
Ram terus-menerus mengawasiku sepanjang malam, membangunkan aku setiap kurang lebih satu jam, memeriksa bola mataku. Meskipun jengkel karena tidurku terganggu begitu sering, aku merasa senang. Ram baru saja memeriksaku satu jam yang lalu. Aku telah meyakinkannya bahwa diriku baik-baik saja, dan telah memaksa Ram untuk tidur. Saat ini aku mengamati Ram yang terbaring di tempat tidur. Pria itu begitu jangkung, begitu besar, sehingga nyaris tidak muat berada di tempat tidur dengan kasur berukuran sempit.
Hanya dengan menatap pria itu membuat jantungku berdebar aneh. Ram-lah yang telah memberiku ciuman pertama, telah menjadi orang pertama yang membuatku benar-benar jatuh cinta. Seandainya bukan karena kehormatan dan kesopanan Ram, aku pasti sudah kehilangan kepolosanku bertahun-tahun lalu. Aku merona, mengingat diriku yang memohon kepada Ram agar mau bercinta denganku dan betapa malu diriku saat Ram menolak permintaanku, seraya berkata bahwa aku terlalu muda untuk membuat keputusan yang bisa mengubah hidupku seperti itu. Saat itu aku begitu terpukul dengan kata-kata Ram.
Terlalu muda? batinku saat itu marah. Aku sudah berumur enam belas tahun dan yakin diriku sudah dewasa. Baru sekarang aku menyadari bahwa Ram benar, dan bahwa usia enam belas tahun itu memamg masih sangat muda.
Bersama Ram, aku tidak pernah takut pada apa pun, bahkan pada ayahku. Saat ayahku melarangku bertemu Ram, untuk pertama kali dalam hidupku aku berani menentangnya. Orang tuaku cukup bijaksana untuk menyadari bahwa menghukumku hanya akan membuatku menentang lebih keras, jadi mereka setuju membiarkanku berkencan dengan Ram, selama pria itu menjemputku di depan pintu dan mengantarku pulang pada waktu yang pantas.
Lambat laun, ibuku entah bagaimana mulai menyukai Ram, dan meskipun aku ragu ibuku akan sepenuhnya setuju jika putrinya berkencan dengan cowok dari rakyat jelata bila dibandingkan dengan perekonomian keluarga kami yang kaya raya, tetapi ibuku telah melakukan hal yang terbaik untuk membuat Ram merasa diterima. Ibukulah yang berusaha menghiburku saat aku putus cinta dengan Ram, meyakinkanku bahwa aku masih terlalu muda untuk memiliki hubungan serius dengan seorang pria, dan bahwa jika saatnya tiba nanti, aku pasti akan menemukan pria lainnya.
Dan aku pernah beranggapan bahwa Christian-lah pria lain itu, sampai aku menikah dengannya tiga tahun lalu. Pernikahan pertamaku. Suami pertamaku.
Dengan mengendap-endap dan melompat-lompat pelan dengan kaki kiriku, aku melintasi ruangan, lalu menuang secangkir kopi dari termos. Berkat perawatan Ram, bengkak di pergelangan kakiku telah hilang dan nyaris tidak terasa sakit lagi. Aku merogoh kantong pelana, mencari sesuatu untuk dimakan. Aku mengeluarkan roti bulat manis dan apel merah besar, lalu duduk lagi, sementara tatapanku tetap tertuju ke wajah Ram. Aku lama duduk di situ, menatap Ram lalu beralih ke jendela dan kembali lagi ke wajah tampan pria itu.
Di luar masih hujan, meskipun tidak sederas tadi malam.
Aku bertanya-tanya apakah ada seseorang yang mencari kami. Mungkin tidak, putusku. Siapa pun yang mengenal Ram pasti tahu bahwa pria itu mampu menjaga diri. Ram pernah berkata kepadaku bahwa dia pernah tingga di area reservasi, dan kakeknya telah mengajarinya cara berburu, mencari jejak, dan bertahan hidup di alam bebas.
Hari sudah pagi ketika Ram terbangun dan mendapati aku sedang duduk menatapnya. Ia mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi geli.
__ADS_1
Aku mengedikkan bahu. "Tidak ada lagi yang bisa dilihat. Satu-satunya pemandangan yang bagus, yang sekarang ada di depan mataku."
Seraya duduk, Ram menyisirkan tangan ke rambut. Ia melirik termos yang ada di meja. "Masih ada kopi?"
"Sedikit."
Ketika aku mulai berdiri, Ram memberi isyarat agar aku tetap di tempatku. "Biar aku sendiri yang mengambilnya. Aku tidak ingin kamu berjalan-jalan dengan pergelangan kaki itu kalau tidak perlu."
Aku tersenyum kepadanya, jelas-jelas senang dengan perhatian pria itu terhadapku.
Ram membuka sumbat termos dan menuang kopi terakhir ke cangkir. Seraya beranjak ke jendela, ia menatap ke luar. "Di luar masih hujan, tapi awan mulai menipis. Kalau beruntung, badai akan reda nanti sore dan kita bisa pulang ke peternakan besok pagi."
Ram bisa melihat pantulan wajahku di kaca dan menatapku, kemudian menggeleng-gelengkan kepala yang membuatku tahu ia baru saja memikirkan sesuatu, yang kuyakini itu adalah tentang masa lalu kami. Sembari terus menggeleng -- menyingkirkan apa yang ada di dalam benaknya -- Ram meraih kantong pelana dan mengeluarkan sekaleng tuna dan dua roti bundar.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku seraya melangkahkan kaki mendekatinya.
Ia menggeleng. "Aku bisa melakukannya."
Aku mengerutkan dahi di balik punggung pria itu, bingung mendengar nada ketus pria itu. Semalam Ram telah memperlakukan dengan lembut sehingga aku nyaris percaya bahwa pria itu masih peduli padaku.
__ADS_1
Ram membuat dua sandwich, dan menyodorkan sebuah kepadaku, bersama dengan segelas air.
Deg!
Jari-jari kami bersentuhan, mengirimkan getaran kesadaran yang merambat di sepanjang lenganku. Kami makan dalam keheningan yang menegangkan.
Ketegangan di antara kami semakin nyata saat hari semakin siang. Ram mondar-mandir, selayaknya hewan yang terkurung. Aku berpura-pura melupakan keberadaan pria itu, tapi aku sangat menyadari setiap gerak-gerik Ram, setiap helaan napasku. Kenyataan bahwa pria itu bertelanjang dada dan bertelanjang kaki hanya membuat situasi semakin memburuk. Ram semakin tampak seperti seorang pemburu liar dan tidak tertaklukkan. Aku begitu ingin menyentuh pria itu, menyusupkan jemariku di rambut pria itu, menyusuri jalinan otot padat pada lengannya, mengusapkan telapak tangan di dadanya. Merasakan lengan pria itu memelukku dengan erat, sementara bibirnya...
Tidak. Tidak. Kontrol dirimu. Kontrol perasaanmu. Sadar, Purna. Sadarlah....
Aku terlalu gelisah. Aku tidak bisa duduk lebih lama lagi. Aku pun berdiri, bermaksud untuk melihat apakah masih ada sesuatu yang tersisa untuk dimakan di dalam kantong pelana. Ram masih berjalan mondar-mandir. Pria itu baru saja berbalik dan tiba-tiba...
Dia menabrakku. Secara spontan, dia meraihku dan menahanku agar tidak terjatuh, dan hal berikutnya yang kusadari adalah...
Oh Tuhan... aku sudah berada dalam pelukan Ram dan pria itu sedang menciumku. Bibir Ram menyesap bibirku seolah aku adalah kolam air yang berkilauan dan Ram adalah pria yang sekarat akibat kehausan.
Awalnya aku terlalu terkejut untuk menolak. Lalu Ram memperdalam ciumannya, dan semua pertahanan diriku pun menguap. Aku bersandar pada pria itu, tanganku meregang di punggung Ram yang lebar, jari-jariku *eremas otot-otot di sana. Dadaku rata terhimpit di dada Ram. Api gairah kecil menyala dalam diriku, bara api menggeliat, meregang, meliputiku.
Salah satu tangan Ram menangkap tengkuk leherku, sementara tangan yang lain menangkup *okongku, menarikku mendekat, membiarkanku merasakan bukti gairahnya yang mengeras. Ia jelas hidup dan mendamba....
__ADS_1