Cinta Terlarang Di Malam Purnama

Cinta Terlarang Di Malam Purnama
Kesalahpahaman


__ADS_3

Aku mengeran* lirih, bingung dengan respons-ku yang begitu cepat terhadap seorang pria yang membuatku bersumpah akan kubenci dan akan kuabaikan seumur hidupku. Tapi tidak mungkin mengabaikan ciuman panas Ram, atau kerinduan hatiku sendiri. Tahun-tahun itu seolah menghilang, dan aku kembali berumur enam belas tahun, sungguh-sungguh dicium seorang pria untuk pertama kalinya.


Dan ini benar-benar seindah ciuman pertamaku. Sama mendebarkannya seperti waktu itu. Tetapi sekarang rasanya lebih istimewa. Lelaki yang sekarang menciumku bukan lagi cowok berusia sembilan belas tahun, tetapi seorang pria dewasa dengan ketampanan yang luar biasa. Dengan sejuta pesona yang membuatku terpana. Tetapi gairahku tetap sama, gairahnya pun tetap sama. Begitu kuat. Dan seandainya ia menginginkanku lebih dari ini... seandainya ia ingin... aku tahu aku akan pasrah, menyerahkan diriku kepadanya....


Aku tersengal, jantungku berdentum laksana genderang perang, setelah akhirnya Ram menghentikan ciuman itu...


"Ram...."


Ram menatapku, tampak sama terguncangnya seperti diriku. "Kenapa, Purna?" tanyanya dengan nada serak. "Kenapa kamu tidak menjawab teleponku? Membalas surat-suratku?"


Praktis dahiku mengerut. "Telepon apa? Surat-surat apa?"


Dia melepaskanku dari pelukannya, mundur selangkah dengan amarah. "Jangan berpura-pura di depanku, Berengsek! Aku meneleponmu siang dan malam selama seminggu. Aku menulis puluhan surat untukmu. Tapi surat-surat itu kembali tanpa dibuka. Kenapa?"


Aku mengerjap ke arah pria itu. Bingung, dan shock. "Tidak ada surat apa pun...."


Ram mengusap rambutnya dengan sebelah tangan. "Berengsek. Berengsek kau, Purna," dia menghardik pelan. "Jangan berbohong padaku."


"Aku tidak bohong. Aku menelepon ibumu sehari setelah pertengkaran kita. Dia bilang kamu sudah pergi ke luar kota. Aku terus berharap kamu akan membalas teleponku, tapi kamu tidak pernah melakukannya."


Ram menatapku, jelas mencari tahu apakah aku mengatakan yang sebenarnya. Aku jadi menduga bahwa Ram sama sekali tidak tahu bahwa aku meneleponnya waktu itu. Tapi mengapa? Mengapa ibunya Ram tidak pernah memberitahunya kalau aku meneleponnya? Aku jadi menduga, mungkin Nyonya Pradita tidak senang mendengar anaknya berkencan dengan gadis kaya sepertiku, seperti halnya orang tuaku yang tidak senang karena berhubungan dengan Ram.


Aku mengenyahkan pikiran perihal teleponku. "Dengan siapa kamu bicara ketika menelepon?" tanyaku.


"Biasanya dengan pelayan. Ayahmu menjawab beberapa kali. Dia bilang kalau kamu tidak mau bicara denganku, bahwa kamu tidak mau bertemu denganku lagi."


Aku mengenang seminggu itu sebelum kami pergi untuk liburan panjang di musim panas. Mengenang desakan ayahku agar ibuku membawaku berbelanja untuk persiapan perjalanan kami. Kami pergi pagi-pagi sekali, sering kali belum pulang sebelum malam. Apakah ayahku telah dengan sengaja merencanakan hal itu sehingga aku tidak bisa menjawab telepon atau menerima surat? Bahkan ibuku sengaja memintaku untuk meninggalkan ponselku di rumah? Aku tidak ingin berpikir seperti itu, tetapi mengenang ke belakang lagi, aku bisa melihat keterlibatan ayahku.

__ADS_1


Ayahku telah bersikap begitu simpatik, begitu penuh pengertian. Saat itu aku begitu sakit hati untuk mempertanyakan perubahan suasana hati ayahku yang tiba-tiba. Apakah semua itu tidak lebih dari sebuah kebohongan untuk membuatku kehilangan kewaspadaan dan membuatku berpendapat bahwa ayahku peduli padaku, padahal itu merupakan cara untuk menyingkirkan Ram dari hidupku untuk selamanya?


Aku menggeleng-geleng, terkejut memikirkan hal tersebut. "Dia tidak... dia tidak mungkin melakukannya," gumamku. "Dia tak akan pernah melakukan itu!"


Aku menentang, meski jauh di lubuk hatiku aku tahu ayahku memang telah melakukan hal itu.


"Well, ayahmu melakukan hal itu, jika semua yang kamu katakan itu benar."


"Kamu tidak percaya padaku? Kenapa aku harus berbohong padamu sekarang?"


"Entahlah." Seraya berjalan ke jendela, Ram menerawang ke kejauhan. Ia telah membangun dinding di sekeliling hatinya, menolak membiarkan siapa pun masuk. Aku telah melukai hatinya. Barangkali Ram berpikir bahwa ia telah membiarkan aku menyakiti hatinya hingga separah itu, dan seperti yang pernah Khinan katakan, Ram telah bersumpah tak akan pernah lagi memberikan kekuatan kepada orang lain untuk menyakiti hatinya seperti itu lagi. Tetapi sekarang...


Semoga ia merenungkan apa yang baru saja kukatakan. Tidak ada alasan bagiku untuk berbohong sekarang. Aku tak akan mendapat keuntungan apa pun, ya kan? Atau kehilangan apa pun....


"Bagaimana dengan Tuan kaya raya itu?"


"Apa maksudmu bagaimana dengannya?"


Ram berbalik menatapku, dengan sorot menyelidik. "Apa kamu pernah tidur seranjang dengannya?"


Aku terpana, terkejut bahwa pria itu sampai hati melontarkan pertanyaan semacam itu. "Apakah itu penting bagimu kalau aku telah melakukannya?"


"Jadi pernah?"


"Ram!"


"Tidak pernah, Purna? Katakan?"

__ADS_1


"Katakan dulu, apa itu penting bagimu?"


"Menurutmu?"


"Well, aku tidak pernah tidur seranjang dengannya meski bukan berarti itu menjadi urusanmu."


Aku tidak pernah tergoda untuk bercinta dengan Tuan Hartawan, atau siapa pun, baik Christian yang berpacaran lama denganku ataupun kedua suamiku setelah Christian. Ketika Christian memaksaku, mengatakan bahwa zaman sekarang semua orang melakukan hal semacam itu, aku berkata kepada pria itu bahwa diriku tidak peduli apa yang orang lain lakukan. Aku ingin menikah dengan mengenakan gaun pengantin putih panjang, dan aku ingin hal itu berarti sesuatu. Itulah yang sebenarnya, meski tidak seluruhnya. Meski tidak sebenarnya, dan, meski ibuku mengajarkan keperawanan adalah hadiah paling berharga untuk diberikan kepada pria yang paling dicintai yang sudah menjadi suami, tapi tetaplah alasan sesungguhnya adalah karena mereka semua bukanlah Ram. Sebab Pria yang sangat kucintai adalah, dan masih tetap, Ramana Lingga Pradita. Dan faktanya memang aku belum pernah bercinta dengan siapa pun, meski sudah menjanda tiga kali. Tapi aku belum siap mendengar tanggapan Ram jika dia tahu perihal statusku.


"Omong-omong, kenapa hal itu menjadi penting sekarang?"


Sembari menatap lekat-lekat mataku, Ram menyahut, "Itu penting."


Apakah mungkin Ram cemburu? Kedengarannya memang begitu. Dan sebuah harapan kini serasa mencairkan es di sekeliling hatiku. Apakah pria itu benar-benar masih peduli? Apakah pria itu bermaksud...?


"Ram?"


Tetapi pria itu malah menjauh, tanpa menoleh ia berkata, "Aku butuh waktu untuk sendiri. Kamu tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana."


"Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?"


"Aku tidak akan pergi jauh."


"Baiklah. Tolong jangan lama-lama. Aku takut kalau sendirian."


"Kalau kamu penakut, kamu tidak akan berkuda sejauh ini."


Ya Tuhan, jangan sakiti aku dengan sikap dinginmu, Ram. Kamu menyakitiku. Dan aku bahkan tidak akan tersesat di hutan ini jika bukan karenamu. Karena memikirkanmu....

__ADS_1


Tapi percuma untuk menjelaskan hal itu sekarang. Ram sudah pergi keluar dari pondok bahkan tanpa melihatku. Aku menangis, terseok-seok kembali ke tempat tidur dan meringkuk sendirian.


__ADS_2