
Sebelum menderumkan mesin dan kembali melaju ke jalan raya, Ram mengirim pesan singkat kepada seseorang. Aku tidak tahu siapa dan aku juga tidak bertanya padanya. Aku tidak ingin bersikap seperti seorang pacar yang posesif dan serba ingin tahu urusan Ram, jadi aku tidak menanyakan apa pun selain bertanya dia akan mengajakku ke mana.
"Ke pantai."
"Serius?" tanyaku kegirangan. "Kita akan ke pantai malam-malam begini?"
"Ekspresimu mengatakan kalau kamu senang dan sama sekali tidak keberatan."
Eh? Hahaha! Tentu saja. Otakku yang konslet itu berpikir suasana di pantai pasti sepi malam-malam begini, dan kami bisa menghabiskan waktu -- sepanjang malam untuk berduaan.
"Bagaimana mungkin aku keberatan?"
"Yeah, sorot matamu mengatakan segalanya."
"O ya? Memangnya apa yang dikatakan mataku?"
"Apa yang ada di kepalamu. Aku bisa membacanya dengan jelas."
Ya Tuhan, rona merah menjalari pipiku. "Aku memimpikan saat-saat seperti ini selama delapan tahun. Dan aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu."
Ram mengangguk penuh simpati seraya menjulurkan tangan untuk mengusap pipiku. "Akan kutebus semua yang sudah hilang di antara kita," ujarnya. "Akan kubuat hari-harimu lebih indah, dan kupastikan kamu akan selalu bahagia. Aku janji."
"Oh, manis sekali. Aku percaya padamu. Terima kasih, Mas."
Praktis Ram kembali menoleh dan menatap heran padaku. Sementara aku tersenyum, senang bercampur malu. Alis pria itu mencuat naik seperti biasanya. "Kamu memanggilku apa tadi?"
"Mas. Mas Ram."
Dia mengangguk-angguk. Dia suka dan setuju walaupun tidak mengatakannya. "Semalam aku mimpi apa, ya? Kok tiba-tiba dipanggil Mas olehmu?"
"Aku tidak tahu apa mimpimu. Tapi nenek dan bibi protes padaku karena memanggilmu dengan hanya menyebut nama. Jadi, ya oke. Aku lebih suka memanggilmu Mas daripada memanggilmu Akang."
Ram kembali mengangguk. "Baiklah. Aku suka mendengarnya."
"Aku tahu. Kamu akan selalu menyukai apa pun yang manis di antara kita."
Ram mengiyakan dengan mata berbinar. "Omong-omong, kita akan ke pantai Madasari. Agak jauh dari sini, sekitar satu setengah jam. Tapi setidaknya itu lebih aman. Kurasa paman dan bibi tidak akan tahu kalau keponakannya ini membawa anak gadis orang keluar semalaman."
"Aku mengerti. Jangan dibahas, ya?"
Dan itu memang tidak perlu dibahas.
Kami tiba di pantai Madasari hampir jam dua belas malam. Ram memarkir truknya, ke luar mengitari mobil itu, dan membukakan pintu untukku. Aku menyadari masih ada banyak kendaraan yang terparkir di sana, di lahan parkirnya. "Oh, masih ada banyak orang di sini," gumamku.
"Ya. Orang-orang yang berkemah."
__ADS_1
"Berkemah?" tanyaku antusias. "Apa kita juga...?"
"Tentu. Malam ini untukmu."
Oh, yey! Mustahil untuk tidak bahagia dan meloncat ke dalam pelukannya. "Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih." Aku mencium pipinya. "Terima kasih. Aku sangat mencintaimu," suaraku melengking penuh kegembiraan.
Dan Ram memberiku pelukan yang begitu erat. "Apa pun untukmu, Sayang."
Aaaaah... tidak pernah terbayangkan kalau Ram begitu mengerti keinginanku. Nona kaya sudah terlalu biasa dengan hotel mewah bahkan kapal pesiar. Tapi semua ini, bahkan ayahku tidak akan pernah mengizinkan aku merasakannya. Jelas bukan karena tidak mampu, tetapi karena dia akan memandang hina apa yang menurutnya tidak pantas untuk anak kesayangannya.
Well, memang dipandang aneh jika nona kaya menginginkan hal yang semacam ini. Tapi bagiku, aku amat bahagia karena mendapatkan kesempatan ini. Dan ini sama sekali tidak hina. Ini impianku. Tidur di bawah bintang-bintang, bersama kekasih impianku.
"Kamu yang terbaik."
Ram bahagia melihatku bahagia. "Ayo," ajaknya. "Kamu harus dibuat kedinginan."
Eh? Kenapa? Supaya dia menghangatkanku?
Ups! Ngarep....
Ram menarikku lari ke batas air. Ia berhenti sekitar sepuluh meter dari tempat ombak-ombak berakhir, melepaskan sandal kulitnya lalu menggulung celana jinsnya hingga ke lutut. Aku hanya mengenakan dress sebatas lutut dan memakai sandal jepit, hingga dengan mudah melepaskan sandalku dan meninggalkannya di tempat yang aman. Aku terus berlari, kubiarkan air laut berkecipak di kaki-kakiku, temperaturnya membuatku terpekik kaget.
"Dingin?" tanyanya.
Huh! Dia hanya mengawasiku di sana. Ingin membuatku merasakan dingin, tapi ia sendiri ragu melangkahkan kakinya.
Aku belum pernah pergi ke pantai pada malam hari begini, di malam yang indah. Langit sangat jernih dan rembulan bagaikan cahaya lampu sorot yang dinyalakan khusus untuk kami, menerangi air laut dan mengubahnya menjadi lapisan kaca mahaluas. Air laut beriak-riak dalam irama cepat, seperti saling berkejaran. Dan setiap kali ombak-ombak itu beringsut mendekat ke tempat Ram berdiri, kekasihku itu mundur selangkah. Dia menengadah dan menerawangi cakrawala. Kucoba membujuknya supaya mau mendekatiku, tetapi semakin aku memohon-mohon, semakin jauh dia mundur.
"Ayolah," kataku. "Tadi katanya kamu mau membuatku kedinginan."
"Aku berubah pikiran. Cepatlah keluar dari sana. Nanti kamu terkena hipotermia." Dia berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku-sakunya, sambil mengempotkan pipi-pipinya.
"Tidak mau," teriakku. "Aku mau berdansa denganmu di sini. Please, datanglah kemari. Aku mohon, bulan hampir purnama di atas sana. Beri aku kenangan yang manis, Mas Sayang...."
Saat itulah ekspresi wajahnya berubah dari serius menjadi nakal. Dia menatapku lekat-lekat dan maju selangkah ke arahku. Ketika merasakan dinginnya air, dia menghirup napas banyak-banyak dan melompat ke arahku. Setelah berdiri di hadapanku, dia memelukku erat-erat dan bibirnya merekah menjadi cengiran lebar yang usil. Dia langsung menciumku, meluma* bibirku, begitu liar, dia melahapku dengan kebebasan yang sama persis di dalam mimpi-mimpiku.
"Tidak," ujarnya cepat dengan gigi gemeratuk. Dia langsung mengangkatku dan memanggulku di pundaknya seolah aku seringan bulu-bulu di lengannya.
Aku meronta-ronta. "Turunkan aku, Mas...," pekikku.
Tapi dia bersikeras membawaku ke tepi. "Jangan nakal. Kita bisa kena hipotermia di dalam sini." Ia menurunkan aku lalu menarik tanganku sementara mulutnya terus mengoceh. "Ayo, pakai sandalmu dan kita langsung pergi ke tenda. Hari sudah larut, kamu harus segera tidur."
"Tapi kita belum berdansa...," protesku.
"Besok malam saja."
__ADS_1
"Api unggunnya?"
"Besok."
"Bakar-bakar?"
"Besok malam, Sayang."
"Lalu apa lagi? Besok malam purnama, bukan?"
Ram menghentikan langkah kakinya untuk mencubit kedua pipiku. "Aku akan memakanmu." Lalu ia menggelitiki pinggangku.
Dia membuatku meronta-ronta sambil tertawa cekikikan.
"Ayo. Kita harus tidur. Aku tidak mau kalau kamu sampai sakit."
Baiklah. Aku menurut.
Ram sudah memesankan tenda untuk kami berdua dan sudah dipasang dengan rapi. Sebelum kami masuk, dia menjawil hidungku. "Ini tenda, dan bukan kamar pengantin. Oke, Sayangku?"
Tapi aku mengabaikannya. Aku langsung masuk dan duduk bertekuk kaki, meraih botol air mineral dan minum.
"Jadi, apa kamu nyaman kalau aku juga tidur di sini?"
Ih! Kadang-kadang dia membuatku geregetan. Dia tidak peka atau bagaimana, sih?
"Aku ingin tidur dalam pelukanmu," protesku, merajuk dan mencebik. "Apa kamu tidak bisa peka sedikit?"
Pria itu malah tertawa. Dia melepaskan alas kakinya, berbaring di kasur dan menarik selimut. "Ayo, sini."
Well, Purna. Jangan ngambek. Biarkan saja jika dia tidak bisa bersikap romantis.
Segera aku menyelinap masuk ke balik selimutnya, menyandarkan kepalaku di bahunya dan menaruh telapak tanganku di dadanya. Ingin kubuka rasanya kancing-kancing kemeja yang menutupi dada bidang itu, tetapi aku tidak berani. Harga diri yang ingin kutanggalkan masih saja tersisa di dalam diriku.
"Mas?"
"Emm?"
"Besok bangunkan aku pagi-pagi, ya. Aku mau melihat matahari terbit."
"Ya kalau aku terbangun. Lihat sudah jam berapa sekarang. Mungkin kita akan bangun kesiangan. Lagipula aku tidak tertarik melihat matahari terbit. Aku hanya ingin melihatmu, Cahaya Purnama yang terindah."
Uuuuuh....
Ram mengecup keningku. "Besok kau akan terlihat sama indahnya dengan cahaya purnama di atas sana. Cahaya Purnama milikku."
__ADS_1
Oh... dadaku disesaki kebahagiaan....