
Ram sudah berada di pondokku pagi-pagi sekali. Dia menyeringai melihatku yang terlihat sayu karena rasa kantuk yang masih menguasaiku. Walaupun berusaha untuk santai, tapi tetap saja semalam aku tidak bisa tidur memikirkan apakah Ram akan berubah pikiran ataukah tidak. Aku menunggu dalam gelisah. Dan begitu aku melihat Ram ada di hadapanku, aku senang luar biasa.
"Sudah siap?" tanyanya.
Aku mengangguk seraya menunjuk tas pakaian yang kutaruh di atas sofa, lalu berdeham, "Apa semuanya baik-baik saja? Tidak ada yang berubah?" tanyaku memastikan, menatapnya penuh harap, sekaligus dengan sejuta tanda tanya.
Ram maju selangkah. Menangkup lekuk tulang pipiku dengan kepala sedikit dimiringkan, kemudian ia menciumku. Satu ciuman lembut menempel di bibirku, lalu ia menatap mataku dalam-dalam. "Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang berubah?"
Aku tersenyum bahagia, dan menggeleng tanpa ragu. "Tidak. Aku percaya padamu. Semuanya masih sama. Terima kasih, Ram."
"Well... terima kasih saja tidak cukup."
"Lalu?"
"Lalu...."
Lalu satu ciuman kembali mendarat di bibirku. Lebih dalam kali ini, dan, kubiarkan ia memberikan satu gigitan lembut di bibir bawahku, plus satu pelukan yang sangat erat. "Terima kasih."
"Sebaiknya kita berangkat sekarang," ujarnya seraya meraih tasku. "Ayo, kamu bisa tidur di truk."
Aku mengangguk. "Kedengarannya menyenangkan." Sembari menguap, aku mengikuti Ram ke truk dalam gandengan tangannya, lalu naik, duduk di kursi penumpang.
Ada Welly di sana, menghampiri kami. "Tunggu di sini," ujar Ram kepadaku, lalu menutup pintu.
"Kamu mau pulang ke kampungmu?" tanya gadis itu.
Ram mengangguk.
"Dia...?"
Aku tahu yang ia maksud itu adalah aku.
"Aku perlu mengajaknya. Ingin kuperkenalkan pada keluargaku."
Ya Tuhan... aku bahagia mendengar jawaban Ram. Tapi juga sedih, tidak tega. Pasti sakit sekali berada di posisi gadis itu. Dia menangis, matanya berkaca, dan suaranya bergetar ketika ia bicara.
"Kemarin kamu bilang tidak ada gadis lain."
"Maafkan aku. Tapi... dia pilihanku. Satu-satunya."
"Lalu aku?"
Ram tidak bisa menjawab. Tidak ingin menyakiti gadis itu lebih dalam lagi. "Maaf," katanya. "Aku harus pergi. Sampai jumpa."
Tapi gadis itu tak beranjak. Masih menatap kepada pria yang sudah begitu jelas tidak membalas perasaannya. Sambil menangis.
Apa yang mesti kulakukan? Aku tidak ingin menyakitinya melihat kepergian kami. Tapi aku lebih tidak ingin turun dari truk dan melepaskan kesempatan bersama pria impianku.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku.
Ram mengangguk. "Jangan dibahas." Ia meletakkan tasku di dasar truk bersama tas ranselnya, lalu menyelinap ke balik kemudi dan menghidupkan mesin. Pria itu menarik pelan tanganku. "Apa yang kamu lakukan di situ, Sayang?" tegurnya yang melihatku menyandarkan kepala di jendela.
Aku menyeringai seraya bergeser mendekati Ram dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Berapa lama perjalanan ke sana?"
"Lima jam lebih."
"Oh, lama juga, ya."
__ADS_1
"Takut capek? Belum terlambat untuk berubah pikiran."
"Eh?" Aku cemberut. "Jangan bilang begitu. Aku sanggup, kok."
"Baiklah, Nona Manja." Ram terkekeh senang, ia menoleh ke samping untuk mencium keningku. "Sekarang tidurlah."
Aku menguap lagi. "Memang rencananya begitu." Seraya merebahkan tubuhku, aku menumpangkan kepalaku di paha Ram dan memejamkan mata. Aku langsung jatuh tertidur begitu Ram berbelok ke jalanan dan terbangun setelah satu setengah jam.
"Sudah tidak mengantuk?"
Aku mengangguk, duduk tegak lalu menatap ke luar jendela. "Masih jauh, ya? Apa kamu tidak capek?"
"Ala bisa karena biasa, Sayang."
"Well, syukurlah kalau begitu."
"Mau mengobrol?"
"Emm? Boleh, sih. Topiknya?"
"Masa lalu. Tapi jangan bertengkar."
"Baiklah. Ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Ya, sebenarnya."
"Tapi?"
"Tapi terlalu takut dengan reaksimu."
"Tanyakan saja. Aku ingin kita saling terbuka."
"Ram?"
"Bahaya bila aku melihatmu terbuka."
Eh?
"Raaaaaaam...!" pekikku. "Jangan bercanda...."
"Benar, kan? Ada waktunya untuk itu. Tapi jangan sekarang." Pria itu terkekeh-kekeh.
"Dasar pria sinting!" ledekku. Dia membuat wajahku merona merah. "Apa yang ingin kamu tanyakan? Akan kujawab semuanya."
"Baiklah. Maaf tapi, ya. Dan jangan marah. Aku hanya ingin tahu soal pernikahanmu yang sebelumnya. Ceritakan, apa pun yang sekiranya kamu rasa perlu kuketahui."
"Soal itu." Aku menghela napas dalam-dalam. Aku tahu cepat atau lambat kami perlu membahas soal masa laluku. Tapi... aku menggeleng. "Aku bukannya tidak mau memberitahumu. Tapi... jangan sekarang. Jangan dalam perjalanan ini."
Ram melayangkan senyum, dengan lembut ia meraih jemariku dan menggenggam tanganku erat-erat. "Tidak akan ada yang berubah. Aku tidak akan marah apalagi sampai menurunkanmu di pinggir jalan. Semuanya akan baik-baik saja kalau kita saling terbuka. Dan akan kubuka, kalau kamu bersedia."
"Tidak lucu!" protesku seraya mencebik.
Ram tidak merespons, ia hanya menyengir konyol dan kembali meminta, "Ceritakan padaku?"
Well, aku mengedikkan bahu. "Apa yang mesti kuceritakan sebenarnya?"
"Kenapa mereka meninggal?" tanya Ram, berusaha santai sembari fokus mengemudi.
Aku tahu kamu pasti akan menanyakan hal ini. Tapi aku tidak bisa menceritakan kebenarannya seratus persen. "Aku tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa. Semua yang terjadi padaku itu karena faktor kesengajaan atau takdir, entahlah. Suami pertamaku meninggal karena... terbunuh. Mobil kami dibegal oleh kawanan perampok. Suamiku ditusuk dan nyawanya tidak tertolong. Suami keduaku mengalami keracunan makanan. Sedangkan suami ketigaku, dia seorang abdi negara. Dia tertembak." Dan semua itu terjadi di hari pernikahan kami. "Apa kamu jadi takut bersama denganku?"
__ADS_1
"Aku tidak takut mati."
"Tapi aku takut."
"Kamu meninggalkan calon suami keempatmu itu karena takut dia mati?"
"Salah satu alasannya, ya. Dan aku memang tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, menikah dengan tidak sepenuh hati. Dan denganmu... sejujurnya aku takut untuk menikah. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersamamu. Aku tidak mengerti, apa yang kupikirkan dan apa yang diinginkan hatiku itu bertentangan. Aku ingin bersamamu, tapi takut membawa sial untukmu."
Ram tersenyum simpul. "Jalani saja. Kalau hal buruk terjadi, setidaknya kita sudah pernah bersama."
"Ram...."
"Purna...."
"Jangan bicara seperti itu."
"Itu hanya pengandaian, Sayang."
"Tapi aku tidak mau."
"Tidak ada yang bisa menghindari takdir. Kalau akhirnya terjadi, ya terjadi. Mungkin di saat itu kamu akan sedih seperti sebelumnya, tapi kamu akan memiliki kenangan karena kamu bersamaku. Lelaki terakhirmu."
Hatiku melesak. "Jangan membahas ini lagi. Tolong?"
"Hanya bicara. Tidak perlu takut."
"Bagaimana mungkin. Aku mengalami semua ini. Aku...."
"Kamu bisa hidup dengan kenangan kita, Purna. Jangan bersama orang lain karena keterpaksaan, kamu tidak akan pernah bahagia. Cinta kita, itu satu-satunya pemberhentian untuk hatimu."
Aku tersenyum. Delapan tahun tidak bersamaku, dia sudah menjelma menjadi seorang pujangga.
"Jadi?"
"Apa?"
"Kamu sengaja mengajakku untuk memperkenalkan aku pada keluargamu?"
"Lebih dari itu. Anggap ini sebagai ujian untukmu. Kalau kita ingin memiliki masa depan bersama, kamu harus melihat asal-usulku, dan aku harus melihat reaksimu. Jika kamu sanggup menerima semua tentangku, kita bisa bersama. Tapi jika tidak, selalu ada kesempatan bagimu untuk menyerah. Kita tidak akan hidup dengan kekayaan orang tuamu."
Lagi-lagi aku tersenyum. "Aku sudah cukup hanya dengan cintamu."
"Hanya anak kecil yang mengatakan itu."
"Aku sudah dewasa."
"Kalau kamu tahu."
"Itulah pikiran seorang pria. Terlalu sempit."
"Kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta, Sayang."
"Tentu bisa. Begini, ya, kalau kamu mencintai aku, kamu pasti akan selalu berjuang untukku. Kamu akan bekerja untuk menafkahi aku dan anak-anak kita. Di antara banyak kesibukanmu, kamu akan selalu meluangkan waktumu untuk bersama keluarga. Kamu tidak akan membiarkan aku merasa sendiri dan kesepian. Dan kamu tidak akan membiarkan malam-malamku tanpa kehangatan. Dengan begitu aku akan hidup. Hanya dengan cintamu."
Ram mengulum bibirnya. Dia ingin tertawa tapi tidak ia lakukan. "Baiklah, jika kamu mendefinisikannya begitu."
"Kamu akan selalu mencintaiku?"
Jawabannya muncul dalam bentuk rangkulan tangan. Ram menarikku dan menyandarkan aku ke bahunya. "Selalu. Tidak akan ada habisnya."
__ADS_1