Kami akan kembali sabtu siang. Aku bisa menemanimu untuk acara pesta dansa malam minggu. Oke, Sayang? Bisa dimaklumi? Bisa izinkan aku pergi, please...?"


Hmm... walaupun berat, tapi aku tidak akan menjadi Purna di masa lalu. Aku akan belajar menerima kesibukan Ram. "Baiklah. Aku tidak akan melarangmu."


"Ikhlas?"


"Iya."


"Bagus. Purna-ku sekarang sudah benar-benar dewasa." Ram tersenyum, lalu menangkup wajahku dengan kedua belah tangan dan mencium keningku. "Terima kasih."


Aku mengangguk, tersenyum tulus.


"Well, masuklah, mandi, dan istirahat. Akan kuminta seseorang mengantarkan makan malam untukmu."


Aku menatapnya. "Kamu tidak ingin masuk dulu?"


"Kami akan pergi jam enam besok pagi." Ram mencium puncak hidungku. "Ada banyak hal yang harus kukerjakan sebelum itu."


Oh... sabarlah, Purna. "Baiklah."


Ram mengusapkan jemarinya di pipiku, lalu menepukkannya di bibirku. "Cobalah untuk merindukanku sedikit, oke?"


Well, aku tersenyum nakal. "Mungkin."


"Mungkin?"


Ugh!


Ram menarikku dan mencium bibirku, tangannya mengusap-usap punggungku, dan membelai rambutku.


"Baiklah, baiklah," ujarku seraya tersenyum menggoda. "Aku akan merindukanmu. Sedikit."


Ram menggeram, lalu menciumku lagi sampai aku merasa perutku meleleh. Sampai aku kehabisan napas. Dia begitu liar.


"Baiklah," ujarku seraya tersengal. "Sangat."


"Aku akan segera kembali dan menemuimu."


"Aku akan menunggumu. Hati-hati."


"Pasti."


"Em."


"Well...."


"Mas?"


"Apa?"


"Satu ciuman lagi?"


Ah, dia menurut dengan patuh. "Jangan ke mana-mana. Tunggu aku kembali?"


"Aku janji. Wherever you go, whatever you do, I will be right here waiting for you. Promise...."

__ADS_1


Satu ciuman lagi untukku, sebuah cap dan janji, lalu aku menuruni truk dengan enggan, dan berdiri di sana memandangi Ram yang menjauh, dengan perasaan membuncah.


Aku akan menunggumu kali ini. Dan tidak akan pergi lagi.


__ADS_2