Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Pagi Itu....


__ADS_3

Sinar matahari menyelisip dari balik bilah penutup jendela, menciptakan pola ceria di dinding pondok itu. Aku juga mendengar kicauan burung di luar. Aku belum pernah mendengar nyanyian kicau burung sejak badai datang. Aku juga bisa mendengar bunyi gonggongan kecil Toshu di luar pondok.


Badai sudah berlalu. Sudah pagi. Dan aku masih di dalam pondok, di tempat tidur, di samping Ram. Tidak, kuralat: di dalam hangat pelukannya. Di dalam kepompong selimut yang menghangatkan, seperti pelukannya....


Kemudian ia menyingkirkan selimut tanpa sadar... sebab ia masih tertidur. Dan sekarang selimut hanya menutupi setengah tubuhnya, tetapi hanya sedikit yang tertutup -- dada telanjangnya naik dan turun. Dan aku tak kuasa untuk mencegah tanganku yang bergerak lancang menyentuh kulitnya yang terpapar di depan mataku. Tampak begitu gagah meski dengan matanya yang masih terpejam. Aku terpesona....


Meski sebenarnya merasa sedikit jengkel, sebab... badai sudah berlalu dan matahari sudah menampakkan diri, itu berarti kami akan segera pergi, bahwa waktu yang kami habiskan bersama akan segera berakhir.


Tapi aku tidak bisa mengabaikan saat ini....


Yeah, dengan lancang aku menyusurkan jemariku ke dada bidang itu, mengusapkan telapak tanganku pada kulitnya, lalu membiarkan tanganku itu merasakan detak jantungnya. Sulit kupercaya aku melakukan ini, tak mencegah diriku untuk kelancangan ini....


"Selamat pagi," sapa pria itu, ia terbangun karena kelancangan tanganku, dan ia menggenggam tanganku, dan mencium telapak tanganku.


Aaah... berbunga-bunga rasanya. "Selamat pagi."


"Bagaimana keadaanmu?"


"Kurasa demamku sudah turun."


"Dan perasaanmu?"


"Eh?"


"Perasaan... perasaanku?"

__ADS_1


"Ya." Ram menindihku.


Ya Tuhan. Ya Tuhan. Apa ini? Jantungku berdetak begitu kencang. Kontrol dirimu, Purna....


"Kamu bahagia?"


Lebih dari apa pun. Senyumku mengembang sempurna, mewakili jawabanku....


"Dan itu karena aku?"


"Em, karenamu."


"Dan aku bahagia karenamu."


Deg!


Aku tersipu.


"Seperti Cahaya Purnama-ku delapan tahun yang lalu...."


Apa sekarang aku masih Cahaya Purnama-mu? Aku ingin bertanya. Sungguh aku ingin bertanya. Aku ingin tahu....


Oh, aku kembali lupa akan diriku yang ingin membatasi diri. Aku melewati batasanku lagi....


Tetapi Ram mencium keningku.

__ADS_1


Ya Tuhan...! Apa itu jawaban atas pertanyaanku yang tak terungkap? Apa itu pertanda Kau merestui hubungan ini?


"Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu, Purna."


Gleg!


Tatapan Ram menghipnotis. Lalu...


Ram menyesap bibirku seperti kemarin. Dengan ciuman lembut di awal, lalu lebih dalam, begitu dalam... begitu bergairah... dan rakus. Kemudian ia berbisik, "Aku sering memimpikanmu dalam kesendirianku, dalam tidurku. Aku memimpikan... memimpikan bercinta denganmu. Liar bersamamu. Dan itu menyiksaku. Delapan tahun, Purna. Hanya ada kau di dalam mimpiku. Tidak pernah ada tempat bagi orang lain. Di dalam mimpiku... di dalam hidupku... dan di dalam hatiku. Hanya dirimu."


"Realisasikan jika kau ingin. Miliki aku, Ram. Jadikan aku milikmu."


Ram mengangkat kepalanya, menatap ke dalam mataku. Ada pertanyaan tak terutarakan di sana....


"Jadikan aku milikmu, dan satukan cinta kita. Aku mohon? Demi cinta kita...."


Ram menggeleng. "Kamu tidak mengerti maksudku."


"Kita berada dalam pengertian yang sama. Tentang cinta dan gairah. Tentang memiliki. Tantang aku dan kamu, dua jiwa yang ingin bersatu. Bercinta denganku jika memang kau ingin. Bercinta. Miliki aku, cintai aku, dan gilai aku dengan cintamu."


Ram meneguk ludah, dan dalam detik berikutnya ia menyambar bibirku....


Brak!


Pintu pondok terbuka dan Emil menghambur masuk.

__ADS_1


Ugh! Sial!


__ADS_2