Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Kesialanku


__ADS_3

Aku terbangun lebih awal setelah malam yang menggelisahkan. Setelah buru-buru mengenakan celana jins dan kaus warna biru laut, aku memakai sepatu bot dan topi lalu menuju penginapan. Ruang makan belum dibuka, tapi aku mendengar suara dari dapur, dan ketika mengintip ke dalam, aku melihat juru masak sedang menyiapkan sarapan. Pria itu bertubuh jangkung, berambut pendek berwarna cokelat gelap, dan bermata cokelat. Dia mengenakan celemek di atas celana jins dan kausnya. Menurutku pria itu kelihatan lebih seperti seorang coboy daripada juru masak.


"Hai," sapaku. "Aku ingin jalan-jalan. Bisa aku mendapat secangkir cokelat dan roti manis untuk bekal di jalan?"


Seraya menengadah, juru masak itu mengusapkan tangan di celemeknya. "Tentu saja. Tunggu sebentar."


Beberapa menit kemudian, setelah mendapatkan bekalku, aku meninggalkan penginapan, aku menuruni jalan setapak sambil mengisi perut. Cokelatnya manis dan enak, sementara rotinya masih hangat, perpaduan yang benar-benar pas. Setelah melempar cangkir plastik itu ke tempat sampah, aku baru hendak melanjutkan perjalanan menyusuri jalur ketika mendengar ringkik kuda. Berbelok meninggalkan jalur yang kulalui, aku pun berjalan menuju kandang.


Di sana, seorang remaja laki-laki yang memakai kaus bertuliskan D'Ranch Lembang sedang memasang pelana pada deretan kuda.


"Hai," sapaku.


"Pagi," sahut pemuda itu. "Anda bangun pagi-pagi sekali."


"Apa saya boleh membawa salah satu kuda sebentar saja?"


"Maaf, saya tidak bisa ikut dengan Anda sebelum Emil atau Ram tiba di sini."


"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin berkuda di sekitar penginapan. Saya rasa saya tidak akan tersesat."

__ADS_1


Pemuda itu mengerutkan dahinya. Jelas merasa bingung. "Emm... bagaimana, ya...."


Aku tersenyum ke arahnya. "Aku tidak akan pergi jauh," bujukku, berusaha meyakinkannya.


Akhirnya dia setuju. "Baiklah," katanya. "Ini, bawa saja Lily. Dia tidak kelihatan terlalu bagus, tapi dia santai dan gaya berjalannya nyaman."


"Terima kasih."


Koboi itu benar. Lily tidak kelihatan terlalu bagus. Kuda betina itu memiliki kulit berwarna cokelat dengan surai dan bulu ekor yang kasar tapi dia punya mata yang cerdas, gaya berjalan yang santai, dan mulut yang lembut.


Kemarin adalah kali pertama aku berkuda lagi setelah sekian lama. Seperti kebanyakan gadis pra-remaja lain, aku selalu senang pada kuda, dan karena orang tuaku jarang sekali menolak permintaanku, mereka memberiku pelajaran berkuda.


Pagi itu tenang, damai, tanpa terdengar suara apa pun selain burung berkicau dan suara kaki kuda betina yang mengais-ngais memecah keheningan. Sejenak aku memikirkan rumahku, tapi memikirkan semua yang menungguku di sana membuatku tertekan. Jadi, aku pun menyingkirkan hal itu dari pikiranku, bertekad untuk menikmati perjalananku. Langit berwarna biru, udara terasa segar dan bersih, dan, seperti Scarlett, aku akan mencemaskan masalahku besok. Tidak sekarang. Tidak hari ini.


Aku tersenyum pada tupai dan bajing yang kujumpai, menghela Lily untuk melakukan lompatan saat melihat sigung yang mengendus-endus di pinggiran jalur.


Ketika sampai di percabangan jalan, aku berhenti. Kemarin, kami pergi ke arah kanan. "Bagaimana menurutmu, Lily?" tanyaku, lalu menghela kuda itu ke arah kiri. "Apa kita akan pergi melihat sesuatu yang baru?"


Terus berjalan, aku lupa waktu, pikiranku menjauh dari segala sesuatu kecuali keindahan dunia di sekelilingku dan goyangan kuda tungganganku. Jalur itu berkelak-kelok, menembus hutan, mendaki bukit kecil, melintasi sungai, lalu lurus dan menanjak dengan tajam.

__ADS_1


Lama-kelamaan sosok Ram memasuki pikiranku, berharap seandainya aku bisa menanyakan lebih banyak informasi kepada Khinan mengenai apa yang Ram lakukan beberapa tahun lalu, tapi ketika Khinan memberitahuku bahwa Ram akan bertunangan, itu membuatku sangat terkejut sehingga aku hanya menggumamkan ucapan terima kasih dengan terburu-buru dan memutuskan sambungan telepon lalu menangis tersedu-sedu.


Sudah sangat terlambat ketika aku menyadari bahwa mungkin Ram sudah bercerai. Kenyataan bahwa Ram belum atau tidak menikah sekarang bukan berarti mereka belum pernah berhubungan terlalu jauh. Hanya memikirkan hal itu membuatku merasa cemburu. Namun jika Ram memang sudah benar-benar menikah, dia pasti akan mengatakannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin juga tidak. Ram sepertinya tidak ingin membicarakan masa lalunya. Lagipula, memangnya kenapa? Dia pernah ataupun memang belum pernah menikah, yang penting sekarang dia seorang single, bukan?


Lagipula kau pun sudah menjanda tiga kali, Purna. Jangan lupa itu.


Tapi sekarang aku jadi bertanya-tanya lagi mengapa pria itu sampai berkelahi dan masuk penjara?


Dengan sedikit terkejut, aku menyadari bahwa hari mulai gelap. Aku tidak mungkin pergi selama ini, batinku. Sambil menatap ke atas, aku melihat awan kelabu gelap bergulung-gulung di langit, mendengar bunyi guntur di kejauhan. Kilat menyambar di langit diikuti dentuman guntur, lebih keras kali ini.


Aku baru saja akan memutar arah Lily kembali ke peternakan saat menyadari bahwa selama aku melamunkan Ram, entah bagaimana aku telah keluar jalur. Seraya menghela kuda betina itu untuk berhenti, aku melihat ke sekitarku, mencari tanda-tanda yang kuharap akan kukenali, akhirnya menyadari bahwa aku telah benar-benar tersesat sementara awan bergulung-gulung di atas kepalaku, tampak semakin gelap, dan aku sangat ketakutan. Aku selalu takut berada di luar ruangan saat hujan. Aku takut pada gemuruh petir, suara guntur dan kilat yang menyilaukan. Dan, langit mencurahkan guyuran air hujan. Kurang dari semenit, aku sudah basah kuyup.


Ya Tuhan, kilat yang menyilaukan membelah angkasa. Tercium aroma udara murni, lalu sebuah pohon di sebelah kananku berderak keras dan terbakar, tersambar petir. Lily mengangkat kaki depannya dan mulai berlari. Aku menarik tali kekang, tetapi kuda betina itu punya keinginan sendiri dan berlari dengan kencang, menerobos bentangan padang rumput terbuka. Angin dan hujan menusuk mataku dan rambut mencambuk wajahku. Topiku terbang, melayang terbawa angin kencang.


Kaki-kakiku menjepit erat kedua sisi tubuh Lily, aku mencengkeram erat ujung pelana, berdoa agar kuda itu tidak terpeleset di rumput yang basah atau menginjak lubang.


Aku menarik tali kekang lagi, tetapi sia-sia. Kusadari, sama halnya seperti yang kurasakan, kuda itu pun sangat ketakutan dan tidak ingin berhenti. Seraya berpegang erat pada ujung pelana seolah itu adalah tali penolongku, aku hanya mampu bertahan dan berdoa semoga kuda betina itu tahu jalan pulang dan kami akan sampai ke peternakan dengan selamat.


Padang rumput itu berujung pada lereng berpohon. Ketika kuda betina itu kehilangan pijakan, aku menjerit dan terlempar ke samping dari pelana, berteriak kesakitan saat kepalaku terbentur dahan yang patah. Kuda itu terpeleset di lereng berlumpur di atas *antatnya, berhasil berdiri, lalu berlari lagi.

__ADS_1


Aku terlentang di sana sejenak, terlalu shock untuk bergerak, dan kepalaku berdenyut. Perlahan-lahan aku mulai menyadari rasa nyeri yang tajam di pergelangan kaki kananku. Merasa mual, aku berusaha duduk. Dan ketika menyentuh sisi kepala, jari-jariku berlumuran darah.


__ADS_2