
Tuan Hartawan sudah berada di depan pondokku pagi-pagi sekali keesokan harinya. Dengan mengenakan kemeja kotak-kotak yang rapi, sebuah dasi bertali, celana levi's, dan sepatu bot mengilap sehingga aku bisa becermin di situ, pria itu tampak persis seperti seorang pemula.
"Hai, Sayang," sapanya seperti anak muda, plus sembari tersenyum. "Siap untuk sarapan?"
Huh! Tidak ada gunanya menolak pergi bersama pria itu. Aku lapar dan perlu makan. Aku sedikit lebih ceria, membayangkan kemungkinan kami berpapasan dengan Ram di ruang makan.
Dan aku memang menabrak Ram. Pria itu sedang berjalan keluar dari ruang makan saat kami masuk, hanya saja aku sedang menoleh ke Tuan Hartawan sehingga tidak melihat Ram.
Ram menyambar lenganku agar aku tidak terjatuh. "Maaf, Nona Mahardika," nada bicaranya dingin, tetapi aku bisa melihat gairah di sorot mata pria itu saat menatapku.
Aku mengangguk. "Salahku," aku menyahut dengan nada bicara yang sama dinginnya. "Tuan Ram, kurasa Anda belum berkenalan dengan temanku. Jadi perkenalkan, Tuan Hartawan Agung Sentosa." Aku menekankan kata teman saat memperkenalkan keduanya. "Tuan, ini Ram. Anda ingat dia? Dialah pemandu perjalanan berkuda kita tempo hari."
"Ya, tentu saja," sahut Tuan Hartawan. Pria itu tidak mengulurkan tangan kepada Ram.
Ram sendiri balas mengangguk, tangannya sendiri mengepal erat di sisi tubuhnya.
Aku menatap dari satu pria ke pria satunya. Mereka saling menilai satu sama lain layaknya dua ekor anjin* yang memperebutkan sebuah tulang. Keheningan merebak sehingga seketika saja suasana menjadi tidak nyaman. Aku malah jadi gerah!
"Senang bertemu denganmu, Tuan Ram. Ayo, Sayang," ajak Tuan Hartawan sembari menggandengku melewati Ram menuju ruang makan.
Kami menemukan sebuah meja di samping jendela dan duduk si situ. Pelayan membawakan kopi dan mencatat pesanan kami lalu menjauh dari meja kami.
"Siapa pria itu?" tanya Tuan Hartawan.
"Dia bekerja di sini. Anda tahu itu."
"Ya, tapi siapa dia? Apa hubunganmu dengannya?"
"Apa maksudmu?" Indraku langsung waspada. "Memangnya--"
Tuan Hartawan mengangkat tangannya, memotong sanggahanku. "Kamu mengenalnya, ya kan? Dan maksudku bukan karena dia bekerja di sini."
"Aku memang mengenalnya, lalu?"
"Berhentilah mengelak. Siapa dia, Purna? Apa arti pria itu bagimu?"
"Segalanya," sahutku pelan. "Dia berarti segalanya bagiku."
Pria itu menatapku seolah telah tumbuh sebuah kepala lagi di situ. "Kamu jatuh cinta padanya? Seorang pemandu berkuda?" Tuan Hartawan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tertawa. "Sialan, kamu berhasil mengecohku. Jangan bercanda. Ini tidak lucu."
__ADS_1
"Itu benar, Tuan. Aku jatuh cinta kepadanya."
Sorot mata pria itu berubah dingin dan keras. "Oh, begitu. Jadi dialah alasanmu meninggalkan aku seperti orang bodoh di altar?"
"Maafkan aku."
"Dan bagaimana perasaannya terhadapmu?"
"Itu bukan urusan Anda. Malah, semua ini sama sekali bukan urusan Anda."
"Memang bukan!" ia berteriak. "Aku tidak percaya kamu meninggalkan aku hanya demi seorang... seorang koboi. Memalukan!!
Ya Tuhan, sikapnya-lah yang memalukan. Dasar pria!
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang makan. Beberapa orang yang sedang makan malam di dekat meja kami menoleh ke arah kami.
Tuan Hartawan menyadari hal itu dan segera merendahkan suaranya, "Aku mengajukan sebuah pertanyaan, dan aku menginginkan jawaban. Bagaimana perasaan pria itu terhadapmu?"
"Kenapa Anda tidak tanya saja kepadanya?" sahutku. Seraya berdiri, aku melempar serbet ke atas meja dan berjalan ke luar ruang makan.
Takut kalau-kalau Tuan Hartawan akan mengikutiku, aku mulai berlari begitu berada di luar. Aku merunduk mengitari samping penginapan menuju sungai kecil dan menyeberanginya. Aku berlari sampai pinggangku terasa sakit dan paru-paruku terbakar, lalu menjatuhkan diriku di bawah sebuah pohon dan berbaring di rerumputan untuk mengambil napas.
Peristiwa tadi mungkin ada hikmahnya juga. Mungkin pria itu tidak akan menggangguku lagi.
Berbaring di bawah pohon rindang, anehnya, aku merasa seolah terlepas dari semua masalah dan semua orang. Langit berwarna biru cerah, udara terasa hangat, semerbak dengan aroma rerumputan, pepohonan, dan bunga-bunga yang tumbuh liar. Jauh di atasku, seekor elang berputar-putar dengan malas, dan aku mengingat Ram.
Aku mencintaimu, batinku, kemudian memejamkan mata. Sangat mudah membayangkan pria itu di sana...
Di sana...
Ia berkuda melintasi padang rumput yang luas di bawah langit musim panas yang biru tanpa batas. Tidak ada apa pun yang terlihat sejauh mata memandang, tetapi ia tidak takut. Ia terus bekuda, menikmati sentuhan cahaya matahari di wajahnya, tatapannya mencari, terus mencari. Dan waktu seakan berlalu begitu saja, tanpa terasa hari semakin siang, bayangan semakin panjang, tetapi ia masih terus berkuda, berkuda, mengabaikan kelelahan yang semakin terasa, serta rasa lapar dan haus yang semakin nyata. Ia tidak bisa berhenti. Ia harus menemukan belahan jiwanya meski cahaya matahari meningalkan malam. Akhirnya ia berada di sana, di sana... berkuda di puncak bukit, di bawah cahaya bulan purnama, lalu menghentikan kudanya, dan sang belahan jiwa mengamati dirinya berkuda, datang menghampiri, tampak gagah, dan... seraya menangis bahagia, ia menjatuhkan diri ke pelukan kekasihnya, menyebutkan namanya dan merengkuhnya erat-erat, berjanji bahwa ia tak akan pernah meninggalkannya. Tidak akan pernah....
"Buka matamu dan pergilah dari sini."
Eh?
Aku membuka mataku, dan Ram menjulang tinggi, berdiri di dekatku.
"Untung saja dirimu itu masih waras dan tidak berlari ke hutan. Kalau tidak, kamu akan membuatku repot."
__ADS_1
Oh, dia mengetahui segalanya. Apa dia melihat pertengkaranku dan pria pengganggu itu? Syukurlah kalau memang itu yang terjadi.
"Aku baru saja bilang kalau kamu itu masih waras, tapi sekarang kamu malah tersenyum-senyum sendiri. Dasar sinting! Kamu tunggu apa? Hmm? Cepatlah pergi."
Aku menggeleng. "Apa aku harus menuruti kata-katamu? Kenapa aku harus pergi?"
"Oh, Sayang, sebentar lagi akan turun hujan. Kamu ingin basah kuyup di sini?"
Oh, andai aku punya kemampuan yang sama. Aku tidak akan bertanya. Dari dulu Ram bisa mencium hujan di udara. "Baiklah. Terima kasih sudah memperingatkanku hujan akan turun."
Ram tidak menyahut, dan justru langsung berbalik.
"Omong-omong...."
Langkah kakinya terhenti untuk mendengarku...
"Terima kasih atas perhatianmu."
Tanpa menyahut, pria itu kembali melangkah. "Dasar sinting!"
Tapi perempuan sinting ini akan menghentikan langkahmu, Sayang. Lihat saja. Kupegang kakiku dan aku memekik, "Auw! Aduh!"
"Kenapa?"
Aku meringis. "Kakiku kram."
Walau enggan, Ram menghampiriku. "Bagaimana aku harus menolongmu?"
"Gendong?"
"Kamu sengaja?"
"Kamu ingin membiarkan aku sendirian di sini? Kehujanan?"
Dia menggeleng, tapi tetap menggendongku.
"Terima kasih, Pahlawanku."
Sudah kubilang aku belum menyerah, Sayang....
__ADS_1