Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Happy Ending


__ADS_3

7 tahun kemudian...


Aku masih ingat dengan jelas momen ketika aku mengerjapkan mataku dua kali di mana waktu itu aku tidak tahu jika Ram akan bertindak di luar dugaanku. Dia sudah menyiapkan dokumen-dokumen untuk pernikahan kami dan memang berniat ingin menikahiku begitu aku terbangun dari koma. Katanya itu sebagai hadiah untuk kehidupan baruku. Status baru untuk jiwa yang kembali hadir, dan, karena dia tidak ingin ada jedah waktu lagi yang memungkinkan takdir tidak berpihak kepada kami untuk ke-tiga kalinya. Jadi ia sudah menyiapkan dokumen-dokumen penting untuk pernikahan kami sehingga tidak ada satu pun hal lagi yang mampu menghalangi kami untuk bersatu dan terikat dalam tali pernikahan. Tidak apa pun dan tidak siapa pun.


Kau tahu, saat itu aku ternganga, karena kebisuan yang kualami waktu itu -- aku tidak bisa mengatakan satu kata pun untuk mencegah Ram ketika ia mengeluarkan dokumen-dokumen itu dan dengan cepat ia mendapatkan tinta stamp sidik jari untuk mengambil cap jempolku -- yang ia pinjam dari pihak rumah sakit. Keluargaku juga tidak mencegahnya, Ram bilang sebelum aku sadar dari koma, dia sudah membicarakan hal ini kepada keluargaku. Meminta restu dan persetujuan mereka, terutama restu dari ayahku. Dan semua orang mendukungnya. Ayahku mengizinkannya menikahiku, sebagai hadiah terindah untukku ketika aku hadir kembali di antara mereka.


Hadiah terindah untukku: pernikahan ini, suami yang kucintai, dan restu dari keluargaku. Hadiah yang benar-benar indah.


Jadi, jika ia bersikeras memaksa, dan semua anggota keluargaku pun sudah merestuinya, maka aku bersedia. Karena restu ayahku dan restu kakak pertamaku adalah keajaiban yang kunanti-nantikan sejak dulu, kalau tidak kuambil kesempatanku kali ini, mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi. Walau aku tahu kondisikulah yang membuat ayahku dan kakak pertamaku, mungkin dengan terpaksa, merestui cintaku dan Ram, dan terpaksa menerima Ram sebagai suamiku dan bagian keluarga kami, tidak apa-apa. Akan kumanfaatkan keadaan ini dan kuambil kesempatan langkah ini. Barangkali suatu hari aku akan sembuh, pikirku. Aku akan berusaha keras. Jadi untuk sementara ini aku akan egois. Tidak apa-apa, Ram yang bersikeras, bukan? Aku tidak ingin mengecewakannya hanya karena perasaan minderku atas kondisiku sekarang ini. Aku ingin egois. Aku ingin kami menikah. Aku ingin Ram menjadi suamiku dan menikahiku.


Maka, aku mengerjap dua kali. Ya, aku bersedia. Aku ingin menikah denganmu.


Dan hari itu juga, Ram menikahiku untuk pertama kali -- pernikahan pertama kami -- sebagai pengikat hubungan kami, untuk menentukan takdir kami sendiri bahwa kami berdua sudah terikat pernikahan meski belum tercatat oleh negara. Bahwa, aku, Nyonya Cahaya Purnama Mahardika sudah menjadi istri dari Tuan Ramana Lingga Pradita terhitung sejak hari itu, 31 Maret 2016. Dan Ram berjanji akan menikahiku lagi setahun kemudian, untuk pernikahan yang sebenarnya, yang tercatat oleh negara, pada 31 Maret 2017, setelah masa persalinanku pada akhir Desember 2016, dan itu tertunai, kami menikah ulang tiga bulan setelah aku melahirkan buah cinta kami dalam persalinan secara cesar: dua bayi laki-laki berwajah tampan, persis seperti ayahnya. Mereka berkat luar biasa bagi kami dari Sang Pencipta. Dua bayi kembar yang sangat kuat, yang mampu tumbuh di rahimku di saat aku sendiri dalam keadaan tidak berdaya. Sungguh, mereka amat sangat luar biasa.


Oh, andai saja bisa, saat itu aku ingin sekali menjerit, mengekspresikan kebahagiaanku.


Jadi hari ini, kemarin, dan selama tujuh tahun ini, aku melalui hari-hariku dengan penuh rasa syukur. Aku tidak pernah menyesali keputusanku tujuh tahun yang lalu saat aku mengerjapkan mataku dua kali sebagai jawaban aku menerima lamaran Ram untuk menikah dengannya. Hari-hariku diliputi kebahagiaan meski dalam keterbatasan.


Tentu saja, aku tidak ingin menuliskan momen-momen indahku secara detail sebab secara kasat mata semuanya tidak sempurna, contohnya seperti pada saat pernikahan pertamaku di mana aku hanya terbaring di rumah sakit dan Ram sendirilah yang mengambil cap jempolku saat itu untuk melengkapi dokumen pernikahan kami yang belum bisa dicatatkan ke negara, tentunya karena keadaan itu adalah suatu takdir yang kami paksakan. Kami mengabaikan fakta bahwa waktu itu aku sudah menikah dengan Tuan Hartawan tiga hari sebelumnya, bahwa aku menikah dengan Ram pada saat suamiku baru meninggal tiga hari, bahwa aku menikah dalam keadaan hamil, bahwa pernikahan kami tanpa restu dari ibunya Ram dan tanpa kehadiran pihak keluarga Ram, dan dengan segala ketidaksempurnaan lainnya. Dan setelah hari itu, aku menjadi istri, tapi selalu merepotkan. Aku mesti dirawat di rumah sakit hampir satu bulan. Lalu dibawa pulang ke rumah ayahku. Aku makan, mandi, berpakaian, bahkan buang air mesti dibantu pelayan. Bahkan, aku memasuki fase-fase sulit kehamilan di usia muda. Aku mual dan muntah, tapi tidak bisa lari ke wastafel. Orang lain yang mesti membersihkan bekas muntahanku. Belum lagi, saat itu Ram belum berani menyentuhku karena ia takut menyakiti fisikku, jadi dia hanya mencumbuku dan akhirnya dia tersiksa sendiri. Kemudian, saat ia berani menyentuhku dan kami merasakan kembali kenikmatan cinta itu, kami mesti membatasi diri. Tidak boleh sering, dan tidak boleh liar. Aku kasihan pada Ram karena dia mesti menahan dirinya demi tidak mengganggu proses penyembuhanku. Aku juga kasihan padanya karena ia tidak bisa pulang ke peternakan demi tidak meninggalkan aku. Dia tidak mau meninggalkan aku. Tapi dia tidak berani meminta kepada orang tuaku untuk membawaku pergi. Dan aku tahu sebabnya, dia tidak ingin aku tinggal di tempat yang tidak nyaman mengingat kondisiku yang lumpuh, bisu, dan berbadan dua. Tapi dia merasa tidak nyaman tinggal jauh dari peternakan, aku tahu itu. Di sisi lain, ayahku terus menawarinya pekerjaan di kantornya, membujuknya untuk melanjutkan pendidikan dan ia menjanjikan posisi yang tinggi untuknya, pun kakakku yang ikut-ikutan membujuknya dan mendorongnya untuk kuliah dan mengambil jurusan hukum lalu berkarir sebagai pengacara seperti dirinya. Ram tidak ingin semua itu. Aku tahu benar keinginannya. Dia menyukai dunianya sendiri: panggungnya, lagunya, cara hidupnya yang bersahabat dengan alam dan kontaknya dengan hewan-hewan peliharaannya. Dia ingin memanjat tebing, berkemah dan tidur di bawah bintang-bintang. Dia ingin berkuda. Dia merindukan Bibi El, kerabat-kerabatnya, juga Toshu, Dakota dan Ram si kuda jantan tunggangannya, dan, kuda liar yang baru ia taklukkan. Semua itu tertinggal hanya demi aku. Lalu pada saat aku melahirkan, kondisiku juga belum jauh berbeda. Aku tidak bisa bebas menggendong bayiku saat itu, aku tidak bisa menyusui mereka secara langsung dan mesti memompa ASI-ku, aku selalu merepotkan semua orang. Semuanya terasa sulit dan pahit jika aku tak pandai mengatasi perasaanku sendiri.


Tetapi, untungnya aku sudah berani mengambil keputusan besar saat usia kehamilanku masuk ke masa trimester kedua. Saat itu aku belum bisa bicara, tapi aku bisa menggerakkan bibirku. Dengan susah payah aku berkomunikasi dengan Ram dan menyampaikan bahwa aku ingin kami kembali ke Lembang. Ram kaget saat pertama kali ia mengerti maksud bahasa-ku, dan dia bersikeras ingin kami bertahan di Bogor demi pengobatanku. Tapi kusampaikan kepadanya aku tidak akan bisa sembuh jika obatku hidup dengan memaksakan diri. Dialah obatku yang sesungguhnya. Aku ingin melihat Ram bahagia. Dan, ayah dan ibuku mesti mengerti bahwa aku ingin Ram pulang ke peternakan, atau tepatnya membawa Ram ke tempat di mana ia bisa merasakan kehidupan yang sebenarnya. Dengan susah payah aku membujuk orang tuaku untuk memaklumi keinginanku. Dan kusampaikan kepada mereka bahwa jika mereka ingin yang terbaik untukku, maka izinkan aku dan Ram kembali ke peternakan. Kusampaikan kepada mereka bahwa aku sama sekali tidak keberatan jika mereka menugaskan seorang pelayan dan seorang perawat khusus untuk mengurusku. Bahkan mereka boleh menambahkan seorang babysitter setelah aku melahirkan nanti. Aku tidak keberatan jika mereka membelikanku ranjang besar yang akan mempersempit kamar di pondok kami. Aku tidak keberatan mereka menggaji ahli terapi khusus yang bisa didatangkan ke pondok kami atau aku mesti dibawa ke rumah sakit terbaik yang mereka pilihkan. Aku akan memenuhi jadwal terapiku. Semua itu kulakukan demi memberikan keseimbangan hidup untuk Ram. Karena kami tidak bisa saling melepaskan, tidak bisa saling meninggalkan, dan tidak ingin saling mengekang kehidupan. Semua orang harus bertemu di satu titik pengertian yang sama, demi aku, dan aku menginginkan titik simpul itu demi Ram.


Dan aku mendapatkan titik simpul itu. Orang tuaku akhirnya mengizinkan kami meninggalkan rumah dengan syarat: semua -- apa pun yang mereka berikan kepada kami mesti kami terima. Dan satu tuntutan orang tuaku, Ram tidak boleh meninggalkan aku untuk berkemah atau untuk kegiatan apa pun walau untuk satu malam. Ram hanya boleh bekerja pada siang hari sampai jam yang sepantasnya. Dia tidak boleh meninggalkan aku sendirian dalam kesunyian malam. Itu tuntutan ayahku. Dan Ram menyanggupinya. Dan perihal furniture atau apa pun yang bernilai materi, asal tidak berlebihan, maka Ram bersedia menerimanya. Dengan bantuan kakakku, kami diizinkan pulang ke Lembang, Ram hanya wajib lapor rutin ke kantor polisi setempat sesuai jadwalnya, dan mengupdate tentang kondisi kesehatanku.


Ya, semua bisa teratasi walaupun berat. Meski tidak sempurna, sulit, dan ada rasa sesak dan derita, tapi ada kebahagiaan di dalam kisahku. Seperti halnya pernikahan kami yang ke-dua, gaun pengantin membuatku cantik tapi aku mesti duduk di kursi roda. Hal manis lainnya adalah ketika aku mulai bisa menggerakkan tanganku, meski waktu itu masih kaku, aku bahagia karena aku bisa menyentuh perutku, mengusap bayi-bayiku yang ada di dalam kandunganku, dan setelah mereka lahir itu berarti aku bisa menyentuh mereka, dan bisa menggendong mereka meski hanya beberapa menit setiap jamnya. Aku ingat sekali saat pertama kali aku bisa menggerakkan tanganku, aku menyentuh wajah Ram saat dia berbaring di sisiku. Dia terkejut, senang dan bahagia. Dalam tangis harunya, ia tersenyum dan merapatkan diri kepadaku, menatapku. "Tanganmu sudah bisa bergerak?" tanyanya.


Aku mengangguk dalam senyuman, lalu menyentuh wajahnya yang kini hanya lima senti di atas wajahku.


"Ya Tuhan, Sayang, aku bahagia sekali." Dia menciumi tanganku, telapak tanganku, hingga jemariku sebagai luapan kebahagiaannya.


Dan kau tahu, aku segera mengeksekusinya. Hahaha!

__ADS_1


Tidak. Hanya bercanda. Tapi sedikit benar. Waktu itu aku dengan antusiasnya menggerakkan tanganku hingga aku menelusurkan jemariku ke balik kausnya. Meraba ke punggungnya. Menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya. Dan, keajaiban itu membuatku sedikit lupa diri sehingga tidak sabar menjelajahi bagian-bagian hidupku yang amat sangat kurindukan. Aku mengarahkan tanganku ke bawah dan membuka ritsletingnya.


Aku bisa!


Oh... akhirnya, aku tak kuasa menahan diri hingga tertawa bahagia. Begitu juga Ram, dia terbahak-bahak malam itu.


"Dasar gadisku yang nakal," ledeknya, dia masih terus tertawa. "Baiklah kalau begitu. Akan kupenuhi."


Eh?


Ya ampun, manis sekali momen itu. Itu terjadi tidak lama sebelum aku melahirkan. Aku yang ingin mengeksekusi, tapi aku yang akhirnya dieksekusi.


Dari semua itu, masih ada momen yang sangat kusyukuri, yaitu ketika pengadilan mengabulkan permohonan yang diajukan oleh kakakku. Kasusku ditutup. Meski prosesnya begitu lama sehingga membuatku takut untuk sembuh, takut proses hukum atas kasusku segera digelar kembali begitu aku sembuh, membuatku tidak semangat untuk menjalani terapi -- pada akhirnya aku lega karena kasusku akhirnya ditutup juga. Tindakanku termaafkan oleh lembaga hukum karena aku melakukannya atas rasa depresi yang kualami. Yeah, mau bagaimana lagi, nyatanya aku memang pasien yang pernah mengalami gangguan mental dan pernah ditangani oleh beberapa psikiater. Dan jika tindakan itu tidak kulakukan, akulah yang akan menjadi korban kekejaman pria itu, lagi, dan kemungkinan akan terus berulang.


Singkatnya, dalam persepsi orang gila: pria itu memang pantas mati.


Well, setelah kasusku ditutup, aku jadi semangat melakukan terapi hingga akhirnya keajaiban manis itu tiba ketika aku mulai bisa berdiri dan melangkah, akhirnya aku bisa berjalan normal setelah hampir tiga tahun mengalami kelumpuhan.


Lalu, selain berbagai rasa itu, yang pahit, getir, asam, asin, dan manis, aku juga menyimpan rahasia dalam masa tujuh tahun ini.


Yang ke-dua, aku merahasiakan bahwa aku sudah bisa bicara sebelum kasusku ditutup lantaran aku tidak ingin proses penyelidikan terhadap kasusku kembali digelar. Dalam hal satu ini, hanya Ram satu-satunya yang tahu kapan pastinya aku bisa kembali bicara. Aku tidak bisa menahan diri kala itu, aku membisikkan kata cinta kepadanya saat ia memelukku.


"Aku mencintaimu," kalimat pertamaku terucap.


Ram menatap lekat kedua mataku. "Tadi sepertinya aku dengar...?"


"Aku mencintaimu."


"Sayang...? Kamu...?"


"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


Tiba-tiba ia menyambarku ke dalam pelukannya. "Aku bersyukur kepada Tuhan. Akhirnya, ya Tuhan, aku bisa mendengar suara Purna-ku lagi. Aku--"


"Jangan beritahu siapa pun, ya? Aku tidak mau dipanggil untuk sidang, janji? Aku hanya ingin bicara denganmu. Aku tidak ingin bicara dengan yang lain, aku mohon?"


Ram mengangguk. "Tidak akan," katanya. "Demi kamu dan anak-anak. Aku janji."


Dan aku salut pada cintanya yang luar biasa. Dia bisa setia dan bertahan denganku meski kondisiku lumpuh dan bisu. Dia terus menungguku meski butuh lama bagiku untuk sembuh. Dia pria luar biasa.


"Terima kasih sudah setia menungguku. Terima kasih."


Dia mengangguk. "Selalu, Sayang," ujarnya lirih. "Selalu. I will be right here waiting for you. Dan aku yakin, kalau aku berada di posisimu, kamu juga akan melakukan hal yang sama. Aku yakin kamu juga akan menungguku."


Aku balas mengangguk. "Pasti."


Begitulah ringkasan ceritaku selama tujuh tahun terakhir.


Dan hari ini, 7 Maret 2023, bulan purnama bersinar terang di atas sana. Dan sepucuk surat cinta datang kepadaku....


Hai, Cinta. Entah malam ini purnama ke-berapa dalam cinta kita, tapi yang pasti ini tahun ke-tujuh pernikahan kita, dan tahun ke-lima belas usia cinta kita. Apa kamu pernah terpikir betapa cinta kita sudah sangat teruji? Lima belas tahun, suka dan duka, terpisah atau bersama, cinta kita tetap sama besarnya. Benar, kan? Lima belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menguji kekuatan cinta kita. Tapi kita tahu, rasa itu masih sama. Dan...


Kemarilah, Cahaya Purnama-ku yang terindah. Aku menunggumu di kamar pengantin kita.


Oh, ya ampun. Belum apa-apa ia sudah membuat wajahku merona.


Well, saatnya menyempurnakan malam ini.


Ini bukan lagi cinta terlarang di malam purnama.


Ini cinta kami, cinta suci di malam purnama.


Aku datang, Mas. Cahaya Purnama terindah milikmu....

__ADS_1


Ssst... jangan mengintip! Aku sudah selesai bercerita.


Dan Purna sudah bahagia....


__ADS_2