
"Kamu orang baru di sini, bukan?" tanya seorang wanita yang duduk di meja sebelah saat kami makan malam di ruang makan. "Aku Laura Wijaya, dan ini suamiku, Heru Wijaya, dan anak-anak kami, Nina, Lina, dan si bungsu Dina."
Aku tersenyum pada ketiga gadis itu, yang perbedaan usianya pasti tidak lebih dari satu tahun. Mereka anak-anak yang cantik, dengan rambut pirang yang dikuncir dan mata cokelat besar. Menurutku, anak yang tertua mungkin berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun.
"Aku Purna Mahardika. Senang bertemu kalian."
"Kami akan menonton pertunjukan seni," kata Nyonya Laura. "Ada pertunjukan musik dan tari malam ini. Kamu ingin bergabung dengan kami?"
"Emm...." Aku ragu-ragu, baru akan menolak, tetapi membayangkan menonton Ram bernyanyi di atas panggung terlalu menggoda untuk ditolak. Jadi, ya, aku pun berubah pikiran. "Ya. Aku akan ikut ke sana bersama kalian."
Sembari berdiri, aku meletakkan serbet di meja dan mengikuti keluarga Wijaya keluar dari ruang makan.
"Ada beberapa bentuk hiburan setiap malam," Nyonya Laura memaparkan kepadaku. "Film, musik, bingo, tarian tradisional, dan selalu ada permainan dan semacamnya di ruang bersantai di penginapan."
Aku mengangguk-angguk. "Kedengarannya menyenangkan," kataku. "Para tamu tidak salah datang kemari."
Di luar, kami menggabungkan diri dengan sejumlah orang yang berjalan menuju amphitheater terbuka yang luas. Api unggun menyala di lubang dangkal di tengah-tengah penonton, menciptakan bayangan dari sebuah tenda yang berdiri di satu sisi.
__ADS_1
"Ram akan menyanyi malam ini," kata Nyonya Laura. "Kami menontonnya minggu lalu."
"Dia hebat," ujar gadis yang tertua seraya mendesah. "Suaranya menakjubkan dan dia tampan."
"Kurasa Nina-ku ini tertarik pada pria itu." Nyonya Laura tersenyum penuh sayang pada putrinya. "Saat kamu melihatnya, kamu akan tahu kenapa."
Aku bahkan lebih dari tahu, batinku. Dan bukan sekadar suka atau tertarik. Aku mencintainya setengah mati. Masih, dan selalu....
"Ssst...," desis Nina, mencondongkan tubuhnya. "Dia akan mulai."
Penonton terdiam saat pembawa acara berdiri dan memperkenalkan musisinya. Kata-kata pria itu menghilang saat aku melihat Ram. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hampir ke siku dan celana jins biru tua dan sepatu kulit dengan tumit terbuka. Rambutnya disisir ke belakang dan dikuncir rapi. Sangat tampan.
Aku tersenyum ketika melihat Nina berhasil memegang salah satu tangan Ram saat pria itu menyapa penggemarnya sebelum meninggalkan panggung setelah lagunya berakhir. Setelah itu, aku terus menatap kakiku, takut bersitatap dengan Ram, takut pada apa yang mungkin bisa pria itu lihat di mataku.
Aku masih berada di sana ketika pertunjukan tari dimulai, namun segera berpamitan kepada Nyonya Laura dan keluarganya setelah satu tarian berakhir, lalu aku berjalan kembali ke pondokku. Bukan, saat kusadari, ternyata aku tiba di pondok Ram. Namun aku amat sangat pengecut, aku tidak berani menampakkan diri di hadapannya, dan hanya bersembunyi dengan jarak yang cukup jauh.
Saat itu Ram baru kembali ke pondoknya, dan pria itu menghabiskan beberapa saat menggaruk-garuk telinga anjing peliharaannya sebelum memasuki pondok untuk mengganti kemejanya dengan kaus tanpa lengan. Dan kurasa ia baru saja memasuki dapur untuk menyambar bir dari kulkas yang kini ada di tangannya dan ia menenggaknya, lalu ia melangkah keluar ke beranda dan duduk di tangga. Toshu, anjing peliharaan Ram berbaring di sebelahnya.
__ADS_1
Sembari menyisirkan jari pada helaian rambutnya yang kini tergerai, Ram meneguk kembali minumannya, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan. "Kenapa wanita itu harus datang ke sini?" gumamnya.
Aku tahu yang ia maksudkan itu adalah diriku. Mantan kekasihnya.
Toshu menggeram sebagai balasan.
"Sial," ia mengumpat. Setelah menghabiskan minumannya, Ram melempar botolnya ke beranda dan berdiri. "Harapanku satu-satunya adalah wanita itu akan segera bosan dan kembali ke tempatnya berada, kembali ke ayahnya yang kaya, ke rumahnya yang besar, dan ke mobilnya yang bagus. Semoga!"
Kalau kamu sebegitu bencinya kepadaku, kenapa sebelum berkuda tadi siang kamu begitu manis kepadaku?
"Kau tahu, Toshu, aku pernah mengantar wanita itu pulang ke rumahnya pada suatu malam tidak lama setelah pertemuan pertama kami. Dan kau tahu, itu bukanlah rumah, tapi mansion berlantai tiga yang dikelilingi pagar besi tempa. Ada penjaga berseragam di pintu gerbangnya. Sebenarnya memang aku tidak terlalu memperhatikan tempat itu saat pertama kali ke sana. Tapi, saat aku melihatnya malam itu, itu membuatku menyadari saat itu juga bahwa kami tidak punya masa depan bersama. Tidak untuk bersama. Saat itu aku tidak bisa membayangkan apa yang orang tuanya akan katakan jika dia mengajakku makan malam pada hari minggu. Dan pada saat hal itu benar-benar terjadi satu bulan kemudian, makan malam itu menjadi malapetaka paling buruk yang pernah kubayangkan. Ayahnya menatapku seolah putrinya telah membawa pulang seekor anjing kampung dan berencana untuk memeliharanya. Sedangkan ibunya dengan gugup menyentuh rambutnya berkali-kali, seolah memeriksa dan memastikan aku tidak menyebarkan kutu ke kepalanya. Entahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi jelas aku merasa tidak nyaman. Sebenarnya sewaktu di meja makan, ayah dan ibunya berbicara sopan. Kami membahas soal cuaca, dan pada akhirnya mereka bertanya tentangku dan tentang keluargaku. Ayahnya jelas-jelas terkejut saat aku mengatakan pada mereka bahwa aku sedang merintis karirku sebagai seorang penyanyi. Dan yang lebih parah lagi, dia sangat terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat tahu kalau aku ini tidak memiliki orang tua lengkap. Mau tidak mau aku mengakui siapa aku sebenarnya saat ayahnya bertanya siapa ayahku dan apa pekerjaan ayahku. Jadi aku mengatakan apa adanya, bahwa aku anak dari seorang wanita yang tidak menikah. Bahwa pacar ibuku pergi meninggalkan ibuku ketika ibuku sedang hamil buah dari hubungan terlarang mereka. Pria yang tidak bertanggung jawab. Yeah, aku harus bagaimana lagi kalau mereka mempertanyakan soal itu? Aku tidak mungkin mengaku-ngaku bahwa ayahku adalah si A dan pekerjaannya adalah seorang pebisnis hebat. Itu mustahil. Dari situ aku tahu ayahnya tidak akan pernah merestuiku dengan putrinya. Lagipula, aku sudah tahu itu dari awal. Kenapa harus terkejut? Dan kau tahu, Toshu, saat aku berpamitan, ayahnya terang-terangan mengatakan bahwa aku tidak diundang untuk datang lagi. Tidak sekali, tidak untuk selamanya. Ayahnya menawarkan perpisahan yang tegas, nada bicara dan ekspresinya jelas-jelas mengatakan bahwa aku tidak akan diterima kembali di rumah itu. Tapi bodohnya aku sekarang aku jatuh cinta lagi pada wanita itu. Bukan, maksudku masih. Aku masih mencintainya dan aku tahu, aku selalu mencintaya meski delapan tahun berpisah darinya."
Ya Tuhan, jantungku berdetak keras sekali. Meski celotehannya yang panjang itu begitu menyakitiku, tapi akhir dari celotehannya membuatku bahagia. Dia masih mencintaiku. Perasaan kami masih sama.
Aku juga masih sangat mencintaimu, Ram. Masih sangat mencintaimu....
"Yeah, terima kasih, Toshu, karena kau mau mendengarkan curahan hatiku. Aku tahu kau mengerti semua yang kukatakan. Tapi untungnya hanya aku yang mengerti bahasamu. Jadi ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua. Karena ini selamanya akan menjadi rahasia. Aku harus merenggut pikiranku darinya. Aku harus berhenti memikirkan wanita itu, dan harus berhenti menyiksa diriku dengan masa lalu. Semua itu sudah berakhir dan sudah terjadi dan tidak mungkin kembali. Dulu aku tidak cukup baik baginya dan tidak ada yang berubah."
__ADS_1
Hmm... dia sudah mabuk sehingga ia bicara jujur. Tapi saat dia sadar, dia akan bicara begitu kasar kepadaku.
Yah, kalau begitu mabuklah terus. Mabuk saja!